Soraya Foster seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bernama Ryan Mattiew. Kisah mereka semakin rumit ketika Soraya tiba-tiba hamil anak Ryan.
Hal itu membuat Ryan dikirim oleh kedua orang tuanya ke luar negeri agar berpisah dari Soraya.
Lima tahun kemudian Ryan kembali, dia sudah melupakan masa lalunya dengan Soraya dan sudah memiliki tunangan.
Saat ia kembali ke negaranya di situlah Ryan bertemu kembali dengan Soraya guru yang dulu adalah cinta monyetnya, dan dia menyadari ada anak kecil yang tumbuh bersama Soraya.
Akankah Ryan bisa kembali mendapatkan hati Soraya dan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33 • Pertemuan
Sora berdiri di depan cermin mengenakan gaun berwarna ungu tua panjang, sementara rambut panjangnya ia biarkan tergerai indah, semantara itu Nora pun juga tampak tak kalah memesona dari sang ibu. Gadis itu memakai gaun dengan potongan lebih pendek membentuk tutu hingga membuat Nora terlihat lucu dan menggemaskan.
“Ini acara pernikahan paman yang waktu itu datang ke toko bunga paman Regan, kan bu?” Suara mungil yang keluar dari mulut Nora membuyarkan lamunan Sora.
“Ah... Iya, Nak. Kita akan ke sana. Apakah kau suka?”
“Ya... Aku suka. Pasti banyak kue dan coklat di sana.” Tawa riang begitu tergambar jelas di wajah mungil Nora. Hal itulah yang selalu memberi semangat pada hidup Sora. Ia tidak bisa membayangkan—jika tidak ada Nora, bagaimana dirinya bisa menjalani hidup.
Sepasang ibu dan anak itu keluar kamar, dan tentu saja pria tampan yang sudah mengenakan tuksedo berwarna hitam berdiri menunggu mereka dengan eekspresi tidak sabar.
Kala netranya menangkap penampakan dua wanita memukau yang berjalan keluar kamar, pria itu tampak berbinar, di seperti tidak percaya melihat kecantikan luar biasa yang terpancar dari Nora dan Sora.
“Calon istriku dan anakku begitu cantik seperti ratu dan puteri dari negeri dongeng.”
Sora memilih diam, karena malu—tapi tidak dengan Nora yang langsung berlari meminta digendong oleh calon ayahnya itu.
“Paman... Apakah aku cantik?” tanya Nora dengan ekspresi polosnya.
“Tentu, bahkan putri salju dan putri Cinderella pun akan tunduk padamu, Nak. Karena kau telah mengalahkan kecantikan mereka.”
“Benarkah?”
Regan mengangguk penuh semangat, matanya melirik ke arah Sora yang tampak malu-malu, lalu pria itu mengulurkan tangannya agar sang wanita pujaannya itu mau menggenggam tangannya keluar dari rumah. Sungguh sempurna hidup Regan, seolah dunia beserta isinya ada di dalam genggamannya kala ia menerima kenyataan jika sepasang ibu dan anak ini akan menjadi miliknya secara utuh.
***
Langkah kaki Sora gamang, kala mereka akan masuk ke dalam lobby hotel di mana acara itu tengah diadakan. Ia berhenti sejenak mengatur napas, sementara Regan yang menggendong Nora mengerti jika Sora tengah gugup dan sibuk mengatur napasnya sendiri.
“Tarik napas dalam-dalam, dan buang perlahan.”
Mata Sora menatap wajah Regan yang begitu tampan, dan lembut. Ia mengerjakan apa yang diperintahkan pria itu, dan beberapa detik kemudian ia mampu mengatur kembali napasnya dengan baik.
“Apa aku terlihat konyol?” tanya Sora, karena merasa bodoh.
“Kau cantik, mana mungkin terlihat konyol, aku yakin kau adalah satu-satunya wanita cantik yang ada di dalam hotel ini.”
Gombalan Regan membuat Sora tersenyum tipis, ya... Begitulah Regan yang mampu membuat Sora tersenyum bahkan tertawa di kala dirinya sedih.
Regan kembali mengulurkan tangannya agar Sora mau menggandeng tangannya. Namun, Regan meminta agar Sora mengalungkan tangannya ke lengan pria itu, dan Sora menyetujuinya. Keduanya masuk ke dalam seperti layaknya keluarga kecil yang bahagia.
Banyaknya tamu yang datang dari kalangan elit tentu membuat Sora terlihat terintimidasi, tapi tidak untuk Regan, dia terlahir dari sepasang orang tuanya yang bisa dibilang tidak sembarangan, ia mewarisi kekayaan yang tidak main-main. Namun, dia memilih tidak menampakkan itu semua, dan hidup sederhana meski uang di rekeningnya tidak main-main.
“Tuan Regan.... ” Seseorang menyapa Regan, hal itu membuat ketiganya menoleh. Pria paruh baya yang tampak terlihat berwibawa tersenyum pada mereka.
“Tuan Kingston!” Regan tidak terkejut, karena tentulah pasti pengusaha tekstil ini akan diundang ke dalam acara ini.
“Bagaimana kabar Anda? Oh... Perkebunan orang tua Anda berjalan lancar.” Pria itu tampak ingin berbasa-basi pada calon suami Sora.
Tampi ucapan tuan Kingston membuat Sora sedikit menaikkan alis, perhal perkebunan. Regan sendiri yang Sora tahu hanya memiliki toko bunga, dan itu warisan dari mendiang sang ibu yang meninggal kala dia masih belia.
Mata tuan Kingston beralih ke sepasang ibu dan anak yang datang bersama Regan. “Mereka siapa, Tuan Regan? Kupikir Anda belum pernah menikah? ” tanyanya lagi.
“Dia calon istriku dan anakku. ” Jawaban Regan yang begitu mantap membuat Kingston tampak memasang wajah ragu.
“Ah... Begitu rupanya. Anda memang pandai dalam memilih calon istri. Dia terlihat cantik.”
Sora hanya tersenyum canggung mendapat pujian yang ia tahu pasti hanya untuk basa-basi.
“Selamat malam.” Suara seorang pria membuyarkan percakapan mereka, sontak semua menoleh ke arah sumber suara. Ryan sudah berdiri di hadapan mereka seorang diri dengan senyum paling ramah yang ia miliki.
“Tuan Ryan!” Tuan Kingston langsung mengulurkan tangan ingin berjabat tangan pada mempelai pria itu. “Selamat atas pertunangan Anda. Kalian berdua tampak serasi.”
“Terima kasih, Tuan. ” Ryan tidak memerhatikan Tuan Kingston. Bola matanya tertuju pada wanita yang berdiri bersanding bersama Regan, dan gadis kecil yang ada dipelukan pria itu.
Seharusnya dirinya yang berdiri di sana, bukan Regan. Dia yang harus menggendong putri kecil dan tentu wanita cantik bergaun ungu itu.
“Terima kasih kalian sudah datang.”
Sora enggan menjawab dan memilih membuang muka.
“Terima kasih sudah mengundang kami, tentu ini adalah suatu kehormatan untuk kami bertiga.”
Semangat, ditunggu up selanjutnya...
Semoga happy end ya, /Drool/
jadi korban