Seorang Pria tua yang di sebut sebagai Manusia Terkuat di dunia Kultivasi, Kekuatan Pria tua itu tidak perlu di tanyakan lagi, Musuh - musuhnya takut hanya mendengar namanya saja. Hal tersebutlah yang membuat dia tidak memiliki satu seorang teman ataupun keluarga.
Hanya kehampaan yang Pria tua rasakannya sekarang, Kerena hal itu Pria tua tersebut meminta kepada Dewa untuk memberikan sebuah dunia menarik untuknya, Dewa mengabulkan dan Mereinkarnasi Pria tua tersebut ke sebuah dunia Baru.
Apakah Pria tua tersebut dapat berdirii puncak dunia di dunia yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EON, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33 - Pertandingan III.
Arthur segera bangkit dari tempat tidur setelah mendengar ada seseorang yang mengetok pintu kamarnya.
Arthur berjalan mendekati pintu tersebut dan membukanya, ia melihat seseorang perempuan memakai pakaian serba putih kini berdiri di depannya. “Kenapa kamu belum tidur Clara?”
Clara menundukkan kepalanya sambil berkata. “Terimakasih telah menolongku Arthur.” Ucap Clara dengan malu.
“Aduuh!”
“Kenapa kamu selalu saja menjentikku tanpa sebab” Ucap Clara sambil memegang keningnya yang kesakitan.
“Kamu jangan membangunkan aku jika hanya itu saya yang ingin kamu katakan, Cepat kembali dan segeralah tidur.” Selesai berbicara Arthur langsung menutup pintu kamarnya.
“ARTHUR BODOH!”
Arthur yang masih berada di balik pintu tersenyum setelah mendengar perkataan Clara.
Seperti kemarin, Arthur dan Clara berangkat menuju arena bersama keluarga mereka berdua.
Setelah mereka sampai, Arthur melihat ada beberapa perubahan, Chen yang akan menjadi wasit sedangkan Baron menjaga sisi pinggir arena bagian kiri dan sisi pinggir arena bagian kanan akan di jaga oleh Luna.
Arthur dan Clara berkumpul kembali bersama Hira seperti biasa.
Setelah beberapa pertandingan, Kini giliran Hira yang akan bertanding, Hira segera menaiki tangga arena.
“Hira jangan sampai kalah.” Ucap Clara dengan kencang.
Lawan Hira kali ini juga merupakan seorang pengguna pedang seperti dirinya.
“Tolong gunakan segenap kemampuan kamu dalam menghadapi aku, Aku juga akan begitu.” Ujar Hira kepada Lawannya.
Hira menyadari bahwa lawannya sedang ragu untuk berhadapan dengan dia, Perempuan tersebut bukan takut kepada Hira melainkan takut dengan kekutan di belakang Hira.
Apalagi yang menjadi wasit adalah ayahnya Hira, Perempuan tersebut memutuskan untuk menyerah tanpa bertarung karena tidak ingin mendapat masalah.
Chen juga mengetahui alasan di balik keraguan lawan yang akan di hadapi Hira, Chen langsung mengatakan bahwa Keluarganya tidak akan mempermasalahkan apapun yang akan terjadi dan dirinya akan bersikap dengan adil.
Lawan Hira yang mendengar perkataan Chen menjadi tenang, dan mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Setelah memastikan bahwa mereka berdua sudah siap, Chen langsung memulai pertandingan, Hira dan lawannya yang merupakan seorang perempuan berlari secara bersamaan, Pedang mereka berdua bertemu di tengah – tengah arena.
Hira menggunakan serangan cepat, Sedangkan perempuan tersebut menggunakan serangan berat, Kekuatan perempuan tersebut hampir mengimbangi kekuatan Hira.
Hira mengangkat pedangnya dan mengayunkannya dengan cepat ke arah lawannya.
Serangan Hira berhasil di hentikan perempuan tersebut dengan pedang miliknya.
"Aku tidak boleh kalah.” Batin Perempuan tersebut.
Hira menjadi waspada setelah melihat lawannya sedang melakukan kuda - kuda untuk melakukan serangan.
“Jurus Pertama Tebasan 100 Kilogram.”
“DOOM.”
“Untung saja aku memutuskan untuk menghindar.” Hira melihat serangan perempuan tersebut menghancurkan arenanya.
Bukannya takut setelah melihat ilmu beladiri milik lawannya, Hira berlari menuju perempuan sambil tersenyum. “Ini yang aku butuhkan.”
Pertandingan Hira merupakan pertandingan pertama yang berlangsung lama, Penonton yang menyaksikan pertandingan mereka berdua menjadi takjub dengan serangan – serangan yang di lakukan Hira dan juga lawannya.
“Sayang sekali, Jika saja ia melatih fisiknya, Mungkin hal seperti itu tidak akan terjadi.” Ucap Arthur sambil melihat perempuan yang menjadi lawannya Hira sudah kelelahan karena Ilmu beladiri yang ia gunakan sangat banyak menguras tenaga.
Hira segera memberhentikan ayunan pedangnya karena melihat lawannya mengangkat tangan sebagai tanda bahwa ia menyerah.
“Terima kasih sudah bertarung denganku.” Hira memberi hormat kepada lawannya sebelum meninggalkan arena.
Chen mengumumkan Hira sebagai pemenang sambil tersenyum bahagia, Karena merasa bangga kepada anaknya.
BERI LIKE DAN COMMENT