Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Rasa itu diam-diam mulai merayapi hatiku, seberapapun aku menepisnya, rasa itu semakin kuat membelengguku. Kuakui bahwa aku merindumu...
______________________________________
Alvaro menatap berkas yang ada dimeja kerjanya, ia mengusap wajahnya dengan perlahan. Kenapa ia bisa lupa menyerahkan dan mengatakan tentang riwayat penyakit Rika, padahal tujuan awalnya untuk bertemu Rika adalah karena hal tersebut. Haruskah besok dia kembali lagi untuk menghampiri Rika? Tidak, tidak, tidak. Alvaro menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri berulang kali, ia tampak tidak setuju dengan ide pemikirannya tersebut.
Ia masih tidak percaya kalau wanita secantik Rika bisa betah dan tahan tinggal ditempat kumuh seperti itu. Ish... apa sih yang dipikirkannya. Alvaro mengesampingkan map tersebut dan meraih dokumen yang ingin ia tanda tangani untuk besok.
Tok tok tok
"Sayang, kamu ada didalamkan? Boleh mama masuk?" tanya suara wanita yang begitu familiar ditelinga Alvaro.
"Masuk aja ma tidak dikunci," balas Alvaro.
Setelah beberapa detik kemudian pintu berderit dan masuklah seorang wanita paruh baya. Ia menghampiri anaknya yang terlihat sibuk dengan setumpuk dokumen yang ada dihadapannya.
"Apa kamu masih sibuk?" tanyanya yang sudah duduk dihadapan Alvaro.
"Sudah selesai ma," balas Alvaro sambil menatap kearah ibunya. Kali ini entah apa yang akan dibicarakan oleh ibunya hingga tidak bisa menunda dulu setelah ia keluar dari ruang kerjanya terlebih dahulu.
"Sam, mama harap kamu lebih memperhatikan Aina. Dia begitu mendambakan wanita yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Dia sering murung dan terkadang dia menangis keras karena begitu merindukan wanita itu. Ibu juga tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi diantara mereka hingga Aina begitu tergila-gila pada sosok itu," menghela napas sambil menerawang. "Coba kamu cari wanita itu, jangan hanya mengandalkan Rahmat saja." Oma menatap penuh harap kearah anaknya. Alvaro menghela napas, ia paham dan sangat paham dengan arah pembicaraan ibunya.
"Ma, Alvaro sudah membantu mencarikan wanita tersebut tapi orang suruhan Alvaro begitu kesulitan menemukannya. Karena minimnya informasi yang didapatkan."
"Bukan itu yang mama maksud Sam, kamu mengertikan dengan keinginan Aina. Coba kamu buka hatimu Sam, jangan hanya terpaku pada masa lalu. Kamu tidak akan maju Sam. Masih banyak wanita diluar sana yang bisa menerima kamu apa adanya."
"Ma, sudah berapa kali Sam bilang, kalau masalah seperti ini tidak perlu dibahas lagi. Mama kan tahu seperti apa hati Sam yang sebenarnya!" Alvaro tampak tidak senang dengan arah pembicaraan ini.
"Tapi Sam, coba kamu pikirkan Aina! dia perlu sosok seorang ibu yang menjaganya, tidak hanya itu. Ia juga perlu merasakan kasih sayang dan belaian seorang ibu, walaupun itu adalah ibu sambungnya. Selagi ia masih baik dan bisa menerima Aina, kenapa tidak?! Jangan hanya mementingkan egomu saja, coba kamu tatap anakmu Sam, dia benar-benar mendambakan seorang ibu!!"
Alvaro membenarkan atas apa yang barusan diucapkan oleh ibunya, namun ia tidak dapat berbuat banyak. Ia mengusap wajahnya dengan perlahan.
"Aina tidak bisa hidup dalam kebohongan terus-menerus!!" Oma menatap sendu kearah Alvaro. Walau bagaimanapun, Alvaro adalah anaknya. Dan ia terpaksa melakukan semua ini, karena Aina jauh lebih berharga dari segalanya.
"Mama tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu lebih dalam lagi, mama hanya berharap kamu mencarinya untuk Aina saja bukan untuk pendamping hidupmu."
Alvaro menatap ibunya, ia tampak berpikir keras. Ia sangat hapal dengan tabiat ibunya. Semua usaha ibunya kali ini, pasti ada rencana dibalik ini semua.
"Sebaiknya kamu segera istirahat. Ini sudah larut malam." Oma menepuk pundak Alvaro dan segera keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan rak buku tersebut.
Alvaro terpekur menatap kepergian ibunya, ini sudah kesekian kali ia menolak untuk mencarikan Aina ibu sambungnya. Karena memang selama ini Aina selalu menolak semua kandidat ibu sambung yang sudah diajukan oleh ibunya. Tapi kali ini berbeda, Aina menemukan langsung wanita yang dia sukai dan tetap memaksa untuk kembali bertemu dengannya, walaupun sekarang begitu sulit menemukan tentang keberadaannya. Ditambah lagi, Alvaro sama sekali tidak mengetahui seperti apa wanita tersebut.
Ia mengusap wajahnya untuk kedua kali saat memikirkan semua keinginan Aina yang begitu sulit untuk ia kabulkan. Mata Alvaro kembali menatap kearah map yang tergeletak diatas meja kerjanya. Bayangannya kembali mengingat sosok Rika yang kalem dan sederhana. Bahkan wanita itu terlihat biasa saja menghadapi kehidupannya yang sangat susah. Bahkan ia tidak meminta lebih saat mereka berada direstoran tadi. Berbeda dengan kebanyakan wanita yang diperkenalkan oleh ibunya, mereka terlihat sangat modis dan glamour dalam segi penampilan dan bahkan selalu makan ditempat mewah, berbaur dengan kalangan elit dan selalu menggunakan yang bermerk dalam segi penanpilan. Tapi wanita itu, dia bahkan terlihat sangat sungkan saat Alvaro menawarinya makan direstoran mewah.
Alvaro menggelengkan kepalanya saat Alvaro begitu lancang sudah membayangkan sosok Rika, bahkan terlebih lagi sudah membandingkan dengan wanita-wanita lain yang lebih berkelas.
Alvaro berjalan keluar ruangan, bermaksud ingin mengistirahatkan tubuhnya kekamarnya. Tetapi urung setelah melihat keberadaan kamar putrinya yang berada tidak jauh keberadaannya dari letak kamarnya. Langkah Alvaro semakin lebar tatkala ia sudah mendekati pintu kamar berwarna merah muda tersebut. Tangannya sudah menggapai gagang pintu dan membukanya.
Pandangannya jatuh pada sesosok kecil yang sedang telentang diatas ranjang quen size, yang berbalut selimut tebal dan bergerak gelisah. Alvaro menghampirinya, ia menatap sosok kecil yang membawa kebahagiaan dirumah ini. Sosok yang begitu disayanginya dan sosok yang begitu mendamba seorang ibu. Sesekali Aina mengkerutkan dahinya diiringi dengan seduan kecil.
Cukup lama Alvaro memperhatikan anaknya, ia merasa bersalah karena tidak memperhatikannya beberapa hari belakangan ini, juga belum dapat menemukan wanita yang dimaksud oleh Aina. Tangan Alvaro terulur membelai surai panjang Aina.
"Mama..." lirih Aina dalam tidurnya. Alvaro semakin terlihat sedih setelah melihat anaknya yang tidak tenang dalam tidurnya karena dihantui sosok seorang ibu. Alvaro membaringkan tubuhnya tepat disisi putrinya, ia memeluknya dengan sayang untuk mengusir kesedihan Aina dibawah alam sadarnya.
***
Angga benar-benar gelisah setelah melihat Rika yang terlihat akrab bersama rivalnya. Ia sangat tidak suka melihat pemandangan itu. Bukan karena ia cemburu, namun lebih takut kalau rencananya gagal kali ini.
Hingga sekarang ia masih terjaga, rasanya begitu sulit ia memejamkan matanya. Benaknya dipenuhi dengan bayangan Rika yang saling membalas senyum bersama Alvaro sewaktu mereka makan direstoran tadi.
"Ada apa denganku? Tidak mungkin kan kalau aku merindukan wanita jahat tersebut?" Angga mengusap wajahnya beberapa kali. Ia mendudukkan dirinya dan bersandar pada kepala ranjang. Rasanya begitu awas matanya.
Tanpa sengaja mata Angga menatap handphone yang tergeletak diatas nakas. Handphone yang beberapa hari ini sudah dilupakannya. Dan handphone yang beberapa hari ini tidak pernah aktif karena ia memang sengaja menghindari Rika. Dengan tangan terulur, Angga meraih handphone tersebut dan menghidupkannya. Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dan juga banyak pesan masuk yang kesemuanya berasal dari istrinya, Rika. Angga terkekeh melihatnya, rupanya Rika begitu mengkhawatirkannya.
Entah dimana Rika tinggal sekarang, ia tidak pernah tahu. Bahkan ia tidak perduli akan itu. Walaupun sebenarnya orang suruhannya selalu memantaunya karena tidak mungkin ia mau melepaskan mangsanya begitu saja. Namun, untuk sekarang ia pasti akan perduli, karena tujuannya masih belum tercapai.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Angga mengirimi Rika pesan di iringi dengan derai tawa jahatnya. Mungkin besok dia akan mengajak Rika untuk bertemu.
Angga kembali merebahkan dirinya untuk mengistirahatkan badannya. Ia benar-benar ingin tidur sekarang karena sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan wanita yang selalu menaikkan level marahnya ketingkat teratas.
•
•
•
*********
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot