Andini Putri Azalia, seorang gadis cantik dan lucu yang baru saja tamat SMP dan akan segera masuk ke SMA. Dia memilih Sekolah berbasis agama di luar kota dan di terima di sana.
Beberapa hari menjalani kegiatan sekolahnya, dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Disitu pula dia berkenalan dengan seorang kakak kelas yang bernama Aidan. Awalnya mereka hanya berteman biasa, sampai akhirnya Andin menganggap Aidan sebagai kakak angkatnya, karena dia tak punya saudara di sana. tapi seiring berjalannya waktu, tumbuh cinta diantara keduanya.
Namun cinta mereka tak bisa bersatu begitu saja setelah kehadiran Nita sahabat Andin. Tak hanya Nita yang akan muncul, tapi akan banyak cowok dan cewek yang akan hadir meracoki hubungan percintaan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka ke depannya yah?? apakah akan tetap menjadi saudara angkat atau malah jadi sepasang kekasih yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmatul Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Hallo, pembaca setia "KEKASIH GELAP KAKAK ANGKAT",
maafin author yaa baru bisa lanjut sekarang, setelah lama menghilang🤭
Jujur sebenarnya Author ragu mau lanjutin ini cerita, karena takut kurang nyambung sama yang sebelumnya😢tapi author percaya bahwa akan ada dari readers setia yang akan memberikan komentar positifnya untuk kelanjutan novel ini kedepannya🥰
Semoga masih berkenan ya buat lanjut baca dan dukung terus Kekasih Gelap Kakak Angkat untuk Up🤗
📌📌📌📌
Dalam perjalanannya di Pramuka, Andin tidak terlalu sering dibawa lomba oleh pembina nya. Selain kurang pandai dalam bidang Pramuka, badannya yang mungil juga salah satu faktor dia tak bisa ikut mewakili sekolahnya dalam setiap lomba. Tapi hal itu tak membuat Andin jadi patah semangat. Dia tetap sabar mengikuti organisasi tersebut. Berkat kerajinan dia dan beberapa keahlian yang dimilikinya dalam bidang sains dan teknologi, akhirnya dia terpilih juga untuk mewakili sekolah nya dalam peringatan hari ulang tahun Pramuka, dengan cabang lomba penggunaan teknologi tepat guna. Hal ini tentu saja membuat Andin merasa bermanfaat dalam organisasinya.
Eehh, tapi jangan salah ya, meskipun dia kurang lihai dalam tali temali, simpul dan beberapa hal di Pramuka bukan berarti dia hanya menjadi anak bawang yaa. Dia berhasil menjadi bendahara umum mengalahkan Fina sebagai salah satu kandidat juga.
🌸🌸🌸🌸
Komunikasi Aidan dan Andin lewat SMS masih tetap berlanjut meskipun ada Nita di samping Andin.
(Zaman itu belum ada WA, BBM apalagi Instagram yaa🤭)
Andin yang mendapat pesan dari Aidan, nyengir-nyengir sendiri menatap layar ponselnya. Nita yang berada di sebelahnya pun jadi merasa risih.
"Eehh lho aman gak nihh?" tanya Nita.
Andin tak menghiraukan pertanyaan dari Nita, dia masih sibuk mengotak-atik tombol ponselnya, itu menandakan dia sedang membalas sebuah pesan singkat yang siap di kirim ke si penerima di seberang sana.
"Wooiii, Andini Putri Azalia, ini beneran lho kan?" ucap Nita mengulang lagi pertanyaannya.
"Hmm.." sahut Andin.
"Sumpah lho ngeselin ya Ndin. Masa gue udah nanya-nanya dari tadi, respon lho cuma hmm doang". Kesal Nita.
Sekesal apapun bahkan sampai Nita ngoceh sendiri, Andin masih saja belum perduli dengan nasib prihatin sahabatnya yang sedari tadi sudah ngedumal. Dia tetap sibuk dengan mesin pintar alias handphone nya.
🌸🌸🌸🌸
Bg Doni (nama samaran Aidan di HP Andin)
Yang, gak terasa yaa udah hampir masuk waktu shalat isya. Abang mau siap-siap adzan dulu ya. Kamu juga di sana siap-siap shalat gihh. Nanti kita sambung lagi deh. Bye sayang, jangan rindu ya. Gombal Aidan dari kejauhan yang diwakili oleh kalimatnya sebagai isi dari pesan singkatnya yang terakhir.
Andin,
Oke Abang ku sayang. Aku selalu menunggu kabar darimu kesayanganku, karena kamu adalah sumber kebahagiaan ku.
Balasan pesan singkat Andin ini belum sempat terbaca oleh Aidan karena dia buru-buru untuk pergi mengambil wudhu' dan bersiap mengumandangkan adzan.
Tak dipungkiri, suara Aidan memang begitu merdu saat mengumandangkan Adzan atau pun sebagai imam shalat. Oleh sebab itu, banyak Ibu-Ibu dari jama'ah mesjid nya sering menggoda pemuda itu, agar mau menjadi menantunya. Ada juga jama'ah yang langsung menyuruh anak gadisnya untuk mengantarkan makanan kepada Aidan.
(Garin mesjid memang selalu di istimewa kan oleh jama'ah sekitarnya. Tempat tinggal disediakan, makan di antar secara bergiliran oleh jama'ah tiga kali dalam sehari, dan gaji bulanan pun diberikan sebagai bentuk terimakasih karena telah memakmurkan masjid).
🌸🌸🌸🌸
20.30 WIB
Aidan telah selesai melaksanakan shalat isya. Jama'ah mulai satu per satu meninggalkan mesjid, hingga menyisakan Aidan seorang diri. Tanpa berlama-lama lagi, dia segera mematikan lampu mesjid nya pertanda kegiatan masjid untuk malam ini sudah selesai.
Setelah dirasa pintu masjid sudah terkunci semua dan lampu mati, Aidan segera menuju kamarnya. Dia merebahkan diri di kasur sembari mencari-cari keberadaan ponselnya yang dilemparkan begitu saja tadi karena terburu-buru. Dia mencari ponselnya tentu saja untuk menghubungi Andin. Namun benda yang dicari tak kunjung bertemu.
"Ahh, sial*n!! kemana pula pergi ponsel ku? padahal tadi udah jelas aku lempar ke atas kasur ini." Gerutu Aidan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Truutt..
truutt..
truutt..
Terdengar samar-samar deringan ponsel Aidan, kemudian dia mendekati arah sumber suara. Ternyata ponselnya tersebut sudah tergeletak di bawah kolong tempat tidurnya.
"Oalah ternyata disini kau rupanya", dengus Aidan sambil berusaha meraih ponsel tersebut.
Ponselnya masih saja berdering, pertanda ada yang menelponnya. Setelah ponsel tersebut berhasil diraihnya, Aidan langsung mengarahkan pandangannya ke layar ponsel yang tak berhenti berdering ini. Matanya membulat, melototi panggilan masuk yang bukan dari Andin melainkan dari Dina pacarnya.
Aidan segera menjawab panggilan tersebut, karena sudah tiga kali panggilan itu terlewatkan.
"Hallo, Assalamu'alaikum abi sayang", sapa seorang wanita dari seberang sana. (Abi dan Umi adalah panggilan sayang Aidan dan Dina)
"Wa'alaikumussalam, iya umi sayang", jawab Aidan kembali merespon.
"Kenapa abi lama menjawab panggilan dari umi, apa abi masih sibuk?" celoteh Dina dengan nada sedikit merajuk.
Tak bisa dipungkiri, kalau Dina sering memasang nada merajuk. Pasalnya Aidan yang sudah terkenal pla*boy ini, memang banyak dekat dengan wanita selain Dina termasuk Andin.
Namun, Aidan tak pernah kehilangan kata-kata untuk mengibuli para wanitanya. Selalu saja ada hal yang bisa membuat orang yang sedang berbicara dengannya percaya.
🌸🌸🌸🌸
21.30 WIB
Kos Andin
Sementara disini, Andin masih setia menunggu balasan pesan dari Aidan. Gadis mungil ini belum menaruh curiga pada Aidan yang sampai sekarang masih belum mengabarinya seperti yang dijanjikan tadi.
Mungkin Bang Aidan sedang sibuk mengurus urusan masjidnya, atau lagi ngumpul sama pengurus dan remaja masjid. Besok kan mereka mau ngadain wirid remaja. Atau jangan-jangan udah ketiduran pula. Pikiran Andin sudah dipenuhi dengan alasan-alasan yang mendeskripsikan kegiatan Aidan saat ini.
Andin memang selalu mengetahui jadwal kegiatan Aidan dari pagi sampai malam. Karena kepiawaian Aidan dalam berbohong dan kadang ada benarnya saat menjelaskan rutinitasnya pada gadis kecilnya itu.
Jam di ponsel Andin sudah menunjukan pukul 22.00, itu menandakan kalau Andin sudah menunggu Aidan selama satu setengah jam. Nita yang tadi bersama Andin pun sudah kembali ke kamarnya. Andin berfikir ini lah kesempatannya untuk menelpon Aidan walau hanya sebentar saja.
"Aahh, sekarang kan Nita udah gak ada. Aku coba buat telpon bang Aidan duluan, siapa tau emang benar dia ketiduran", oceh Andin sambil melacak nomor Aidan di ponselnya.
Truutt...
Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.
Terdengar suara dari dalam ponselnya yang menyatakan kalau nomor Aidan sedang sibuk.
Andin mencoba beberapa kali, namun dia masih saja mendapatkan jawaban yang sama. Pikiran Andin mulai melalang buana. Dia merasa di bohongi oleh Aidan, padahal Andin sudah menunggu cukup lama. Tanpa disadari buliran bening mulai mengalir tanpa seizin pemiliknya.
Andin mulai merebahkan tubuhnya dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Tanpa disadari, ponselnya pun jatuh dari genggamannya, karena Andin sudah tertidur saat panggilan Aidan masuk.
Bersambung....
aku sudah boom like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih.