NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Playboy

Menikahi Mantan Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:212.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Syafri Yanti

Apa jadinya jika saat acara reuni SMA engkau berjumpa kembali dengan seseorang yang dulu pernah engkau sukai? Akankah mengungkit dan mengungkap kembali segala rasa dan kenangan yang perbah ada?

Mas Han, lelaki sholeh dan baik hati begitu mencintai istrinya, Mawar. Hidup berbahagia dalam biduk rumahtangga, meski belum dianugerahi seorang anak. Namun sayang, kebahagiaan itu harus berakhir, ketika diketahui bahwa dia mengidap tumor otak. Dari hasil scaning baru disadari bahwa tumor yang bersarang di kepalanya itu juga menyerang hormon kedlsuburannya. Sehingga menyebabkan Mas Han selamanya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.

Johan, seorang lekai tampan yang memiliki wajah mirip bintang film Bollywood Amir Khan. Pengusaha sukses memiliki tiga orang istri. Meski telah menikah ketampanannya tetap memikat hati kaum hawa. Sehingga tak heran dia selalu dipuja dan digilai banyak perempuan.

Siapa sangka dalam acara reuni SMA, Johan dan Mawar kembali dipertemukan. Ternyata sedari dulu, Johan sudah menyimpan rasa cinta kepada teman sekelasnya, Mawar. Tak ingin kecolongan kali kedua, Johan kembali menyatakan cinta dan berniat menikahi Mawar. Akan kah Mawar menerima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafri Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Apel di Malam Minggu?

Menjelang tiga pekan saat Atta berjanji akan datang melamar Ifa belum jua terwujud. Membuat Ayah Ifa mulai tak sabar karena gusar. Setelah pulang dati Masjid lelaki paruh baya itu berjalan hilir mudik sambil sesekali melirik jam dinding. Tepat pukul tujuh, gegas meraih ponsel lalu menghubungi nomor telepon Atta.

[Assalamu'alaikum, Om. Apa kabar?]

Terdengar ucapan salam dari Atta di ujung telepon.

[Wa'alaikum salam, kami sekeluarga alhamdulillah semua baik-baik saja. Bagaimana dengan kau, Atta?]

[Alhamdulillah, saya juga baik-baik saja, Om.]

Sejenak kemudian tiba-tiba hening.

Baik Atta maupun Ayah Ifa rupanya sama-sama canggung. Keduanya nampak bingung hendak berkata apa. Sebenarnya dalam hati. Ayah Ifa ingin bertanya perihal kejelasan rencana lamaran dari Atta. Namun karena ia berada di pihak keluarga perempuan jadi merasa rikuh sekaligus sungkan untuk mengucapkannya. Selain tak ingin dinilai terlalu mengharap, Ayah Ifa juga berkewajiban menjaga harga diri anak gadisnya. Agar tak terkesan memohon-mohon untuk segera dilamar. Toh, rencana lamaran ini bukanlah sesuatu yang dinanti atau diharap-harap oleh Ayah Ifa.

Di sisi lain, Atta pun tidak tahu harus mengatakan apa perihal janjinya itu. Karena sampai detik ini, Papanya tetap bersikukuh dengan adat istiadat mereka. Papa Atta bersikeras tidak akan perbah datang untuk melamar Ifa, meski sudah dibujuk oleh paman Atta, Marco.

[Atta, kau kan berencana mau melamar Ifa. Memangnya kalian sudah berapa lama pacaran?] tanya Ayah Ifa dengan intonasi menyelidik.

Di tengah kebuntuan, entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba melintas di pikiran lelaki paruh baya itu.

Di seberang sana, Atta seperti gelapan saat ditanya demikian. Pemuda itu terdiam sebentar.

[Alhamdulillah kami tidak pernah pacaran, Om] jawab Atta tanpa ragu.

[Lantas, kenapa kau mau melamar anak gadisku? Apa kalian sudah saling mengenal sifat masing-masing?]

[Saya sudah lama memperhatikan Ifa dari jauh. Dan juga banyak bertanya kepada teman maupun guru ngaji Ifa di kampus, Om. Alhamdulillah semuanya mengatakan Ifa gadis yang baik dan juga sholehah tentunya.] Atta menjawab tenang.

[Tapi itukan hanya sebatas cerita dari orang lain saja. Kau sendiri apa pernah bergaul lebih dekat dengan Ifa untuk memastikan kebenaran pendapat orang-orang itu?]

"InsyaAllah yang orang katakan tentang Ifa itu benar, Om. Mereka tidak mungkin bohong.]

[Tidak bisa begitu Anak Muda. Jangan membeli kucing dalam karung. Maksudku sebelum kalian benar-benar memutuskan untuk menikah nantinya. Kalian berdua harus saling mengenal lebih dekat dahulu. Ta'aruf kan artinya perkenalan, iya, toh?]

[Iya, Om. Tapi --]

Ucapan Atta menggantung karena mendadak Ayah Ifa langsung memotong perkataannya.

[Begini saja, Atta. Supaya kalian bisa saling mengenal lebih dekat lagi, maka malam ini sebaiknya kau datang mengunjungi Ifa ke rumah.]

Atta terdiam sejenak, entah apa yang sedang ia pikirkan.

[Aku tunggu kau malam ini juga.]

Klik.

Pembicaraan di telepon pun terputus. Tanpa memberikan kesempatan kepafa Atta untuk menyahut.

Di sebuah masjid yang berada tepat di samping markas lembaga mahasiswa islam, Atta tercenung bingung sambil menatap gamang ponsel di tangan. Dia merasa bimbang apa yang harus dilakukan. Pemuda itu menyandarkan punggung di dinding pojok bangunan masjid seraya menatap kosong ke arah langit-langit yang berwarna putih bersih.

Yudi yang sedari tadi memperhatikan tingkah Atta datang mendekat lalu duduk di samping binaannya.

"Ada apa, Ta?"

"Itu, Mas. Ayah Ifa meminta ana untuk datang malam ini ke runahnya." Atta menjawab setengah galau.

"Untuk apa?" Alis mata Yudi kontan bertaut.

"Katanya supaya kami bisa saling mengenal lebih dekat lagi." Atta menunduk gamang.

"Antum sudah jadi datang bersama orangtua untuk lamaran?" tetiba Yudi bertanya.

Atta menggeleng pelan. "Papa bersikeras tidak mau datang untuk melamar, Mas."

Yudi menarik napas berat kemudian menyentuh sebelah pundak Atta pelan.

"Mungkin saja Ayah Ifa ingin minta kejelasan perihal lamaran. Sebaiknya antum pergi saja ke rumah Ifa sekarang."

"Tapi Mas?" Atta tampak kebingungan dengan saran yang dikatakan mrobbinya. Pasalnya mereka berdua sama-sama jadi panitia di acara mabit untuk pengurus mahasiswa islam di masjid malam ini.

"Masalah kegiatan mabit malam ini, biar ana bersana panitia yang lain yang tangani. Lagi pula antum pergi tidak sampai larut malam nanti 'kan?" Yudi tersenyum kecil. Mencoba melerai kegelisahan Atta.

"Iya, Mas. Tapi --"

"Sudah. Ayo, pergi sana!" Yudi berkata dengan mimik mengusir. Tak memberi kesempatan bagi Atta untuk kembali menolak.

-------

"Ifaaa ... kau siap-siaplah! Sebentar lagi Atta mau datang ke rumah." Ayah Ifa sengaja berteriak di depan pintu kamar anak gadisnya yang tertutup rapat.

Membuat Ifa yang tengah berbaring malas terlonjak bangun seketika.

"Siapa yang mau datang, Ayah?" Buru-buru Ifa membuka pintu dan bertanya.

"Atta, calon suamimu." Ayah memonyongkan bibirnya, setengah jengkel.

Kontan paras Ifa bersemu merah karena jengah.

"Ah, yang benar, Bang? Mau apa Atta datang ke rumah kita malam ini?" Mira yang tadi sempat mendengar teriakan sang suami ikut pula bertanya heran.

"Ya mau ngapelin Ifa lah! Kan katanya mereka mau nikah. Tapi entah iya, entah tidak. Jangan-jangan cuma main-main saja mereka itu." Ayah menjawab sambil menggerutu lalu duduk di kursi tamu.

Melihat gelagat suaminya yang sedang diliputi rasa kesal, Mira hanya mendesah pelan. Kemudian menatap Ifa yang masih mematung di depan pintu kamar.

"Ayo, Ifa. Cepatlah kau bersiap." Mira mendorong pelan bahu Ifa.

Meski diliputi rasa heran dan tanda tanya, Ifa terpaksa menuruti perintah ibunya. Gadis itu gegas kembali masuk kamar untuk berpakaian.

Selepas Sholat Isya, Atta pun tiba. Pemuda itu memarkirkan sepeda motornya di halaman yang tidak terlalu luas namun asri ditumbuhi berbagai macar warna tanaman hias. Tepat di tengah taman yang memanjang terdapat lampu-lampu bulat yang menerangi perkarangan.

Atta merasakan dadanya berdebar tak karuan. Pasalnya baru kali ini ia mendatangi rumah seorang akhwat sendirian. Terlihat pintu utama rumah Ifa terbuka lebar. Seakan sudah sedia hendak menyambut kedatangannya.

"Assalamu'alaikum." Atta mengucap salam saat kakinya menapak di teras.

"Wa'alaikum salam. Mari masuk!" Terdengar sahutan dari ruang tamu. Rupanya Ayah Ifa sedang duduk menunggu.

"Terima kasih, Om." Atta sedikit membungkukkan badan sambil tersenyum canggung.

"Duduk!" Ayah Atta kembali bersuara.

Perlahan Atta pun duduk tepat menghadap Ayah Ifa. Dadanya makin berdebar kala mendapati rona muka lelaki paruh baya itu seperti sedang menahan rasa gundah. Atta tak berani bertanya perihal apa gerangan. Sadar bahwa sampai saat ini, ia dan keluarganya belum juga memberi kepastian soal lamaran. Namun untungnya tak sedikit pun Ayah Ifa tersebut, bertanya atau menyinggung soal kapan Atta akan mengajukan pinangan. Ayah Ifa hanya bertanya tentang kegiatan Atta. Tak lebih sekedar basa-basi belaka.

"Ifaaa ... kemarilah! Atta sudah datang!" Mendadak Ayah Ifa berteriak lantang dari kursi tamu.

"Iya, Ayah." Terdengar suara Ifa menyahut di sebalik dinding pembatas.

Atta menahan napas. Jantungnya kian berdebar tak beraturan kala sosok Ifa sudah hadir di hadapan. Sikap gadis itu terlihat gugup dan salah tingkah.

"Kalian berdua bicaralah. Ayah mau ke dalam dulu." Tanpa berkata lagi lelaki yang selalu bersarung dan berkaus singlet itupun segera berlalu.

Tinggalah Atta dan Ifa yang terlihat sama-sama kikuk dan canggung. Tak seharusnya mereka bertemu langsung tanpa didampingi oleh orang ketiga. Namun Ifa maupun Atta seakan tak bisa mengelak dari keinginan Ayah Ifa yang meminta agar keduanya bisa saling mengenal lebih dekat dan akrab.

"Afwan. Ada keperluan apa Akhi datang malam ini?" Akhirnya Ifa membuka suara. Setelah hampir beberapa menit mereka hanya saling diam.

"Eee, tadi Ayah Ukhti nelpon ana. Menyuruh ana datang kemari." Atta menjawab pelan.

"Benarkah?" Ifa sempat terkejut karena tak menduga.

"Iya, benar, Ukhti." Atta kembali menjawab lalu menunduk menekuri meja tamu.

Ifa jadi tambah salah tingkah. Tak menyangka sedikit pun jika Ayahnya lah yang meminta Atta datang. Sekonyong-konyong rasa malu merambat dan terlihat jelas di paras Ifa. Membuat gadis itu ingin berlari saja dari hadapan Atta.

Bersambung

1
nobita
like like like... mantap
nobita
ya Alloh... kasihan Mawar... tak sanggup ku berkata kata thor.. alur ceritanya apik... ada pelajaran agama... tulisannya rapi. author nya berwawasan luas... hebattt
nobita
mas Handoko itu suami yg bijak menurut ku... pengertian juga
nobita
jawaban yg bagus Mawar.. aku tidak akan pernah meninggalkan suami ku...
nobita
jgn mau Mawar. nti kamu akan jd istri ke4... tetap lah setia pd Handoko...
nobita
benar ini sesuai dg kisah nyata.. riilll.. biasanya setelah reunian... saling bertukar nomor ponsel... trs cattingan... curhat... nyaman dg teman lama... merasa di perhatian... trs mengabaikan rumah tangganya... lalu bercerai... seperti itu menurutku.. aah jd curhat thor
nobita
aku mampir... awal yg menarik
Novnov
Jujur, saya pernah ada di posisi sekar, dan itu sungguh sakit dan sulit… bahkan sampai sekarang pun saya masih belum bisa meraih ikhlas, walau cerita itu sudah berlalu tapi saya selalu tertarik dengan cerita2 seperti ini, hanya ingin menyelami setiap hati2 wanita yg diduakan ☺️
Syafri Yanti: yang sabar, Mbak☺
total 1 replies
kavena ayunda
hmmm.gk.rela.dapet johan yg banyak istri
Alex Caryono
bguuussss bgt,alhamdulillah allh
Alex Caryono
alhamdulillah bgus banget jln crtnyakereeeeeeennnm👍👍👍👍👍
Her@ Soelistya
sebetulnya sy biasanya paling males baca cerita soal selingkuh ato poligami..tp ceritamu bikin penasaran..hingga sy baca smpai selesai..semangat dn sehat selalu ya thor💪
Ria Mariani
beda ceritanya dari yang lain .,bagus
Cha Zakira Rasdi
Benkulu nya di mna thor..?
Nani Nie
seru kayak nya klau ada di dunia nyata , ,
Rofi'ah An-nashihah
akhirnya nemu juga novel islami disini....
Naura Rayyani
suka ceritanya bagus banget,
Sani Romlah
lanjut dong
Syafri Yanti: Terima kasih udah mampir😊
total 1 replies
Nuri
suka terimakasih
Syafri Yanti: sama-sama
total 1 replies
Aneu Irsyad
cerita nya oke banget..jadi ingat waktu jaman sekolah,tpi cinta aku nya gak kesampai kaya ending nya cerita nawar dan johan,,😁😁
Aneu Irsyad: 👌sama-sama😍😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!