Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Lembut yang Mengikis Iman
Tiga hari pasca operasi pengangkatan proyektil peluru, ruang perawatan darurat di dalam markas komando terasa begitu sunyi dan menjadi sebagai ruang privat.
Hujan di luar telah reda, menyisakan hawa dingin khas pegunungan utara yang mengetuk-ngetuk kaca jendela.
Di dalam kamar berbau antiseptik tipis itu, Jenderal Eshar Megantara terbaring dengan bersandarkan bantal tinggi. Perban putih tebal masih membalut bahu hingga dada kanan dan kirinya, sangat kontras dengan warna kulitnya yang merona sehat.
Pintu kayu berdecit halus.
Erica Fiorenza melangkah masuk dengan pembawaan yang tenang. Kedua tangannya membawa sebuah baskom kuningan berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis, lengkap dengan selembar kain putih yang bersih.
Sebagai seorang istri yang baik, Erica menolak menyerahkan tugas merawat Eshar kepada tim medis barak.
Sejak malam kejadian, wanita bertubuh langsing dengan paras cantik itu bersikeras untuk mengurus suaminya sendiri secara telaten.
Hari ini, Erica mengenakan blus katun tipis berwarna salem dengan lengan yang sengaja digulung hingga ke siku, sehingga mengekspos lengan bawahnya yang putih mulus.
Eshar mengalihkan pandangan mata coklatnya dari dokumen laporan yang dipegang tangan kirinya, menatap kedatangan Erica. Paras misterius sang Jenderal tampak sedikit pucat akibat kehilangan banyak darah, tapi kegagahannya sama sekali tidak memudar.
"Sudah waktunya menyeka badan, Jenderal," ujar Erica, menyunggingkan senyum yang hangat seraya meletakkan baskom di atas meja nakas di samping ranjang.
Eshar menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Erica, seingatku demamku sudah turun sejak kemarin. Kurasa Sersan medis bisa menggantikanmu untuk..."
"Tidak ada bantahan, Eshar," potong Erica tegas, menggunakan nada kedisiplinan seorang direktur yang tak bisa diganggu gugat.
"Dokter bilang, lukamu tidak boleh terkena air, tapi kebersihan badanmu tetap nomor satu agar tidak ada infeksi lainnya. Lagipula, aku ini istrimu. Kenapa kamu mendadak jadi canggung begini?"
Mendengar itu, Eshar hanya bisa terdiam, mengatupkan rahangnya rapat-rapat saat Erica mulai mendekat.
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu harus mengakui, menghadapi moncong senjata musuh di medan perang jauh lebih mudah daripada menghadapi tegasnya istri sendiri.
Erica duduk di tepi ranjang besi, sangat dekat hingga aroma harum parfum melati tipis miliknya langsung mereduksi bau obat-obatan di ruangan itu.
Dengan gerakan yang sangat telaten dan sabar, Erica memeras kain hangat dari baskom.
"Permisi," bisik Erica lirih.
Jemari lentiknya perlahan mulai mengusapkan kain hangat itu ke permukaan kulit tegap Eshar, dimulai dari leher, turun ke dada kirinya yang bidang, lalu menjelajahi perut atletis sang Jenderal yang keras dan memiliki cetakan otot sempurna yang padat.
Glek.
Erica tanpa sadar menelan ludahnya sendiri. Meskipun ia mencoba mempertahankan fokus profesionalnya, bersentuhan sedekat ini dengan tubuh telanjang dada seorang pria dewasa yang begitu maskulin dan perkasa membuatnya harus menahan napas berkali-kali.
Setiap kali kain itu melewati otot dada Eshar yang berkedut halus merespons kehangatan air, jantung Erica berdentang tidak keruan. Pipi yang biasa merona sehat kini benar-benar memerah padam menahan gejolak aneh yang menggelitik perutnya.
Sementara itu, di atas ranjang, kondisi Eshar jauh lebih mengenaskan. Sebagai seorang pria normal yang sudah lama hidup melajang di barak militer yang keras, sentuhan tangan wanita selembut Erica adalah siksaan batin yang paling tidak bisa dia tahan.
Setiap sapuan kain yang digerakkan tangan Erica terasa seperti sengatan listrik statis yang membakar kulitnya. Eshar bisa merasakan kelembutan telapak tangan Erica yang sesekali bergesekan langsung dengan kulit perutnya.
Matanya yang coklat itu menatap lurus ke langit-langit kamar, sementara tangan kirinya mencengkeram sisi seprei kasur kapuk itu hingga kainnya berkerut hebat.
Iman Eshar yang selama ini terkenal setebal beton benteng perbatasan utara, yang tak pernah goyah oleh rayuan wanita-wanita sosialita Jakarta, kini rasanya seperti terkikis habis, longsor helai demi helai hanya karena kelembutan seorang Erica Fiorenza.
"Erica..." suara Eshar keluar, terdengar jauh lebih berat, serak, dan dalam dari biasanya, menahan gejolak gairah purba yang mulai bangkit di dalam dirinya.
Erica menghentikan gerakan tangannya di atas perut Eshar, mendongak menatap paras tampan suaminya dengan mata yang bulat dan polos.
"Ya, Eshar? Apakah usapanku terlalu keras? Atau lukamu sakit lagi?"
Melihat wajah polos Erica yang berada begitu dekat darinya, napas Eshar menjadi tidak teratur. Tatapan matanya menggelap, dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang posesif dan intensitas gairah yang tertahan.
"Bukan lukaku yang sakit," bisik Eshar, tangan kirinya bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Erica yang masih memegang kain di atas perutnya.
Sentuhan tangan Eshar yang panas dan kuat membuat Erica terpekik kecil.
"Tapi jika kau terus menyentuhku seperti ini dengan sabar, aku tidak bisa menjamin batas kontrak kamar yang kita sepakati di Jakarta akan tetap berlaku malam ini."
Erica terpaku, matanya terkunci oleh tatapan mata Eshar yang begitu menghipnotis. Udara di dalam kamar darurat itu mendadak berubah menjadi sangat panas dan mengundang akan ketegangan intim. Erica bisa merasakan detak jantung Eshar yang berdegup kencang di bawah telapak tangannya yang terperangkap.
Sebelum suasana semakin tak terkendali, pintu ruangan tiba-tiba diketuk dari luar dengan volume yang cukup keras.
Tok! Tok! Tok!
"Lapor, Jenderal! Ini saya, Axelo! Saya membawa laporan perkembangan terbaru dari interogasi penyusup kemarin!" suara Axelo menggelegar dari balik pintu kayu, sehingga memecah sihir keintiman di antara suami istri tersebut.
Erica dengan cepat menarik tangannya dari cengkeraman Eshar, wajahnya memerah sempurna hingga ke leher saat dia buru-buru berdiri dan merapikan blusnya yang sedikit kusut.
Erica pun berdeham, mencoba mengembalikan wibawa anggunnya yang sempat runtuh.
Eshar memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran dadanya dan mengembalikan keteguhan imannya yang hampir roboh. Pria itu mengumpat pelan dalam hati pada asisten pribadinya yang selalu datang di waktu yang sangat tidak tepat.
"Masuk, Axelo," perintah Eshar, suaranya kembali dingin dan datar, meski sisa-sisa ketegangan masih tergambar jelas di rahangnya yang kokoh.
Axelo melangkah masuk dengan buku catatan militernya, tapi langkahnya langsung melambat saat menyadari atmosfer ruangan yang terasa aneh.
Mata jahil itu langsung melirik baskom kuningan, lalu beralih pada wajah Erica yang memerah, dan terakhir pada wajah Eshar yang tampak ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Anu, itu... mohon maaf, Jenderal, Nyonya Besar. Apakah saya... mengganggu jadwal pengobatan alternatif kalian?" seloroh Axelo dengan cengiran humorisnya yang tanpa dosa, sukses membuat Erica berpaling ke arah jendela demi menyembunyikan rasa malunya.
"Katakan laporanmu, Axelo, atau kau akan kuhukum membersihkan seluruh parit pangkalan ini sendirian sampai subuh," desis Eshar dengan mata menyipit berbahaya.
Axelo segera menegakkan tubuhnya, kembali ke mode disiplin militer.
"Siap, Jenderal! Penyusup yang Anda lumpuhkan kemarin telah membuka mulut setelah kami beri 'sedikit' tekanan di ruang tahanan. Dia adalah pembunuh bayaran sewaan yang dikirim oleh jaringan mafia tekstil pelabuhan Jakarta. Dan yang mengejutkan, yang memberikan ijin masuk ke dalam barak ini adalah... surat rekomendasi dari orang dalam yang terhubung langsung dengan keluarga Megantara, tapi bukan Daniel."
Mendengar bukan nama Daniel Megantara yang disebut, suasana intim di dalam kamar itu seketika sirna, digantikan oleh hawa dingin taktis yang mencekam.
Erica berbalik, matanya berkilat penuh amarah yang teratur. Taruhan di Jakarta rupanya jauh lebih besar dari yang mereka duga, dan masa penyembuhan Eshar di perbatasan ini akan menjadi waktu tenang sebelum badai besar melanda keluarga Megantara.
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭