NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Beberapa hari setelah dimarahi kedua orang tuanya, Kayla kembali menemui Mahesa. Kali ini bukan di rumah. Ia sengaja datang ke bengkel. Baginya, tidak ada lagi alasan untuk menunggu.

Begitu melihat Mahesa keluar dari ruang kantor, Kayla langsung menghampiri.

"Aku perlu bicara."

Mahesa menghela napas pelan. "Masuk saja ke kantor."

Keduanya masuk ke ruangan kecil yang biasa digunakan Mahesa untuk menerima pelanggan penting. Pintu ditutup. Suasana langsung berubah hening.

Kayla tidak ingin bertele-tele. "Kapan kita menikah?"

Mahesa mengangkat wajah perlahan. "Apa?"

"Kapan kita menikah?" ulang Aurel.

"Aurel sudah mengajukan gugatan cerai."

"Tinggal menunggu prosesnya selesai."

Mahesa mengusap pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. "Kay."

"Aku belum resmi bercerai."

"Kita nggak bisa membicarakan pernikahan sekarang."

Kayla langsung berdiri. "Kenapa nggak bisa?"

"Justru sekarang waktunya."

"Semuanya sudah terbuka."

"Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan."

Mahesa menggeleng pelan. "Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?" tanya Kayla.

"Kamu masih berharap Aurel berubah pikiran?"

Mahesa tidak segera menjawab. Keheningannya membuat Kayla semakin yakin.

"Kamu masih mencintai dia, kan?"

Mahesa menatap meja. "Aku memang masih mencintai Aurel."

Jawaban itu membuat napas Kayla tercekat.

"Kalau begitu..."

"Selama ini aku apa?"

Mahesa memejamkan mata. "Aku nggak tahu harus menjawabnya."

Kayla tertawa pahit.

"Tujuh tahun."

"Tujuh tahun aku menunggu laki-laki yang ternyata masih mencintai istrinya."

Mahesa mengusap wajahnya.

"Aku salah."

"Sangat salah."

"Tapi sekarang aku sadar."

Kayla menatapnya tajam. "Sadar apa?"

Mahesa menghela napas panjang.

"Aku sudah menghancurkan terlalu banyak orang."

"Aurel terluka."

"Raka kehilangan keluarganya."

"Orang tuaku kecewa."

"Orang tua Aurel membenciku."

"Bahkan orang tuamu juga kecewa."

Mahesa mengangkat wajah. "Aku capek, Kay."

"Aku benar-benar capek."

Kayla menggeleng keras. "Jangan bilang kamu mau ninggalin aku."

Mahesa tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Mahesa berkata pelan. "Aku ingin mengakhiri hubungan ini."

Kalimat itu membuat Kayla membelalak. "Tidak!" Bentak Kayla.

"Kamu nggak bisa seenaknya bilang selesai."

"Aku sudah mengorbankan semuanya."

"Ardi sudah pergi."

"Keluargaku malu."

"Nama baikku hancur."

"Dan sekarang kamu mau pergi?"

Mahesa berdiri dari kursinya. "Aku tahu aku jahat."

"Aku tahu aku pengecut."

"Tapi kalau hubungan ini diteruskan..."

"...akan semakin banyak yang terluka."

Kayla menitikkan air mata. "Kamu bilang begitu karena Aurel."

"Bukan karena aku."

Mahesa tidak membantah. Ia hanya menundukkan kepala. Dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kalaupun Aurel tidak lagi menerimanya. Ia juga tidak lagi memiliki hati untuk membangun rumah tangga bersama Kayla.

Hubungan yang selama ini ia anggap sebagai pelarian, kini justru menjadi sumber penyesalan terbesar dalam hidupnya.

"Aku benar-benar minta maaf." Suara Mahesa hampir berbisik.

"Tapi aku nggak bisa menikahimu."

Kayla mundur selangkah. Air matanya terus mengalir.

"Jadi..."

"Aku kehilangan semuanya..."

"...untuk laki-laki yang pada akhirnya tetap memilih istrinya?"

Mahesa menggeleng pelan. "Bukan."

"Aku tidak sedang memilih siapa pun."

"Aku sedang menerima akibat dari semua kesalahanku."

Ruangan kembali sunyi. Tak ada lagi janji manis. Tak ada lagi rencana masa depan. Yang tersisa hanyalah dua orang yang akhirnya menyadari, bahwa hubungan yang dibangun dari pengkhianatan tidak pernah benar-benar memberikan kebahagiaan.

Sementara itu, di tempat lain, Aurel masih sibuk menyiapkan berkas-berkas perceraiannya. Tanpa ia sadari, laki-laki yang telah mengkhianatinya kini mulai dihantui penyesalan yang datang jauh lebih lambat daripada luka yang telah ia tinggalkan.

♡♡♡

Di tempat lain, Najwa baru saja merapikan berkas perkara milik Aurel.

Di atas mejanya tersusun rapi beberapa map berisi dokumen gugatan perceraian, bukti kepemilikan aset, hingga salinan perjanjian kredit yang berkaitan dengan pinjaman usaha Mahesa. Ia mengembuskan napas pelan. Kasus Aurel memang menguras tenaga dan pikirannya.

Bukan hanya karena rumit, tetapi juga karena Aurel adalah sahabatnya sendiri.

Najwa ingin memastikan tidak ada satu pun hak Aurel yang terabaikan.

Saat sedang memeriksa kembali catatan yang dibuatnya, seorang staf administrasi menghampiri mejanya.

"Mbak Najwa."

Najwa mengangkat kepala. "Iya?"

"Bapak Arya meminta Mbak ke ruangannya sekarang."

Najwa mengernyit. "Pak Arya?"

"Iya."

"Beliau bilang sekarang."

Najwa mengangguk. "Baik."

Begitu staf itu pergi, beberapa rekan kerja langsung menoleh ke arahnya.

"Wah, dipanggil Pak Arya?"

"Iya." jawab Najwa.

"Ada apa ya?"

Najwa hanya mengangkat bahu. "Entahlah."

Jujur saja, Najwa merasa bingung.

Sejak bekerja di firma hukum itu, ia bisa menghitung dengan jari berapa kali bertemu langsung dengan sang pimpinan.

Biasanya mereka hanya bertemu saat rapat besar atau acara kantor.

Arya Aditia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, sabar, dan sangat mempercayai timnya.

Beliau hampir tidak pernah ikut campur dalam pekerjaan para pengacara, kecuali untuk perkara-perkara yang benar-benar penting.

Karena itulah, panggilan mendadak ini membuat Najwa sedikit gugup.

Najwa mengetuk pintu sampai sebuah suara "Silakan masuk." Barulah Najwa membuka pintu perlahan.

Ruangan itu sederhana, tetapi berkelas. Rak-rak buku hukum memenuhi salah satu sisi ruangan.

Di balik meja kerja, seorang pria tampak sedang membaca beberapa dokumen.

Kemeja putih dengan lengan yang digulung membuat penampilannya sederhana. Namun wibawanya begitu terasa.

Pria itu menutup berkas di tangannya, lalu tersenyum ramah.

"Silakan duduk, Najwa."

"Terima kasih, Pak."

Najwa duduk dengan sikap tegak.

Arya memperhatikan Najwa beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

"Saya sudah melihat laporan pekerjaanmu selama beberapa bulan terakhir."

Najwa mendengarkan dengan saksama.

"Hasilnya sangat baik."

"Beberapa klien bahkan secara khusus memberikan apresiasi terhadap cara kerjamu."

Najwa tersenyum tipis.

"Terima kasih, Pak."

Arya mengangguk. "Karena itu, saya ingin memberikanmu tanggung jawab yang lebih besar."

Najwa sedikit terkejut.

"Ada satu perkara yang menurut saya cocok ditangani olehmu."

"Kasusnya cukup besar dan menyita perhatian."

"Bisa menjadi langkah penting dalam kariermu."

Bagi seorang pengacara muda, kesempatan seperti itu tentu sangat berharga. Namun Najwa justru terlihat ragu.

"Maaf, Pak."

Arya menatap Najwa. "Ada keberatan?"

Najwa mengangguk pelan. "Saat ini saya sedang menangani perkara perceraian salah satu klien."

"Kasusnya cukup kompleks."

"Saya khawatir kalau saya mengambil perkara baru, fokus saya akan terbagi."

Arya tersenyum tipis. "Kasus Aurel?"

Najwa membelalak. "Bapak tahu?"

"Tentu."

"Sebagai pimpinan, saya mengetahui setiap perkara yang sedang ditangani firma ini."

Najwa mengangguk pelan. "Lalu bagaimana menurut Bapak?"

Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau itu yang membuatmu ragu..."

"...biar saya yang mengambil alih perkara Aurel."

Najwa spontan mengangkat kepala. "Apa?"

Arya mengulang dengan tenang. "Saya yang akan menangani kasus Aurel."

Najwa benar-benar tidak percaya. "Pak..."

"Bapak sendiri?" tanya Najwa ragu.

"Iya." jawab Arya.

"Tapi... setahu saya Bapak sudah lama tidak turun langsung menangani perkara."

Arya tersenyum kecil. "Itu memang benar."

"Karena biasanya tim sudah mampu menyelesaikannya."

Najwa masih tampak bingung. "Lalu kenapa kasus Aurel berbeda?"

Arya terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada map bertuliskan nama Aurel Maheswari.

Kemudian Arya menutup map itu perlahan.

"Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik pada perkara ini."

"Tapi untuk sekarang..."

"...anggap saja kamu sudah resmi dipindahkan ke perkara yang baru."

Najwa masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selama ini, Arya Aditia dikenal sebagai pimpinan yang hampir tidak pernah turun langsung ke ruang sidang, kecuali untuk perkara-perkara yang benar-benar memiliki nilai penting. Dan kini..Entah apa alasan sebenarnya. Seorang pengacara senior sekaligus pemilik firma hukum itu justru memilih menangani sendiri gugatan perceraian milik Aurel.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!