Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 02 - Anak yang Dipulangkan untuk Dikorbankan
Rumah keluarga Pradipta berdiri di Menteng, besar dan dingin.
Naya turun dari mobil saat langit Jakarta mulai pucat. Pagar hitam terbuka tanpa suara. Halaman rumah itu terlalu rapi, rumputnya seperti dipotong dengan penggaris, lampu taman masih menyala meski pagi hampir datang.
Ia memeluk tas kecil pemberian Nenek Sari.
Pak Damar tidak menunggunya kagum. Ia berjalan cepat melewati teras, lalu membuka pintu utama.
"Masuk."
Ruang tamu sudah penuh orang.
Seorang pria berusia lima puluhan duduk di sofa tengah. Wajahnya tegas, rambutnya tersisir rapi. Di sebelahnya seorang wanita anggun memegang tasbih kecil, tetapi jari-jarinya tidak bergerak seperti orang berzikir. Ia hanya meremas benda itu sampai buku jarinya memutih.
Di sofa lain duduk seorang laki-laki muda dan seorang gadis cantik bergaun krem.
Gadis itu menatap Naya sebentar, lalu cepat menunduk. Matanya merah, tapi Naya tidak yakin ia habis menangis atau sengaja dibuat begitu.
Pak Damar berdeham.
"Pak Surya, Bu Mira. Naya sudah datang."
Tidak ada yang berdiri.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kata "anak Mama" atau "akhirnya kamu pulang".
Wanita itu, Bu Mira, menatap Naya dari kepala sampai kaki. Pandangannya berhenti pada lengan Naya yang lecet, lalu pada kerah jaket yang robek.
Wajahnya mengeras.
"Kamu Naya?"
Naya mengangguk pelan. Suaranya masih berat. "Iya."
Ia ingin memanggil mereka Ayah dan Ibu, tetapi kata-kata itu tersangkut. Orang-orang di ruangan itu melihatnya seperti melihat masalah yang baru diantar.
Pak Surya meletakkan cangkir di meja.
"Duduk."
Naya duduk di kursi paling ujung.
Laki-laki muda di sofa menyilangkan tangan. Ia menatap Naya dengan terang-terangan tidak suka.
"Namaku Bima," katanya. "Kakakmu."
Naya menatapnya.
Kakak.
Ia punya kakak.
Namun nada Bima seperti sedang memperkenalkan hakim kepada terdakwa.
Gadis bergaun krem mengangkat wajah. Senyumnya rapuh.
"Aku Rania," katanya pelan. "Adikmu."
Naya hampir membalas senyum itu, sebelum Bu Mira memotong.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Ruangan langsung senyap.
Pak Surya mengambil map hitam dari meja. Ia mendorongnya ke arah Naya.
"Tanda tangani ini."
Naya melihat map itu. "Apa ini?"
"Surat pernyataan."
"Pernyataan apa?"
Bima mendengus. "Jangan pura-pura bodoh. Kamu sudah diberitahu di jalan, kan?"
"Tidak," jawab Naya. "Pak Damar cuma bilang saya pulang karena kalian orang tua saya."
Kalimat itu membuat Bu Mira menutup mata. Entah karena malu atau kesal.
Rania tiba-tiba menangis.
"Papa, Mama, jangan. Kak Naya baru datang. Aku tidak mau Kak Naya membenciku."
Naya menoleh padanya.
Kak?
Kata itu terdengar manis, tetapi ruangan makin dingin setelah Rania mengucapkannya.
Pak Surya membuka map. Di dalamnya ada surat yang sudah diketik rapi, lengkap dengan nama Naya.
Naya membaca baris pertama.
Saya, Naya Prameswari, mengakui bahwa pada malam tanggal...
Matanya berhenti.
Kecelakaan.
Tabrak lari.
Korban luka berat.
Mobil keluarga Pradipta.
Naya mengangkat kepala. "Ini apa?"
Pak Surya menjawab datar, "Kamu akan mengaku bahwa kamu yang mengemudi mobil itu."
Darah Naya seperti turun ke kaki.
"Saya tidak mengemudi mobil apa pun."
"Mulai hari ini, iya."
Naya berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser keras.
"Saya bahkan baru sampai Jakarta! Saya tidak tahu kecelakaannya kapan, di mana, siapa korbannya!"
Bu Mira ikut berdiri. "Jaga suaramu."
"Kenapa saya harus jaga suara kalau kalian meminta saya mengaku kejahatan yang tidak saya lakukan?"
Bima melangkah maju. "Karena kamu bagian dari keluarga ini."
Naya tertawa sekali, pendek dan hambar.
"Baru lima menit kalian mengakui saya keluarga, langsung menyuruh saya masuk penjara?"
Wajah Bu Mira memucat, tetapi bukan karena bersalah. Ia seperti takut kata itu terdengar oleh pelayan.
Rania menangis makin keras.
"Kak, aku mohon. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku cuma panik. Aku tidak punya SIM waktu itu, dan kalau polisi tahu aku yang menyetir, hidupku selesai. Aku baru mau lamaran, Kak. Keluarga Wiratama tidak akan menerimaku kalau..."
Ia berhenti, seolah sadar terlalu banyak bicara.
Naya menatapnya. "Jadi kamu yang menabrak orang?"
Rania menggigit bibir.
Bu Mira langsung memeluk Rania. "Dia masih muda. Dia ketakutan."
"Saya juga masih muda," kata Naya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Kalimat itu jatuh ke lantai seperti barang murah yang tidak ingin diambil siapa pun.
Pak Surya membuka suara lagi.
"Dengar. Kami tidak akan membiarkanmu begitu saja. Pengacara kami akan mengurus semuanya. Kamu mengaku, kasus selesai cepat. Hukuman bisa ringan. Setelah keluar, kami biayai hidupmu. Nenek Sari juga akan kami rawat."
Naya menegang.
"Jangan bawa Nenek."
"Kamu sayang dia, kan?" Pak Surya menatapnya tanpa berkedip. "Rumahnya berdiri di tanah tanpa sertifikat lengkap. Biaya obatnya juga tidak kecil. Kami bisa membantu."
"Itu ancaman?"
"Itu pilihan."
Naya menatap satu per satu orang di ruangan itu.
Ayah kandungnya bicara seperti pebisnis.
Ibu kandungnya memeluk anak lain.
Kakaknya berdiri seperti penjaga.
Adiknya menangis karena takut kehilangan masa depan yang dibangun dari hidup orang lain.
Naya meremas tasnya.
"Saya tidak akan tanda tangan."
Tamparan Bu Mira datang begitu cepat sampai Naya tidak sempat menghindar.
Pipi Naya panas. Tubuhnya miring, tetapi ia tidak jatuh.
Bu Mira menatapnya dengan mata merah.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu dibesarkan orang kampung, tidak punya pendidikan bagus, tidak punya nama. Rania punya masa depan. Dia akan menikah dengan Arkan Wiratama. Dia bisa menyelamatkan keluarga ini."
Naya menahan pipinya.
"Lalu saya apa?"
Bu Mira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Bima menjawab untuknya.
"Kamu darah Pradipta. Saat keluarga membutuhkanmu, kamu harus membantu."
Naya mengangguk pelan. "Membantu dengan masuk penjara."
Rania terisak. "Kak, aku janji akan membalas. Aku akan sering menjenguk. Aku akan..."
"Diam," kata Naya.
Tangis Rania berhenti sejenak.
Untuk pertama kalinya, mata Naya tidak lagi bingung. Ia lelah, sakit, dan tubuhnya masih membawa luka semalam. Tapi di bawah semua itu ada sesuatu yang mulai mengeras.
"Saya tidak akan membayar hidupmu dengan hidup saya."
Pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Dua polisi masuk bersama seorang pria berjas. Pak Damar mengikuti di belakang mereka dengan wajah kosong.
"Naya Prameswari?" tanya salah satu polisi.
Naya menoleh.
Rania menjerit kecil dan memeluk Bu Mira.
Pria berjas itu menunjukkan map.
"Anda dilaporkan sebagai pengemudi dalam kasus tabrak lari di Kemang tadi malam. Kami perlu membawa Anda untuk pemeriksaan."
Naya menatap Pak Surya.
Pria itu tidak kaget.
Bu Mira menunduk.
Bima membuang muka.
Rania menangis lagi, kali ini lebih keras. "Kak Naya, maaf. Aku tidak tahu akan jadi begini..."
Naya tiba-tiba mengerti.
Surat tadi bukan permintaan.
Itu hanya formalitas.
Mereka sudah mengatur semuanya sebelum ia datang.
Polisi mendekat. Tangan Naya diborgol. Besi dingin menempel pada kulitnya.
Di saat yang sama, dari pintu samping muncul seorang pria tua berpakaian rapi. Ia bukan bagian dari polisi. Pak Damar langsung menunduk hormat.
"Maaf, Pak Surya. Saya dari keluarga Wiratama. Tuan muda kami meninggalkan cincin ini kepada wanita yang menolongnya semalam. Kami mendapat kabar putri Pradipta ada di rumah."
Naya menoleh tajam.
Cincin?
Rania, yang tadi menangis, melihat sesuatu di dekat kaki Naya. Sebuah cincin perak jatuh dari saku jaket robek Naya, mungkin tersangkut sejak di kebun.
Mata Rania berubah.
Sebelum Naya sempat bergerak, Rania mengambil cincin itu.
Pria dari keluarga Wiratama menatapnya.
"Anda yang bersama Pak Arkan semalam?"
Rania menggenggam cincin itu erat.
Air matanya masih basah, tetapi senyumnya mulai muncul.
"Iya," bisiknya. "Saya orangnya."
Naya ingin berteriak.
Namun polisi sudah menariknya keluar.
Di ambang pintu, ia melihat Rania berdiri di tengah ruang tamu, memegang cincin yang bukan miliknya, menerima tatapan hormat yang seharusnya tidak pernah ia dapatkan.
Saat mobil polisi menutup, Naya baru menyadari satu hal.
Malam tadi merenggut tubuhnya.
Pagi ini keluarganya merenggut hidupnya.
Di dalam mobil, seorang polisi muda sempat menatapnya lewat kaca spion.
Tatapan itu bukan iba. Lebih seperti ragu.
Naya ingin memanfaatkan keraguan itu.
"Saya tidak menyetir," katanya cepat. "Tolong cek kamera jalan. Tolong cek mobilnya."
Polisi di sampingnya menghela napas. "Nanti bicara di kantor."
"Kalau nanti semua sudah diatur?"
Tidak ada yang menjawab.
Naya menoleh ke rumah Pradipta yang semakin jauh.
Di teras, Rania masih berdiri memegang cincin itu.
Naya tahu sejak detik itu, ia bukan hanya harus membuktikan dirinya tidak bersalah.
Ia juga harus merebut kembali malam yang dicuri adiknya.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕