Semua orang pikir hidup Sheana begitu Indah padahal jauh di luar itu. Banyak kesakitan yang ia lalui selama ini. Dan ia menutupi kesakitan nya dengan sikapnya yang seenak sendiri serta arogan. Bukan itu saja banyak keburukan telah ia lakukan selama ini.
Hingga dia bertemu seorang polisi yang menyelamatkan nyawanya dulu, membuatnya perlahan tertarik dengan Polisi yang ia pikir munafik itu.
Zidan Gautam Aditya, Polisi tampan yang harus berurusan dengan perempuan pembuat onar. Dia yang tak perduli, perlahan mulai perduli dan kasihan terhadap perempuan yang terlihat kuat di luar ternyata rapuh didalam. Rasanya ia ingin terus berada disisinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fafacho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 33
Satu minggu berlalu setelah kejadian itu, Zidan dan Sheana tak sengaja bertemu di mall. Zidan yang saat itu tengah bersama dengan Gladys untuk membeli sepatu wanita itu. Sheana yang kebetulan akan membeli sepatu juga tak sengaja melihat Zidan yang di rangkul lengannya oleh seorang wanita tengah melihat-lihat sepatu di raknya. Sheana ke toko sepatu itu tidak sendiri melainkan dengan Julian yang mengantarkannya kesitu.
Zidan terdiam melihat Sheana yang berdiri tak jauh di depannya, perempuan itu baru masuk ke dalam toko. Zidan bisa melihat Sheana tersenyum miring meremehkan dirinya, senyum itu ia tahu apa maksudnya.
“bang,” panggil Gladys pada Zidan yang tak terlalu menanggapi ucapannya.
“Iya” ucap Zidan langsung melihat kearah Gladys,
“Kamu nggak denger dari tadi aku ngomong apa” pungkas Gladys melihat Zidan yang tidak fokus dengan apa yang di katakanya.
“Ayo kita pergi dari sini” ucap Sheana yang sedari tadi melihat Zidan dengan perempuan lain, melihat itu matanya serasa tak tahan untuk mengabaikannya.
“Kenapa pergi? Bukannya kau ingin beli sepatu di sini” heran Julian melihat aneh Sheana padahal sepupunya itu sering membeli sepatu di tempat branded ini.
“Sudahlah tidak usah banyak tanya, ayo kita pergi saja mataku sumpek melihat hal-hal yang tak berguna” tukas Sheana dan langsung menarik Julian pergi.
Zidan yang melihat itu langsung beralih melihat Sheana yang sudah pergi dengan seorang pria tatapannya tak lepas dari perempuan tersebut.
Gladys yang menyadari ada yang aneh dengan kekasihnya diam sambil melihat terus wajah Zidan yang tak berkedip sama sekali memperhatikan perempuan yang pernah di gosipkan dengan tunangannya itu.
...............................................
Sheana yang sudah sampai rumah langsung masuk ke dalam saat Julian sudah pergi, sepupunya itu hanya mengantarkan dirinya hingga depan rumah karena ada urusan yang harus ia selesaikan. Baru saja dia masuk kedalam, kakaknya sudah berdiri didepannya saat ini, pria itu yang seminggu ini tak dirumah tiba-tiba saja ada dirumah membuat dia terkejut saja.
“Kakak kenapa sih ngagetin aja” kesal Sheana pada kakaknya yang tiba-tiba berdiri didepannya itu.
“Kamu darimana?” tanya Sean.
“Bukan urusan kakak aku darimana” jawab Sheana dan dia akan berjalan melewati Sean.
“ayo ikut kakak” ucap Sean yang tiba-tiba saja mengajak Sheana pergi.
“Kemana? Males ah capek” tolak Sheana dan akan pergi.
“Kali ini aja kamu bisa nggak sih nurut sama kaka, kenapa kamu masih marah saja denganku sedangkan dengan Daddy kau sudah baik” tukas Sean menatp Sheana yang berbalik melihatnya.
“wajarkan aku benci sama kakak, kakak lupa apa yang dulu kau perbuat padaku. Apa kakak pikir aku bakal memaafkan begitu saja. kau tidak ingat apa yang kau lakukan padaku dulu” pungkas Sheana.
“Aku tahu aku salah, aku minta maaf soal kesalahanku dulu. ayolah Sheana kali ini saja kau ikut denganku. Kita jadi adik dan kakak yang saling mendukung satu sama lain bukan saling bertengkar seperti ini” ucap Sean terkesan memohon,
“Ayo...” Sheana yang sejenak diam langsung berjalan keluar lebih dulu. Dia yang melihat wajah memelas dan menyedihkan kakaknya itu rasanya tak tega melihatnya, Sean sudah begitu memohon padanya selama ini.
Sean tersneyum melihat Sheana yang mau dengan ajakannya, dia tahu adiknya itu seperti apa. Sheana sekarang ternyata masih memiliki hati seperti Sheana yang dulu hati yang baik serta iba pada semua orang. Sean berjalan cepat menyusul Sheana yang keluar lebih dulu dari rumah.
“Adik ku ternyata masih sama seperti dulu, andai kamu juga sering tertawa dan tersenyum seperti dulu kakak bakal lebih senang” ucap Sean yang sudah berhasil menyamai langkah Sheana.
Sheana langsung menghentikan langkahnya dan melihat kakaknya yang tersenyum padanya saat ini. Dia menatap jengah dengan ucapan itu,
“jangan harah” decih Sheana dan kembali melanjutkan jalannya meninggalkan Sean.
Sean tak mempermasalahkan hal itu dia malah tersenyum, dan menyusul Sheana yang menuju ke mobil miliknya.
................
Sean ternyata mengajak Sheana ke tempat makan yang ada di sebuah hotel bintang lima. Sheana yang sedari parkiran tadi bingung kenapa Sean mengajaknya kesini semakin dibuat bingung saat pria itu memesan tiga makanan padahal mereka hanya berdua saat ini.
“kenapa pesan tiga, memang akan ada orang yang datang” tanya Sheana pada kakaknya.
“Iya, ada seorang yang ingin bertemu denganmu” jawab Sean sambil melihat ponsel miliknya.
“Dimana orang itu, kenapa belum ada disini dan siapa yang ingin bertemu denganku” pungkas Sheana menatap penasaran kakaknya.
“Sebentar lagi dia turun”
“Itu dia,” tunjuk Sean pada seorang pria yang tinggi tegap serta berkulit putih.
Mata Sheana melebar melihat pria itu, dia terkejut bagaimana Sean bisa mengenal anak dari ibu kandungnya itu.
“Dia,.” Shean tercekat saat pria itu semakin mendekat.
“Iya dia, dia adik tirimu anak dari mama kandungmu Sheana. Kau belum pernah bertemu dengannya kan? kebetulan dia ada di sini dan ia ingin bertemu denganmu” jelas Sean yang sengaja ingin mempertemukan Sheana dengan saudaranya yang lain.
“Aku sudah tahu dia siapa, aku sudah pernah bertemu dnegannya sebelumnya. Ayo kita pulang kak” ucap Sheana yang akan berdiri sebelum Satria sampai di meja mereka.
“Apa? kau sudah pernah bertemu dengannya.”
“Hemm, bukan dengannya saja tapi dengan perempuan jahat itu” tukas Sheana menatap sinis Satria yang sudah sampai di meja mereka. Dia tersenyum pada Sean dan menjabat tangan pria tersebut.
“Maaf aku terlambat, kak Sean” ucap Satria pada Sean.
“Tidak masalah, mari duduk” ucap Sean mempersilahkan Sheana untuk duduk.
“Apa kabar mbak Sheana, maaf beberapa waktu lalu aku tidak menyapamu” Satria beralih melihat Sheana yang berada di sebelahnya.
“Mbak, mbak memang gue babu lo apa” ketus Sheana yang tak suka dengan Satria. Pria itu lebih muda darinya dua tahun.
Satria malah tersenyum mendengar ucapan sheana barusan,
“Mbak itu artinya kakak kalau di jawab mbak” balas Satria sambil tersenyum kecil dengan kakaknya yang berbeda ayah darinya itu. yups, dia tahu karena waktu itu saat Sheana mengobrol dengan ibunya ia tak sengaja melihat mereka dan mendengarkan semuanya dari balik persembunyian. Alasannya ingin menemui Sheana saat ini karena ia ingin meminta maaf atas nama ibunya dan inginmenjalin hubungan kakak adik yang baik meski mereka berbeda ayah.
“bodo amat apa artinya gue nggak perduli, ayo kak kit pulang ngapain juga ketemu sama bocah nggak jelas ini” pungkas Sheana mengajak Sean untuk pulang.
“Duduk Sheana,” tegas Sean menyuruh adiknya untuk duduk.
“Kak,” rengek Sheana terus mengajak pulang bak anak kecil.
“Aku bilang duduk, Satria kau juga.” pinta Sean pada keduanya.
Satria langsung duduk di tengah-tengah mereka karena mejanya berbentuk bundar, Sheana mau tak mau akhirnya juga duduk.
“jadi kalian sudah pernah bertamu sebelumnya?” tanya Sean smabil melihat keduanya.
“Iya, dia ke Semarang dengan pacarnya waktu itu kak. Dan ketemu sama ibu, dan aku menghubungi kak Sean karena ingin bertemu kakakku saja untuk minta maaf atas apa yang ibu ucapkan waktu itu” jelas Satri membeberkan alasannya
“Dia bukan pacarku jangan sok tahu” sangkal Sheana saat Satria menyebut Zidan pacarnya.
“Maaf kalau salah” pungkas Satria.
“Untuk kak Sean, terimakasih kak karena sudah merespon diriku dengan baik dan mau mengajak kak Sheana untuk menemuiku” lanjut Satria
“Sama-sama, alasanmu masuk akal ditelingaku dan kau terdengar tulus mengatakannya”
“hah, ini pembicaran macam apa sih. Kalau tidak penting kita pergi saja, membosankan. Dan kau tidak perlu minta maaf lagi pula dia bukan siapa-siapaku, aku tak perduli dengan ucapan perempuan itu” ucap Sheana.
“kau tidak mau aku panggil mbak, kalau begitu aku panggil kakak saja. kak Sheana mari menjalin hubungan yang baik satu sama lain, kau tidak sendiri aku adikmu. Mari jadi kakak adik yang kompak kedepannya” Satria terlihat tulus mengatakannya dia juga mengulurkan tangannya.
Sheana hanya diam saja melihatnya,
“Mari kita jalin kekeluarga ini, anggap aku kakakmu juga” karena Sheana tak kunjung membalas uluran tangan Satri membuat Sean yang menjabat tangan pria itu.
“Kak Sheana sepertinya orang yang gengsian ya, sama kayak ibu berarti” ucap Satria smabil tersenyum melihat kearah Sheana.
“hei kau, kau begini ibumu itu apa setuju dengan hal konyol yang kau ucapkan”
“Aku tidak perlu mendapat pesetujuan ibu, apa salahnya aku ingin dekat dengan kakakku.”
“Sudah-sudah kita bicarakan lagi nanti, makanan sudah datang. Ayo makan dulu baru bicara” pungkas Sean saat makanan mereka sudah datang.
Sheana hanya diam saja, dia melipat kedua tangannya di dada sambil melihat Satria yang tampak akrab dengan Sean. Satria terlihat ramah sering tersenyum dan berbicara lebih dulu, sehingga Sean bisa juga beramah tamah dengan pria itu.
°°°
T.B.C
sbntar author sebut, zidan itu fahri.
sebut sean utu darren. buat bungung z😣😣