NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Titik Terendah & Penipuan Besar

Hari itu dimulai dengan harapan, tapi berakhir seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Selama tiga bulan terakhir, usaha Bagas perlahan mulai bangkit kembali setelah terhalang berbagai rintangan. Berkat dukungan Laras dan ketekunannya, jaringan pasokan mulai meluas, kepercayaan pedagang kecil kembali pulih, dan untuk pertama kalinya sejak merantau, saldo rekeningnya terlihat cukup menjanjikan. Ia bahkan sudah merencanakan untuk memeriksakan kesehatan Ibu ke rumah sakit yang lebih baik di kota besar.

Namun, Dimas tidak akan membiarkan kebahagiaan itu bertahan lama. Kegagalan menyabotase barang membuatnya mencari cara yang lebih licik dan mematikan.

Siang itu, Bagas duduk di ruang kerjanya sambil menunggu laporan penyetoran pembayaran dari Pak Harun, mitra dagang yang sudah ia percayai selama dua bulan terakhir. Pria itu terlihat ramah, bicara meyakinkan, dan selalu tepat waktu dalam setiap transaksi.

"Mas Bagas, tenang saja," ujar Pak Harun saat bertemu sehari sebelumnya. "Uang hasil penjualan barang senilai dua miliar rupiah itu sudah saya terima dari pembeli di daerah utara. Besok pagi saya transfer semuanya ke rekening perusahaan. Saya janji tidak akan ada masalah."

Bagas tersenyum percaya. "Saya percaya sepenuhnya sama Bapak. Terima kasih sudah membantu mengurus pengiriman sejauh ini."

Tapi pagi itu, uang yang ditunggu-tunggu tak kunjung masuk. Bagas mencoba menghubungi nomor telepon Pak Harun, hanya terdengar nada sibuk, lalu kemudian nomor itu tidak aktif sama sekali. Ia bergegas ke tempat tinggal yang dikatakan pria itu, tapi alamat yang diberikan ternyata palsu. Kantor sementara yang disewa pun sudah kosong, hanya menyisakan meja dan kursi usang.

Jantung Bagas terasa berhenti berdetak sesaat.

"Ini tidak mungkin..." gumamnya sambil memegang kepala yang terasa berputar. "Dia tidak mungkin melakukan ini..."

Namun kenyataan pahit segera terungkap. Seorang kenalan pedagang memberitahunya dengan suara lirih.

"Mas Bagas. Tadi malam saya lihat Pak Harun makan malam di restoran mewah bersama Dimas dan ayahnya. Mereka tertawa-tawa, seolah baru saja merayakan sesuatu. Orang bilang, dia dapat uang imbalan besar."

Bagas tertegun kaku. Seluruh tubuhnya terasa lemas seolah tak ada tulang penyangga. Air matanya tumpah tanpa sadar. Dimas benar-benar berhasil menjatuhkannya dengan cara yang paling kejam. Uang itu bukan sekadar keuntungan, itu adalah modal terakhir, simpanan untuk biaya pengobatan Ibu, dan harapan untuk terus melangkah maju. Semuanya hilang dalam sekejap.

Dengan langkah gontai, ia berjalan pulang menuju kontrakan. Setiap langkah terasa berat seperti mengangkut beban gunung. Pakaiannya berdebu, wajahnya pucat pasi, dan pandangannya kosong. Saat membuka pintu, Ibu dan Laras yang sedang menunggunya langsung menyadari ada yang salah.

"Bagas, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Ibu dengan suara cemas.

Bagas hanya terduduk di lantai, menunduk dalam, dan menangis sepuasnya. Tangisnya yang jarang terdengar itu memecah keheningan rumah kecil itu.

"Aku gagal, Bu." ucapnya terputus-putus. "Aku percaya pada orang yang salah. Uang hasil kerja keras selama ini, dua miliar rupiah, dibawa kabur. Ternyata dia disogok Dimas. Aku habis, Bu. Usahaku bangkrut total. Aku tidak punya apa-apa lagi. Aku gagal menjadi anak yang bisa membahagiakan Ibu, gagal menjadi laki-laki yang bisa memegang janji. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi..."

Ibu langsung mendekat, memeluk tubuh anaknya yang gemetar. "Jangan bicara begitu, Nak. Rezeki itu datang dan pergi. Yang penting kita masih sehat dan masih punya satu sama lain. Jangan hancurkan dirimu hanya karena uang."

Namun kata-kata itu terasa jauh dan samar di telinga Bagas. Rasa lelah, sakit hati, dan keputusasaan menutupi segalanya. Di saat hatinya sedang paling rapuh, ponselnya bergetar di saku celana. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar, membuka pesan masuk yang baru saja terkirim, dari Naya.

Isinya membuat dunia Bagas seolah runtuh sepenuhnya:

"Bagas, maafkan aku. Kondisi Ayah makin kritis, dokter bilang waktunya tidak lama lagi. Ia memohon dengan sangat agar aku menerima perjodohan ini agar ia bisa melihatku menikah sebelum pergi. Aku sudah berjuang, tapi aku tidak sanggup melihat Ayah menangis dan memohon padaku. Aku terpaksa menerima lamaran itu. Maafkan aku, Bagas. Mungkin jalan kita memang tidak ditakdirkan bersatu. Terima kasih untuk segala kenangan dan janji yang pernah kita buat. Semoga kau menemukan kebahagiaan yang layak untukmu..."

Bagas membaca pesan itu berulang kali, sampai tulisannya terlihat kabur karena air mata yang terus mengalir. Semua perjuangannya, menahan hinaan, menghadapi bahaya, bekerja siang malam, bertahan di tengah ketidakpastian, rasanya menjadi sia-sia. Tujuan yang ia genggam selama ini tiba-tiba lenyap begitu saja.

Ia mematikan layar ponsel, lalu menunduk dalam, suaranya parau dan putus asa.

"Semuanya sudah berakhir..." gumamnya. "Naya sudah tidak menungguku. Uangku habis. Usahaku hancur. Musuhku terus mengincar. Apa gunanya aku terus berjuang? Untuk apa aku bertahan pada janji yang sudah tidak ada artinya lagi?"

Laras yang berdiri di sampingnya, mendengar semuanya dengan hati yang teriris. Ia duduk di hadapan Bagas, memegang kedua bahunya dengan lembut namun tegas.

"Bagas, dengar aku. Aku tahu rasanya terasa paling gelap sekarang. Tapi kamu tidak sendirian. Masalah uang bisa dicari lagi, nama baik bisa dibangun kembali. Tapi semangatmu itu yang paling berharga."

Bagas mengangkat wajahnya, matanya merah bengkak. Ia menatap Laras, lalu menatap Ibu yang menatapnya penuh kasih sayang. Di depan matanya, ada kehidupan yang tenang, aman, dan pasti. Ada wanita yang selalu ada di saat susah maupun senang, ada perlindungan yang kuat, ada masa depan yang tidak lagi penuh ancaman.

Pikirannya berputar cepat. Kalau aku terus melanjutkan perjuangan ini, apa yang akan kudapat? Lebih banyak penderitaan, lebih banyak bahaya, dan mungkin hanya kekecewaan lagi. Tapi kalau aku berhenti, setidaknya Ibu akan hidup tenang, aku tidak perlu lagi takut, dan aku bisa membangun kebahagiaan baru yang nyata di depan mata.

Dengan suara yang berat namun tegas, Bagas akhirnya mengucapkan keputusannya yang sudah terbenam di hatinya.

"Cukup, Ras. Aku sudah lelah. Aku tidak sanggup melawan lagi. Aku akan menutup usahaku. Aku tidak akan melawan Dimas lagi. Dan aku akan menerima bantuanmu dan ayahmu, aku pun menerima perasaanmu. maafkan aku yang selalu menolakmu.

Aku ingin memulai hidup baru di sini, bersamamu dan Ibu. Aku ingin berhenti mengejar sesuatu yang ternyata hanya ilusi semata."

Laras tertegun sejenak, matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena lega dan haru. Ia mengangguk pelan, lalu memeluk Bagas dengan lembut.

"Terima kasih, Bagas. Aku janji, aku akan menjagamu dan Ibu sebaik mungkin. Kita akan memulai semuanya dari awal, bersama-sama. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi kekhawatiran berlebih. Kita akan bahagia, aku janji."

Namun, di balik pelukan itu, di balik keputusan yang diambilnya, hati Bagas terasa hampa dan sakit. Ia tahu, ia baru saja melepaskan mimpi dan janji selamanya. Ia baru saja memilih jalan yang aman, tapi meninggalkan jejak luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya.

Malam itu, Bagas menutup semua berkas usahanya, mematikan nomor kontak mitra dagang, dan membuang jauh-jauh sisa keinginan untuk kembali ke jalan lama. Ia merasa sudah sampai di titik terendah hidupnya, dan sekarang ia berusaha berdiri kembali dengan cara yang berbeda. Meskipun ia tidak tahu apakah ia benar-benar akan menemukan kedamaian di jalan yang baru ini.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!