Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sandiwara
Festival Sekolah. Jam 05.30 WIB.
Annas menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi.
Wajahnya masih pucat, meski tidak seputih tadi malam. Lingkaran hitam di bawah matanya tercetak jelas. Dia merapikan kerah kemeja putihnya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu mengenakan jas almamater OSIS kebanggaannya.
Di samping wastafel, ada satu strip obat Paracetamol 500mg. Dua butir sudah kosong.
Annas menelan ludah. Tenggorokannya masih terasa kering dan perih, sisa radang semalam.
"Nas? Udah siap?"
Suara Fadhil terdengar dari balik pintu.
Annas menarik napas panjang, memasang ekspresi tegar, lalu membuka pintu. Adiknya sudah rapi dengan seragam panitia, ia menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Astaghfirullah, muka lo masih kayak mayat hidup, Nas. Yakin kuat? Gue bisa gantiin sambutan kalau lo mau."
"Gue kuat. Lagian ini 'kan hari H. Gue harus ada di sana."
Fadhil menghela napas pasrah. Dia tahu sekeras apa kepala kakaknya. "Ya udah. Tapi obat lo dibawa. Kalau lo pingsan di panggung, gue seret lo pulang detik itu juga!"
Jam 06.30 WIB. Di Sekolah.
Suasana sekolah sudah berubah total.
Gerbang depan dihias meriah penuh dengan balon warna-warni. Musik gamelan modern menyambut tamu undangan yang mulai berdatangan. Mobil-mobil pejabat dinas dan yayasan berjejer rapi di parkiran VIP.
Annas berjalan membelah keramaian koridor menuju tenda VIP. Setiap siswa yang berpapasan dengannya menyapanya dengan hormat.
"Pagi, Kak Annas!"
"Semangat pidatonya, Kak!"
Annas hanya mengangguk dan tersenyum tipis, meski ia harus menutupi rasa pusing yang mulai menyerang lagi akibat bisingnya suara sound system.
Sesampainya di tenda VIP yang sejuk, Annas melihat pembinanya.
Guru itu duduk santai di sofa kulit, berbincang akrab dengan Kepala Sekolah. Dia mengenakan batik sutra yang licin dan rapi. Wajahnya terlihat segar bugar, sangat kontras dengan wajahnya yang pucat kemarin siang.
Begitu melihat Annas masuk, Pak Dimas langsung berdiri dan melambaikan tangan.
"Nah! Ini dia bintang kita hari ini!" seru Pak Dimas dengan ramah.
Bapak Kepala Sekolah yang duduk di sebelahnya pun ikut tersenyum. "Annas, Bapak dengar kamu kerja keras sampai sakit ya? Luar biasa dedikasinya."
"Enggak, kok. Cuma kecapekan sedikit," Annas menyalami tangan kedua orang itu dengan sopan. Tangannya dingin, kontras dengan tangan Pak Dimas yang hangat.
"Sini duduk dulu, Nas. Minum teh hangat biar enakan," Pak Dimas menepuk sofa di sebelahnya.
Annas pun menurut.
"Gimana persiapan akhir? Dananya cukup kan?" tanya Pak Dimas tiba-tiba.
"Alhamdulillah cukup, Pak. Berkat bantuan Bapak kemarin juga," jawab Annas dengan tenang.
"Syukurlah, Bapak kepikiran terus semalaman. Bapak takut dananya masih kurang, terus kamu nekat nalangin pakai uang pribadi kamu."
Annas tersenyum tipis menatap pembinanya itu.
"Kamu nggak pakai uang tabungan kamu kan, Nas?" tanya Pak Dimas lagi.
Annas menggeleng pelan. "Enggak, Pak. InsyaAllah aman."
"Baguslah. Jangan sampai ya. Bapak jadi inget kejadian tiga tahun lalu. Ketua OSIS angkatan 2022, si Raka. Dia anak baik kayak kamu. Waktu itu dana kurang, dia takut lapor ke sekolah karena takut dimarahin. Akhirnya dia diem-diem jual motornya buat nalangin." bisik Pak Dimas, takut kepala sekolah mendengar.
Pak Dimas lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ujung-ujungnya dia sakit tifus, stres, nilainya anjlok. Bapak nggak mau murid kesayangan Bapak kayak gitu. Kalau ada masalah uang, bilang sama Bapak. Kita cari solusinya bareng-bareng. Jangan dipendam sendiri, ya?"
Annas menatap wajah gurunya itu. "Iya, Pak. Saya ngerti. Terima kasih perhatiannya."
"Sip. Itu baru Ketua OSIS andalan Bapak." Pak Dimas menepuk bahu Annas.
"TES! SATU DUA! MOHON PERHATIAN!"
Suara MC terdengar dari panggung utama.
"Acara akan segera dimulai. Kepada Ketua Panitia sekaligus ketua OSIS kita, Saudara Annas Kafriel Taravindra, dipersilakan menuju podium untuk memberikan sambutan."
Tepuk tangan langsung meriah di seluruh lapangan.
"Nah, dipanggil tuh. Sana, tunjukkan pesonamu," Pak Dimas tersenyum lebar, menyemangati.
Annas berdiri. Dia merapikan jasnya sekali lagi. Lalu menatap Pak Dimas sekilas, setelah itu membalikkan badan berjalan menuju panggung.
Cahaya matahari pagi dan lampu sorot menyambutnya saat dia menaiki tangga panggung. Ratusan pasang mata langsung tertuju padanya.
Annas berdiri di balik podium. Dia menarik napas dalam-dalam, menekan rasa sakit di kepalanya, lalu menatap lurus ke depan.
Di barisan VIP paling depan, dia melihat Pak Dimas duduk dengan kaki disilangkan, tersenyum bangga sambil bertepuk tangan.
Annas pun mendekatkan mulutnya ke microphone.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh.." jawab para hadirin dengan serentak.
....
Setelah Annas menyampaikan ucapan terima kasih banyak atas kehadiran para undangan juga tak lupa kerja keras para panitia dan siswa yang membantu persiapan acara, ia pun menutup pidatonya.
Tepuk tangan kembali menggema dari seluruh penjuru lapangan. Pak Dimas di barisan depan bertepuk tangan paling antusias.
Annas menarik napas panjang. Paru-parunya terasa berat, dan pandangannya mulai berkunang-kunang lagi karena sorot lampu yang terlalu terang. Namun, tugasnya belum selesai. Dia harus membuka acara ini.
Annas akhirnya kembali mendekatkan bibirnya ke mikrofon.
"Dan sebagai kejutan untuk pembuka—"
SREEEET!
Tiba-tiba, suara feedback mikrofon yang melengking memotong ucapan Annas.
Dari arah samping panggung, sesosok tubuh berlari menaiki tangga dengan gesit, menyambar mikrofon cadangan dari tangan MC yang bengong, lalu melompat ke tengah panggung tepat di samping Annas.
"YOOO! TUNGGU DULU DONG!"
Suara Fadhil menggelegar memenuhi lapangan, mengejutkan semua orang, termasuk Kepala Sekolah dan Pak Dimas.
Fadhil langsung merangkul bahu Annas dengan kencang.
"Masa pembukaan seseru ini yang bawain Ketos yang mukanya kaku kayak kanebo kering? Nggak asik, Bos!" seru Fadhil ke arah penonton, memancing gelak tawa dari para siswa.
Annas menoleh kaget. "Lo..."
Fadhil mematikan mikrofonnya sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Annas.
"Muka lo udah pucet banget, bego. Lo mau pingsan di depan Pak Dimas?"
Annas langsung terdiam. Dia bisa merasakan tangan Fadhil mencengkeram bahunya kuat-kuat, adiknya itu ternyata takut kalau kakaknya ambruk tiba-tiba di depan panggung.
"Turun, Nas. Kerjaan teriak-teriak gini nggak cocok sama lo yang sok cool. Serahin panggung ini ke gue. Gue yang bakal bikin rusuh."
Annas menatap mata adiknya. Ada kekhawatiran yang tulus di sana. Ia akhirnya menghela napas pelan, mengakui bahwa tubuhnya memang sudah di batas toleransi.
Annas mengangguk samar.
Fadhil langsung menyalakan mikrofonnya lagi. "Nah! Karena Pak Ketos setuju kalau dia kurang party, sekarang kendali diambil alih sama Eryandra Al Fadhil Taravindra! Cowok ganteng nan kocak ini! Tepuk tangannya mana woy?!"
Sorakan histeris, terutama dari siswi-siswi, langsung meledak.
Annas mundur perlahan, membiarkan Fadhil menjadi pusat perhatian. Dia berjalan menuruni tangga panggung di sisi kiri, menjauh dari keramaian dan sorot lampu yang menyilaukan.
Namun, sebelum Annas benar-benar turun dan menghilang di balik tenda, langkahnya berhenti sejenak.
Mata tajamnya terarah lurus ke sudut lapangan yang paling jauh. Ke arah sebuah terop tempat sound system cadangan disimpan.
Di sana, ada sedikit pergerakan. Seseorang sedang berdiri mengawasi panggung, menunggu perintah.
Annas menatap titik itu, lalu memberikan satu anggukan pelan.
Orang di balik tenda biru itu mengangkat tangannya, memberikan kode jempol.
-BERSAMBUNG.