Lana adalah perawat yang selalu berpindah kota. Kota baru yang dia tinggali (Koja) ternyata membawanya ke dalam kisah cinta yang sulit untuk tergapai.
Syafira, sahabat Lana sejak SMP yang dulu menemaninya melalui masa remaja Lana yang sulit dan menyedihkan, menolongnya lagi untuk mendapat pekerjaan di Koja. Dia mengagumi seorang dokter bernama Nathan.
Setelah Lana masuk ke rumah sakit yang sama, Lana pun jatuh cinta kepada orang yang dikagumi sahabatnya sendiri yaitu Nathan.
Di tengah kisah cintanya, Lana, Nathan, Dion (sahabat Nathan) dan Asa (istri Dion) juga rajin berdonasi untuk menolong para ibu muda yang mengalami kehamilan tidak terencana.
Kemudian, mereka mendirikan dan mengurus bersama sebuah rumah singgah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa suci yaitu anak dari kehamilan tidak terencana.
disclaimer:
Nama tokoh, kota, aplikasi dalam novel ini hanyalah fiktif. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tita dewahasta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pulang Ke Koja
“Kita pulang ya, Ma,” bujuk Nathan.
Ibunya diam, masih berpikir-pikir. Sedari tadi keputusannya berubah-ubah. Tadinya sudah sepakat pulang, tapi karena teringat perlakuan ayahnya yang terlampau angkuh, dia berubah pikiran lagi.
Sebenarnya dalam hati kecil ibu Nathan, dia juga tahu bahwa dia pasti pulang entah cepat atau lambat. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada ayah Nathan.
“Apa susah buat papa kamu ikut sama kalian ke sini? Apa Mama sejauh ini nggak dicari?”
“Mungkin papa banyak kerjaan, Ma.”
“Nanti Mama pasti pulang, tapi biar di sini dulu beberapa jam lagi.”
“Iya Ma, tapi tolong jangan berubah pikiran lagi ya. Kasihan aku sama Dion, Ma.”
Dion menengok dan melotot ke arah Nathan.
Bocah tengik, kenapa aku dibawa-bawa? Aku ikut ke sini itu kebetulan ikut aja. Kalau aku nggak ada masalah sama Asa juga nggak bakal ikut. Kamu kira aku ini nggak punya kerjaan apa? (Dion).
“Oh iya, Nak Dion, terimakasih udah nemenin Nathan jauh-jauh ke sini.”
“Iya Tante, sekalian piknik kok ini. Saya belum pernah ke sini sebelumnya.”
“Dia juga lagi ada masalah sama istrinya, Ma.”
“Oh gitu, terus kenapa malah ikut ke sini? Kenapa nggak diselesaikan ...” Ibu Nathan berhenti bicara.
Nenek Nathan yang sedang membaca dengan kacamata plus yang tebal pun turut angkat bicara.
“Kenapa berhenti bicara? Serasa ngomongin diri sendiri?”
“Akh Ibu.” Ibu Nathan bingung karena memang benar adanya. Kenapa dia bisa memberi komentar kepada masalah orang lain, tapi dia sendiri melakukan hal konyol.
Nenek Nathan yang sudah makan asam garam kehidupan sudah hafal dengan berbagai fase hidup manusia.
“Ya sudah, kamu nanti ikut pulang sama Nathan dan Nak Dion. Orang yang sudah tua itu biasa begitu. Kadang ya kembali bertingkah seperti anak kecil lagi, ya kayak kamu itu, Widya,” ucap nenek kepada ibu Nathan. “Cuma lain kali, ke sini itu jangan karena acara minggat-minggatan, tapi dalam suasana hati gembira, bareng-bareng sama suamimu, sama Nathan dan mantumu.” nenek Nathan sudah menjadi pelupa. Dia lupa cucunya itu belum beristri.
“Ehem, Nathan belum nikah lho, Nek,” kata Dion.
“Oh ya ampun, maaf Nenek lupa, Nathan belum nikah ya. Umurmu 35 kan?”
“32, Nek. Dion ini nih yang udah tua, dia 36, Nek."
“Dulu Nenek seumuran kamu itu sudah punya anak 5.”
“Ya iya, Nek. Jaman dulu kan masih muda udah nikah.”
“Oh, Nenek baru tahu. Jadi kalau ilmu menikah jaman sekarang itu nunggu tua dulu baru menikah, gitu ya?” wew, kata-kata nenek membuat Nathan menepuk dahinya.
“Ya nggak gitu juga, Nek. Nunggu yang cocok,” tukas Nathan.
“Cocok kok ditunggu. Nenek sama mendiang kakekmu dulu dijodohkan, bahkan sebelumnya kami nggak kenal. Kami mencocokkan diri. Kalau nunggu yang betul-betul cocok ya nggak ada, Cu. Apalagi manusia itu hati dan sikapnya berubah-ubah.”
Aku nggak percaya dapat ceramah beginian dari Nenek. Nenek yang berasal dari jaman yang berbeda. Aku juga ragu, apa nenek dan kakek dulu punya romantisme dalam berkeluarga? Atau kakek hanya seperti orang-orang dulu yang menjadi raja diktator yang memperlakukan nenek secara kaku. Apa mereka akrab? Apa mereka ‘connected’? Jamanku bukan jaman begitu lagi Nek. Di jamanku, laki-laki sudah mulai sadar peran wanita sebagai tulang rusuk, pendamping, bukan lagi ‘pelayan’. Istri memang harus patuh, tapi suami juga tidak menggunakan itu sebagai senjata untuk memerintah istri seenaknya. Dan kami ingin pasangan yang betul-betul kami cintai bukan orang asing. (Nathan).
***
Dalam perjalanan pulang...
“Nenek kamu itu ada benernya lho, Bro. Aku sama Asa juga nggak sepenuhnya cocok. Ada banyak printilan sifat yang kurang sreg tapi ya we’re working on em.”
“Tapi secara garis besar kalian saling tertarik, dan mempunyai kecocokan selain hal-hal kecil itu tadi kan?”
“Ya iya. Cuma jadinya, dijodohkan dan nggak dijodohkan nanti bisa aja berakhir sama. Bahagia. Lu kan sering nggak setuju soal perjodohan. Padahal, prosesnya sama aja. Dijodohkan nanti juga belajar saling mengenal, kemudian saling tertarik, sama dengan proses pacaran. Malah, kalau dijodohkan, nggak perlu lagi repot-repot minta restu karena pastinya orang tua masing-masing udah merestui, ya kan?”
Nathan mengangguk-angguk.
“Jadi kamu mau dijodohkan? Mama cariin kamu calon ya?” Ibu Nathan langsung sumringah cerah secerah sinar rembulan.
“Eh Ma, jangan salah paham. Ini kami lagi diskusi aja.”
“Nathan itu punya pujaan hati kok, Tante. Cuma, nanti kalau nggak berhasil sama dia, tolong cariin calon aja, Tan. Hehe.”
~
Mereka sampai di Koja sudah malam karena perjalanan dari Madin ke Koja memakan waktu lama. Dion sampai di rumahnya.
Dia kaget saat membuka pintu, Asa duduk di lantai di depan pintu masuk rumahnya, bersandar ke tembok dan tertidur. Dia telah lama menunggu Dion yang tak menepati janjinya untuk menghubungi.
Dion berjongkok dan memandangi istrinya.
Asa membuka mata saat Dion ikut duduk di sampingnya.
“Maafkan aku ya,” kata Dion.
“Aku yang minta maaf, Mas. Aku terlalu mudah menyerah.”
Dion membimbing kepala Asa untuk disandarkan ke bahunya. “Kamu masih mau jadi istriku, kan?”
“Iya, Mas. Akan selalu.”
“Hari ini aku dapat banyak pelajaran dari ibu dan nenek Nat...”
Aduh, tadi aku kan ngomongnya ke Madin nggak sama Nathan. (Dion).
“Ibu dan nenek siapa, Mas? Siapa itu ‘Nat’? Natalie? Jadi kamu ke Madin beneran ketemu sama wanita lain?”
Makan buah simalakama, kalau nggak ngomong jujur, aku dikira ketemu wanita lain. Kalau ngomong jujur, aku ketahuan ke Madin ikut Nathan. (Dion).
“Nathan maksudnya.”
“Lhoh, Nathan bilang nggak sama kamu. Kalian bohongin aku ya!” Asa memukul pundak suaminya.
“Nggak bohong tuh, waktu kamu nelpon Nathan tadi aku kan di warung. Jadi, dia nggak bohong. Hehe,” Dion merangkul istrinya, “Yang penting kan suamimu ini pulang dengan selamat.”
“Mas, ayo IVF lagi,” kata Asa sembari tersenyum.
“Uangku belum cukup. Dikit lagi ya.”
“Pake uangku juga Mas, ya, please, 50:50. Biar uangku juga ada gunanya buat keluarga kita.”
“Enggak, tetep pakai uangku. Aku kepala keluarga.”
Asa mengangguk setuju.
“Kamu dapat semangat lagi dari mana? Apa karena nggak ketemu aku, kamu jadi berubah?”
“Aku tadi ketemu Lana di rumah sakit. Kami ngobrol-ngobrol banyak. Bukan itu juga sih, dia tadi lihatin Outstagram artis Zakia yang lagi hamil setelah 10 tahun berjuang. Aku jadi semangat lagi. Ehm, Mas."
“Hmm.”
“Tolong bela aku di depan ibumu ya.”
“Iya, aku juga mikirin itu. Aku akan belain kamu dan bicara sama ibuku untuk nggak nekan kamu terus. Tapi aku cuma bisa janji mengusahakan, aku nggak janji akan berhasil 100%.”
“Nggak apa-apa, Mas. Kamu mau membelaku di depan ibumu aja aku udah seneng.”
to be continued...
Jogja, February 16th 2021