Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pagi itu suasana divisi keuangan terasa cukup santai. Alya duduk di kursinya sambil mengobrol ringan dengan teman-temannya. Mereka membahas proyek baru yang sedang dikerjakan, gosip remeh temeh tentang rekan kerja lain, hingga rencana makan siang bersama di warung favorit.
“Al, kemarin kamu ketemu Keysa lagi nggak? Anaknya lucu banget sih,” goda Rina sambil nyengir lebar.
Alya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Sudah nggak ketemu lagi. Untunglah. Kalau ketemu terus bisa-bisa aku benar-benar ditunjuk jadi calon ibu sambung di depan umum.”
Teman-temannya langsung tertawa kecil. Suasana sedang asyik dan penuh canda ketika tiba-tiba seorang karyawan dari divisi lain datang tergesa-gesa menghampiri meja Alya.
“Alya, kamu diminta ke ruangan Tuan Arya sekarang,” ucapnya tanpa basa-basi.
Alya langsung mengerutkan kening. Wajahnya tampak bingung sekaligus khawatir. Hah? batinnya. “Tapi pekerjaanku kan sudah selesai tiga hari yang lalu dan sudah dilaporkan semua. Ada apa ya?”
Karyawan itu hanya mengangkat bahu. “Aku juga nggak tahu. Buruan deh ke atas, jangan sampai beliau nunggu lama. Takutnya marah.”
Alya mengangguk pelan, meski hatinya sudah mulai berdegup kencang. Ia bangkit dari kursi, merapikan blusnya sebentar, lalu berjalan menuju lift.
Sepanjang perjalanan ke lantai atas, pikirannya berputar-putar tanpa henti.
Apakah ada kesalahan di laporan? Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Keysa lagi? batinnya gelisah.
Sesampainya di depan pintu ruangan Arya yang besar dan elegan, Alya berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu mengetuk pintu dengan tangan agak gemetar.
Tok… Tok… Tok…
“Masuk,” teriak Arya dari dalam ruangan dengan suara tegas namun tidak terdengar marah.
Alya membuka pintu perlahan. Begitu masuk, ia melihat Arya sedang duduk di kursi kebesarannya, tampak serius dengan beberapa map di atas meja.
Tony berdiri di sampingnya seperti biasa. Tapi yang membuat Alya sedikit lega, tidak ada tanda-tanda amarah di wajah Arya.
“Selamat pagi, Tuan. Anda memanggil saya?” sapa Alya sopan sambil berdiri di depan meja kerja.
Arya mengangkat kepalanya melihat kedatangan Alya. "Duduklah.” ucapnya dengan wajah datar.
Alya dengan gugup duduk di kursi yang ditunjuk. Jantungnya masih berdegup tidak karuan.
Arya bersandar di kursinya, tatapannya lembut tapi ada sedikit keraguan. “Saya panggil kamu bukan karena ada masalah di pekerjaan.”
Alya menghela napas lega. “Lalu, karena apa, Tuan?”
Arya melirik Tony sekilas sebelum melanjutkan, “Ada hal penting yang saya ingin tanyakan ke kamu.”
Tony yang ditatap sekilas langsung mengerti. Ia mengangguk sopan lalu keluar dari ruangan, meninggalkan Arya dan Alya berdua dalam suasana yang mendadak terasa lebih intim.
“Tanya apa, Tuan?” tanya Alya dengan jantung yang tak berhenti berdegup.
Arya menghela napas terlebih dahulu sebelum bertanya dengan suara pelan, “Apakah benar kamu seorang janda?”
Alya menghela napas dalam. Ia sudah sangat yakin kalau Keysa pasti sudah memberitahu statusnya kepada Arya. “Iya, Tuan. Saya seorang janda,” jawab Alya jujur.
Arya mengangguk pelan. Tatapannya tidak menghakimi, hanya penuh rasa ingin tahu. “Kenapa kamu berpisah dengan suami mu?” tanyanya kepo.
Alya terdiam sejenak. Wajahnya sedikit berubah. “Maaf Tuan, tapi sepertinya tidak etis membicarakan masalah pribadi saya di sini,” ucap Alya dengan tegas namun sopan. Ia keberatan membuka luka lama di tempat kerja, apalagi dengan bosnya sendiri.
Arya langsung menyadari kekeliruannya. Ia mengangguk mengerti dan mengusap tengkuknya. “Maaf, saya terlalu lancang. Saya hanya ingin mengenal kamu lebih jauh. Keysa terus membicarakan mu, dan saya jadi penasaran.”
Alya tersenyum kecil, meski masih agak canggung. “Keysa memang anak yang luar biasa, Tuan. Anda perlu lebih memperhatikannya lagi" ucap Alya yang tahu jika Keysa terkadang di bully oleh teman-temannya.
Suasana di ruangan menjadi hening sejenak, tapi bukan hening yang tidak nyaman. Ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan atasan dan bawahan.
Arya akhirnya tersenyum lembut. “Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama. Ajak Keysa, tentunya.”
Alya tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil menunduk sebentar. “Saya akan pikirkan dulu, Tuan.”
"Baiklah, saya tunggu jawabannya segera" ucap Arya.
Setelah tidak ada lagi yang di obrolkan, akhirnya Alya pamit undur diri. Wanita itu keluar dari ruangan Arya dengan perasaan lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keysa langsung melompat-lompat kegirangan begitu mendengar kabar makan malam bersama Papanya dan Alya. Matanya berbinar seperti lampu disco kecil. Gadis kecil itu langsung berlari ke pelukan Omanya sambil merengek manja ala drama India.
"Omaaa...kita beli baju dulu yang bagus ya! Key mau cepelti Plincess Ana!" rengeknya sambil memeluk kaki oma kayak koala yang kehabisan eukaliptus.
Oma Margareth menghela napas panjang, "Bajumu masih banyak yang belum dipakai di lemari, Key. Sayang kalau nggak dipakai. Lagian ini cuma makan malam biasa, nggak usah berlebihan."
"Tapi ini acala cpecial, Oma!" Keysa langsung manyun, bibirnya maju sampai bisa gantung baju di situ. "Key mau makan sama ictli balu Papa! Halus cantik bial ictli balunya cuka cama Key!"
Oma geleng-geleng kepala, "Ngeyel banget sih kamu. Oma nggak punya uang buat beli baju baru. Uangnya mau buat bayar arisan."
Tiba-tiba Keysa melepaskan pelukan, mundur satu langkah, lalu menatap oma dengan ekspresi prihatin ala ibu-ibu arisan yang sedang kasihan.
"Mickin kali lah oma ini..." katanya sambil menggeleng-geleng miris. "Kacihan cekali nda di kasih uang cama anaknya. Malahin aja tuh anaknya, mau jadi Malin Kundang kayaknya!"
Oma Margareth langsung melotot, antara mau marah dan mau ketawa.
"Anak oma itu papa kamu Key. Memangnya kamu mau papa mu berubah jadi batu" ucap Oma Margaret sambil menggelengkan kepalanya.
Kepala Keysa menggeleng ribut. "Jangan oma, nanti hilang cumbel dolal kita. Nda bica choping lagi nanti, bica melana kita"
"Makanya jangan sok tau" kata oma Margareth.
Namun Keysa tetaplah Keysa. Dia anak kecil yang kemauannya harus di turuti. "Omaaa... Plincess Ana butuh dless baruwww..."