NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan di bawah lampu

Pukul 23.05. Jalan di depan kafe Luna Bloom sudah sepi. Lampu jalan berwarna kuning pucat menerangi area parkir yang hampir kosong. Pintu kaca kafe baru saja dikunci dari dalam.

Jayden sudah menunggu sejak pukul 22.50 di bawah tiang lampu, tepat di seberang kafe. Itu sudah menjadi kebiasaannya setiap malam. Ia duduk di atas motor Ninja hitam dof-nya, bersandar santai. Matanya fokus pada layar ponsel, tetapi telinganya selalu waspada mendengar suara pintu kafe terbuka.

Begitu melihat Cheyrin keluar membawa tas selempang, Jayden langsung berdiri dan tersenyum lebar seperti biasa. "Nah, Ratu Kasir shift malam akhirnya pulang. Capek nggak?"

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat dengan langkah pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berbeda. Lelah yang ia tahan seharian akhirnya muncul.

Tanpa sepatah kata, Cheyrin berhenti tepat di depan Jayden. Lalu ia memeluknya.

Jayden terpaku. Tubuhnya menegang seketika. Ini pertama kalinya Cheyrin memeluknya. Selama ini jarak di antara mereka selalu terjaga, bahkan saat di boncengan motor.

Jantung Jayden berdebar lebih cepat. Ia sempat membisu, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Chey? Kenapa, ada yang nyakitin lo?" tanyanya pelan, suaranya sedikit serak karena panik.

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan di bahu Jayden. Lalu pelukannya mengerat.

Jayden akhirnya menyadari bahu Cheyrin sedikit bergetar. Ia tidak menangis dengan suara. Tidak ada isakan. Tapi Jayden tahu. Cheyrin sedang menangis. Diam-diam, seperti kebiasaannya menanggung semuanya sendiri.

Entah mengapa Cheyrin melakukan itu. Yang ia tahu hanya satu: ia lelah. Lelah menghadapi  semua nya.

Untuk sekali ini, ia hanya ingin ada seseorang yang tidak bertanya banyak.

Jayden menarik napas. Ia mengangkat tangannya perlahan, lalu mengusap punggung Cheyrin dengan lembut. Gerakannya hati-hati, seolah takut Cheyrin akan melepaskan pelukan itu

"Udah, nggak apa-apa," bisik Jayden. Nada bercandanya hilang, diganti suara yang sangat lembut. "Gue di sini. Lo nggak harus kuat terus, Chey."

Cheyrin tetap diam, memeluk lebih erat. Air matanya jatuh tanpa suara ke jaket bomber Jayden.

Keesokan harinya.

Pukul 10.15. Area gazebo Fakultas Teknik, kampus Eastbridge. Angin cukup kencang karena pohon-pohon besar di sekitarnya.

Jayden, Steven, dan Juno duduk melingkar di bangku kayu. Di meja ada dua kaleng minuman soda dan satu bungkus roti. Mereka sedang jam kosong sebelum kuliah selanjutnya.

Juno membuka bungkus roti sambil nyengir. "Nih, roti sisa kemarin. Buat gue aja ya. Eh ngomong-ngomong, Ven, lo kemarin keren banget sih ngebelain Chey."

Jayden yang dari tadi fokus scroll HP langsung mendongak. "Chey? Maksud lo Cheyrin?"

"Siapa lagi kalo bukan putri es kesayangan lo," jawab Juno sambil menggigit roti. "Kemarin gue sama Steven mampir ke Luna Bloom. Terus ada empat cowok rese nyentuh tangan Cheyrin pas dia nganter pesanan. Steven langsung mode abang-abangan, maju marahin mereka."

Steven hanya diam. Ia menatap ujung sepatunya, tidak menyela cerita Juno. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Tangannya meremas kaleng soda sampai agak penyok.

"Terus berantem dikit," lanjut Juno. "Gue yang jadi wasit UFC dadakan. Untung Cheyrin nya cepet misahin. Dingin-dingin tapi tegas banget. Terus si empat cowok itu kita usir dari kafe."

Jayden terdiam. Otaknya langsung memutar ulang kejadian semalam. Pelukan Cheyrin di bawah lampu jalan. Bahunya yang bergetar tanpa suara. Lelah yang ia tahan seharian.

"Jadi... itu alasannya," gumam Jayden pelan. Suaranya yang biasanya ceria mendadak rendah.

Baru sekarang Jayden sadar kenapa Cheyrin memeluknya semalam. Bukan karena tugas kuliah. Tapi karena ia dilecehkan di tempat kerjanya, lalu harus tetap tersenyum sampai shift selesai.

Steven akhirnya bersuara tanpa menatap Jayden. "Gue nggak bilang ke lo kemarin. Takut lo malah ngamuk ke kafe. Cheyrin juga nggak mau dibesar-besarin."

Jayden mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras. Tapi ia tidak marah pada Steven. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak tahu.

"Kenapa lo nggak cerita ke gue, Ven?" tanya Jayden, nadanya bukan menuduh, lebih ke menahan emosi.

Steven mengangkat bahu. "Karena Cheyrin nggak minta dibelain. Dia cuma mau cepat selesai. Itu cara dia."

Juno yang melihat suasana jadi berat langsung coba mencairkan. "Udah udah, jangan muka duka gitu Jay. Untung ada Steven. Kalo nggak, gue doang yang bisa ngandelin jurus ngelawak. Dijamin nggak mempan lawan cowok bertato."

Jayden tidak menanggapi lelucon Juno. Ia berdiri dari bangku, lalu bergegas. "Gue ke kelas dulu."

Langkahnya cepat, tapi pikirannya kalut. Malam tadi ia hanya mengusap punggung Cheyrin dan bilang "nggak apa-apa". Padahal Cheyrin sudah menanggung sesuatu yang jauh lebih berat sendirian.

Steven menatap punggung Jayden yang menjauh.

Koridor lantai 2.

Deretan loker besi berjajar rapi. Suara mahasiswa lalu lalang terdengar ramai karena jam istirahat.

Jayden berjalan cepat menyusuri koridor sambil menoleh ke setiap kelas. Setelah mengobrol di gazebo tadi, pikirannya tidak tenang. Ia harus bicara langsung dengan Cheyrin.

Matanya berhenti di ujung koridor. Di sana Cheyrin berdiri bersandar pada loker, sedang berbicara dengan Lisa, teman sekelasnya yang cerewet. Cheyrin mendengarkan dengan wajah datar seperti biasa, sesekali mengangguk pelan. Lisa terlihat antusias bercerita sambil menunjuk-nunjuk buku catatannya.

Jayden menarik napas, lalu menghampiri mereka. Langkahnya berhenti dua meter di depan Cheyrin.

"Chey," panggil Jayden. Suaranya lebih rendah dari biasanya. Tidak ada nada ceria atau godaan seperti hari-hari sebelumnya.

Lisa langsung menoleh. Ia melirik Jayden dari atas ke bawah, lalu ke Cheyrin dengan senyum jahil. "Waduh, ada pangeran kampus nyamperin. Gue minggir dulu deh," bisik Lisa ke Cheyrin sambil menutup mulutnya.

Cheyrin tidak menanggapi Lisa. Ia hanya menatap Jayden sebentar, lalu mengangguk sekali. "Tunggu bentar," ucapnya datar ke Lisa.

Lisa langsung mengerti dan menjauh sambil melambaikan tangan. "Kalian ngobrol aja. Gue ke kantin dulu."

Begitu Lisa pergi, koridor itu terasa lebih sepi. Jayden dan Cheyrin berdiri berhadapan. Angin dari jendela koridor menerpa rambut Cheyrin.

Jayden memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Ia tidak langsung bicara. Ia memperhatikan wajah Cheyrin dulu. Masih datar. Masih dingin. Tapi Jayden ingat jelas bahu Cheyrin yang bergetar semalam.

"Gue mau ngomong bentar," kata Jayden pelan. "Boleh?"

Cheyrin menatap mata Jayden. Tidak menghindar. Tidak juga menyetujui. Hanya diam, menunggu Jayden melanjutkan.

Juno Pradana

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!