Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Kontak Fisik
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan debu-debu halus yang melayang di udara kamar Carson. Di atas ranjang, Carson sudah membuka mata, namun tubuhnya masih enggan bergerak. Rasa kaku akibat sisa kejut listrik kemarin membuat setiap sendinya terasa seperti terkunci.
Saat ia mencoba menggeser tubuhnya, sebuah tangan menahannya dengan lembut namun tegas.
"Mau ke mana?"
Carson menoleh. Nezha sudah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian santai rumahannya. Rambutnya diikat asal, dan sepasang matanya menatap Carson dengan pandangan menginterogasi.
"Kerja," jawab Carson pendek, suaranya masih agak parau. "Ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan di sana."
"Nggak, nggak ada kerja-kerja hari ini, Carson. Kamu di rumah," titah Nezha tanpa bantahan. "Lihat mukamu itu, masih pucat begitu. Berdiri saja paling masih oleng."
"Aku sudah baikan, Nezha. Lagi pula kalau aku tidak masuk—"
"Aku sudah ambil cuti hari ini," potong Nezha cepat. Ia melipat kedua tangannya di dada dengan wajah puas. "Jatah libur tahunanku yang selama ini tidak pernah kupakai, akhirnya kupakai juga khusus untukmu. Untuk menjagamu, Carson. Dan itu artinya, kamu juga tidak boleh ke mana-mana."
Carson terdiam sejenak. Sepasang mata datarnya mengerjap, menatap Nezha yang tampak sangat bersikeras. Perlahan, sebuah ide cemerlang melintas di kepala pemuda itu. Sudut bibirnya yang tidak terluka terangkat sedikit, membentuk seringai tipis. Jarang-jarang Nezha bersikap se-protektif ini, dan Carson tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
"Oh... begitu?" Carson merebahkan kembali kepalanya ke bantal, memasang ekspresi paling lemas yang bisa ia buat. "Baiklah kalau begitu. Tapi, aku boleh minta tolong?"
Nezha menaikkan satu alisnya, agak curiga melihat perubahan sikap Carson yang mendadak pasrah. "Minta tolong apa?"
"Punggung dan bahuku rasanya kaku semua, seperti habis memikul beton. Boleh tolong pijitkan sebentar?" tanya Carson, matanya menatap Nezha polos namun ada binar usil tersembunyi di sana.
Nezha menghela napas, namun matanya melembut. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke arah kepala ranjang. "Ya sudah, balik badanmu."
Carson dengan patuh membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap. Begitu jemari tangan Nezha yang hangat mulai menekan pundaknya yang tegang, Carson mengembuskan napas panjang. Rasa nyaman langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Gimana? Kekencangan tidak?" tanya Nezha sambil terus memijat dengan tempo ritmis.
"Pas. Jangan berhenti," gumam Carson dari balik bantal.
Mereka menikmati keheningan itu selama beberapa menit sebelum gerakan tangan Nezha mendadak melambat. Wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu.
"Eh, Carson," panggil Nezha, menghentikan pijatannya.
"Hm, kenapa?"
"Itu... ini sudah pagi, kan? Tanaman tomatmu kemarin... Perlu disiram tidak?" suara Nezha mendadak berubah. Ada nada antusias yang kentara dari caranya berbicara. "Kemarin aku hanya bisa melihatmu melakukannya. Aku penasaran, boleh aku yang menyiramnya pagi ini?"
Carson membalikkan tubuhnya lagi, menatap Nezha yang kini matanya berbinar-binar. "Boleh."
Tanpa menunggu dua kali, Nezha langsung beranjak dari ranjang dengan semangat. Ia setengah berlari menuju dapur, tidak sabar ingin melihat kembali tiga butir tomat kecil yang masih dalam masa pertumbuhan itu. Namun, karena gerakannya yang terlalu tergesa-gesa dan kurang fokus, lengan kirinya tidak sengaja menghantam sudut meja dapur yang tajam.
Prang! Dug!
"Aduh!" pekik Nezha, refleks menarik tangannya sambil meringis kesakitan.
Mendengar pekikan itu, Carson yang tadinya mengaku lemas luar biasa langsung melompat dari ranjang. Rasa kaku di tubuhnya seolah hilang dalam sekejap karena panik. Dengan langkah lebar, ia menghampiri Nezha di dapur dan langsung meraih tangan wanita itu.
"Kenapa? Ada apa? Mana yang sakit? Coba lihat?" cerocos Carson, matanya bergerak liar memeriksa tubuh Nezha.
"Aku tidak apa-apa, Carson. Cuma ini..." Nezha menunjukkan lengan kirinya yang mulai memerah keunguan akibat terbentur sudut meja. "Tanganku tidak sengaja kepentok sudut meja waktu buru-buru mau ambil tanaman tomat tadi."
Carson mengembuskan napas lega yang sangat berat, lalu menyentil pelan dahi Nezha. "Dasar ceroboh. Makanya pelan-pelan."
"Ih, jangan disentil juga! Lagi pula ini bukan masalah besar, cuma memar ringan doang," gerutu Nezha, mengerucutkan bibirnya. Mata Nezha kemudian beralih menatap wajah Carson dari dekat di bawah pencahayaan dapur yang terang. Senyumnya luntur. "Tuh lihat, lebammu itu jauh lebih parah. Rahangmu malah makin bengkak dibanding semalam."
Carson menyentuh rahangnya sendiri, meringis sedikit. "Ini hal biasa."
"Biasa apanya? Nanti setelah aku menyiram tanaman ini, aku mau keluar sebentar ke toko obat di dekat apartemen. Mau beli obat pereda lebam," ucap Nezha tegas.
Ia kemudian berjongkok, mengeluarkan wadah tanaman tomat itu dengan hati-hati lalu meletakkannya di atas meja. Nezha menatap rimbun daun hijau itu dengan takjub.
"Carson, aku masih tidak habis pikir. Kamu beneran baru menanam ini seminggu yang lalu?" tanya Nezha heran, jemarinya mengusap lembut salah satu buah tomat hijau kecil yang bergelantungan. "Bagaimana bisa tumbuh secepat ini? Terlebih di dalam ruangan tanpa matahari?"
"Itu karena cairan ini, serum percepatan tumbuhan," jawab Carson, menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan berkelip kebiruan encer. "Cairan ini berfungsi mempercepat pembelahan sel tanaman. Nih, coba teteskan tiga tetes saja ke dekat akarnya, jangan lebih."
Nezha menerima botol itu dengan hati-hati, lalu dengan penuh konsentrasi menetaskan tiga tetes cairan tersebut ke area sekitar akar tanaman tomat. Begitu selesai, ia tersenyum puas. "Oke, sudah. Sekarang, aku mau bersiap-siap dulu, mau beli obat."
"Mau kuantar?" tanya Carson.
"Tidak perlu. Kamu diam saja di sini, istirahat," tolak Nezha sebelum berjalan kembali ke kamarnya melalui panel kayu rahasia untuk bersiap-siap.
...***...
Tiga puluh menit berlalu.
Carson duduk di sofa ruang tengah, matanya terus melirik ke arah jam digital di dinding. Alisnya bertaut erat. Jarak dari lantai dua belas ke toko obat di seberang jalan paling lama hanya memakan waktu lima belas menit bolak-balik menggunakan lift. Tapi ini sudah setengah jam, dan Nezha belum juga kembali.
Rasa khawatir yang awalnya tipis mulai menebal di dada Carson. Mengingat kondisi Nezha yang sedang hamil, ditambah dengan trauma penggeledahan militer semalam, pikiran Carson mulai menjalar ke mana-mana. Apakah Nezha dicegat petugas? Apakah dia pingsan di jalan?
Tidak bisa tenang, Carson akhirnya berdiri. Mengabaikan perintah Nezha untuk diam di kamar, ia menyambar jaketnya dan melangkah keluar menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, Carson mempercepat langkahnya. Lobi apartemen siang itu tampak agak lengang. Tepat saat ia berjalan mendekati pintu kaca tebal pembatas lobi dengan pelataran luar, matanya menangkap sosok yang ia cari.
Dari kejauhan, di ujung trotoar luar, Nezha sedang berjalan ke arah lobi sambil menjinjing sebuah kantong plastik kecil berisi obat.
Carson menghentikan langkahnya di balik pintu kaca. Sesaat, ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya melihat wanita itu baik-baik saja.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan kurang dari satu detik.
Di depan tangga lobi, entah bagaimana, kaki Nezha tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas. Detik itu juga, tubuh Nezha langsung oleng ke depan.
Mata Carson membelalak sempurna. Otaknya langsung berputar liar. Nezha sedang hamil. Jika dia jatuh tersungkur ke lantai beton itu, akibatnya akan sangat fatal bagi calon anak mereka.
Mengabaikan seluruh logika, peraturan, dan rasa sakit di tubuhnya, Carson mendorong pintu kaca lobi dengan kekuatan penuh hingga berdentum keras. Tubuhnya melesat maju bagai anak panah.
Sret!
Tepat sebelum tubuh Nezha menghantam lantai beton, lengan kekar Carson berhasil menyusup di bawah pinggang Nezha. Dengan satu hentakan kuat, Carson menarik tubuh Nezha ke atas, sementara tangan satunya lagi menahan punggung Nezha agar seimbang.
Posisi tubuh mereka saat ini begitu dekat. Tubuh Nezha bersandar sepenuhnya pada dekapan Carson, persis seperti sepasang kekasih yang sedang berada di tengah gerakan dansa yang dramatis. Napas keduanya memburu hebat, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Carson..." bisik Nezha dengan mata terbelalak, jantungnya berdegup seperti mau copot karena syok akibat hampir jatuh.
Carson menatap sepasang mata Nezha, memastikan tidak ada cedera. "Kamu... tidak apa-apa?"
Nezha mengangguk pelan, masih berusaha menguasai kesadarannya.
Namun, detik berikutnya, kenyataan pahit langsung menampar mereka berdua.
Suara alarm yang melengking tinggi mendadak berbunyi dari pengeras suara di sudut tiang lobi. Lampu indikator merah di kamera pengawas yang bertengger tepat di atas langit-langit lobi berputar cepat, menyorot lurus ke arah posisi mereka berdua yang masih saling mendekap.
Kamera pengawas baru saja mendeteksi adanya kontak fisik antar lawan jenis, sebuah pelanggaran berat terhadap peraturan negara.
Mendengar alarm itu, Carson dan Nezha tersentak. Carson langsung melepaskan dekapannya, membuat Nezha berdiri tegak dengan canggung. Wajah keduanya seketika memucat. Menyadari kalau saat ini mereka sedang berada di area publik dengan kamera pengawas yang setia mengawasi dua puluh empat jam tanpa henti.
"Sial," umpat Carson rendah, matanya melirik ke arah kamera pengawas yang masih berkedip merah.
"Carson, lihat..." suara Nezha bergetar, tangannya menunjuk ke arah persimpangan jalan di ujung lobi.
Di sana sudah berdiri seseorang dengan seragam pengawas keamanan sektor empat. Seorang perempuan dengan rambut dikuncir kuda. Anehnya dia hanya berdiri diam dengan tatapan mata menatap lurus ke arah Nezha dan Carson. Hingga beberapa anggota pengawas keamanan yang lain mulai berdatangan dan mengamankan situasi sekitar. Barulah, perempuan itu mulai bergerak mengikuti rekan kerjanya yang lain.
i ini panglima berbuat baik