PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
BAB 32 — RAHASIA YANG TERKUBUR
Suara tembakan perlahan mulai berhenti.
Hujan masih turun, tetapi tidak lagi sekeras sebelumnya.
Di depan rumah persembunyian, beberapa mobil hitam milik Pasukan Bayangan sudah pergi meninggalkan tempat itu.
Namun rasa takut dan penasaran masih tertinggal.
Eiri berdiri diam di ruang tengah.
Tatapannya kosong.
Sejak kemunculan Arven...
Pikirannya tidak berhenti bertanya.
"Paman..."
"Eiri?"
Mahendra menghampiri.
Gadis itu menoleh perlahan.
"Kenapa semua orang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Mahendra terdiam.
Ia tahu...
Tidak ada jawaban mudah untuk pertanyaan itu.
"Aku bahkan tidak tahu siapa keluargaku sendiri."
Suara Eiri mulai bergetar.
"Aku hanya tahu mereka pergi meninggalkanku."
"Tapi sekarang..."
"Ternyata ada begitu banyak hal yang tidak aku ketahui."
Mahendra menatapnya dengan lembut.
"Kita akan mencari tahu semuanya."
Eiri tersenyum kecil.
Namun senyum itu terlihat sedih.
"Bagaimana kalau kebenarannya membuatku membenci mereka?"
Mahendra tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu...
Kadang kebenaran memang bisa menghancurkan seseorang.
Di sisi lain ruangan...
Alena duduk sambil memegang tongkatnya.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan sebelumnya.
Ergan mendekat.
"Alena."
"Apa sebenarnya yang terjadi lima belas tahun lalu?"
Wanita tua itu menutup matanya.
"Lima belas tahun lalu..."
"Pulau Arkan tidak hanya kehilangan seorang penjaga."
"Kami kehilangan sebuah keluarga."
Semua orang terdiam.
Alena menarik napas panjang.
"Ayah Eiri datang ke pulau itu bersama istrinya."
"Mereka membawa Eiri yang masih bayi."
"Mereka meminta perlindungan."
Ergan mengerutkan kening.
"Dari siapa?"
Alena menatap ke arah jendela.
"Dari Arven."
Eiri yang mendengar nama itu langsung menoleh.
"Kenapa?"
Alena terdiam cukup lama.
"Karena Arven menginginkan sesuatu yang dimiliki Eiri."
"Apa?"
Alena menatap Eiri.
"Sebuah warisan."
Eiri bingung.
"Aku tidak mengerti."
"Warisan apa?"
Alena belum sempat menjawab.
Tiba-tiba...
Lampu rumah mati.
Gelap.
Semua orang langsung waspada.
"Semua posisi!"
Suara Ergan terdengar.
Beberapa detik kemudian...
Sebuah layar kecil di meja menyala.
Sebuah pesan masuk.
Mahendra mendekat.
Di layar muncul satu kalimat.
AKU AKAN MEMBERIKAN JAWABANNYA SENDIRI.
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah foto.
Foto lama.
Foto keluarga Eiri.
Namun kali ini...
Ada seseorang yang berdiri di belakang mereka.
Arven.
Eiri menatap foto itu dengan tangan gemetar.
"Tidak..."
"Dia sudah ada di sana sejak dulu?"
Alena menunduk.
"Ya."
"Dia selalu mengawasi keluargamu."
Mahendra mengepalkan tangannya.
"Berarti semua ini sudah direncanakan."
Alena mengangguk.
"Dan yang paling buruk..."
"Ada kemungkinan dia tidak datang untuk mengambil Eiri."
Mahendra menatapnya.
"Lalu untuk apa?"
Alena menatap Eiri dengan wajah serius.
"Untuk membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur."
Eiri membeku.
"Apa maksudnya?"
Namun sebelum Alena menjawab...
Suara telepon terdengar.
Semua orang terdiam.
Mahendra melihat layar.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
"Siapa?"
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara pria.
Suara yang sama.
Suara Arven.
"Mahendra."
"Kau boleh melindungi Eiri dari semua orang."
"Tapi kau tidak bisa melindunginya dari darahnya sendiri."
Mahendra diam.
Arven melanjutkan.
"Besok malam..."
"Bawa Eiri ke tempat kelahirannya."
"Atau..."
"Aku akan memberitahukan seluruh dunia siapa sebenarnya Eiri."
Sambungan terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Eiri menatap Mahendra.
"Aku harus pergi."
Mahendra langsung menatapnya.
"Tidak."
"Eiri..."
"Aku sudah lelah melarikan diri."
"Aku ingin tahu siapa diriku."
Mahendra terdiam.
Karena kali ini...
Ia tahu Eiri benar.
Namun jauh di dalam hatinya...
Ada firasat buruk.
Karena orang seperti Arven...
Tidak pernah meminta sesuatu tanpa alasan.
Dan perjalanan menuju masa lalu Eiri...
Baru saja dimulai.
Bersambung...