TAKDIR ILLAHI : Kebahagiaan, Kesedihan dan Kesempurnaan
(BELUM DI REVISI!!)
Takdir hidup setiap manusia, sudah pasti tidak ada yang bisa menebak bagaimana jalan alur ceritanya. Begitupun dengan seorang gadis cantik nan sholehah, anak perempuan satu-satunya keluarga Muhammad. Jizah Nurreen Ahmad, itulah namanya.
Takdir Illahi membawanya kedalam kehidupan yang berbelok. Kebahagiaan berganti kesedihan, sampai datanglah kesempurnaan. Ia percaya, inilah ketetapan terindah dari-Nya.
"Terimalah takdirmu dengan lapang dada sebab Allah Maha Tahu sedangkan kamu tidak."
_
Karya Pertamaku dimasa pandemi dan ini membawaku kedalam dunia yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfaizah Jiza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(33) Rubah lah Musibah jadi Muhibbah
Jam menunjukkan pukul 3:05. Jizah seperti biasa selalu bangun untuk melaksanakan sholat tahajjud, dirinya selalu mengadu kepada Rabb-Nya akan kegelisahan hati dan jiwanya. Seperti tadi ia bermimpi ada hal buruk menimpa sang suami namun ia beranggapan mimpi hanyalah bunga tidur yang tak haru di indahkan.
Setelah melaksanakan sholat Jizah berniat untuk mengambil Al-Qur'an sembari menunggu adzan subuh ia ingin murojaah tapi handphone yang ia taruh dimeja rias berbunyi dengan segera ia mengangkatnya walaupun nomor itu tidak ia kenali mungkin penting pikirnya.
"Assalamualaikum selamat malam, bisa bicara dengan ibu Jizah" tanya seseorang di sebrang sana dan suaranya laki-laki
"Waalaikumsalam warahmatullahi iya dengan saya sendiri, maaf ini dengan siap ya?" Jizah balik tanya
"Maaf ibu kami dari kepolisian kota Sidoarjo, kami ingin memberitahukan bahwa sekarang suami anda sedang berada dirumah sakit karena sebuah kecelakaan, taksi yang suami anda tumpangi tertabrak mobil yang melaju kencang" jelas dokter membuat Jizah syok dan menjatuhkan dirinya kelantai, air matanya terus mengalir deras
"Mas... mas Aldi, suamiku? ya Allah selamatkan ia ya Allah" ucapnya yang masih terus menangis sampai lupa panggilannya masih terhubung
"M-Maaf pak, saya akan segera ke sana. Saya titip suami saya terimakasih, Assalamu'alaikum..." Jizah mematikan panggilannya dan beralih mencari kontak Abah
"As... Assalamualaikum Bahh" salam Jizah lirih
"Waalaikumsalam warahmatullahi Ann, kamu kenapa? ada apa? baik-baik kan disana?" tanya Abah khawatir
"Mas Aldi Bahh, hiks...hiks..hiks"
"Aldi kenapa Ann? dia baik-baik aja kan? kamu tenang kan diri dulu Abah akan suruh Dhana menemani kamu sampai Abah dan Ummi tiba disana" ucap Abah lalu mematikan teleponnya setelah mengucapkan salam
"Abah sama ummi mau kemana? subuhan di masjid?" tanya Hamzah heran melihat orang tuanya keluar dari kamar dengan terburu-buru
"Kita mau kerumah Anna, khawatir sesuatu terjadi sama dia tadi Anna telpon Abah sambil nangis jadi sekarang kita mau ke sana" jawab Abah
"Apa Hamzah ikut saja?" ucap Hamzah juga khawatir
"Enggak perlu Zah, temani istri dan anakmu, titip rumah. Assalamualaikum..." ucap ummi dan berlalu pergi mengejar Abah yang sudah menyiapkan mobil
"Waalaikumsalam warahmatullahi, Anna kenapa ya? aku tanya yang lainnya deh" ucap Hamzah lalu merogoh ponselnya dan bertanya kepada saudaranya yang lain dan bukannya mendapat jawaban justru mendapatkan pertanyaan juga
Abah dan Ummi sudah tiba dirumah Jizah dan ternyata disana sudah ada Dhana beserta anak dan istrinya yang memang rumah mereka lah yang terdekat.
Jizah sudah menceritakan apa yang terjadi pada Dhana dan kini ia menangis di pelukan kakak iparnya Fadhilah dan Dhana keluar dari kamar adiknya karena mendengar bel rumah berbunyi
"Assalamualaikum..." ucap Abah dan Ummi setelah pintu rumah terbuka
"Waalaikumsalam warahmatullahi, Abah ummi langsung ke kamar Anna saja dia begitu syok Bahh" ucap Dhana dan Ummi langsung berlari ke kamar dimana putri nya berada
"Anna sudah cerita sama kamu?" tanya Abah yang berusaha mungkin untuk tenang
Dan Dhana menceritakan apa yang terjadi.
Abah mengusap wajahnya dengan kasar, begitu berat kah? ujian yang diterima putrinya? namun beliau yakin ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya, setaraf pada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupan masing-masing, sebagaimana firman Allah SWT "Allah tidak memberikan kesulitan kepada seseorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya". [Al-Baqarah/2: 286].
Pagi harinya Abah dan ummi sudah siap menemani Jizah ke Sidoarjo setelah sebelumnya ada perdebatan Abang-abang nya juga ingin ikut menemani adiknya tapi itu langsung dilarang tegas oleh Abah karena jika mereka ikut otomatis mereka meninggalkan anak serta anaknya dan itu membuat mereka diam
Mereka telah sampai ditujuan dengan selamat, dan langsung menuju rumah sakit tempat Aldi dirawat. Sesampainya di ruangan Aldi, ternyata disana begitu ramai dengan kehadiran teman-teman satu klubnya.
Jizah langsung masuk setelah mengucapkan salam dan berhambur memeluk suaminya yang terbaring lemah di brankar rumah sakit
"Mas kamu gk apa-apa? mana yang sakit? ada yang terbentur kah? tanya Jizah khawatir dan justru membuat Aldi tersenyum
"Mas GK kenapa-kenapa sayang, hanya lemas seharusnya bidadari mas GK perlu datang jauh-jauh kesini" ucap Aldi tangannya mengusap air mata di wajah teduh milik istrinya
"Anna nangis histeris setelah mendengar kabar kamu kecelakaan Al, kita semua jadi ikut panik dan memutuskan langsung ke sini" ucap Abah membuat Jizah menundukkan kepalanya karena mendapatkan pandangan dari seluruh teman-teman suaminya yang begitu tertegun dengan perhatian Jizah yang begitu mengkhawatirkan suaminya
"Maaf ya Abah Ummi sudah membuat kalian repot" ucap Aldi memandang kedua mertuanya
"Kamu anak kita Al jangan sungkan" kata Ummi tersenyum memandang menantunya yang Alhamdulillah baik-baik saja
Teman-teman Aldi sudah pamit ke asrama sedangkan Abah dan Ummi memilih berisitirahat di hotel yang tak jauh dari rumah sakit. Dan tinggallah Jizah yang menyuapi Aldi dengan begitu perhatian.
Dilain sisi Khairul juga mendapatkan kabar bahwa calon istrinya membatalkan pernikahannya karena sang mantan pacar kembali ke tanah air dan mereka bertemu untuk melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Khairul yang mendapat kabar dari Ibrahim itupun hatinya begitu sakit, pernikahan yang seharusnya dilaksanakan dua pekan lagi kini telah pupus. Sakit ya sakit, tapi ia bersyukur mungkin ia dan 'mantan calon istrinya' itu memang tidak berjodoh. Allah memisahkan mereka dengan cara yang manusia juga tidak dapat menduganya. Ia memutuskan kembali ke kampung halaman esok hari dan sebelumnya akan mengunjungi orang-orang yang sudah menerima undangan dari nya untuk meminta maaf, apa Khairul malu? wajarnya manusia sih iya tapi tidak dengan dirinya. Keyakinannya dengan Takdir Illahi tidak perlu diragukan, karena semuanya sudah Allah tetapkan sedemikian indahnya
"Ya Allah jadikanlah musibah ini menjadi muhibah,
Ya Allah tenangkan lah hatiku dikala takdir-Mu,
tidak sesuai dengan harapan ku".
Rangkaian kesulitan yang membuat kita semakin dekat dengan Allah, sungguh lebih baik dari setetes bahagia yang melalaikan.
Jangan lah menjadi orang yang menomor satukan Allah ketika sedih menimpa, kemudian menjauh dari-Nya ketika bahagia mulai menyapa.
(Ayat Suci)
makasih untuk ceritanya.
menjadi seorang istri yang dikhianati suami , memilih berpisah, membuka lembaran baru dengan orang yg lebih baik dr suami pertama.bisa dijadikan pelajaran untuk kita bahwa kebahagiaan akan datang setelah badai dlm rumah tangga.menemukan orang yg benar2 beriman membimbing istri menuju jannah
mau donk yg ky ustad khoirul
bukan salah abah, mungkin takdirnya berliku-liku