Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~24
"Zan, Daf, yang bener dong kerjanya. Kumpulin tuh sampahnya sampai bersih," perintah Ares sambil duduk selonjoran di bawah pohon rindang. Letaknya tak jauh dari lubang pembakaran sampah yang mulai mengepulkan asap tipis. Tangan kanannya sibuk mengibas-ngibaskan peci hitam yang sudah mulai pudar warnanya, mencoba menghalau udara panas yang menyengat.
"Iya, nih. Kalian berdua kalau kerja yang ikhlas dong, jangan setengah-setengah," timpal Andi. Tanpa beban, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput, berbantalkan akar pohon yang menyembul ke permukaan.
Mendengar ocehan dua temannya yang tanpa beban itu Dafa spontan naik darah. Ia melemparkan sebotol air mineral kosong berkali-kali ke arah tumpukan sampah dengan dongkol. "Enak aja ya kalian! Ini tuh aslinya tugas kalian berdua. Kita berdua ini cuma sukarelawan yang berhati malaikat. Bisa-bisanya kalian malah leha-leha kayak mandor proyek begitu!" ketus Dafa sambil memunguti kembali beberapa plastik yang tercecer akibat tiupan angin.
Ares terkekeh, sama sekali tidak merasa bersalah. "Ya elah, Daf, tenang. Jangan emosi dulu, nanti cepat tua. Habis ini ada jamuan khusus buat kalian berdua. Santai aja."
Zizan yang sejak tadi sibuk menyalakan korek api untuk membakar tumpukan daun kering langsung menoleh dengan tatapan penuh curiga. "Halah, paling juga ujung-ujungnya kopi rasa brotowali kayak kemarin. Ogah aku mah. Mending beli sendiri di kantin."
"Iya, betul banget! Mending aku minum air comberan daripada harus menenggak kopi buatan Ares. Sekali teguk langsung bikin kerongkongan mati rasa tiga hari," sahut Dafa bergidik ngeri mengingat eksperimen kopi Ares tempo hari.
Andi tertawa terpingkal-pingkal mendengar ejekan itu. Jiwa kepahlawanannya mendadak bergejolak. Ia langsung bangkit dan menepuk dadanya dengan bangga. "Tenang, tenang! Sahabat-sahabatku yang budiman, kali ini biar aku yang belikan kopi di koperasi depan. Kopi saset premium, bukan kopi herbal abal-abal!"
Ares yang tahu betul kondisi dompet sahabatnya itu langsung menyipitkan mata. "Gayamu sok punya uang, Ndi. Emang kiriman bulananmu sudah masuk? Bukannya kemarin kamu billing tinggal sisa lima ribu?"
Andi seketika terdiam. Ia meraba saku sarungnya yang kempes, lalu meringis lebar seraya menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya, ya. Aku lupa kalau belum dikirimi uang sama orang tua."
"Ah, sudah-sudah. Kita berdua juga enggak butuh kopi jaminan utang dari kalian," timpal Zizan menyudahi perdebatan. "Nanti sore kami berdua mau ke pasar mau mampir ke Alfamart kita mau belanja sepuasnya."
Mendengar kata Alfamart, mata Ares dan Andi langsung berbinar-binar bersamaan. Kehidupan di dalam pondok yang ketat sering kali membuat mereka rindu setengah mati dengan suasana dunia luar.
"Eh, yang bener, Zan? Ikut dong! Pokoknya aku harus ikut!" seru Ares langsung menegakkan posisi duduknya.
"Iya, Zan, Daf! Sumpah, ajak kita napa! Aku juga mau ikut, bosen banget di pondok!" sahut Andi tak kalah heboh.
"Nggak bisa, Res, Ndi. Nggak ada jatah keluar buat kalian berdua hari ini," potong Dafa cepat.
Namun, dua sahabatnya itu justru makin menjadi-jadi. Seperti sudah janjian, Ares dan Andi langsung merangkak kompak mendekati Zizan. Ares memegangi ujung sarung Zizan sebelah kanan, sedangkan Andi mencengkeram ujung sarung bagian kiri. Mereka berdua memasang wajah paling melas sedunia dan merengek bersamaan. "Zan, ayolah, Zan... Ikut, ya? Sekali ini aja. Rasanya kayak ayam petelur dikurung terus di sini," rengek Ares sambil menggoyang-goyangkan sarung Zizan yang hampir merosot.
"Iya, Zizan baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung... tolonglah bawa kami berdua. Janji deh, nanti di pasar kami yang bawain semua barang belanjaan kalian. Jadi kuli panggul dadakan tanpa dibayar pun kami ikhlas, Zan! Please..." timpal Andi ikut merengek kekeh dengan nada suara yang dibuat mirip anak kecil meminta jajan.
Zizan yang merasa risih karena sarungnya ditarik dari dua arah dan hampir melorot akibat ulah kompak mereka langsung menepis tangan kedua sahabatnya itu sambil tertawa geli. "Heh! Lepasin dulu, lepasin! Sarungku mau lepas ini, woi! Lagian ini tuh bukan mau jalan-jalan sore atau jajan foya-foya!"
"Terus mau ngapain? Masa mau tebar pesona sama mbak-mbak penjual sayur?" potong Ares dan Andi kompak, masih dengan wajah memelas.
Zizan menghela napas, lalu menjelaskan situasi yang sebenarnya. "Tadi pagi aku dipanggil sama Abah ke ndalem. Aku dapat perintah buat beli barang di pasar. Dan karena barangnya lumayan banyak dan butuh motor, aku udah ngajak Dafa dari tadi buat nemenin sekaligus nganterin aku. Jadi ini urusan dinas resmi, perintah langsung dari Abah."
Mendengar nama 'Abah Kyai' disebut, nyali Ares dan Andi sempat menciut sejenak. Namun, dasar mereka keras kepala dan sudah telanjur kebelet keluar pondok, mereka belum mau menyerah. Kali ini mereka beralih merayu Dafa yang memegang kunci motor.
"Daf, komandan Dafa yang ganteng... bonceng empat kan bisa? Pakai motor bebekmu itu," rayu Ares dengan gigih.
"Iya, Daf! Aku nyempil di depan deket setang kayak anak TK, si Ares gelantungan di spakbor belakang juga gapapa, yang penting kita berdua ikut keluar gerbang!" rengek Andi kekeh, mengajukan usul yang makin tidak masuk akal.
Dafa memutar bola matanya malas, hampir tidak percaya dengan keandalan mereka dalam merengek. "Bonceng empat dibilang aman? Jangankan sampai pasar, kita belum sampai gapura depan aja udah ditangkap sama keamanan pondok karena dikira rombongan sirkus lepas!
Lagian kalau ketahuan Abah kita bawa rombongan begini, bisa-bisa jatah keluar kami dicabut semua, tahu! Lagian kalian kaya nggak pernah keluar aja heran, deh."
"Ah, kalian berdua pelit banget, deh," gerutu Ares sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya, pelit amat sama temen sendiri," timpal Andi ikut bersedekap dada, pura-pura ngambek setelah lelah merengek.
Melihat pertahanan Dafa dan Zizan yang begitu kukuh dan tidak bisa ditembus oleh rengekan maut mereka, Ares memutar otak untuk mencairkan suasana. Ia tiba-tiba berdiri tegak, membenarkan posisi sarungnya, lalu berlagak ala pelayan kerajaan Eropa abad pertengahan yang sedang melayani pangeran.
"Baiklah, Tuan Muda Dafa dan Tuan Muda Zizan yang sangat tampan, rupawan, dan membawa amanah suci dari Abah. Jika hamba memang tidak diizinkan ikut mengawal, maka apa pun yang Anda inginkan dari koperasi saat ini, akan segera hamba belikan sebagai bentuk bakti hamba," ucap Ares dengan suara yang dibuat-buat seformal mungkin.
Tak mau kalah, Andi pun ikut bangkit dan berdiri di samping Ares. Ia melipat satu tangan di perut dan tangan lainnya di belakang punggung, lalu membungkuk dalam-dalam penuh hormat ala pelayan setia. "Benar sekali, Yang Mulia. Kami berdua siap melayani jalannya pelepasan keberangkatan kalian ke pasar. Mohon restunya agar kami minimal dibelikan gorengan saat pulang nanti."
Mereka berdua kompak memparodikan pelayan kerajaan dengan sangat totalitas. Sementara itu, Dafa dan Zizan yang awalnya ingin tetap pasang muka serius, seketika runtuh dan tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut melihat kelakuan random sahabatnya yang cepat sekali berubah mode.
Dafa langsung memanfaatkan momen emas ini. Ia berdeham berat, menegakkan punggung, dan membalas parodi itu dengan gaya yang tak kalah teatrikal. "Baiklah, wahai para pelayan jelata," ujar Dafa sambil melambaikan tangan dengan anggun.
"Karena kalian sudah menunjukkan bakti, segera belikan saya es jeruk dua, kerupuk pedas dua bungkus, roti sobek, wafer cokelat dan keju, gorengan hangat kalau masih ada, dan rokok dua bungkus satu untuk saya dan satu untuk Tuan Besar Zizan sebagai bekal kami bertugas dari Abah. Saya tunggu di sini, jangan pakai lama!"
Zizan makin terpingkal-pingkal melihat kelakuan Dafa yang malah memanfaatkan situasi untuk memesan menu satu warung penuh dengan tameng 'tugas Abah'.
Sementara itu, Ares dan Andi yang mendengar daftar pesanan Dafa yang di luar prediksi langsung melotot kaget. Sikap hormat kerajaan mereka runtuh seketika. Tubuh mereka layu dan kembali ke mode santri biasa yang merana.
"Daf, yang bener dong! Itu mah namanya merampok, banyak banget pesennya!" keluh Ares dengan suara meninggi.
"Iya, Daf. Tadi kan aku sudah bilang kalau belum dikirimi uang," rengek Andi dengan wajah yang makin kusut.
Dafa hanya tersenyum licik, menikmati kemenangan telaknya. "Tenang saja, Andi yang malang. Semua tagihan mewah ini tentu saja akan dibayarkan penuh oleh Saudara Ares yang terhormat. Benar begitu, kan, Pelayan Ares?"
"Enggak ya! Enak aja, aku enggak janji kalau sebanyak itu. Bisa langsung bangkrut aku sebelum pertengahan bulan!" ketus Ares, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya dan bersandar di pohon, mogok menjadi pelayan.
Tiba-tiba, angin berembus kencang dan meniup asap tebal dari pembakaran sampah tepat ke arah mereka berempat. Zizan langsung terbatuk-batuk kecil sambil mengibas-ngibaskan asap yang menyesakkan dada.
"Udah, ah! Malah pada drama di sini," ketus Zizan menengahi setelah sedari tadi hanya menjadi penonton setia.
"Sana buruan ke koperasi. Beliin apa aja yang penting minumannya dingin dan manis. Buruan, sebelum kerongkongan kita berdua beneran berubah jadi arang karena asap. Habis ini aku sama Dafa harus siap-siap sowan ke ndalem Abah lagi."
Ares menghela napas pasrah, lalu meraba saku celana di balik sarungnya untuk memastikan sisa uangnya cukup untuk membeli minuman dingin. "Ya sudah deh, beneran minuman dingin aja, kan? Jangan nambah yang lain."
"Iya, buruan sana!" usir Dafa sambil tertawa penuh kemenangan.
Ares segera menarik lengan Andi yang masih tampak kebingungan untuk menemaninya berjalan menuju koperasi pondok.
Sementara itu, Zizan dan Dafa kembali melanjutkan pekerjaan mereka sambil senyum-senyum sendiri, mengaduk-aduk tumpukan sampah menggunakan kayu panjang agar apinya merata dan cepat selesai sebelum mereka berangkat menjalankan tugas dari Abah
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca