Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022
Jalur Sekolah
Kue lapis versi Seline akhirnya keluar dari kukusan pukul enam pagi.
Lapisan hijau dan putihnya belum sesempurna toko Surabaya, tetapi teksturnya lebih lembut dari percobaan sebelumnya. Oma Mei mencicipi satu potong saat sarapan, lalu berkata, "Kevin boleh membawa kue dari luar, tapi rumah ini tetap punya tangan sendiri."
Seline tidak tahu apakah itu pujian untuk kue atau peringatan agar ia tidak terlalu memikirkan Kevin.
Darren justru lebih jujur.
"Menurutku punya Kakak lebih enak," katanya sambil memasukkan potongan kedua ke mulut.
"Kamu bilang begitu karena gratis."
"Kalau bayar juga aku pilih punya Kakak. Tapi aku tetap minta diskon keluarga."
Seline menepuk pelan kepalanya dengan serbet.
Pagi itu Darren harus datang lebih awal ke sekolah karena latihan presentasi Bahasa Inggris. Jason sudah menunggu di teras samping dengan mobilnya. Selama dua tahun, pemandangan itu menjadi cukup biasa untuk tidak lagi mengundang pertanyaan, tetapi tetap cukup sering membuat Vivian melirik dengan senyum tipis.
"Ko Jason tidak perlu selalu mengantar," kata Seline saat mereka berjalan ke teras.
Jason membuka pintu belakang untuk Darren. "Aku juga punya urusan dekat sana."
Darren langsung menyahut, "Urusan Ko Jason selalu dekat sekolahku."
"Anak pintar jangan terlalu pintar membaca orang."
Darren tertawa dan masuk mobil.
Seline berdiri di sisi pintu. "Terima kasih. Aku bisa naik taksi nanti pulangnya."
"Aku jemput juga. Sekalian."
"Ko Jason, ini sudah terlalu sering."
Jason menutup pintu belakang, lalu menatapnya dengan senyum yang tidak sepenuhnya bercanda. "Kalau kamu merasa tidak enak, traktir kopi susu sekali-sekali."
"Itu jauh lebih murah daripada bensin."
"Berarti aku rugi. Tapi tidak apa-apa."
Kalimat itu ringan, tetapi mata Jason tidak seringan suaranya. Seline menunduk sedikit, pura-pura merapikan tas Darren di kursi belakang.
"Kakak ikut?" Darren bertanya dari dalam.
"Iya. Hari ini Kakak perlu bicara dengan wali kelasmu."
Jason tampak senang mendengarnya. Ia mempersilakan Seline duduk di depan, tetapi Seline memilih duduk di belakang bersama Darren. Jason tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil dan masuk ke kursi pengemudi.
Sebelum menyalakan mesin, Jason mengambil kantong kertas dari kursi depan dan memberikannya ke belakang.
"Roti isi telur. Darren biasanya lapar sebelum jam pertama."
Darren langsung menerimanya dengan mata berbinar. "Ko Jason paham hidup."
"Aku juga pernah sekolah." Jason melirik Seline lewat kaca spion. "Ada satu lagi untukmu."
Seline menatap kantong itu. "Untuk saya?"
"Kamu tadi cuma minum teh di pantry. Jangan bilang tidak, aku lihat."
Darren langsung menoleh pada kakaknya. "Kakak tidak sarapan?"
"Aku akan makan nanti."
"Nanti itu jam berapa?" Jason bertanya ringan, tetapi nadanya tidak benar-benar bercanda. "Kalau kamu sakit, siapa yang mengatur semua orang?"
Kalimat itu membuat Seline terdiam. Tidak banyak orang menyadari bahwa ia juga bisa sakit. Di rumah Hartono, selama ia berdiri tegak, orang mengira ia baik-baik saja.
"Terima kasih," katanya akhirnya, menerima roti itu.
Jason tidak membesar-besarkan. Ia hanya mengangguk dan menyalakan mesin, seolah perhatian itu hal biasa. Justru karena dibuat biasa, Seline tidak punya alasan untuk menolak terlalu keras.
Darren menggigit rotinya, lalu berkata dengan mulut hampir penuh, "Kalau Ko Jason buka kantin, aku investasi."
"Investasi pakai uang siapa?"
"Uang Kak Seline dulu. Nanti aku bayar setelah kaya."
Seline menatap adiknya. "Enak sekali."
Tawa kecil memenuhi mobil, ringan dan hangat. Untuk beberapa detik, Seline lupa bahwa halaman rumah Hartono selalu punya mata.
Lalu ia ingat lagi, dan pelan-pelan meletakkan roti itu di pangkuan, tidak berani terlihat terlalu menikmati perhatian Jason.
Apalagi di depan gerbang rumah ini sendiri.
Mobil putih itu baru bergerak meninggalkan teras ketika mobil hitam Kevin masuk dari gerbang depan.
Seline melihatnya lewat kaca belakang.
Mobil Kevin berhenti di sisi jalan masuk, memberi ruang. Kaca depannya gelap, tetapi Seline tahu siapa yang duduk di belakang. Ia tidak tahu mengapa ia tahu. Mungkin karena seluruh halaman tiba-tiba terasa lebih rapi ketika mobil itu hadir.
Jason menurunkan kaca jendela dan mengangkat tangan sopan. "Pagi, Ko Kevin."
Kaca belakang mobil hitam turun sedikit.
Kevin melihat Jason, lalu sekilas ke kursi belakang tempat Seline duduk bersama Darren.
"Sekolah?" tanyanya.
"Iya," jawab Jason. "Darren ada presentasi."
Darren cepat mencondongkan tubuh. "Pagi, Ko Kevin."
Kevin mengangguk tipis pada Darren. Matanya kembali pada Seline selama satu detik.
"Hujan sore," katanya.
Seline tidak mengerti. "Iya?"
"Bawa payung."
Kaca jendela naik kembali.
Jason melirik kaca spion, lalu tersenyum. "Ko Kevin sekarang jadi prakiraan cuaca?"
Darren terkikik.
Seline menatap tasnya. Ia memang tidak membawa payung.
"Mungkin karena langit mendung," katanya.
"Mungkin," jawab Jason, masih tersenyum.
Mobil putih Jason keluar dari gerbang. Di belakang mereka, mobil hitam Kevin tidak langsung bergerak. Anton yang duduk di kursi depan menoleh sedikit ke belakang, menunggu perintah.
"Masuk?" tanya Anton.
Kevin melihat mobil Jason menjauh sampai berbelok keluar dari jalan Menteng yang teduh.
"Sebentar."
Anton diam.
Di kaca spion mobil hitam, wajah Kevin tetap datar. Tidak ada yang bisa disebut cemburu. Tidak ada yang bisa dijadikan bahan laporan.
Namun jari telunjuknya mengetuk sandaran tangan satu kali, pelan.
Baru setelah mobil Jason hilang dari pandangan, Kevin berkata, "Masuk."