Perbedaan strata seseorang selalu dilihat dari beberapa aspek. Harta lebih sering dijadikan alasan untuk menentang hubungan percintaan dua anak manusia. Saras anak seorang pengusaha mencintai Indarto yang hanya seorang guru SMA. Perbedaan ekonomi menjadikan Tuan Haidar sang ayah menjadi murka. Namun berkat hati seorang ibu, akhirnya Saras boleh merasakan kebahagiaan hidup bersama Indarto...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Beatrix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXXIII
"Mas Indarto, mari kita kembali ada yang harus dibicarakan berkaitan kepergian bapak dan ibu Dharmo." kata pak Atmo yang merupakan tetangga Pakde Dharmo terdekat.
Indarto pun mengangguk dan mengajak pulang seluruh keluarga nya dan meninggalkan pemakaman.
Sesampainya mereka di rumah ternyata rumah sudah dalam keadaan bersih dan rapi. Barang-barang yang sebelumnya terpakai sudah dikembalikan ke tempat semula.
Setelah membersihkan diri, mereka semua berkumpul di ruang tamu. Pak Atmo dan beberapa orang perangkat desa ikut berkumpul karena mereka akan dijadikan saksi atas hasil dari pembicaraan mereka ini.
"Assalamualaikum... Maaf sebelumnya saya lancang ikut campur dalam urusan keluarga almarhum pakde Dharmo." Pak Atmo memulai pembicaraannya.
"Sekali lagi saya atas nama seluruh warga menghaturkan rasa dukacita yang mendalam kepada keluarga khususnya kepada Mas Indarto dan Mba Alya." lanjut pak Atmo.
"Sebelum kepergian Pakde Dharmo, beliau datang kepada saya dan beliau membawa sebuah amplop tersegel yang isinya saya tidak tau. Namun beliau berpesan untuk membersihkan amplop ini kepada mas Indarto dan Mba Alya." kata pak Atmo sambil menyerahkan amplop coklat kepada Indarto.
Indarto kemudian menerima amplop coklat tersebut. Dia menengok ke arah Alya untuk meminta persetujuan. Lalu Indarto membuka amplop coklat itu. Ternyata amplop itu berisi surat wasiat pakde Dharmo untuk Indarto dan Alya.
Indarto memperoleh sebidang sawah yang luasnya kira-kira 2 kota atau sekitar 2000 m2. Dan Alya memperoleh rumah peninggalan pakde Dharmo. Namun Alya menolak rumah pemberian pakde Dharmo dengan alasan dia sudah memperoleh dari kedua orang tua nya yang nilai sangat besar. Alya menyerahkan nya kepada Indarto karena dia tau kehidupan sepupu nya ini.
"Jangan Al, itu hak kamu. Dan amanat dari pakde." tolak Indarto
"Gak Mas, warisn kedua orang tuaku yang kemarin masih sangat besar buatku mas. Mas In lebih membutuhkan daripada aku." jawab Alya.
Akhirnya Indarto mengalah dan menerima pemberian Alya dengan lapang dada. Karena semuanya sudah selesai. Maka Pak Atmo dan yang lainnya undur diri. Hanya meninggalkan keluarga inti saja.
Indarto dan Saras memutuskan akan menetap di rumah pakde Dharmo. Rumah dinas nya akan dikembalikan kepada Andre. Indarto juga memutuskan untuk mengelola sawah pemberian pakde Dharmo dan akan mengajar di tempat dia tinggal sekarang. Sementara Alya akan kembali ke kota A bersama keluarganya.
Hari berganti hari, bulan pun berganti. Tak terasa hampir 1 dasawarsa. Indarto sekarang menjadi seorang petani dan Saras membuka toko kecil-kecilan. Dan Lia sekarang sudah duduk di kelas IX dan menjadi gadis yang cantik dan pintar.
Karena kepintarannya, Lia kerab kali mendapatkan juara kelas dan mendapatkan beasiswa dari sekolah. Selain itu Lia juga disayang para guru dan teman-teman nya.
Hari itu adalah hari di mana penentuan kelulusan Lia dari SMA.
"Bu... ibu... hari ini pengumuman kelulusan Bu. Lia mau berangkat sekarang ya." teriak Lia.
Saras yang sedang berada di dapur tidak menjawab. Karena tidak ada jawaban. Lia akhirnya mendatangi Saras ibu nyabyang sedang berada di dapur.
"Bu.... Lia berangkat ke sekolah ya" kata Lia.
Mendengar suara anak gadisnya, Saras membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan Lia.
"Kenapa buru-buru Nak. Makan mu sudah habis belum?" tanya Saras.
"Sudah Bu. Hari ini pengumuman kelulusan Bu. Jadi Lia buru-buru Bu. O iya ayah mana Bu?" kata Lia.
"Ada di kebun belakang. Sana pamit dulu sama ayah." kata Saras.
Lia pun bergegas ke belakang untuk menemui sang ayah.
Dengan mengendap-endap Lia menghampiri Indarto sang ayah. Lalu Lia memeluk ayahnya dari belakang.
"Hmmm.... anak ayah pagi-pagi udah manja sama ayah. Udah mau lulus SMA kok masih manja sih" kata Indarto.
Saras menghampiri mereka dengan membawakan pisang rebus kesukaan Indarto dan Lia.
Mereka bertiga makan dengan canda tawa. Tampak sekali kebahagiaan terlihat di wajah mereka. Kini waktunya Lia untuk berangkat.
"Ayah, ibu aku berangkat ya. Doain Lia ya supaya lulus dengan hasil yang memuaskan." kata Lia sambil memeluk kedua orang tuanya.
"Kamu pasti lulus. Kamu kan anak pintar. Kebanggaan ayah dan ibu." kata Indarto sambil mengelus rambut Lia.
"Apa perlu ayah antar Li?" tanya Indarto.
"Ndak usah ayah. Lia ngontel aja. Kan ayah mau antar ibu ke pasar." kata Lia.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya nak." kata Indarto.
"Iya ayah. Lia berangkat ya." kata Lia sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
Lalu dengan menggunakan sepeda ontel nya Lia pun berangkat ke sekolah yang jaraknya kira-kira 5 kilo meter dari rumahnya.
Setelah pengumuman kelulusan selesai. Lia bergegas pulang ke rumah untuk memberitahukan kabar gembira karena Lia lulus dengan nilai terbaik.
Namun begitu sampai di rumah justru kabar duka yang didapat nya. Ayah dan ibu harus meregang nyawa karena korban tabrak lari.