Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah perjanjian
Siang hari yang terasa hangat. Langit terlihat mendung karena matahari tertutup awan hitam. Aurelia duduk di kursi sebuah cafe yang berada di lantai dua, tepatnya di rooftop yang hanya tersedia satu meja dengan dua kursi.
Hidangan makanan dan minuman sudah tersaji rapih. Entah kenapa, Aurelia sangat menyukai cafe Seroja. Baginya, tempat ini bukan hanya sebuah cafe, tapi tempat tua dengan banyak kenangan sekitar lima belas tahun lalu, sewaktu ia masih kecil—menjadi putri kesayangan di keluarga Evandra.
Ia pergi tanpa Tyana ataupun Leon. Akhir-akhir ini ia lebih suka pergi sendiri, ia ingin bebas dan menjadi wanita biasa pada umumnya. Tanpa beban pekerjaan dan tanpa pengawasan.
Tangannya bergerak mengaduk perlahan jus hijau menggunakan sedotan. Matanya menatap lurus kebawah pada banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.
Tangannya berhenti bergerak sesaat setelah seorang pria yang ia tunggu muncul di hadapannya. Aurelia menoleh, menatap wajah Nathaniel yang selalu terlihat kaku dengan raut dingin.
Bibirnya melengkungkan senyum tipis. Jemarinya bergerak turun dari gelas dan ia letakkan di atas meja.
"Silahkan duduk, tuan Nathaniel." Ucapnya pelan.
Nathaniel mengangguk tipis, ia melepas jas hitamnya lalu ia letakkan di kursi sebelum sesaat mendudukkan dirinya di hadapan Aurelia.
Pandangan mereka bertemu. Nathaniel memperhatikan sekilas penampilan Aurelia yang tidak terlihat seperti biasanya. Perempuan itu tidak mengenakkan setelan kemeja kerja, tetapi dress berwarna merah maron yang begitu melekat di warna kulitnya yang putih bersih. Rambutnya juga tergerai dengan sedikit hiasan.
Kaki Nathaniel bergerak menyilang, ia menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku. Baginya, hari ini bukanlah hari formal.
"Aku tidak akan bertele-tele." Ucap Aurelia. Ia tidak mau basa-basi terlalu lama karena akan cukup menguras tenaga.
Nathaniel hanya menatap datar. "Tentu. Saya juga tidak suka berbicara panjang." ucapnya lalu menggeser ponsel miliknya.
"Apa anda sudah menerima pesan dari Papa saya?" Aurelia berusaha bersikap tenang. Ia akan melakukan apapun agar hidupnya keluar dari drama Giovani.
Nathaniel mengangguk kecil, "Iya. Attar sudah menyampaikannya tadi pagi." Rambutnya tersisir rapi ke belakang, hanya beberapa helai yang bergerak tertiup angin.
Aurelia menahan napas sebentar, kedua tangannya saling bertautan satu sama lain.
"Lalu apa tanggapan anda?" Aurelia akan mengurungkan rasa malu. Ia akan bersikap seolah sudah mengenal Nathaniel sejak lama. Tidak ada kata rekan bisnis untuk sekarang.
Nathaniel tidak langsung menjawab, ia memajukkan sedikit tubuhnya. Kedua lengannya mengapit secangkir kopi.
"saya cukup terkejut." Nathaniel berbicara dengan nada datar.
Ia menatap lekat mata Aurelia. "Saya kira yang menginginkan perjodohan kita hanya kak Sarah. Ternyata tuan Giovani juga?" Ada sedikit senyum tipis yang hadir. Tapi bukan berarti senang, Nathaniel sedang memikirkan satu kemungkinan yang sedang melibatkan dirinya.
Aurelia menggelengkan kepalanya kecil.
"Bukan Papa saya." Ia terdiam sejenak.
"Tapi saya sendiri yang menginginkan perjodohan ini." Lanjutnya dengan lantang. Nadanya terdengar santai tanpa ada keraguan.
Kedua alis Nathaniel terangkat tipis. Ia kemudian tersenyum miring.
"Apa saya tidak sedang salah mendengar?" Ia memastikan apa yang Aurelia ucapkan. Ia tidak terkejut ketika Sarah mau menjodohkannya, tidak juga mempermasalahkan jika Aurelia tidak bersedia. Tapi ini.... Ia cukup bingung dengan apa yang ia dengar baru saja.
"Tidak sama sekali." Aurelia mulai bergerak meremas jemarinya perlahan.
Nathaniel memperhatikannya. Matanya tak sengaja tertuju pada kening Aurelia yang tertutup poni sekilas, sesaat setelah hembusan angin meniup sedikit poninya hingga terangkat. Ia melihat kening yang dilapisi plaster.
Tanpa ia sadari, tangannya perlahan terkepal erat.
"Saya meminta anda kepada Papa saya. Tepatnya semalam setelah kita saling berdiskusi." Remasan jemarinya semakin erat, Aurelia bahkan tidak menyadari kalau ia baru saja melukai jarinya menggunakan kuku.
"Saya mohon terima perjodohan ini." Aurelia menghembuskan napas berat. Ia tidak tahu apa yang ia katakan barusan, itu adalah sebuah kalimat yang tidak ingin ia ucapkan kepada siapapun. Cukup kepada Andriant. Tapi hari ini... Ia kembali menurunkan harga dirinya sendiri tanpa pikir panjang.
Nathaniel hanya diam. Ia bergerak perlahan lalu mulai meminum kopinya setu tegukan, hingga suara samar cangkir kopi yang ia letakkan terdengar.
"Tolong bicara pada Papa saya bahwa anda menginginkan saya." Rahang Aurelia mengeras seketika. Ia merasa malu dengan apa yang ia ucapkan barusan. Tapi tidak ada pilihan lain, ia benar-benar merasa bingung.
"Atas dasar apa saya harus menerima perjodohan ini?"
Aurelia terdiam, ia menurunkan tangannya ke kolong meja. Dadanya bergemuruh hebat, otaknya hanya berpacu pada satu tujuan. Ia harus membujuk Nathaniel agar mau menerima perjodohan ini.
"Karena Sarah. Atau..." Suara Aurelia yang tadi tenang berubah lirih dan bergetar.
"Karena saya yang menginginkan ini." Ia menurunkan pandangan ke arah meja, pada jus hijau dingin yang kini tersisa setengahnya. Ia tidak berani lagi menatap Nathaniel atas ucapannya sendiri.
"Anda melibatkan saya atas kepentingan anda sendiri?" Nathaniel bertanya dengan nada rendah, suaranya terdengar berat.
Aurelia kembali menatap Nathaniel, kedua tangannya mulai meremas dress yang ia kenakan.
Bibirnya terasa kelu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang Nathaniel katakan memang benar, ia melibatkan Nathaniel kedalam masalahnya, ia bersembunyi di balik nama Nathaniel Alister.
"Saya tahu ini salah. Tapi anda mungkin bisa mempertimbangkan ini." Aurelia menahan napas sejenak.
"Jika anda bersedia membantu..."
"Saya juga akan membantu anda." Aurelia mengalihkan pandangannya keluar. Ia menatap nanar pada gedung yang menjulang. Langit semakin mendung, bahkan kilatan petir terlihat, semakin mengundang kegelisahan yang dirasakan Aurelia.
"Saya tidak sedang membutuhkan bantuan apapun."
Aurelia kembali menoleh pada Nathaniel. Harapannya seakan sirna dalam sekejap. Pertahanan yang ia bangun hampir runtuh, tapi ia tahan sekuat tenaga. Hatinya terus melafalkan kalimat penenang, sesekali ia mengadahkan pandangan ke atas.
"Apa anda tidak bisa mempertimbangkan ini?" Aurelia bertanya lebih hati-hati.
Nathaniel terkekeh kecil. Jemarinya bergerak memainkan garpu di atas piring.
"Saya rasa tidak. Karena saya tidak mendapat keuntungan apapun jika menerima perjodohan ini."
Aurelia mengatupkan giginya rapat. Ia tahu bernegosiasi dengan Nathaniel bukan hal yang mudah, apalagi menyangkut pernikahan yang sakral. Ia terlalu mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan Nathaniel. Pria itu mungkin sudah memiliki plan yang lebih matang, memiliki istri yang sesuai tipenya.
Jika Aurelia berhenti disini. Ia tidak tahu nasibnya bagiamana setelah ini. Namun, jika ia terus memaksa... Rasanya terlalu egois dan tidak adil untuk Nathaniel.
Aurelia masih bergelut dengan isi pikirannya. Tangannya perlahan terangkat dan meraih gelas, ia minum dengan perlahan.
Ia menghembuskan napas panjang, lalu menatap Nathaniel dengan senyum tipis yang ia paksakan.
"Maaf jika saya egois." Hatinya tiba-tiba terasa sakit, sesak di dadanya hadir seakan ditimpa beban berat.
Aurelia meraih tasnya kasar.
"Lupakan tentang obrolan kita hari ini. Katakan sejujurnya pada Papa saya nanti bahwa anda menolak perjodohan kita..." Aurelia menghentikan kalimatnya. Ia menahan napas sejenak sebelum dadanya semakin sesak ketika memikirkan kejadian selanjutnya.
"Anda berhak menentukan pilihan anda sendiri tanpa ada paksaan." Ia beranjak berdiri seraya menenteng tasnya menggunakan kedua tangan.
"Biar saya urus masalah saya tanpa melibatkan siapapun."
"Maaf menganggu waktu anda." Aurelia membalikkan tubuhnya. Ia merasakan napasnya yang mulai berat, kakinya melangkah perlahan. Namun suara Nathaniel berhasil menghentikan langkahnya.
"Saya tidak berkata bahwa saya menolak, Aurelia."
Aurelia melebarkan pupilnya, ia terdiam dan mematung di tempatnya.
"Saya bersedia tapi dengan beberapa perjanjian yang akan menguntungkan saya."