NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batu Zamrud

"Kamu mau pergi?" tanya Banyu dengan raut terkejut. "Memangnya mau ke mana?"

Melihat Banyu masih begitu memedulikan urusannya, hati Jessica terasa berbunga-bunga. Ia tersenyum manis menatap pria itu dan menjawab, "Aku cuma mau pergi ke San Antonio sebentar. Ayahku sudah boleh pulang dari rumah sakit hari ini. Dia berencana pergi ke Florida untuk berlibur menenangkan pikiran, jadi aku harus mengantarnya ke bandara."

Mengetahui bahwa Jessica hanya pergi ke San Antonio untuk urusan singkat, Banyu diam-diam mengembuskan napas lega. Ia secara refleks menawarkan diri, "Perlu kutemani ke sana? Sekalian... aku ingin menyapa ayahmu."

Tawaran Banyu membuat wajah Jessica seketika berbinar cerah. Sepasang mata birunya yang seindah samudra menatap lurus ke arah Banyu, lalu ia bertanya penuh penekanan, "Kau... benar-benar ingin bertemu dengan ayahku?"

Mendengar nada bicara Jessica yang seolah mengandung makna tersembunyi, Banyu langsung merutuki mulutnya sendiri dalam hati. Urusan asmaranya dengan tiga wanita cantik di Indonesia saja masih menjadi benang kusut, sekarang ia malah secara sukarela menawarkan diri untuk bertemu dengan ayah Jessica? Bukankah ini sama saja dengan menggali kuburannya sendiri? Namun, pantang bagi seorang pria untuk menarik kembali kata-kata yang sudah telanjur diucapkan. Banyu langsung menjawab tanpa ragu sedikit pun, "Tentu saja aku serius, kecuali... kalau kau memang keberatan!"

Begitu kalimat itu meluncur dari bibirnya, Banyu menatap Jessica dengan perasaan waswas. Dalam hati, ia komat-kamit merapal doa, "Tolak kek, tolak kek! Tolong bilang aja nggak usah!"

Sayangnya, takdir sedang tidak ingin berpihak pada harapan Banyu. Jessica tersenyum semakin lebar hingga matanya menyipit bahagia. "Tentu saja boleh! Ayo, berangkat bersamaku!"

---

Tiga jam kemudian, Banyu dan Jessica tiba di rumah sakit umum San Antonio. Di sanalah Banyu akhirnya bertatap muka dengan Tuan Taylor, ayah kandung gadis Amerika itu. Tuan Taylor memiliki penampilan yang luar biasa karismatik; posturnya tinggi besar dan tegap, wajahnya tampan berwibawa, ditambah janggut pendek yang dicukur rapi. Sekilas, pria paruh baya koboi veteran ini sangat mirip dengan aktor Hollywood legendaris, Sean Connery. Saat pertama kali melihatnya, Banyu sempat sedikit tertegun. Namun logika Banyu segera membenarkan; pria yang bisa mewariskan gen unggul untuk melahirkan anak secantik Jessica, sudah pasti memiliki ketampanan di atas rata-rata di masa mudanya.

Saat momen perkenalan, telinga Banyu menangkap dengan jelas bahwa Jessica hanya memperkenalkannya sebagai 'teman baik', bukan 'pacar' apalagi 'calon tunangan'. Mendengar hal itu, Banyu diam-diam mengembuskan napas lega, namun anehnya... jauh di lubuk hatinya, ada setitik rasa kecewa yang menyelinap. Psikologi manusia memang sangat rumit dan penuh kontradiksi; kadang terlalu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Setelah mengetahui bahwa pemuda Asia di hadapannya inilah yang telah membeli peternakan keluarganya sekaligus menyelamatkannya dari jerat bui, Tuan Taylor bersikap sangat sopan dan proaktif mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam. Meskipun begitu, Banyu bisa membaca dengan jelas bahwa mood pria paruh baya itu sedang sangat hancur. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju bandara, Tuan Taylor lebih banyak diam membisu. Ia bahkan hanya bertukar beberapa patah kata dengan putri kandungnya sendiri.

Banyu sangat bisa memaklumi hal tersebut. Bayangkan saja, peternakan yang menjadi rumah dan tumpah darahnya selama puluhan tahun tiba-tiba jatuh ke tangan orang asing karena kebodohannya sendiri. Fakta sepahit itu jelas butuh waktu lama untuk bisa dicerna dan diikhlaskan. Banyu membatin, andaikan musibah itu menimpa dirinya, raut wajahnya saat ini pasti jauh lebih mengerikan dan suram daripada Tuan Taylor.

Setibanya di bandara, Banyu dengan inisiatif membantu membawakan koper Tuan Taylor hingga ke depan gerbang keberangkatan. Setelah itu, ia segera menarik diri dan menjauh, memberikan privasi bagi ayah dan anak itu untuk mengucapkan perpisahan. Banyu sadar diri; sedalam apa pun kedekatannya dengan Jessica saat ini, ia tetaplah orang luar di tengah ikatan keluarga mereka. Sebagai pria dewasa, ia harus tahu kapan waktunya untuk peka dan mundur secara elegan.

Tuan Taylor tak mengucapkan banyak wejangan. Ia hanya menyodorkan sebuah koper logam bersandi warna perak berukuran kecil ke tangan Jessica. Awalnya Jessica menolak keras untuk menerimanya, namun ia tak kuasa melawan kekeraskepalaan ayahnya. Pada akhirnya, gadis itu menerimanya dengan raut pasrah. Melihat putrinya mengambil koper tersebut, sebuah senyum lega akhirnya terukir di wajah lelah Tuan Taylor. Setelah memberikan pelukan perpisahan yang erat pada Jessica, ia menarik kopernya dan melangkah masuk ke dalam gerbang keberangkatan tanpa menoleh ke belakang lagi.

Jessica tetap mematung di posisinya, menatap punggung sang ayah yang perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik kerumunan penumpang. Barulah setelah itu, ia berjalan gontai menghampiri Banyu dengan kepala tertunduk. Jelas sekali bahwa kesedihan ayahnya menular padanya; suasana hati gadis tangguh itu sedang sangat kacau dan mendung.

"Hei, ayahmu kan cuma pergi berlibur ke Florida. Kamu tidak perlu terlalu mencemaskannya," Banyu mencoba menghibur gadis itu dengan suara lembut. "Jaraknya tidak sejauh itu. Kalau kamu mendadak kangen, kamu bisa terbang ke sana mengunjunginya kapan saja."

Jessica memaksakan seulas senyum tipis, "Bukan itu yang kucemaskan. Aku takut ayahku tidak bisa beradaptasi dengan kehidupan pensiun di sana. Dia itu gila kerja dan terbiasa sibuk mengurus peternakan dari pagi sampai malam. Kalau tiba-tiba dia tidak punya rutinitas apa pun, dia pasti akan merasa sangat kosong dan bosan."

Kalimat 'kalau begitu pekerjakan saja ayahmu kembali di peternakan sebagai manajer atau staf' nyaris saja meluncur dari bibir Banyu. Beruntung, kewarasannya segera mengerem niat tersebut. Mempekerjakan kembali mantan bos besar sebagai bawahan di tanah yang dulunya adalah kerajaannya sendiri? Itu sama saja dengan menampar keras harga diri Tuan Taylor! Banyu sangat menjunjung tinggi empati; ia tidak akan pernah melakukan tindakan sebodoh dan sekejam itu.

Melihat raut wajah Banyu yang tampak menahan kata-kata, Jessica yang cerdas langsung bisa menebak isi kepalanya. Ia tersenyum getir dan berkata, "Aku tahu niatmu sangat baik, Banyu. Tapi ide itu... sungguh mustahil dilakukan."

Banyu mengangguk setuju dengan penuh pengertian. "Ya, aku juga memikirkan hal yang sama."

Meskipun tak satu pun dari mereka mengucapkan rencana itu secara gamblang, keduanya sama-sama paham apa yang ada di benak masing-masing. Chemistry dan simpati tanpa kata ini membuat mereka saling bertatapan dan tersenyum simpul. Berkat kehadiran Banyu, awan kelabu yang menyelimuti hati Jessica berangsur-angsur sirna.

Melihat senyum kembali menghiasi wajah cantik gadis di sebelahnya, Banyu merangkulkan lengannya dengan natural ke pinggang ramping Jessica. "Mumpung kita sedang berada di kota besar, biar aku yang mentraktirmu makan siang ini. Nah, sebagai penduduk Texas sejati, di mana restoran nomor satu di San Antonio? Jangan bilang mantan jurnalis kuliner sepertimu tidak tahu, ya..."

---

Setelah menikmati jamuan makan siang yang memuaskan, Banyu kembali mengambil alih kemudi untuk perjalanan pulang menuju Kota Wharton. Proyek pembangunan peternakan masih membutuhkan pengawasan, jadi tak satu pun dari mereka berani keluyuran terlalu lama di luar. Sepanjang perjalanan di jalan tol, mata Banyu menangkap gestur aneh Jessica yang terus mendekap koper perak pemberian ayahnya dengan sangat ketat dan protektif di pangkuannya. Didorong oleh rasa penasaran, Banyu bertanya, "Apa sih isi koper itu? Sejak tadi kamu memeluknya erat-erat seolah isinya kode nuklir saja."

"Isinya adalah batu-batu zamrud yang selama ini dibeli ayahku," jawab Jessica terus terang tanpa berniat menyembunyikan apa pun dari Banyu. "Dia menyerahkan seluruh batu permata pembawa sial ini kepadaku sebagai warisan."

Banyu langsung terkekeh. "Pantas saja kau tegang begitu. Ternyata kau sedang memangku harta karun senilai empat juta Dolar, ya."

Jessica menggelengkan kepalanya dengan senyum getir. "Hanya ayahku yang ditipu dan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membelinya. Aku sudah pernah menyewa ahli untuk menaksir nilai aslinya. Jika dijual kembali, seluruh batu zamrud ini mentok hanya bernilai 3,6 Juta Dolar. Belum lagi, mencari pembeli super kaya yang mau memborong batu zamrud sebanyak ini sekaligus hampir mustahil dilakukan dalam waktu dekat."

Sambil berbicara, jari-jari lentik Jessica memutar angka kombinasi dan membuka koper logam tersebut. Ia mengambil sebuah batu zamrud berukuran cukup besar dan mengangkatnya setinggi mata. Sambil menatapnya dengan pandangan nanar, ia berbisik pelan, "Memang sangat indah, kan? Sayangnya... kecantikan batu inilah yang menyihir ayahku hingga ia jatuh miskin dan kehilangan segalanya. Sangat ironis, bukan?"

Harus diakui, batu zamrud itu memang memiliki pesona visual yang mematikan. Warna hijaunya begitu murni, pekat, dan dalam, seakan mampu menyedot atensi siapa pun yang menatapnya. Potongan faset pada permukaannya membiaskan cahaya mentari yang masuk dari jendela mobil, menciptakan kilau magis dan misterius yang sangat memukau. Bahkan Banyu yang sedang fokus menyetir pun tak kuasa menahan godaan pesona batu tersebut. Ia mengulurkan tangannya yang bebas, mengambil zamrud itu dari telapak tangan Jessica untuk mengamatinya secara langsung.

Namun, tepat ketika jarak batu zamrud itu menyentuh telapak tangan dan mendekati dadanya, sebuah fenomena yang sama sekali tak terduga terjadi! Tato Kendi Penyuling Jiwa yang menempel di dada Banyu mendadak berdenyut liar! Intensitas getarannya sangat kuat dan bergemuruh, setara dengan reaksi kelaparan kendi tersebut saat disodorkan batu giok kualitas kaisar yang bernilai ratusan miliar.

Sensasi getaran panas ini membuat Banyu terperanjat kegirangan dalam hati. Wah, ternyata batu zamrud dari luar negeri ini juga mengandung energi spiritual murni yang bisa dihisap sebagai nutrisi untuk mengevolusikan Kendi Penyuling Jiwa!

Niat awal Banyu terbang belasan ribu kilometer melintasi samudra ke Amerika murni hanya untuk membeli kedaulatan tanah secara mutlak. Penemuan tak sengaja bahwa batu zamrud bisa menjadi 'bahan bakar' level dewa untuk evolusi ruang dimensi gaibnya benar-benar merupakan durian runtuh yang tidak masuk akal!

Otak bisnis Banyu langsung berputar dengan kecepatan cahaya mengambil keputusan. Ia menoleh ke arah Jessica di sebelahnya, memasang raut wajah sangat serius, dan melempar tawaran gila, "Jessica... aku tertarik untuk memborong seluruh batu zamrud di koper itu. Apakah kau bersedia menjualnya semuanya kepadaku?"

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!