Zifara, seorang gadis cantik terpaksa menikah dengan Daniel Anggoro karena sebuah kesalah fahaman.
Dalam pernikahan tak ada cinta sama sekali untuknya, bahkan Daniel menganggapnya sebagai pembantu, hingga membuatnya jenuh dan terpaksa pergi dari rumah dalam keadaan hamil.
Dan di saat itulah cinta Daniel mulai tumbuh, namun terlambat, Zifa terlanjur pergi dan tak di ketahui keberadaannya.
Perceraian pun di ajukan Zifara setelah melahirkan, dan tak memberi kesempatan untuk Daniel,
Hingga akhirnya Zifara bertemu dengan Dimas Kurniawan, kekasih lamanya.
Meskipun sudah menjadi Janda, Dimas tetap kekeh menikahinya, namun itu bukan awal kebahagiaannya, karena sehari setelah menikah Dimas meninggal karena kecelakaan,
Sedangkan Zifara mengalami kebutaan,bagaimana nasib Zifara selanjutnya dan pada siapa cintanya itu kembali berlabuh,
Begitu pun nasib adiknya Devina yang tak kalah sengsara darinya, apakah keduanya bisa mendapatkan kebahagiaan, mampukah keduanya menjalani rumitnya kehidupan? ''
kita kepoin saja ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klub
Hari semakin gelap, Devina yang masih di selimuti rasa gelisah itu hanya bisa mondar mandir di teras rumah sang Bibi sambil menggenggam ponselnya, banyak pesan yang masuk dari Nayla dan yang lain, itu hanya bisa di bacanya tanpa membalas,ada perasaan ragu untuk keluar rumah, tapi baginya janji adalah hutang yang seharusnya ia tepati.
Apa lagi saat menatap ke atas, rembulan seakan tersenyum padanya mendukung isi hatinya yang kini lebih memantapkan untuk pergi.
Akhirnya Devina kembali masuk ke kamarnya, bajunya yang sudah rapi dan make up yang tipis membuat bibinya itu bertanya,
''Mau ke mana Dev, kok tumben dandan, tanya sang Bibi sambil menikmati teh hangat bikinannya.
Devina menghampiri Bibinya dan duduk di sampingnya ,merayu adalah kata yang tepat untuk Devina saat ini.
''Bi, malam ini ada perayaan kelulusan, jadi aku harus datang, ucapnya pelan, masih was was kalau Bibinya itu pun tak mengizinkan.
''Sudah bilang kakakmu, tanya nya lagi membuat Devina mendongak setelah sesaat menetap layar ponselnya.
Devina mengangguk pelan, tau kalau berbohong itu dosa, tapi itu jalan satu satunya supaya sang Bibi percaya.
''Baiklah, kalau gitu pergilah, jangan pulang malam malam, kamu anak perempuan, bibi nggak mau terjadi sesuatu sama kamu.
Devina tersenyum dan memeluk sang Bibi dengan erat tanda terima kasih.
Dengan sigap gadis yang menginjak dewasa itu mengambil motornya dan melajukannya.
Karena belum tau alamat yang mereka kunjungi sesekali ia harus berhenti di tepi jalan hanya untuk menanyakan pada Nayla yang lebih tau.
Beberapa menit berlalu, perjuangannya pun tidak sia sia, kini tulisan yang di tunjukkan Nayla lewat ponsel itu sudah nampak jelas di depan mata.
Baru saja motornya memasuki halaman klub, Nayla sudah melambaikan tangannya dari jauh, membuatnya tersenyum.
Di lihatnya banyak pasangan yang keluar masuk melintasinya, mereka terlihat begitu mesra ,entah kini Devina semakin canggung saja harus berkerumun dnengan orang yang belum di kenalnya.
''Lama banget sih Dev, ngapain dulu?'', tanya Nayla seraya masuk bersejajar dengan Devina.
''Kamu mah nggak tau aja , ini kan pertama kali Devina ke sini, celetuk yang lain.
Devina hanya diam sedikit mengerutkan alisnya, suasana ini sangat asing baginya, lampu yang gemerlap dengan paduan musik itu sedikit membuatnya pusing, apa lagi banyak orang yang berhalu lalang dan wangi parfum yang berbeda, makin membuatnya ingin muntah saja.
''Kenapa Dev?'', tanya lagi Nayla menatap wajah Devina yang menyengirkan hidungnya, sepertinya kurang nyaman dengan tempatnya.
Devina menggeleng cepat menyembunyikan keresahannya, malu nanti di bilang kuper.
Ada beberapa teman yang sudah duduk di tempat yang mereka boking, dan meja itu pun penuh dengan minuman yang berwarna warni, namun enggan bagi Devina untuk menuangkannya karena yang ia tau minuman yang tersedia di klub itu memabukkan.
''Mau minum yang mana?'', tanya Hito yang siap untuk melayaninya.
''Memangnya di sini nggak ada jus atau mungkin teh gitu, dengan polosnya ucapan itu terlontar membuat satu ruangan tertawa lepas.
Devina benar benar ketahuan bodohnya saat ini karena selama sekolah mereka tidak tau kalau dalam satu kelasnya masih ada cewek yang lugu seperti Devina, namun tidak bagi Hito yang selalu mengaguminya, ia pun bernjak dari duduknya.
''Ada, sebentar ya, aku pesankan.
''Kamu mending coba yang ini, enak loh, ucap Irul mengangkat botol dan menggantungnya di depan Devina ,secara meng iming imingi gadis itu.
Gadis itu masih saja enggan dan menggeleng, malah kini perutnya beneran mual, dan ingin ke toilet.
''Toiletnya mana ya, tanya Devina menepuk Nayla yang duduk di sampingnya.
''Sana, menunjuk ke arah belakang.
Dengan cepat Devina berlari kecil menuju toilet.
''Mimpi apa aku kemarin malam?'', kenapa harus malu maluin kayak gini sih , gerutunya di depan cermin ,menarik pipinya berbentuk senyum.
Setelah mencuci muka dan kembali memakai make up nya Devina keluar.
Jedug, ''Aduh.... tiba tiba saja tubuhnya menabrak sesuatu yang sedikit keras hingga membuat nya merintih sambil memegangi jidatnya.
Di lihatnya wanita cantik yang ada di depannya,
''Maaf kak ,aku tidak sengaja, ucap Devina menangkupkan kedua tangannya, tapi tidak untuk gadis di depannya yang terlihat judes itu.
Ini kan gadis yang waktu di toko kue itu, ternyata dia tidak selugu yang aku kira, batinnya.
''Minggir, mendorong Devina hingga terhempas ke tembok.
Kayaknya aku pernah lihat, tapi di mana ya, batin Devina sebelum kembali berjalan.
Gadis yang judesnya minta ampun itu masuk dengan senyum menyeringai, ''Gadis kemarin sore mau melawanku, aku pastikan malam ini Kevin akan menjadi milikku seutuhnya, gumamnya sambil menatap bayangannya dari pantulan cermin kamar mandi.
Lalu membuang sebuah botol kecil ke tong sampah.
Ya, gadis itu adalah Susi yang juga ke klub demi misi tertentu yang sudah di rencanakannya.
Susi gadis yang ber ambisi untuk mendapatkan Kevin bagaimana pun caranya.
Sedangkan
Devina clingak clinguk masih sedikit bingung dengan ruangan yang ia tempati tadi sambil menunjuk beberapa pintu di depannya.
''Permisi mbak, sapa seorang laki laki dengan membawa satu nampan yang berisi dua jus, Devina menatap nampan itu lalu memegangnya.
''Ini punyaku ,jawabnya bersamaan dengan suara berat seorang pria yang tiba tiba saja muncul dari belakang yang juga memegang gelasnya.
Devina mengendus kesal dan menoleh ,bisa bisanya ada orang yang juga mau minum jus seperti dirinya di klub.
I.... Bahkan Devina menggantungkan ucapannya saat melihat cowok itu adalah pria yang di kenalnya.
''Kakak, ucapnya sedikit meninggikan suaranya karena alunan musik yang membuatnya bising,
'' Kamu, Kevin pun tak kalah kaget, melihat gadis SMA yang masuk ke klub, bukan tanpa alasan di lihat dari wajahnya tempat itu memang bukan type Devina.
''Ngapain disini?'', lanjutnya penasaran.
Devina menunduk ada rasa malu bercampur takut.
''Ini pesanan kamu kan?'', menyodorkan segelas jus yang memang di pesan Hito.
Setelah meneguk separo isi gelas itu, Kevin kembali menatap Devina yang masih mematung di depannya.
''Aku ngerayain kelulusan sekolah disini dengan temanku, banyak kok, menjelaskan bahwa bukan ia sengaja datang sendiri untuk bersenang senang.
''Mana mereka?'' , tanya Kevin, dan tiba tiba saja Hito melintas, ''Tu dia ,Kevin menoleh ke arah Hito yang berjalan menghampirinya dan Devina.
''Aku duluan ya kak, Devina kembali mengikuti Hito menuju ruangan yang ia tempati tadi.
''Hai Vin, ngapain disini?, menepuk bahu Kevin yang masih saja menoleh menatap punggung Devina.
Susi tersenyum saat melihat jus yang ada di gelas itu sudah tinggal separo.
Tinggal menunggu sedikit lagi, aku pastikan malam ini akan menjadi malam yang indah untuk kita Vin, malam yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan, bicara dalam hati.