NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Semangkuk Mi Tomat

Pagi pertama di rumah Kebayoran dimulai dengan sarapan yang terlalu mewah.

Di meja makan panjang ada bubur ayam, roti gandum, telur rebus, buah potong, jus, kopi, dan sup krim. Semua tersusun rapi. Terlalu rapi. Sari melihat meja itu dan langsung tahu anak kecil yang ketakutan tidak akan merasa lapar hanya karena pilihan makanannya banyak.

Lintang duduk di kursi paling ujung.

Kakinya tidak menyentuh lantai. Boneka kelinci ada di pangkuan. Dini berdiri di belakang kursinya, tersenyum seolah sedang menjaga tamu penting.

"Ayo makan, Lintang," kata Dini. "Jangan bikin Pak Arman malu."

Sari meletakkan sendok.

Arman yang baru duduk ikut berhenti.

"Kenapa malu?" tanya Sari.

Dini tertawa kecil. "Maksud saya, jangan sampai Pak Arman khawatir. Anak ini memang susah makan kalau ada orang baru."

Lintang menatap mangkuknya. Tidak mengambil sendok.

Arman melihat. "Lintang, mau yang mana?"

Anak itu tidak menjawab.

Dini cepat berkata, "Biasanya dia bubur, Pak."

"Saya tanya Lintang."

Dini terdiam, tetapi matanya menekan.

Sari memperhatikan tangan Lintang. Jari kecil itu mencengkeram telinga boneka. Setiap kali Dini bicara, genggamannya menguat.

Sari mengambil sepotong pepaya dari piring buah dan memakannya sendiri. "Kalau tidak lapar, tidak apa. Tapi air putih diminum sedikit."

"Bu Sari," Dini berkata halus, "kalau dibiarkan begitu, dia makin manja."

"Minum air bukan manja."

Arman mengambil gelas kecil dan meletakkannya lebih dekat ke Lintang, tetapi tidak menyodorkan ke mulutnya.

"Kalau mau," katanya.

Butuh hampir satu menit sebelum Lintang menyentuh gelas. Ia minum satu teguk kecil. Arman terlihat seperti ingin bernapas lega, tetapi Sari menatapnya cepat. Jangan dirayakan seperti lomba.

Arman menahan ekspresinya.

Setelah sarapan yang nyaris tidak dimakan Lintang, Dini berkata anak itu perlu istirahat. Sari tidak membantah di meja. Ia menunggu sampai Dini membawa piring ke dapur, lalu bicara kepada Arman.

"Anak itu bukan tidak lapar."

"Saya tahu."

"Belum. Bapak baru curiga. Nanti siang kita lihat."

Arman menerima kalimat itu tanpa membela diri.

Siang hari, Sari turun ke dapur. Rini sedang menyiapkan menu makan siang: nasi, ayam panggang, sayur bening, dan puding. Di pojok meja ada semangkuk bubur kecil yang sudah dingin.

"Itu untuk Lintang?"

Rini ragu. "Iya, Bu."

"Dari jam berapa?"

"Jam sebelas. Mbak Dini bilang nanti kalau anaknya mau."

"Sekarang sudah hampir satu."

Rini menunduk. "Iya, Bu."

Sari membuka kulkas. "Ada tomat?"

"Ada."

"Mi telur?"

"Ada, Bu."

Arman masuk ke dapur saat Sari sedang mencuci tomat.

"Ibu mau masak?"

"Mi tomat."

"Untuk Lintang?"

"Untuk siapa saja yang mau makan makanan hangat."

Dini muncul di pintu dapur. "Lintang tidak suka mi, Bu."

Sari menyalakan kompor. "Kita tidak akan memaksa."

"Saya yang paling tahu kebiasaannya."

"Bagus. Hari ini kita tambah data baru."

Dini tersenyum kaku.

Sari menumis bawang, memasukkan tomat, air, sedikit garam, lalu telur. Aromanya sederhana, jauh dari makanan hotel di meja panjang. Arman berdiri di samping, jelas ingin membantu.

"Ambil mangkuk kecil," kata Sari.

Arman membuka lemari yang salah.

"Sebelah kiri."

Ia mengambil mangkuk besar.

"Kecil."

Ia mengganti dengan mangkuk kecil. Rini menunduk menahan tawa.

"Sendok kecil."

Arman mengambil sendok sup.

Sari menatapnya.

"Ini bukan kecil?"

"Itu untuk orang yang ingin menggali sumur."

Rini batuk. Arman mengganti sendok. Bahkan sudut mulut Sari bergerak sedikit.

Dini tidak tertawa.

Mereka membawa semangkuk mi tomat ke ruang keluarga, bukan ke kamar Lintang. Sari meletakkannya di meja rendah dekat sofa. Ia tidak memanggil. Ia hanya duduk agak jauh dan mengupas lengkeng untuk dirinya sendiri.

Arman duduk di kursi seberang dengan punggung kaku.

"Jangan menatap tangga seperti menunggu hasil tender," bisik Sari.

Arman langsung melihat ke cangkir kopi.

Beberapa menit berlalu.

Lalu langkah kecil terdengar dari lantai dua.

Lintang muncul di tangga, memegang boneka kelinci. Ia melihat mangkuk, melihat Sari, lalu melihat Dini yang berdiri dekat rak buku.

Tubuhnya berhenti.

Dini berkata, "Lintang, kalau tidak lapar jangan turun."

Anak itu mundur setengah langkah.

Sari tidak menatap Lintang. Ia justru menatap Dini. "Mbak Dini, tolong ambilkan tisu dari dapur."

"Di sini ada."

"Saya minta yang dari dapur."

Dini hendak membantah, tetapi Arman berkata, "Tolong."

Dini pergi.

Begitu langkahnya menjauh, Lintang turun satu anak tangga. Lalu satu lagi. Ia tidak duduk di sofa. Ia duduk di lantai dekat meja rendah, masih menjaga jarak dari Sari dan Arman.

Sari mendorong mangkuk sedikit. "Masih panas. Tiup dulu."

Lintang mengambil sendok. Tangannya gemetar. Ia meniup terlalu lama, lalu makan satu suap kecil.

Tidak muntah.

Suap kedua datang lebih cepat.

Arman menunduk. Sari melihat matanya memerah, tetapi lelaki itu tidak membuat suara. Bagus. Anak yang sedang makan tidak perlu menanggung perasaan orang dewasa.

Dini kembali membawa tisu. Langkahnya berhenti ketika melihat Lintang makan.

"Tuh, kan," katanya cepat. "Kalau dirayu orang baru memang mau."

Sendok Lintang berhenti di udara.

Sari berkata tanpa menoleh, "Dia sedang makan. Jangan beri komentar."

"Saya cuma..."

"Jangan."

Nada Sari tidak tinggi, tetapi ruang keluarga langsung diam.

Lintang menatap mangkuk. Setelah beberapa detik, ia makan lagi. Lebih lambat, tetapi tetap makan.

Setengah mangkuk habis.

Untuk anak yang katanya tidak suka mi, itu cukup menjadi laporan panjang.

Arman akhirnya bicara pelan. "Besok saya belajar buat ini."

Sari menatapnya. "Bapak?"

"Iya."

"Bisa pegang pisau?"

"Saya pernah memegang kontrak merger."

"Tomat tidak peduli."

Arman hampir tersenyum.

Lintang mengangkat kepala sedikit. Mungkin karena nada mereka. Mungkin karena untuk pertama kalinya, orang dewasa di ruangan itu tidak menjadikan makannya sebagai masalah besar.

Setelah makan, Sari mengambil mangkuk kosong. Lintang tidak mengucapkan apa-apa. Tapi ketika Sari hendak berdiri, anak itu mendorong sendok kecil ke arah mangkuk, seperti membantu merapikan.

"Terima kasih," kata Sari.

Lintang menunduk.

Dini berdiri kaku di dekat rak buku. Senyumnya hilang sepenuhnya.

Malam itu, Arman meminta kepala keamanan memeriksa CCTV area umum. Koridor lantai dua, tangga, dapur, ruang keluarga. Sari ikut duduk di ruang kerja. Dini tidak diberi tahu.

Beberapa rekaman tampak biasa.

Lalu muncul bagian yang membuat Arman condong ke depan.

Dini membawa mangkuk ke kamar Lintang pukul sebelas. Keluar pukul sebelas lewat lima. Mangkuk masih terlihat penuh. Pukul dua belas, Rini datang mengambilnya setelah dipanggil. Dini tidak pernah duduk menemani.

Rekaman lain menunjukkan Dini berdiri di depan tangga saat Lintang hendak turun, lalu anak itu kembali ke kamar.

Arman menatap layar lama.

"Saya melihatnya sekarang," katanya.

Sari tidak melembutkan. "Bagus. Jangan berhenti di rasa bersalah."

"Besok saya panggil dokter anak dan psikolog."

"Dan mulai malam ini, jangan biarkan Dini mengantar makanan sendirian."

Arman mengangguk.

Di luar ruang kerja, rumah tetap sunyi.

Tapi kali ini, sunyi itu mulai diperiksa.

Sebelum tidur, Arman benar-benar turun ke dapur.

Rini yang sedang mencuci gelas hampir menjatuhkan spons. "Pak?"

"Tomat disimpan di mana?"

Sari yang baru mengambil air minum berhenti di pintu dapur. "Bapak mau apa?"

"Belajar."

"Sekarang?"

"Kalau besok pagi saya salah semua, Lintang menunggu terlalu lama."

Sari menatapnya beberapa detik. Lelaki ini aneh, pikirnya. Bisa memerintah jaringan rumah sakit, tetapi berdiri kaku di depan rak sayur seperti murid baru.

Ia menunjuk kulkas. "Tomat bawah. Bawang di keranjang. Pisau kecil, bukan pisau daging."

Arman mengambil tomat, mencucinya, lalu hampir memotong bersama stiker harga.

"Stikernya dilepas."

"Oh."

"Jangan bilang oh seperti baru menemukan hukum alam."

Rini menunduk menahan tawa.

Arman melepas stiker dengan serius. "Baik."

Sari tidak memasak untuknya. Ia hanya memberi instruksi. Potong kecil. Api sedang. Telur masuk terakhir. Jangan terlalu banyak garam. Arman mengikuti dengan wajah yang lebih tegang daripada saat menghadapi Hendra.

"Bapak takut tomat?"

"Saya takut merusak hal yang membuat Lintang mau makan."

Jawaban itu membuat Sari diam sebentar.

"Kalau begitu jangan buat makanan ini jadi ujian. Besok kalau gagal, kita coba lagi."

Arman mengangguk.

Malam itu, mi tomat latihan pertama terlalu asin. Rini mencicipi dan wajahnya sopan sekali. Sari langsung tahu.

"Buang?"

"Tidak," kata Arman. "Saya makan."

Sari hampir tertawa. "Bagus. Kesalahan pertama masuk perut sendiri."

Di lantai dua, pintu kamar Lintang terbuka sedikit. Anak itu mungkin tidak tidur. Mungkin ia mendengar suara dapur. Sari tidak memanggilnya. Ia hanya membiarkan aroma tomat hangat naik pelan ke rumah yang selama ini terlalu dingin.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!