"Kamu, Istriku! Namamu Senja, Aku ingat itu."
Naurally Senja Hafidza. Seorang santri Wati yang pernah mondok di salah satu pesantren dekat pesisir Pangandaran. Merasa terkejut tatkala seorang pria berwajah tampan namun berambut gondrong dan berpenampilan bak berandal, yang memang pernah la temui beberapa kali di pantai tempat ia menghafal Al-Qur'an ketika sore hari. Tiba-tiba hadir di depannya dan mengakui bahwa Senja adalah Istrinya.
"Maaf, kita baru beberapa kali bertemu dan dalam ketidak sengajaan. Mana mungkin saya adalah Istri Saudara."
Sedangkan di posisi laki-laki tersebut, yaitu Keindra Alif Hibridzi, saat ini ia sedang mengalami amnesia, pasca bangun dari koma, akibat kecelakaan motor beberapa bulan yang lalu. Di dalam ingatannya, hanya menyisakan seorang nama saja yaitu Senja. Parahnya lagi, di ambang halusinasinya, Senja adalah seseorang yang pernah ia nikahi dan saat ini adalah Istri Sah nya.
UJUNG OMBAK DI KAKI SENJA. Mari mulai baca saja, Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Qyana.
..."Ikuti kata hati. Cukup menjadi dirimu. Maka orang lain tidak akan pernah dapat memanfaatkan kelemahanmu."...
..._Naurally Senja_...
...🍃🍃🌷🍃🍃...
Waktu berlalu, hari berganti, bulan pun berputar pada porosnya dengan cepat. Pernikahan Senja dan Kei sudah memasuki usia sepuluh bulan.
Perjalanan rumah tangga yang nampak sempurna nyaris tanpa cacat. Walaupun syarat dari Senja masih berlaku. Namun, Kei tetap menerima dengan lapang dada. Kei mencintai Senja karena Allah, bukan berdasarkan syahwat semata.
Sentuhan fisik tanpa ke inti, itu sudah cukup bagi Kei. Namun, perangai Kei Sedikit berubah setelah tanpa sengaja Kei bertemu orang-orang dari masa lalunya. Teman-teman dan juga musuh tongkrongan sama-sama hadir dalam hidup Kei.
Segelintir orang yang menemukan kejanggalan pada diri Kei, justru memanfaatkan itu untuk mendekati Kei. Beberapa kali, Kei pulang larut dengan alasan ingin mengingat kembali teman-teman SMA-nya. Maka dari itu Kei bertemu dengan mereka di cafe.
Seperti malam ini, Sudah hampir pukul dua dini hari. Kei belum juga kembali. Sedangkan Arka sudah pulang dari pukul delapan malam. Bahkan Senja sempat menemani Sabrina dan Arka berbincang tentang acara pernikahan mereka. Setelah satu bulan lalu Sabrina resmi di lamar Arka.
"Astaghfirullah. Mas Kei Kemana sih? kok belum pulang." ucap Senja dengan rasa khawatir. Senja putuskan untuk menunggu Kei di lantai bawah.
Mami dan Papi, saat ini sedang berada di Singapura, katanya ada kerabat mereka yang hendak menikahkan putrinya.
"Kak Senja? belum tidur?" tanya Sabrina saat berpapasan dengan Senja. Ia baru saja dari dapur setelah mengambil air minum.
"Belum Sya, Kak Senja sedang menunggu Mas Kei."
"Loh, belum pulang juga Kak? sudah hampir pukul dua." ucap Sabrina.
"Nah itu dia. Kak Senja khawatir! teleponnya juga tidak aktif." jawab Senja.
Tengah asik bercengkrama dengan Sabrina, terdengar deru mesin mobil sport di carport depan. Senja yakin itu mobil Kei.
"Kak, aku masuk kamar ya." Pamit Sabrina, ia tahu Kei sudah pulang.
"I-iya Dek! jangan lupa kunci pintunya." Senja mengingatkan Sabrina agar mengunci pintu kamarnya.
"Tentu Kak!" balas Sabrina, ia segera masuk ke dalam kamarnya. Tidak mau terlibat dan tidak mau tahu urusan antara suami istri tersebut.
Setelah Sabrina masuk ke kamar. Senja segera membukakan pintu untuk Kei.
"Assalamu'alaikum, Sayang!" sapa Kei, ketika ia lihat istrinya sudah berdiri di ambang pintu.
"Wa'alaikum salam, Ay!" Senja menyalami Kei, seperti biasa Kei mengecup kening, hidung, kedua pipi Senja dan berakhir dengan kecupan manis di bibir.
"Mpp...Senja menutup hidung dan mulutnya, bibir Kei tidak seperti biasanya. Wangi spray mint yang biasanya, kini berganti bau rokok. Senja yakin itu bau rokok. Karena di awal pernikahan mereka, Kei masih merokok sesekali.
Akan tetapi setelah pulang dari Singapura Kei sudah berhenti merokok. Namun, malam ini? mengapa tercium bau rokok dari mulut Kei? entahlah. Senja tidak mau langsung mengintrogasi suaminya saat baru saja pulang. Ia pasti lelah, bicara dengan orang dalam keadaan lelah hanya akan menimbulkan bibit pertengkaran.
"Ay, sudah makan?" tanya Senja.
"Sudah, Sayang! tadi aku makan di cafe tempat pertemuan dengan teman-teman lamaku."
"Oh ya sudah. Memangnya, ada cafe yang masih buka ya Ay? ini sudah larut loh, malah hampir pagi." tanya Senja.
"Sudah tutup sih dari pukul sepuluhan. Tapi aku lanjut nongkrong di tempat balapan, lalu pergi ke club sebentar." Jujur Kei, ia merengkuh bahu Senja naik ke tangga menuju kamar mereka. Sesekali Kei mengecupi dahi Senja sambil berjalan.
"Astaghfirullah'aladzim. Club malam?" tanya Senja. Saking terkejutnya ia sampai berhenti melangkah dan tubuhnya terasa lemas.
"I-iya Club malam. Aku gak macam-macam koq, Sayang. Hanya nongkrong, minum,"
"Merokok! minum...minuman ke-" akhirnya Senja tidak tahan dengan rasa penasarannya.
"Tidak! aku tidak minum minuman beralkohol. Merokok Ia, hanya dua batang koq, Sayang. Tadi aku hanya pesan minuman ringan." akunya Kei terdengar polos. Niat awal Senja tidak mau mengintrogasi apapun tentang kei yang pulang cukup larut. Namun, Kei sendiri ternyata, yang membuka pembicaraan.
"Kamu percaya padaku, kan Sayang?" tanya Kei. Ia nampak khawatir ketika melihat Senja menatapnya nanar.
Senja tersenyum. "Aku percaya kok, kamu itu lucu Ay! kalau lagi bicara jujur. Polos sekali, mirip anak-anak, bikin aku tambah gemas." senja mencubit pipi Kei. Akhirnya Kei tertawa karena merasa lega.
Kini keduanya sudah sampai kamar. Senja menyiapkan segala keperluan Kei untuk berganti pakaian. Setelah Kei membersihkan diri dan berganti pakaian, ia ikut bergabung dengan Senja di atas tempat tidur dan masuk kedalam selimut yang sama.
Kei memeluk senja dengan hangat. "Maafkan Aku, sudah membuat kamu menunggu hingga larut malam. Ada beberapa urusan yang harus Aku selesaikan." ujar kei, menatap Wajah Senja dengan rasa bersalah.
"Tidak mengapa. Aku Hanya khawatir Ay. Ponsel mu tidak dapat di hubungi. Aku takut terjadi sesuatu pada dirimu," ucap lirih Senja sembari mengelus pipi Kei dan menatapnya sendu.
"Tidak perlu khawatir, Sayang. Ada Ethan di belakang ku, selain Bang Willy, Ethan tahu tentang mereka. Maka dari itu Arka tidak di libatkan, karena Arka tidak mengenal mereka." tutur Kei.
"Apa yang kamu cari Ay?" tanya Senja, makin mengeratkan pelukannya pada perut datar milik Kei.
"Secara tiba-tiba, beberapa orang masuk ke dalam hidupku dan mereka tidak aku kenal, ini semua keluar dari skenario Papi, Willy dan Ethan. Kamu tahu sendiri, ingatanku belum mampu mengingat mereka. Siapa kawan dan siapa itu lawan. Maafkan aku jika akan sering pulang larut malam." Kei mengecup tangan Senja.
Keduanya bicara di dalam selimut yang sama, tubuh Kei bersandar pada headboard tempat tidur dan Senja bersandar santai di dada Kei, mendapatkan sentuhan lembut dan mesra dari Kei.
"Kepalaku sering kembali mengalami pusing sekarang. Aku lelah Sayang. Aku harus terlihat mengenal mereka, sedangkan di lain sisi, aku harus menahan rasa pusing di kepala saat mengingat satu persatu orang-orang yang kembali hadir di hidupku. Maka dari itu, dengan masuk ke lingkungan mereka, semoga aku bisa lekas pulih, dapat mengingat semuanya kembali." Ujar Kei.
"Baiklah Mas, aku paham akan kamu." jawab senja ia tersenyum dan mengecup pipi Kei sebagai kekuatan untuk Kei.
"Terima kasih untuk kepercayaanmu. Tidak ada ke khawatiran ku selain dari kepercayaanmu."
"Pergunakan kepercayaanku sebaik mungkin." ucap Senja pelan.
"Tentu." Kei tersenyum lembut. "Hanya saja, terkadang aku merasa di manfaatkan oleh mereka. Mungkin beberapa orang dari mereka mulai membaca kekurangan ku. Walaupun tidak semuanya melakukan itu." ucap Kei dengan nada sendu.
Senja menangkup kedua belah pipi Kei, menatap lembut wajah Kei dengan senyuman. "Ay! aku tidak pernah meragukan kebaikan dan juga ketulusan mu saat berbuat, untuk orang lain. Baik pada masa lalu mu, atau masa sekarang. Karena aku pernah sedikit mengenal kamu sebelum amnesia. Tidak perlu Khawatir, karena manusia akan mendapatkan hasil, sesuai dengan apa yang mereka tanam." ucap Senja dengan kesungguhan.
"Walaupun, pakaianmu terkesan urakan. Aku yakin hatimu bagai berlian. Untuk saat ini, ikuti kata hati. Cukup menjadi dirimu. Maka orang lain tidak akan pernah dapat memanfaatkan kelemahan mu." sambung Senja dengan tersenyum, meyakinkan Kei akan dirinya. Senja mendukung apapun yang Kei lakukan selama itu untuk kebaikan.
Kei tidak dapat berkata apapun lagi. kata-kata Senja mampu menjadi penenang juga mengembalikan kepercayaan dirinya, selain memeluk dan mengecup kening Senja, Kei hanya membisikkan kata terima kasih.
"I love you. Sayang!"
"Love you more, Ay!"
"Tidurlah, aku mau Salat malam." pinta senja
"Baiklah! sebelum Salat, nina bobokan aku dulu," pinta Kei dengan tatapan memohon dan nada manja.
"Bayi besar." ucap Senja dengan tersenyum lucu, sembari menggelengkan kepala. Kei juga ikut mengejekeh. Lalu Senja menarik pelan kepala Kei, menidurkan di dadanya seperti bayi, dengan membelai lembut kepala Kei dan diiringi lantunan sholawat merdu dari bibirnya. Setelah kai terlelap, ia bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan qiyamul lail.
**
hari-hari berikutnya,
Sudah satu minggu, Kei merasa tenang karena tidak ada gangguan dari kawan-kawan lamanya. Namun, tidak dengan malam ini, Kei di paksa mereka untuk bergabung di Club.
"Hei Men! lama gak ngumpul begini!" ucap salah seorang teman Kei yang baru saja tiba.
"Emm," Kei nampak ragu dengan menunjuk temannya yang baru datang itu.
"Zio, lupa lu sama gue? baru juga gak bertemu beberapa bulan." jawabnya, seakan dia mengerti dengan mimik wajah Kei.
"Ha...hai Zio. Apa kabar Men?" Kei merangkul Zio.
Akhirnya mereka mengobrol ngalor-ngidul, hingga seorang wanita mendekati serta menyapa Kei dan Kei sungguh langsung sakit kepala ketika mengingat perempuan itu yang sama sekali tidak muncul di memorinya.
"Kei... aku Qyana, kamu lupa?"
Kei hanya menggelengkan kepalanya pelan. Matanya mengerjap pelan beberapa kali. Kepalanya sungguh terasa berat dan berdenyut hebat.
"Aousshh..." Kei memegangi kepalanya, tak berapa lama ia terhuyung jatuh uduk di bangku.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Kei. dahi Kei pun nampak basah karena keringatnya. "Kei, kamu..."
"Ja-jangan sen-sentuh gue." Kei menepis tangan Qyana.
"Men, lo kenapa?" tanya Zio dan yang lainnya. Kei tidak menjawab pertanyaan mereka.
Kei mengeluarkan ponselnya, dengan tangan bergetar ia mengirimkan pesan suara pada Ethan. "Eth, to-tolong gue." ucap Kei dengan terbata, setelahnya ia tidak sadarkan diri. Membuat Qyana, Zio dan teman-teman Kei yang lainnya mengerubungi Kei.
Bersambung...
bikin nge drop dan malas bacanya...
walau ujung cerita nya bahagia...
TERNYATA QYANA BKN 11-12 DGN RHAILLA, TTPI 1-100,, SEMUANYA ULAH LICIK ILLA RUPANYA..
BETUL KATA SENJA, MASA KLO UDH NIKAH MSH NONGKRONG DI CLUB BRSAMA LKI2 YG BKN MAHRAMNYA, MMG HRS DISELIDIKI...
KOQ KEI PELUKAN MA RILLA, ADA APA...??