Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Dapur
Keesokan paginya, Chisen turun sarapan seperti tidak ada kanvas yang terluka semalam.
Seragamnya rapi. Rambutnya masih setengah basah. Wajahnya datar. Ia duduk di kursi biasa, mengambil roti panggang, lalu bertanya pada Om Changli tentang jadwal sopir, seolah tidak pernah membiarkan semangkuk sop ayam jahe dingin di depan pintu loteng.
Erlyn menunggu.
Mungkin ia akan menatapnya. Mungkin ia akan mengatakan sesuatu tentang percakapan di balik pintu. Mungkin ia akan mengembalikan mangkuk.
Tidak.
Chisen hanya makan.
Justru orang rumah yang mengembalikan mangkuk kosong ke dapur sebelum Erlyn turun. Kosong. Bersih. Itu berarti Chisen memakannya. Entah kapan. Entah dengan wajah seperti apa.
Fakta kecil itu membuat Erlyn lebih kesal daripada kalau ia tidak makan sama sekali.
"Hari ini kamu pulang jam berapa?" tanya Jing.
"Jam tiga, Ma."
"Mau ikut Mama ke pasar sore?"
Erlyn mengangguk. "Boleh."
Jing tersenyum. "Kita beli bahan untuk nasi goreng. Kamu harus belajar masak."
Erlyn langsung curiga. "Kenapa tiba-tiba?"
"Tidak tiba-tiba. Anak Mama harus bisa masak minimal satu menu yang tidak membuat orang sakit perut."
Om Changli tertawa pelan.
Chisen mengangkat gelasnya. "Ambisinya tinggi."
Erlyn menatapnya. "Koh pernah makan masakanku?"
"Belum. Aku sedang menghargai hidup."
"Koh!"
Jing menepuk lengan Erlyn sambil menahan tawa. "Nah, buktikan malam ini."
Jadi sore itu, setelah pulang sekolah dan setelah memastikan Chisen tidak muncul di gerbang, Erlyn ikut Mama ke pasar modern dekat rumah. Jing memilih bawang merah, cabai, daun bawang, telur, udang kecil, dan kecap manis. Erlyn mendorong troli sambil mendengarkan penjelasan yang terasa lebih rumit daripada rumus fisika.
"Bawang putih jangan terlalu banyak kalau pakai udang. Nanti baunya berat."
"Berapa banyak itu terlalu banyak?"
"Pakai rasa."
"Ma, rasa tidak punya satuan."
"Makanya belajar."
Di dapur Jalan Kenanga, Jing menyerahkan celemek pada Erlyn. "Mulai dari iris bawang."
Sepuluh menit kemudian, mata Erlyn pedih, bentuk irisan bawangnya tidak sama, dan satu potong cabai jatuh ke lantai.
Jing menatap hasilnya dengan kasih sayang seorang ibu dan kejujuran seorang juru masak.
"Lumayan."
"Ma, kalau mau bilang jelek, bilang saja."
"Jelek, tapi masih bisa dimakan."
Erlyn menghela napas panjang.
Tepat saat itu, Chisen masuk ke dapur.
Ia berhenti di ambang pintu, melihat talenan, bawang yang berantakan, cabai di lantai, lalu Erlyn yang memakai celemek terlalu besar.
"Ada korban?"
"Belum," jawab Erlyn cepat.
"Bagus."
Jing seperti melihat kesempatan emas. "Chisen, kamu bantu sebentar. Mama harus angkat telepon dari Tante."
"Ma," protes Erlyn.
"Sebentar saja."
Jing sudah keluar sebelum Erlyn bisa menariknya kembali.
Dapur tiba-tiba terasa lebih kecil.
Chisen berjalan mendekat, mencuci tangan, lalu berdiri di samping Erlyn. Bukan di seberang. Di samping. Bahunya hampir sejajar dengan bahu Erlyn. Aroma sabun dan cat samar menembus bau bawang.
"Pisau."
Erlyn menyerahkannya.
Chisen melihat irisan bawang di talenan. "Ini bawang atau teka-teki?"
"Koh kalau mau bantu, bantu. Kalau mau menghina, bayar tiket."
"Aku bisa dua-duanya gratis."
Ia mengambil bawang baru, memotongnya cepat dan rapi. Tangannya bergerak tanpa ragu. Erlyn memperhatikan jari-jarinya. Panjang, bersih, tetapi ada bekas cat tipis di dekat kuku seperti biasa. Aneh sekali melihat tangan yang biasa memegang kuas sekarang memegang pisau dapur.
"Koh bisa masak?"
"Bisa."
"Kenapa tidak pernah?"
"Tidak ada yang minta."
"Aku minta."
Pisau berhenti sepersekian detik.
Erlyn baru sadar kalimatnya terdengar terlalu natural. Seolah ia memang boleh meminta sesuatu pada Chisen.
Chisen melanjutkan memotong. "Hari ini aku mengawasi. Kamu yang masak."
"Kalau gosong?"
"Kita pesan makanan."
Mereka mulai memasak. Chisen memberi instruksi pendek. Panaskan minyak. Masukkan bawang. Jangan terlalu banyak kecap. Aduk dari bawah. Api jangan terlalu besar. Erlyn mengikuti sambil menggerutu, tetapi wajan di depannya perlahan mengeluarkan aroma yang benar-benar mirip nasi goreng.
Untuk beberapa menit, suasananya hampir menyenangkan.
Lalu Chisen berkata, "Garam."
Erlyn melihat ke kiri. "Mana?"
"Di belakangmu."
Ia berbalik, tetapi rak bumbu terlalu tinggi. Botol garam berada di bagian atas, tepat di belakang bahunya. Erlyn berjinjit, ujung jarinya hampir menyentuh botol, tetapi tidak cukup.
"Aku bisa," katanya sebelum Chisen bergerak.
"Aku belum bicara."
"Wajah Koh sudah bicara."
Ia berjinjit lagi. Kali ini, botol garam bergeser sedikit, hampir jatuh.
Chisen bergerak cepat.
Tubuhnya berada tepat di belakang Erlyn. Satu tangannya menahan rak, tangan lain mengambil botol garam dari atas. Dadanya hampir menyentuh punggung Erlyn. Panas dari tubuhnya terasa melalui kaus tipis yang ia pakai. Erlyn membeku, satu tangan masih terangkat, napas tertahan di tengah dada.
Wangi sabun. Sedikit terpentin. Sedikit hujan yang masih menempel dari sore.
Chisen juga berhenti.
Hanya satu detik.
Tetapi satu detik itu cukup panjang untuk membuat suara minyak di wajan terdengar terlalu keras.
Lalu Chisen mundur lebih dulu.
Ia meletakkan botol garam di meja, jaraknya tiba-tiba kembali aman.
"Aduk," katanya, suara datar.
Erlyn menatap wajan seolah nasi di dalamnya bisa menyelamatkan hidupnya. "Iya."
Di pintu dapur, Jing muncul kembali dengan ponsel di tangan.
"Bagaimana?"
Chisen mengambil gelas air dari meja, tidak melihat Erlyn. "Belum terbakar."
Erlyn ingin membalas, tetapi wajahnya masih panas.
Chisen berjalan keluar dari dapur.
Sebelum benar-benar hilang di balik pintu, ia berkata tanpa menoleh, "Garamnya cukup sedikit saja."