NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Istana Langit Abadi dan Tirani Tiga Dewa Tertinggi

Reruntuhan Domain Samudra Langit masih menyisakan uap panas yang membubung tinggi, saksi bisu dari benturan ekstrem antara elemen api Agni dan air Varuna yang baru saja dilumat habis oleh Kala. Melalui mata kiri Black Hole-nya, Kala telah menelan seluruh esensi orisinal kedua dewa tersebut. Aliran energi kosmis itu meledak di dalam dantiannya, menghancurkan sisa-sisa belenggu mortalitas secara absolut.

DENG! DENG! DENG!

Jantung naga purba di dadanya berdentang laksana lonceng agung penciptaan. Basis kultivasi Kala resmi menembus batas suci, melompat langsung menduduki Ranah Dewa Sejati (True Deity) Tingkat Awal!

Dengan ranah baru ini, sepasang netra Black Hole milik Kala kini memancarkan pusaran miliaran bintang yang bersinar menyilaukan. Radius Hukum Sepuluh Senti miliknya melonjak drastis, mampu mengunci ruang dan dimensi sejauh lima puluh kilometer di Alam Atas. Yang lebih luar biasa, Pedang Jian hitamnya—Bilah Sakral Kosmos—kini bergetar penuh kegembiraan. Jiwa Putri Liana sebagai Sword Spirit memancarkan riak cahaya perak-emas yang begitu tebal, siap memotong dimensi ruang tanpa celah.

“Kala, kita telah tiba di gerbang akhir,” suara lembut Liana bergaung di dalam ruang batinnya, bersatu dengan gaung anggun Pohon Akalbuana dari sarung pedang kayu Yggdrasil. “Di balik awan gerhana kosmis di depan kita, berdiri Istana Langit Abadi. Tiga Dewa Tertinggi telah menunggu. Mereka tidak akan lagi bertarung secara adil.”

Kala tidak menjawab. Dia mengayunkan jubah hitamnya, melangkah tegak melintasi samudra awan menuju pulau terapung terbesar di pusat Alam Atas.

Di hadapannya, berdiri Istana Langit Abadi. Sebuah kompleks kerajaan megah setinggi ribuan meter yang seluruh dinding dan pilarnya terbuat dari kristal takdir kuno. Di atas gerbang istana, gerhana matahari kosmis telah mencapai titik total, menyisakan cincin api merah darah yang mengerikan di langit malam hampa.

Di pelataran luas istana, tiga sosok raksasa setinggi sepuluh meter telah berdiri berbaris. Aura yang mereka pancarkan berada di ranah tertinggi: Ranah Penggulung Semesta (Cosmic Emperor).

Mereka adalah dewa-dewa yang merancang seluruh skenario penderitaan hidup Kala dari atas langit: Dewa Matahari (Surya Sang Penghakiman), Dewa Kegelapan (Erebus Sang Kehampaan), dan pemimpin tertinggi para dewa, Maha Dewa Cahaya (Hyperion).

"Bocah cacat pembawa kutukan..." Maha Dewa Hyperion meraung, suaranya menggetarkan seluruh fondasi bintang di langit. Tangan kanannya yang sempat terpotong oleh Kala di bumi kini telah berevolusi menjadi lengan mekanis cahaya suci. "Kau telah memusnahkan Vayu, Varuna, dan Agni. Kau mengira kekuatan waktu kecilmu bisa membalikkan Roda Samsara Takdir yang kami tulis?!"

Dewa Matahari Surya melangkah maju, tubuhnya membara dengan suhu setara inti bintang yang instan melelehkan pelataran kristal di bawahnya. "Hari ini, kami bertiga akan menggabungkan Hukum Konseptual Alam untuk menghapus keberadaanmu dari ingatan semesta!"

ROAAARRR!

Tiga Dewa Tertinggi itu bergerak serentak tanpa keangkuhan lagi. Mereka melepaskan teknik gabungan kosmis terkuat mereka: Hukum Kiamat Tiga Unsur.

Lautam api matahari setinggi ribuan meter, badai kegelapan hampa yang sanggup menelan galaksi, dan pancaran cahaya penghakiman absolut menyatu di angkasa. Serangan itu membentuk sebuah pusaran meteor kosmis raksasa berdiameter puluhan kilometer yang meluncur jatuh dari langit gerhana, siap menghancurkan Kala beserta seluruh Alam Atas hingga kembali menjadi ketiadaan purba. Ruang di sekitar jalurnya runtuh total, menciptakan tekanan balik yang luar biasa masif menembus jiwa fana.

Menghadapi kehancuran skala universal ini, Kala merendahkan kuda-kudanya di atas lantai kristal yang mulai mencair. Basis kultivasi Ranah Dewa Sejati miliknya mendidih penuh. Dia tahu, jika dia nekat menghentikan tubuh tiga Dewa Ranah Penggulung Semesta secara langsung, jiwanya akan langsung hancur karena perbedaan ranah.

Namun, targetnya sejak awal adalah mengeksekusi kesempurnaan tekniknya: Tebasan Gelombang Nihilitas Kosmos.

Tangan kiri Kala mencengkeram erat sarung pedang kayu Yggdrasil, sementara jari-jari tangan kanannya mengunci gagang pedang tipis hitamnya yang berkilau emas-hitam.

"Kalian yang menulis takdir penderitaanku..." Kala mendongak, netra Black Hole-nya memancarkan badai gravitasi kosmis yang tak terbatas. "Maka hari ini, aku yang akan memotong setiap detik dari sisa keabadian kalian!"

Ibu jari tangan kanan Kala mendorong pelindung gagang pedangnya.

CHIIING!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Dentingan pedang yang paling keras, paling jernih, dan paling berwibawa memotong seluruh raungan kiamat para dewa. Kala menarik bilah pedang hitam berkilau emasnya keluar sepanjang tepat sepuluh sentimeter.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!