Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin Pegunungan
Usai rapat terakhir, Danendra berjalan menyusuri kawasan glamping yang masih dalam tahap penyempurnaan. Ia berhenti di depan sebuah vila kayu yang berdiri menghadap hamparan kebun stroberi.
Angin pegunungan yang berhembus pelan membuat senyum Danendra mengembang. Dari teras vila itu, pemandangan perbukitan tampak begitu indah, ia jadi membayangkan ketika Niken berdiri di tempat itu, menikmati matahari terbit sambil memegang secangkir teh hangat.
"Yang ini saja," bisiknya.
Tak lama kemudian, seorang mandor proyek menghampiri. "Pak, Danendra."
"Iya, Pak Surya."
"Apakah ada yang perlu diperbaiki?"
Danendra menggeleng, "tidak, Pak. Hanya saja saya perlu sesuatu."
"Apa itu, Pak?" Jawab mandor cepat.
"Tolong vila ini dibersihkan lagi. Pastikan semuanya rapi, karena besok saya mau menginap di sini."
Pak Surya mengangguk patuh, "siap, Pak!"
Danendra kembali memandang vila itu, kali ini ia tidak ingin memikirkan investor, laporan keuangan atau target perusahaan. Yang memenuhi pikirannya saat ini hanyalah satu hal, ia ingin akhir pekan besok akan menjadi kenangan pertama yang indah bagi mereka, berharap luka yang ia ciptakan pada malam pertama dapat terhapus tanpa jejak.
Jarum jam menunjukan pukul dua siang....
Sinar matahari menerobos dinding kaca ruang kerja Danendra di lantai dua gedung utama Agrowisata Lereng Mahitala. Di atas meja masih tergeletak beberapa map berisi laporan keuangan, proposal kerja sama, dan jadwal rapat yang harus ditandatangani. Namun, siang itu Danendra sama sekali tidak berniat untuk menyentuhnya.
Ia berdiri di depan jendela, memandangi hamparan kebun stroberi yang menghijau. Dari sana, tampak beberapa wisatawan sedang memetik buah bersama anak-anak mereka. Tawa mereka terbawa angin pegunungan yang sejuk, namun pikirannya tak bisa lepas dari perempuan yang tadi pagi turun dari mobilnya sambil tersenyum malu.
Senyum tipis terukir di wajahnya, saat teringat ekspresi Niken ketika mengetahui mereka akan menghabiskan waktu di Lereng Mahitala. Ia membayangkan, mungkin Niken akan berlarian kecil di kebun bunga, atau sibuk memotret pemandangan pegunungan, bahkan ia juga sempat membayangkan mungkin saja Niken akan mengajak anak-anak para pengunjung bermain seperti yang biasa Niken lakukan saat di sekolah.
Membayangkan semua itu saja sudah cukup membuat hati Danendra terasa hangat. Namun lamunannya buyar ketika terdengar ketukan pintu.
"Masuk."
Dina membuka pintu perlahan, "maaf mengganggu, Pak."
"Iya, Dina?"
"Bu Alana datang."
Dahinya langsung berkerut, "Alana?"
"Iya, Pak. Katanya tidak membuat janji, tapi ingin bertemu sebentar."
Danendra menghembuskan napas pelan. "Suruh masuk."
Dina mengangguk.
Tidak lama kemudian Alana memasuki ruangan dengan senyum yang sama seperti dulu. "Selamat siang, Danen."
"Siang," jawab Danendra datar.
Alana langsung memperhatikan meja kerja Danendra. "Laporanmu masih utuh?"
Danendra melirik berkas-berkas di mejanya. "Hari ini aku belum sempat membacanya."
Alana tersenyum kecil, "ini bukan Danendra yang kukenal, jam segini biasanya semua pekerjaanmu sudah hampir selesai."
Danendra diam, bahkan tidak begitu fokus pada kata-kata Alana.
Kemudian Alana kembali melanjutkan. "Perubahanmu sangat besar, Danen. Apa ini karena wanita itu?"
"Iya." Jawab Danen tanpa menyangkal.
Jawaban singkat itu membuat Alana terdiam sesaat. Ia tidak menyangka lelaki yang dulu selalu sulit mengakui perasaanya kini bisa menjawab setegas ini.
"Aku senang mendengarnya." Katanya akhirnya, meski sebenarnya kalimat itu bukanlah perasaan yang sebenarnya.
Beberapa saat kemudian...
Alana berdiri dari duduknya. Ia merapikan blazer krem yang ia kenakan, lalu menghembuskan napas pelan. "Sepertinya aku terlalu lama mengganggumu."
Danendra ikut berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada tamunya. "Tidak apa-apa, aku memang sedang tidak ingin banyak bekerja."
Alana tersenyum tipis, "jujur, aku merasa aneh mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu."
"Kenapa?"
"Ya... karena dulu, bahkan saat demam sekalipun kamu tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan."
"Dulu aku memang begitu, tapi sekarang aku sedang belajar menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga."
Alana kembali melirik foto yang dalam beberapa hari menghiasi meja kerja Danendra. Niken tampak tersenyum anggun dalam balutan kebaya putih, sementara Danendra berdiri di sampingnya dengan senyum menawan.
Ada rasa sesal di hatinya, tempat yang dulu pernah ia harapkan di hati Danendra kini telah terisi oleh orang lain. Meski begitu, ia tetap mencoba untuk tetap tersenyum.
"Ternyata Niken yang menjadi perempuan paling beruntung."
Danendra menggeleng pelan. "Bukan Niken, justru aku yang beruntung."
Alana memejamkan matanya sejenak. Ada sesak yang perlahan memenuhi dadanya, namun ia berusaha menutupinya. "Danen, terima kasih atas waktunya. Kalau begitu, aku pamit."
Danendra mengangguk, "hati-hati di jalan."
Setelahnya, Danendra meraih ponselnya. Kemudian jarinya tergerak mengetik sebuah pesan singkat. "Sudah selesai, Nik? Aku jemput sekarang, ya."
Tak sampai satu menit, balasan dari Niken masuk. "Sudah, Mas. Iya, aku tunggu."
Melihat balasan sederhana itu, senyum Danendra kembali mengembang. Ia meraih kunci mobilnya lalu bergegas keluar.
"Pak." Suara Dina mengejutkan dari ambang pintu, "Bapak mau pulang?"
"Iya. Kalau masih ada yang cari, jadwalkan ulang untuk hari Senin."
"Baik, Pak."
Dina memperhatikan Danendra yang berjalan melewati dirinya, ia tersenyum kecil saat mengingat bahwa atasannya itu selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Danendra sampai di area TK Tunas Arunika. Saat itu, Niken masih membantu beberapa murid yang baru dijemput orang tuanya.
"Pelan-pelan, ya. Jangan lupa salaman dulu sama Bu Guru."
"Iya, Bu Guru!"
Setelah murid terakhir pulang, Maya menghampiri sambil tersenyum jahil.
"Suamimu sudah datang," bisik Maya yang langsung membuat Niken menoleh ke arah gerbang.
Mobil hitam yang sudah begitu ia kenali, terparkir rapi tidak jauh dari sana. Di sampingnya, Danendra berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana, menunggu Niken tanpa tergesa.
Setelah berpamitan pada guru-guru yang lain, Niken segera menghampirinya. Danendra menerima tas kerja Niken tanpa memberi kesempatan pada Niken untuk menolaknya.
"Mas, tidak usah." Kata Niken sambil ingin menariknya.
"Biar aku saja."
Niken hanya tersenyum malu, saat menoleh ke belakang, rupanya semua guru TK Tunas Arunika sedang memperhatikannya sambil saling melempar senyum.
"Romantis juga, ya, suaminya Bu Niken."
"Iya."
"Dari kemarin antar jemput sendiri."
Niken yang mendengar bisikan itu semakin menundukan wajah.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Danendra memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya sendiri, lalu menoleh kepada istrinya.
"Hari ini melelahkan?"
"Alhamdulillah tidak. Aku tadi sempat cerita pada anak-anak tentang Lereng Mahitala, mereka malah sibuk bertanya kapan boleh berkunjung ke Lereng Mahitala. Mereka sangat antusias, Mas."
Danendra tersenyum. "Kalau begitu, besok kamu lihat dulu tempatnya. Setelah itu kita buat rencana untuk mereka."
Niken mengangguk kemudian mobil pun perlahan meninggalkan halaman sekolah, membawa mereka pulang dengan hati yang jauh lebih dekat.
...****************...