Kisah tentang Sukame yang mendapat julukan Pendekar Murah Hati. Dimana kehidupannya dimulai dari masa kecilnya hingga ketika dia menghadapi hitam putihnya dunia persilatan.
Ternyata banyak sekali suka dan duka yang dia alami, yang membuat dirinya sadar akan apa dan mengapa tujuannya untuk hidup.
Bagi yang penasaran akan kisah ini silahkan membaca semoga menjadi terhibur serta dapat mengambil hikmah dari kisah Pendekar Murah Hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon loren defretes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatiran kakek Mingli
Keesokan harinya datanglah Loin dengan nama samaran paman Nilo menjemput Minshi untuk menonton opera drama, sama seperti sebelumnya Loin berdandan seperti kemarin.
Sepanjang perjalanan menuju penginapan Sejahtera Loin teringat akan masa lalunya.
"Ach, seandainya keadaan tidak seperti ini" gumamnya dalam hati.
Sebenarnya dia adalah anak dari Raja Lisu dengan selirnya, sedangkan Minshi anak dari adik pangeran Fei.
Ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh pangeran Yota untuk menggantikan Raja Lisu, ibu dari Loin ikut terbunuh begitu juga dengan kedua orang tua Minshi.
Kakek Mingli yang saat itu menjabat sebagai ketua Tongkat Emas dan merupakan salah satu pendukung dari Kaisar Lisu yang berhasil menyelamatkan Loin dengan Minshi, kemudian membawa mereka ketempat terpencil supaya tidak ada orang yang mengenali mereka.
Pada saat itu Loin berumur 13 tahun sedangkan Minshi berumur 1 tahun, kakek Mingli merawat dan melatih mereka ilmu silat hingga beranjak dewasa.
Pada saat umurnya 19 tahun dia sudah menguasai seluruh ilmu silat dari kakek Mingli.
Kakek Mingli melihat Loin mempunyai bakat alami dan haus akan ilmu silat maka dia mempunyai keinginan untuk menambahkan ilmu silatnya lagi.
Maka kakek Mingli membawa Loin ke tempat kakak seperguruannya. Kakak seperguruan dari kakek Mingli bernama Buluni yang dijuluki sebagai Kaki Setan.
Setelah Loin berguru selama 2 tahun bersama Kaki Setan, kemudian kakek Mingli membawa Loin kepada paman gurunya yang dijuluki sebagai Rantai Besi, setelah berguru selama 3 tahun Loin sudah menguasai seluruh Ilmu Rantai Besi.
Setelah melihat bahwa Loin telah berhasil menguasai ilmu silat yang tinggi, kakek Mingli menganjurkan Loin untuk mulai membangun kembali kekuatannya di kota Kerajaan Selatan.
Karena kegigihan, kepintaran dan keberuntungannya hanya selama 5 tahun saja Loin bisa mendapat kepercayaan dari Raja Yota untuk menjadi pendukung kerajaan serta membangun Partai Rantai Maut.
Tidak terasa langkah kakinya telah sampai di penginapan Sejahtera.Terlihat oleh dirinya bahwa Minshi telah menjadi gadis muda yang begitu cantik, dia tersenyum lalu menyapa kakek Mingli dan Minshi.
"Hari ini cucu kakek cantik sekali" ujar Loin.
Minshi yang mendengar pujian tersebut langsung tersipu malu.
"Ayo kita berangkat, supaya dapat tempat duduk paling depan" ajak paman Nilo.
Tidak menunggu lama mereka berangkat untuk melihat pertunjukan opera drama. Ketika mereka sampai di tempat pertunjukan itu telah ramai oleh pengunjung. Dengan cepat paman Nilo berusaha mencari tempat paling depan.
Ketika mereka berdiri di paling depan dekat panggung itu, Minshi melihat seorang pemuda yang beberapa hari lalu ia temui menyuruhnya untuk mencari payung, pemuda itu berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Disamping pemuda itu terlihat orang tua berumur sekitar 50 tahun dengan berpakaian mewah.
Tidak sengaja pemuda itu dengan Minshi saling bertatapan, kemudian Minshi pura pura tidak melihat dan tidak mengenalinya lalu Minshi memalingkan mukanya.
Pertunjukan opera itu sudah di mulai penonton bersorak gembira termasuk Minshi, opera itu berlangsung selama 2 jam.
*****
Pertunjukan itupun telah selesai penonton semua beranjak pergi meninggalkan tempat itu sambil berbincang bincang mengenai pertunjukan itu yang sangat menarik.
"Ayo kita makan!" ajak paman Nilo ketika mendengar perutnya berbunyi.
"Ayo!" seru kakek dengan Minshi bersamaan.
Ketika mereka menuju ke sebuah kedai makan, tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang pemuda dengan 5 orang anak buahnya dibelakangnya.
"Saya Jaiko, teman nona Vintia" pemuda itu memperkenalkan dirinya.
Kakek Mingli beserta paman Nilo terkejut akan perkataan pemuda itu. Sedangkan wajah Minshi berubah menjadi merah lalu alisnya naik tanda marah.
"Hai, apa kemarin kamu belum tobat juga?, cepat minggir!" seru Minshi dengan nada kasar.
"Dimana Minshi bisa bertemu dengan Jaiko?" gumam paman Nilo yang sejak dari tadi hanya mengamati gerak gerik pemuda itu yang tak lain adalah anak dari Gubernur Kota Raja.
Ketika mendengar teriakan Minshi, semua pengawal pemuda itu ingin melakukan penyerangan akan tetapi pemuda itu menghalangi mereka.
"Maaf Tuan Muda, permisi kami hendak lewat hari sudah malam!" ujar kakek Mingli sambil menundukkan kepalanya.
Si pemuda itu tersenyum sambil menyingkir kepinggir di ikuti oleh semua pengawalnya.
"Sebaiknya kita makan di penginapan!" ujar kakek Mingli sambil berjalan diikuti oleh paman Nilo dan Minshi.
Dan tidak lama mereka bertiga sudah sampai di penginapan yang di maksud.
"hm, sebaiknya saya dan Minshi besok meninggalkan kota ini!" seru kakek yang sedang duduk bersama sama dengan paman Nilo dan Minshi makan di kedai Penginapan Sejahtera.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya paman Nilo.
"Iya kek, bukannya kita baru 2 hari disini, apa gara gara pemuda itu?, biar ku beri pelajaran" seru Minshi.
"Cukup Minshi sebaiknya besok pagi kita pergi dari kota ini, jangan mencari keributan!" seru kakek Mingli.
Paman Nilo sebenarnya sangat cemas takut terjadi sesuatu yang lebih berbahaya lagi, karena dia kenal betul dengan ayah dari pemuda itu merupakan seseorang yang sangatlah kejam salah satu kepercayaan Raja Yota.
"Vintia, pemuda tadi anak dari gubernur Kota Raja merupakan orang kepercayaan Raja Yota" kata paman Nilo.
"Aku tidak takut walaupun dia anak dari seorang Gubernur" kata Minshi.
"Bukan begitu cucuku, kita tidak ingin masalah ini menjadi besar dan merugikan orang lain" kakek Mingli berkata sambil tersenyum.
"Ach sudahlah kek, Minshi mau tidur kepala pusing" kata Minshi sambil beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kakek Mingli dan paman Nilo.
"Malam ini juga kami berdua akan pergi meninggalkan kota Raja" kata kakek Mingli.
"Maaf kek, aku berharap semoga keadaan ini cepat berubah" kata paman Nilo sambil mengangguk.
Tidak lama kemudian paman Nilo meninggalkan penginapan itu, sedangkan kakek Mingli berjalan menuju kamarnya dan menunggu hingga tengah malam untuk membangunkan minshi lalu keluar dari penginapan dan meninggalkan Kota Raja.
Waktu sudah tengah malam kakek bergegas menuju kamar Minshi.
"Minshi bangun, kita harus segera meninggalkan tempat ini."
"Kek, kenapa harus buru buru?, kenapa tidak besok pagi saja?" tanya Minshi.
"Tidak bisa, harus sekarang."
Akan tetapi Minshi awalnya ingin membantah setelah berpikir ada benarnya juga perkataan kakek barusan, Minshi cepat cepat berkemas kemudian beranjak keluar dari penginapan itu.
Tidak lama mereka berdua sudah sampai di depan pintu gerbang Kota Raja, akan tetapi pemuda yang bernama Jakio dan 2 orang berbadan gemuk berdiri disampingnya, serta 20 orang pengawal yang telah menunggu kakek Mingli dan Minshi. Mereka berduapun waspada dan kuatir ketika akan mendapatkan serangan mendadak.
"Minshi bersiaplah kalau terjadi sesuatu!" seru kakek.
"Baik kek, aku memang sudah tidak sabar ingin memukul wajah pemuda itu" kata Minshi menatap tajam Jakio beserta para pengawalnya itu.
R I P 💐
1. Berlari di atas Awan
2. Tangan Penyembah.
Jurus yg laen pada kmna..!??