NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Elang Hitam dan Penerjemah

Malam berikutnya, Eve pulang lebih awal dari kantor.

Ia tidak tahu apa yang Edric maksud dengan "beberapa hal". Seharian ia mencoba bekerja normal, tetapi pikirannya terus kembali pada lilin semalam, udang yang dikupas satu per satu, dan cara Edric menatapnya seperti sedang memutuskan sesuatu yang besar.

Apartemen sudah rapi saat ia masuk. Tidak ada bunga berlebihan, tidak ada makan malam mewah. Hanya lampu ruang tamu yang dibuat redup, teh hangat di meja, dan Edric yang duduk di sofa dengan wajah lebih tegang daripada saat menghadapi Hartono.

"Kamu membuatku takut," kata Eve.

Edric berdiri. "Tidak perlu takut."

"Orang yang berkata begitu biasanya membawa kabar buruk."

"Bukan kabar buruk."

Ia menunjuk sofa. "Duduk di sini."

Eve duduk. Edric tidak duduk di sampingnya. Ia malah duduk di karpet, tepat di depannya, sehingga posisi kepalanya lebih rendah dari Eve. Sikap itu membuat Eve terdiam. Edric yang biasanya berdiri seperti gunung, malam ini memilih menunduk lebih dulu.

"Lina," katanya, "selama ini kamu menganggapku apa?"

Eve berkedip. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Jawab saja. Cuma teman sekamar yang kebetulan menikah denganmu?"

Eve menatap tangannya sendiri. Awalnya, mungkin iya. Mereka bertemu di bandara, menikah karena kebutuhan aneh, lalu berbagi rumah seperti dua orang yang mencoba tidak saling mengganggu. Namun semua itu sudah berubah tanpa meminta izin.

"Awalnya memang begitu," katanya jujur. "Tapi sekarang... aku terbiasa kamu ada di sini. Aku suka pulang dan ada orang yang menungguku. Aku suka mendengar kamu bergerak di dapur. Aku suka kamu mengomel kalau aku lupa makan. Aku bahkan mulai suka kalah catur, meski itu memalukan."

Senyum Edric muncul sedikit, lalu hilang lagi karena gugup.

"Aku belum bisa memberi nama untuk semuanya," lanjut Eve. "Tapi aku tahu, kalau suatu hari pulang dan kamu tidak ada, rumah ini akan terasa salah."

Edric menunduk, menarik napas panjang.

"Dua tahun lalu," katanya, "saya dikirim ke Afrika Selatan dalam misi penjaga perdamaian PBB."

Eve langsung mengangkat wajah.

"Saya tidak banyak cerita soal masa itu. Unit saya punya kode operasi. Di lapangan, orang memanggil saya Elang Hitam."

Nama itu membuat sesuatu di ingatan Eve bergerak.

Hujan. Tanah merah. Suara rotor helikopter. Bau asap dan obat luka.

Edric melanjutkan, "Ada satu operasi penyelamatan. Sekelompok warga sipil ditahan di bangunan sekolah oleh kelompok bersenjata. Mereka panik, anak-anak menangis, dan komunikasi kacau karena mereka memakai campuran bahasa Prancis, Inggris, dan Swahili lokal. Kami butuh penerjemah cepat."

Eve menahan napas.

"Seorang relawan datang. Perempuan muda, keturunan Tionghoa-Indonesia. Di dokumen, namanya disamarkan sebagai Linguist L. Dia tidak bersenjata. Tangannya gemetar saat turun dari kendaraan, tetapi suaranya..."

Edric menatap Eve.

"Suaranya tidak gemetar."

Ingatan itu datang lebih jelas.

Eve berusia dua puluh dua saat ikut program penerjemah sukarelawan internasional. Ia mengira pekerjaannya akan berputar di klinik, sekolah, dan pos bantuan. Lalu satu sore, seorang koordinator memanggilnya karena tidak ada penerjemah lain yang bisa menangani campuran bahasa di lokasi penyanderaan.

Ia ingat memakai rompi pelindung yang terlalu berat. Ingat seorang prajurit bertopeng berdiri di sampingnya, tubuhnya menjadi dinding antara dirinya dan arah senjata. Ingat suara rendah di balik masker berkata, "Bernapas. Ikuti ritme saya."

Ia mengira pernah melupakan suara itu.

Ternyata tidak.

"Kami hampir kehilangan tiga anak," kata Edric pelan. "Tapi kamu bicara dengan mereka. Dengan pemberontak, dengan guru, dengan ibu yang panik. Kamu memilih setiap kata seperti sedang memegang kaca tipis. Saat tembakan terdengar dari sisi belakang, kamu berhenti satu detik, lalu menerjemahkan lagi."

Ia masih mengingat detail yang tidak masuk laporan operasi. Cara Eve menunduk untuk berbicara kepada anak laki-laki yang bersembunyi di bawah meja. Cara ia melepas syal tipis dari lehernya dan memberikannya kepada seorang ibu yang menggigil. Cara ia tidak menangis sampai semua warga sipil masuk kendaraan evakuasi, lalu berdiri di belakang ambulans dengan kedua tangan menekan lutut, berusaha bernapas tanpa dilihat orang.

Edric saat itu berdiri beberapa meter darinya, masih memakai masker hitam. Ia ingin mendekat, ingin mengatakan bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap berdiri saat tubuh ingin roboh. Namun radio di telinganya memanggil kode evakuasi, dan ia harus pergi sebelum sempat bertanya siapa nama perempuan itu.

Eve memegang ujung sofa.

"Kamu..." suaranya hampir tidak keluar. "Kamu prajurit itu?"

Edric mengangguk.

"Yang memakai masker hitam?"

"Ya."

"Yang bilang aku berani padahal kakiku hampir tidak bisa berdiri?"

"Ya."

Air mata naik begitu cepat sampai Eve tidak sempat menahannya.

Setelah operasi selesai, ia memang berdiri di dekat helikopter evakuasi. Prajurit bertopeng itu mendekat. Seragamnya basah oleh hujan, bahunya berdarah sedikit, tetapi suaranya tetap tenang.

Eve juga ingat matanya. Bukan wajahnya, karena masker menutup hampir semuanya. Hanya mata gelap yang fokus, tidak panik, dan anehnya membuat dunia terasa punya pusat. Saat seorang relawan lain berlari sambil menangis, prajurit itu hanya mengangkat tangan, memberi aba-aba, lalu semua orang bergerak lagi. Di tengah kekacauan, ia bukan orang yang paling keras bersuara, tetapi semua orang mengikuti ketika ia bicara.

Terima kasih. Kamu sangat berani.

Eve menjawab, Aku hanya melakukan pekerjaanku.

Lalu rotor helikopter mengangkat angin, dan mereka berpisah.

"Saya mencari kamu setelah itu," kata Edric. "Tapi program relawan memakai identitas perlindungan. Saya hanya punya kode Linguist L dan sepasang mata yang tidak bisa saya lupakan."

Eve menatapnya seperti melihat ulang seluruh hidupnya.

"Bandara," bisiknya.

Edric mengangguk. "Hari itu keluarga saya menekan saya untuk menikah. Saya sudah lelah dengan perjodohan, dengan daftar perempuan yang melihat nama keluarga sebelum melihat saya. Lalu kamu menabrak saya di bandara. Kamu mengangkat wajah, dan saya melihat mata yang sama."

"Itu sebabnya kamu bilang hanya kurang istri."

"Bukan karena asal bicara." Edric tertawa kecil, tetapi matanya basah. "Itu kalimat paling nekat dalam hidup saya. Saya tahu kamu bisa menampar saya atau memanggil petugas bandara. Tapi kalau saya membiarkanmu pergi lagi, mungkin saya tidak akan menemukanmu untuk kedua kalinya."

"Kamu sadar itu terdengar gila?"

"Sangat sadar."

"Aku waktu itu bahkan belum tahu namamu."

"Saya tahu. Karena itu saya menunggu kamu memilih. Saya menawarkan jalan, tapi kamu yang memutuskan melangkah."

Eve mengingat hari bandara itu dengan rasa baru. Ia dulu mengira dirinya yang nekat karena patah hati dan panik. Kini ia melihat Edric di sisi lain kejadian itu: seorang pria yang baru mengenali perempuan dari medan perang, lalu mempertaruhkan harga dirinya pada satu kalimat bodoh yang ajaibnya dijawab iya.

"Kenapa tidak bilang dari awal?"

Edric menunduk. "Awalnya saya takut kamu merasa dijebak. Setelah itu, saya takut kamu akan merasa semua kebaikan saya hanya karena kenangan masa lalu, bukan karena kamu yang sekarang."

"Dan sekarang?"

"Sekarang saya lebih takut kamu hidup di samping saya tanpa tahu betapa lamanya saya ingin menemukanmu."

Eve menutup mulut dengan tangan.

Semua kebetulan yang ia kira kacau tiba-tiba memiliki garis rahasia. Bandara, pernikahan kilat, pria yang selalu tahu cara membuatnya merasa aman di tengah bahaya. Ia bukan orang asing yang muncul mendadak. Ia adalah suara rendah di tengah tembakan. Ia adalah dinding hidup yang pernah berdiri di sampingnya sebelum ia tahu namanya.

Edric berdiri perlahan, lalu berlutut di depan Eve agar mata mereka sejajar.

"Aku sepertinya..." Ia berhenti, menggeleng. "Tidak. Aku yakin. Aku jatuh cinta padamu, Evelina Lim. Dari dua tahun yang lalu."

Tangis Eve jatuh.

Edric tidak menghapusnya dulu. Ia menunggu, seperti selalu, memberi ruang untuknya memilih.

"Aku tidak meminta kamu menjawab malam ini," katanya. "Aku hanya tidak mau lagi menyimpan bagian itu. Kamu berhak tahu bahwa pernikahan ini tidak pernah main-main untuk saya."

Eve mengulurkan tangan.

Di pelipis kanan Edric ada bekas luka tipis yang selama ini ia lihat setiap pagi. Dulu ia kira itu bekas kecelakaan kecil. Sekarang ia ingat darah di sisi masker hitam, ingat prajurit itu menolak duduk meski seorang perawat memanggilnya.

Jari Eve menyentuh bekas luka itu.

Edric memejamkan mata.

"Ini dari hari itu?"

"Pecahan kaca."

"Kamu bilang padaku tidak apa-apa."

"Di lapangan, semua orang bilang begitu."

Eve tertawa di antara tangis. "Kamu sudah menyebalkan sejak dulu."

"Kemungkinan besar."

Edric menggenggam tangan Eve dan menempelkannya ke pipinya.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Ruangan itu hening. Di luar, suara kendaraan Jakarta terdengar jauh. Eve menatap pria di depannya, suami yang dimulai dari kontrak aneh, menjadi kebiasaan, menjadi rumah, lalu tiba-tiba berubah menjadi takdir yang sudah pernah menyentuh hidupnya dua tahun lalu.

Ia belum siap mengucapkan kata cinta. Kata itu terlalu besar, terlalu mudah disalahgunakan oleh orang yang pernah menyakitinya. Namun ia tahu jawaban yang bisa ia berikan malam ini.

"Aku juga tidak mau pergi."

Edric menarik napas seperti seseorang yang akhirnya muncul ke permukaan air. Ia mencium telapak tangan Eve, lalu keningnya, sangat pelan.

Eve bersandar ke dadanya.

Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin hidup tidak hanya berisi kehilangan. Mungkin ada orang yang terlambat dikenali, tetapi datang tepat saat hati hampir menyerah.

Lama setelah itu, mereka duduk di balkon. Eve bersandar di pelukan Edric, mendengarkan detak jantungnya.

"Sekarang aku sudah tahu semuanya tentangmu," gumam Eve.

Lengan Edric menegang sedikit.

Ia menutup mata.

Belum.

Kamu belum tahu yang paling penting.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenal keberanian, Edric Kho benar-benar takut.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!