Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari bahagia bersama selamanya
Aiden dan Zeline sangat menyukai rumah baru mereka, apalagi di bagian kamar. Mereka menempati kamar yang bersebelahan dengan pintu penghubung di tengahnya.
Ziga melengkapi kamar putranya tersebut dengan mainan mainan favoritnya, dari berbagai macam robot hingga miniatur para superhero. Semua Ziga persiapkan dengan lengkap dari pakaian hingga sepatu untuk ukuran Aiden tersedia penuh di lemari. Kamar Zeline juga tak jauh beda, semua benda dan mainan favorit bocah kecil tersebut ada di sana yang membuat bocah tersebut melonjak kegirangan.
"Thank you Daddy" ucap Aiden dan Zeline sembari mengecup pipi kiri dan kanan Ayahnya.
"You are welcome kids" balas Ziga, dia mencium kembali pipi kedua buah hatinya tersebut.
"Sekarang kalian istirahat, jika kalian butuh sesuatu tinggal tekan tombol di samping tempat tidur kalian, maka bibi Jane akan datang membantu" ucap Ziga menjelaskan kepada kedua anaknya.
"Ok Dad" sahut mereka.
"Sekarang waktunya ke kamar kita sayang" bisik Ziga di telinga Leea, yang membuat wanita tersebut bergidik terkena hembusan nafas Ziga.
"Di mana kamar kita?" tanya Leea.
Ziga pun membawa Leea naik ke lantai 5, satu lantai di atas kamar anak anaknya. Tempat di mana kamar tidur utama berada.
2 N Moore Street adalah salah satu Townhouse mewah yang memiliki 6 kamar tidur, 7 kamar mandi, 4 ruang make up, perpustakaan, bioskop, arena bermain, ruang billiar, kolam renang, launge serta apartemen untuk para staf dengan pintu masuk yang berbeda.
Leea terkejut ketika memasuki kamar tidur utama. Kamar itu begitu luas dengan perapian yang romantis juga dek yang indah. Kamar mandi serta ruang make up yang lengkap. Yang lebih mengejutkan Leea di sana telah tersedia semua baju baju dengan ukuran dirinya dan juga baju baju Leea dari lima tahun yang lalu juga tersedia di sana. Di tambah lagi dengan semua peralatan make up yang biasa dia gunakan .
Entah kapan Ziga menyiapkan semua itu, Leea benar-benar terpana di buatnya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Ziga sembari memeluk Leea dari belakang dan mencium aroma tubuh istrinya yang membuatnya kecanduan.
Leea membalikkan tubuhnya menghadap Ziga,
"Aku sangat menyukainya, kapan kau menyiapkan semua ini ?" tanya Leea penasaran.
"Kemarin, ketika kau mengatakan bersedia ikut denganku" jawab Ziga jujur. Dia memang langsung menghubungi anak buahnya untuk mempersiapkan rumah beserta isinya sesuai dengan keperluan Leea dan anak anaknya.
Leea berjinjit kemudian mengecup bibir Ziga sekilas,
"Terima kasih" ucap Leea tulus, dia benar benar merasa bahagia saat ini.
"Ada yang lebih baik daripada sekedar ucapan terima kasih " ucap Ziga yang kemudian menarik pinggang ramping istrinya.
Tarikan Ziga membuat tubuh mereka merapat, dan menyebabkan wajah Leea merona seketika. Tapi sebelum Leea dapat bereaksi lebih, Ziga telah menempelkan bibirnya di bibir Leea. Ziga mencium Leea lembut, semakin lama ciuman itu semakin mendalam. Lidah Ziga menari nari di dalam mulut Leea membuat Leea mendesah pelan.
Ziga menekan tengkuk Leea memperdalam ciumannya, Leea membalas dengan mengalungkan lengannya ke leher Ziga. Tangan Ziga pun tak tinggal diam, tangannya mulai masuk ke dalam blouse Leea, membelai lembut perut rata istrinya tersebut yang membuatnya Leea menggelinjang hebat.
Ziga mulai melepaskan satu persatu penutup tubuh mereka tanpa melepaskan ciumannya dari bibir Leea.
Ciuman itu pun mulai berpindah ke leher Leea dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Ziga melingkarkan kaki Leea di pinggangnya dan mengangkat wanita itu ke atas gendongannya.
Ziga merebahkan tubuh polos Leea ke atas kasur, dan mulai menciumi setiap inci tubuh istrinya tanpa ada yang terlewat. Leea terus mendesah, tubuhnya menggelinjang hebat mendapat sentuhan dari Ziga.
Ziga sendiri sudah tidak sabar, setelah lima tahun berpuasa akhirnya si junior bisa menemukan kembali rumahnya.
Pelan tapi pasti Ziga mulai menyatukan dirinya dengan Leea.
Leea menjerit tertahan, walau ini bukanlah yang pertama kalinya mereka menyatu tapi setelah lima tahun tak tersentuh tentu akan menjadi hal baru lagi.
Ziga menghentikan aktivitasnya mendengar jeritan Leea, dia takut jika dirinya menyakiti Leea. Tapi setelah Leea menganggukkan kepalanya, Ziga pun memulai kembali bahkan melesakkan si junior lebih dalam. Akhirnya yang terdengar hanya desahan desahan kenikmatan dari penyatuan mereka. Untung kamar mereka terletak di lantai 5 dan kedap suara, jika tidak mungkin desahan mereka akan terdengar oleh kedua anaknya.
Leea merebahkan kepalanya di atas dada bidang milik suaminya setelah permainan panas mereka berakhir. Ziga menutupi tubuh polos mereka dengan selimut, dia mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Terima kasih telah menerimaku kembali" ucap Ziga lirih.
"Aku berjanji mulai sekarang hanya akan ada kebahagiaan di antara kita dan juga anak anak" tambah Ziga.
"Aku takkan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan keluarga kita" ucap Ziga yakin.
Leea mendongakkan kepalanya menatap mata amber milik suaminya tersebut.
"Mari bahagia bersama selamanya" ucap Leea
Ziga tersentuh dengan kata kata istrinya tersebut, dia pun segera meraup bibir Leea dan menciuminya mendalam. Dan terjadilah permainan panas ronde kedua mereka.
Leea terbangun ketika hari menjelang sore, dia merasakan seluruh tubuh sakit. Permainan panas mereka di siang hari telah membuat Leea lelah, Leea pun segera beranjak menuju kamar mandi meninggalkan Ziga yang masih terlelap. Saat tiba di kamar mandi Leea terkejut mendapati tubuhnya di penuhi dengan stempel mililk Ziga. Leea hanya bisa menggeleng tak berdaya.
Bagaimana dia bisa menghadapi anak anaknya jika lehernya penuh dengan tanda merah.
Leea memilih milih baju yang dapat ia pakai untuk menutupi stempel milik Ziga. Akhirnya Via menemukan kaos tak berlengan dengan kerah turtleneck, setidaknya memakai ini tidak terlalu mencolok di musim panas seperti ini.
Leea keluar dari ruang make up, dia ingin segera menemui anak anaknya yang sedari tadi siang sempat di lupakan Leea karna permainan ranjang suaminya.
Sebelum keluar Leea sempat menatap Ziga yang masih tertidur, entah mengapa dia melihat tidur suaminya tersebut begitu gelisah. Dahi Ziga mengernyit bahkan berkeringat walau AC di kamar mereka cukup dingin.
"Maaf Mah, Maafkan aku Mah" gumam Ziga di dalam tidurnya.
"Tolong maafkan aku Mah, aku mohon Mah" Ziga masih terus bergumam dalam tidurnya yang gelisah.
Leea pun menggoyangkan bahu suaminya dengan lembut.
"Sayang bangunlah" ucap Leea berusaha membangunkan Ziga dari tidurnya.
"Tidak" jerit Ziga kemudian pria itu langsung terduduk dari tidurnya.
Leea memeluk suaminya,
"Tenang sayang, itu hanya mimpi" ucap Leea berusaha menenangkan suaminya.
"Jangan tinggalkan aku, jangan benci aku" lirih Ziga.
"Aku takkan meninggalkanmu sayang, dan aku juga takkan membencimu" jawab Leea sembari mengelus lembut punggung suaminya tersebut.
Ziga terisak di pelukan Leea. Mendengar isakan Ziga membuat hati Leea terasa sakit, dia berjanji akan berusaha membuat Ayu memaafkan Ziga.
Leea merenggangkan pelukannya kemudian menangkup wajah suaminya.
"Jangan bersedih, ada aku dan anak anak yang akan selalu mencintaimu" ucap Leea sembari mengecup kedua mata Ziga untuk menghilangkan sisa tangisan di sana.
Ziga memeluk tubuh Leea erat, saat ini yang di butuhkan hanyalah Leea dan anak anaknya.
Mereka adalah mentari yang mampu menghangatkan jiwanya yang merasa kosong dan kesepian.