Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
enam ~
Bagas menatap botol kecil di tangannya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada kelegaan karena akhirnya ia memegang benda yang bisa menyelamatkan fisiknya, namun di sisi lain, ada kebencian yang mendalam pada botol tersebut. Setelah melewati debat yang jauh lebih melelahkan daripada sesi evaluasi akhir tahun di kantor, ia akhirnya memiliki Obat Kuat Pemulihan itu. Namun, sebelum ia sempat meminumnya, notifikasi yang dingin dan menusuk hati kembali muncul di depan matanya.
[Catatan Tambahan: Untuk mencapai tingkat stamina maksimal dan pemulihan permanen, Tuan Rumah wajib mengonsumsi obat ini secara rutin selama 5 hari berturut-turut. Kegagalan konsumsi dalam satu hari saja akan mereset seluruh progress pemulihan ke titik nol.]
Bagas mematung. "Lima hari? Lima kali pembelian?!" suaranya serak karena emosi. "Ini bukan obat, ini adalah cicilan KPR yang tak ada habisnya! Kau benar-benar tidak memberi celah sedikit pun untuk bernapas, ya? Ini jebakan! Kau sengaja membuatku bergantung pada obat ini setiap hari agar aku terus bekerja bagai budak untukmu!"
Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Tapi sudahlah... aku tidak peduli lagi. Tubuhku rasanya sudah mau lepas dari sendinya. Aku sudah tidak punya pilihan lain."
Tanpa pikir panjang, Bagas menenggak cairan dalam botol itu. Rasanya dingin dan menyengat di tenggorokan, namun sesaat kemudian, sensasi hangat yang nyaman menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Rasa pegal yang tadi berteriak-teriak minta ampun perlahan mereda, seolah-olah seseorang sedang memijat setiap serat ototnya dengan kekuatan sihir. Dengan sisa kesadaran yang menipis, ia membaringkan tubuhnya di ranjang besi yang dingin. Dalam hitungan detik, kegelapan menjemputnya. Ia tertidur begitu lelap, seperti orang mati yang telah lelah berjuang, untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dalam tubuh seorang tentara.
Namun, tidur lelap itu terasa seperti sebuah kemewahan yang sangat singkat.
Wuuuut! Tiiit! Tiiit!
Suara alarm yang nyaring dan melengking membuat Bagas melonjak bangun. Gelap. Masih gelap gulita. Langit di luar jendela barak bahkan belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tidak ada sedikit pun cahaya bintang atau fajar.
"Sistem... ini masih jam berapa hah?!" teriak Bagas dengan suara yang pecah karena terkejut. Tangannya meraba-raba kepala yang terasa berdenyut keras karena serangan suara berisik itu.
[Selamat pagi, Tuan Rumah! Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Anda harus segera bangun untuk menyelesaikan misi harian. Ingat, utang Anda sebesar 105 Poin akan jatuh tempo dalam hitungan jam. Jangan biarkan bunga majemuk bekerja lebih keras daripada Anda!]
"Kau... kau benar-benar tidak punya hati." umpat Bagas dengan nada yang sangat rendah namun penuh dengan amarah. Ia merasa sistem ini jauh lebih sadis dari bos departemen finance yang paling galak dan tidak punya empati di kantornya dulu. "Ini masih gelap! Kau bisa membangunkan seluruh barak dengan suara cemprengmu itu! Bisakah kau setidaknya membiarkanku tidur lima menit lagi?"
[Sistem tidak memiliki volume suara yang bisa didengar orang lain selain Anda. Tuan Rumah, jangan banyak mengeluh. Anda memiliki utang yang menumpuk seperti gunung, dan Anda perlu membeli obat kuat tingkat 2 hari ini untuk menjaga performa Anda. Waktu adalah poin, dan poin adalah nyawa Anda.]
Bagas menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa malas yang luar biasa hebat. Sebagai mantan budak korporat, dia tahu persis bahwa melawan atasan yang tidak punya logika adalah hal sia-sia. "Baiklah, baiklah! Apa misinya kali ini? Jangan bilang aku harus lari maraton di pagi buta begini."
[Misi pagi ini: Memasak sarapan. Menu: Bubur Manado, Ikan Asin, Sambal Roa, Perkedel Jagung, dan Tahu Goreng.]
Mata Bagas terbelalak lebar. "Bubur Manado? Perkedel jagung? Ikan asin? Sambal roa? Kau menyuruhku menyiapkan lima jenis masakan sekaligus di pagi buta untuk sarapan orang-orang barak?! Kau gila! Itu pekerjaan satu tim dapur, bukan satu orang yang sedang kelelahan!"
[Tuan Rumah harus segera bergerak. Semakin lama Anda menunda, semakin kecil peluang untuk mendapatkan Poin maksimal. Ingat, utang Anda berbunga setiap hari.]
Bagas merasa matanya panas. Dia hampir menangis karena frustrasi. Dia merasa benar-benar diperas oleh sistem yang tidak tahu diri ini. Dengan langkah gontai dan semangat yang hancur, ia kembali melangkah ke arah dapur. Trauma akan insiden beras tumpah semalam masih membekas di ingatannya. Sebelum ia menyentuh satu pun bahan, ia berhenti sejenak, memutar otaknya untuk menyusun strategi pertahanan diri.
"Tunggu Sistem." panggil Bagas dengan nada menantang yang berusaha ia buat seberani mungkin. "Kemarin kau memotong poin sesukamu dengan alasan yang sangat sepihak. Sekarang, sebelum aku memasak semua menu yang super rumit ini, aku butuh kepastian. Berapa poin yang akan aku dapatkan? Aku tidak mau kerja bakti tanpa imbalan yang jelas!"
[Hadiah poin bersifat dinamis Tuan Rumah. Ini tergantung pada kualitas hasil masakan Anda. Jika masakan Anda mendapatkan apresiasi tinggi atau memenuhi standar kesempurnaan Sistem, poin yang diterima bisa jauh melampaui ekspektasi Anda. Ini adalah kesempatan Anda untuk bekerja sebaik mungkin dan meraih hasil maksimal. Buktikan bahwa Anda bukan sekadar mantan budak korporat yang tidak berguna, tapi juga seorang koki yang handal.]
Bagas mengepalkan tangannya di balik seragam lorengnya. Menantangku ya? batinnya. Jika Sistem ini ingin dia bekerja keras, Bagas akan menunjukkan bahwa dia adalah mantan karyawan yang sangat berpengalaman dalam menaklukkan deadline yang tidak masuk akal. Bagas menarik napas panjang, mengabaikan rasa perih di matanya akibat kurang tidur.
"Baiklah." desis Bagas sambil menatap deretan bahan masakan yang sudah tersedia di atas meja dapur. "Kau ingin aku memasak dengan sempurna? Aku akan melakukannya. Aku akan memasak seolah-olah ini adalah proyek presentasi hidup dan matiku di depan direksi. Tapi ingat, Sistem... jika hasil masakanku sudah luar biasa dan kau masih berani memotong poin dengan alasan yang tidak masuk akal, bersiaplah menghadapi protes terpanjang yang pernah ada dalam sejarah sistemmu!"
Bagas pun mengambil pisau dapur itu. Kali ini, tatapannya jauh lebih tajam. Dia tidak akan membiarkan sistem ini menang dengan mudah. Baginya, dapur barak ini kini bukan sekadar tempat memasak, melainkan medan tempur di mana harga dirinya sebagai mantan profesional sedang dipertaruhkan.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘