NovelToon NovelToon
Cerita Kita

Cerita Kita

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:93.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Isqa

Adelia itu cuma murid biasa, menurutnya.

Namun siapa sangka, justru banyak yang mengincar pacar Vero itu. Tapi, kedatangan dari yang namanya mantan memang merusak kisah pacaran.

Ditambah lagi kehadiran Ravi sebagai pangeran kesiangan, justru berhasil membuat seorang Adelia Morva Agustina si cewek kasar jatuh ke dalam pelukannya.

Tapi, cinta monyet itu memang ngeri-ngeri sedap sensasinya. Apalagi, kalau penunggu di penantian mereka justru akhir tak terduga.


IG : miqaela_isqa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ravi

Ravi pun menghentikan laju motornya. “Terus kamu pulang sama siapa?” tanyanya.

“Sama angkot,” jawabku sambil berwajah datar.

“Ya sudah, biar aku antarin,” ia pun menawarkan kebaikannya.

“Gak usah, aku pulang sama angkot saja,” tukasku menolaknya. Yah gak enak juga kan ya, kalau aku pulang sama dia karena kami gak begitu dekat.

“Santai saja, kan aku cuma antarin kamu, nolong teman masa gak boleh,” pungkasnya.

“Mmm...”

Lalu aku pun berpikir sejenak, lagi pula jika aku gak menerima tawarannya aku bakalan jalan dulu ke depan, terus nungguin angkot sambil kepanasan dan keringatan. Ya sudahlah mending numpang gratisan sama dia juga kan, hemat gak perlu keluar duit, cepat juga sampai di rumah. Oke! Hidup gratisan! Semangat!

“Oke,” sahutku mengiyakan ajakannya, aku langsung naik ke motornya tanpa dia suruh duluan.

Ravi pun terdiam menatapku yang menaiki motornya. “Kenapa? Gak jalan?” tanyaku padanya tanpa malu dan dosa.

“Eh, iya.” Ia pun lalu menghidupkan mesin motornya dan kami pun berboncengan layaknya pasangan muda yang tidak kasmaran.

“Oh ya, kamu gak ikutan kerja kelompok?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Gak.”

“Kenapa?”

“Karena tugas kami sudah hampir selesai,” jelas Ravi tanpa menoleh padaku. Ia wajar dong dia bicara tanpa melihatku, namanya juga bawa motor, kalau bicara saling tatap-tatapan nanti bisa-bisa nabrak dan gepeng di bawah ban. Mengenaskan!

“Ooh, jadi kalian gak satu kelompok?” tanyaku penasaran.

“Gak, Vero satu kelompok sama Rachel dan Sabina,” ucapnya lirih.

“Deg!”

Suara jantungku yang tersentak kaget saat mendengar ia menyebut nama Sabina dan Rachel si cewek barbar.

“Sama Sabina?” gumamku pelan.

“Kenapa? Kamu cemburu?”

“Gak ah, mana mungkin aku cemburu sama dia, ya gak mungkinlah,” ocehku sombong.

Ravi hanya diam mendengar perkataanku barusan, ia lalu memilih fokus ke depan. Aku pun juga diam karena tak tahu lagi harus membahas apa dengannya.

“Oh ya, arah ke rumah kamu sudah benar nih?” tanyanya gantian.

“Sudah, lurus saja, nanti kalau belok aku kasih tahu,” pungkasku sambil menoleh sana sini.

Tapi tiba-tiba sudut pandangku terganggu dengan motor yang menyeberang di depanku.

“Itu?!” pekikku. “Bukannya Vero lagi kerja kelompok?!” sahutku heran.

“Iya, tapi aku dengar dia kerja kelompok di rumah Sabina,” jawab Ravi.

“Tapi apa dia harus boncengan sama Sabina kayak begitu?” celotehku sambil tetap menatap laju motor Vero yang menjauh ke arah yang berbeda itu.

“Ya kalau gak sama dia sama siapa lagi?” tukas Ravi seadanya.

“Ya kan bisa sama yang lain, tadi aku lihat ada siapa itu, cowok sama cowok boncengan, kenapa Sabina gak sama mereka saja?” gerutuku tanpa berpikir dulu dengan siapa aku bicara. Aku melontarkan kekesalanku pada Ravi, padahal dia gak ada hubungannya.

“Kamu cemburu ya?”

“Gak!”

“Terus?”

“Aku cuma heran saja sama Sabina, gak tahu apa Vero tuh sudah ada yang punya, gak malu apa dekat-dekat sama pacar orang!”

Ravi pun menoleh padaku, “apa?!” tanyaku ngegas.

“Kelihatan banget kalau kamu tuh cemburu,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

Aku pun semakin kesal karena dikatakan cemburu olehnya, tanpa pikir panjang aku langsung memukul punggungnya. “Plaakkkk!” pukulan di punggung yang gak begitu keras menurutku.

“Aaaww! Kenapa di pukul sih! Aku salah apa?!” pekiknya heran.

“Aku tuh gak cemburu! Jadi stop bilang aku cemburu lagi! Atau aku pukul kamu lebih keras dari ini!” ancamku tak tahu diri.

Memang nih bocah salah apa sampai harus dipukul? Aku memang gak tahu diri ya, sudah jelas diantarin pulang malah melakukan kekerasan pada anak tak berdosa ini.

“Iya-iya kamu gak cemburu, jadi jangan pukul aku lagi,” gumam Ravi bernada jengkel.

Aku memilih diam tak bicara dengannya, sampai akhirnya kami pun tiba di depan gerbang rumahku. Aku lalu turun dari motornya dengan muka jutek, seolah-olah punya dendam kesumat padanya.

“Ravi!”

“Mmm?”

“Terima kasih ya sudah antarin aku pulang.”

“Iya.”

“Kamu gak mau mampir dulu?”

“Gak usah, kan aku cuma antarin kamu, bukan main atau gimana. Aku pulang dulu,” tukasnya datar.

“Mmm... Iya, hati-hati di jalan ya,” ucapku bernada ramah.

Ravi pun menatapku dengan wajah berkerut, seolah-olah ia heran dengan perubahan wajahku yang tiba-tiba baik.

Tiba-tiba mamaku pun pulang, ia menghentikan laju mobilnya saat melihatku dan Ravi yang sedang berdiri di depan gerbang.

“Loh Adel? Sudah pulang? Ini siapa?” tanya mamaku bertubi-tubi. “Bukannya mamaku lagi kerja? Kenapa dia sudah pulang?” gumam batinku heran.

“Oh, ini temanku Ma, Ravi!” sahutku mengenalkannya.

Ravi pun tersenyum lalu mengangguk sopan pada mamaku, “selamat siang bu, nama saya Ravi,” ia memperkenalkan dirinya dengan sopan sambil bersalaman dengan mamaku yang masih di dalam mobil.

“Bu?!” gak salah panggil nih bocah! Batinku terkaget-kaget mendengarnya.

“Eeh... Iya, salam kenal Ravi, ibu mamanya Adel,” pungkas mamaku dengan senyum emak-emak ramah andalannya.

“Maaf mengganggu bu, saya cuma antarin Adel saja, kalau begitu saya pulang dulu,” pamitnya.

“Loh, kok langsung pulang? Gak mampir dulu?” ajak mamaku sembarangan.

“Gak usah bu, terima kasih.”

“Eh! Jangan malu-malu begitu, mampir saja dulu, kebetulan ibu beli makanan, ayo makan sama-sama dulu,” mamaku pun gigih menawarkan kebaikannya yang tak terduga.

Ravi pun menatapku yang hanya melongo melihat mereka, “gak usah bu, gak perlu repot-repot,” tukasnya.

“Gak apa-apa, jangan malu-malu begitu, Adel! Ajak temanmu masuk ke rumah, kenapa malah kamu biarkan berjemur di luar begini?” perintah mamaku.

“Tapi Ma!”

“Adel!”

Aku pun tersentak kaget mendengar teriakan mama dan akhirnya menatap Ravi dengan wajah gak enak hati yang jelek di pandang.

“Ya sudah Ravi, mampir dulu yuk,” ajakku.

“Hah? Tapi aku mau pulang.”

“Sudah yuk mampir saja sebentar,” bujukku sambil menarik lengan bajunya yang disingsingkan.

“Ayo nak! Masuk dulu!” ajak mamaku. Itu sebenarnya ajakan, paksaan atau bagaimana? Kami berdua merasa terbebani dengan itu. Mama lalu melajukan mobilnya memasuki gerbang sambil tersenyum ramah.

Jantungku pun jadi bergidik ngeri melihat senyuman mama tersebut.

“Apa aku harus mampir dulu?” tanya Ravi dengan ekspresi ragu-ragu.

“Sudah, masuk saja dulu, kamu gak lihat mamaku gigih sekali suruh kamu mampir,” jelasku padanya dengan tatapan canggung.

“Ya sudah,” Ravi pun menaiki motornya dan memasuki halaman gerbang rumahku.

“Ya ampun, kenapa malah jadi begini? Aku harus harus bagaimana? Kalau begini kan canggung jadinya!” gerutuku tak jelas.

Aku menghampiri Ravi dan kami berdua pun memasuki rumahku secara bersama-sama.

“Kamu duduk saja di sini, aku ambilkan minum dulu,” tukasku lalu meninggalkannya.

“Mmm... Iya.”

Sesampainya di dapur, tampak mamaku lagi memindahkan makanan yang dibawanya ke piring. “Mau ngapain kamu?” tanya mama.

“Mau ambilkan minumlah, dia disuruh mampir masa gak di kasih minum,” ocehku sambil

menatap malas mama.

“Ya sudah, biar mama yang buatkan minumnya, kamu ke kamar saja ganti baju itu biar gak kotor,” perintah mama tanpa menatapku lagi.

“Mmm... Oke,” lalu aku pun pergi meninggalkan mama ke kamar. Setibanya di kamar, aku langsung mengganti baju dan mengucir rambutku biar gak gerah.

Setelah semuanya selesai, aku langsung keluar kamar dan menuruni tangga untuk menemui Ravi. Tapi saat baru sampai di ruang makan, tampak mamaku dan Ravi sedang makan bersama layaknya ibu dan anak yang sedang berbahagia.

“Hah?!” pekik hatiku kaget.

“Adel, ayo makan bersama,” ajak mama yang menyadari kedatanganku dan membuat Ravi langsung menoleh ke arahku.

1
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Pov orang pertama, perempuan..
miqaela_isqa: Iya, cowo ny mati
total 1 replies
KIA Qirana
H, Vero ya, bukan Fero kan
💙💙💜💜❤️❤️💜💜🌷🌷💜💜💕💕💕💜💜💜♥️♥️♥️💜💜💜💙💙💜💜💜
miqaela_isqa: Rasanya Vero kak 😂 y ampun aku aja smpe lupa nama karakter novel ku, maaf bru balas komen y kak, makasih bnget dukungan ny 🙏🏿😁
total 1 replies
KIA Qirana
Jangan beli kuota, mahal
beli jaringan aja 🤣🤣🤣♥️♥️♥️💕💕❤️❤️🌷🌷💕💕♥️♥️
miqaela_isqa: Takut ny dana gk cukup buat bli jaringan 😂😂😂 ntar malah bikin malu
total 1 replies
KIA Qirana
Eh ria geer
🤣🤣🌷🌷🌷💙💙💜💜♥️♥️♥️💕💕💕❤️❤️🌷🌷💙💙💜💜
miqaela_isqa: Sungguh trlalu 😂
total 1 replies
KIA Qirana
😱😱😂😂 aku juga pernah nyontek 🤣🤣😂😂♥️♥️🌷🌷🌷💙💙💜💜💜♥️♥️
miqaela_isqa: Kita smua prnh nyontek 😂
total 1 replies
KIA Qirana
Sangat untuk Author
♥️♥️♥️🌷🌷🌷💜💜💜💜💜
miqaela_isqa: Makasih byk kakak, smog sllu trhibur 🤗 jaga kesehatan mu 👍🏿
total 1 replies
KIA Qirana
Sedih banget 😭😭😭
Darah Biru (Bangsawan)
favorit ❤️ rate
Darah Biru (Bangsawan)
🌟🌟🌟🌟🌟
Darah Biru (Bangsawan)
keren 😘
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
🌹
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
sambungan jejak boomlike 👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
Miss you Thor
Zzxyy01
👍😆
miqaela_isqa: 😁 Makasih loh kak udh mampir, semoga terhibur
total 1 replies
Zzxyy01
gw kok malah nge-sip sama si ketos
miqaela_isqa: Waduh 🙄 bisa2 konspirasi nih kak 😂😂😂
total 1 replies
Rintik Ludira
happy ending kak isqa semoga sukses di karya yg lain.. semangat terus...
.SAID.
end juga akhirnya, semangat terus sister
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!