NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)

...Kesaksian yang Menjernihkan Hati...

..."Kebenaran tidak selalu lahir dari banyaknya suara. Kadang ia hadir melalui keberanian seseorang untuk berkata jujur, meski kejujuran itu menyakitkan."...

Lonceng angin berdenting tiga kali. Pertanda persidangan memasuki tahap berikutnya.

Di bawah naungan Hariara Bolon, seluruh makhluk tetap duduk dalam lingkaran yang sama. Tidak terlihat ada yang meninggalkan tempatnya. Sebab mereka semua mengetahui bahwa bagian inilah yang akan menentukan arah putusan.

Ompu Ragidup berdiri dan berkata: "Persidangan memasuki tahap Pangungkapon Bukti dohot Pameriksaan Saksi dohot Terdakwa." (Pengungkapan bukti dan hasil pemeriksaan saksi dan terdakwa -Red)

Beliau memandang seluruh hadirin, "Laksanakan sebagaimana Patik Semesta."

Lalu beliau berkata, "Setiap saksi hanya akan menjawab satu pertanyaan."

Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan memberikan arahan kepada para saksi yang akan dipanggil: "Apa yang engkau lihat? Bukan sekedar apa yang engkau sukai. Bukan apa yang engkau takutkan. Hanya cukup pada apa yang benar-benar engkau lihat."

Batu Sipasu-pasu memancarkan cahaya lembut.

...****************...

Saksi Pertama — Burung Erung

Burung tua itu terbang perlahan menuju Batu Sipasu-pasu. Ia meletakkan ujung sayapnya di atas batu. Cahaya putih keperakan memenuhi permukaannya.

Ompu Ragidup bertanya, "Apa yang engkau lihat?"

Burung Erung memandang Deak cukup lama. Lalu menjawab, "Aku melihat seorang anak. Bukan anak yang selalu patuh. Tetapi anak yang selalu ingin mengerti."

Keheningan memenuhi balairung, terutama ketika sang Burung Agung kembali melanjutkan kesaksiannya: "Aku melihatnya datang ke Tebing Pamatang Langit berkali-kali. Ia tidak datang untuk mencari kekuasaan. Ia juga tidak datang sekedar untuk melanggar. Ia datang... karena mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar oleh kami."

Ompu Ragidup bertanya lagi, "Apakah engkau pernah melarangnya?"

"Sering." jawab Burung Erung perlahan.

"Apakah ia membencimu?" tanya Ompu Ragidup lagi.

"Tidak." jawab Burung Erung cepat.

"Apakah ia tetap menghormatimu?" kembali Ompu Ragidup bertanya.

"Selalu." jawab Burung Erung, lalu ia menundukkan kepalanya ketika melanjutkan kesaksiannya: "Kalau hari ini aku harus bersaksi... aku hanya dapat berkata... bahwa rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya."

...****************...

Saksi Kedua — Jonggi

Makhluk kecil itu melompat ke atas Batu Sipasu-pasu. Batu itu kembali bersinar terang dan seluruh hadirin tersenyum tipis melihatnya. Namun Jonggi tidak tampak bercanda seperti biasanya.

"Apa yang engkau lihat?" Tanya Ompu Ragidup.

Jonggi mengusap kedua matanya dan menjawab: "Aku melihat Putri menangis."

Suasana mendadak berubah, "Bukan sekali. Tapi sering kali. Setiap kali ia mendengar kisah tentang Banua Tonga."

Ompu Ragidup mengangguk, "Lalu?"

"Ia berkata kepadaku... Kalau suatu hari nanti, akan ada dunia yang belum mengenal kasih... siapa yang akan mengajarinya?'" Jonggi menjawab dengan menatap ke seluruh sidang dan ia melanjutkan penjelasannya: "Aku tidak tahu apakah itu melanggar aturan atau tidak. Aku hanya tahu... bahwa aku belum pernah melihat seseorang menangis demi dunia yang bahkan belum pernah ia datangi."

...****************...

Saksi Ketiga — Nai Tonun

Nai Tonun melangkah perlahan. Benang-benang cahaya mengikuti setiap langkahnya. Batu Sipasu-pasu kembali menunjukkan cahaya putih keperakan yang memenuhi permukaannya.

"Apa yang engkau lihat?" tanya Ompu Ragidup.

"Aku telah melihat ulos pertama yang menenun dirinya sendiri." jawab Nai Tonun tenang.

Beberapa hadirin saling berpandangan.

"Itu terjadi ketika Deak berada di ruang tenun. Aku tidak menyuruh benang-benang itu bergerak. Mereka bergerak sendiri. Coraknya membentuk akar Hariara. Gunung. Samudra. Dan pohon dengan tujuh cabang."

Nai Tonun menarik napas panjang, "Sejak hari itu... aku mulai bertanya dalam hati... apakah semesta sedang menyiapkan sesuatu yang belum kami pahami."

...****************...

Saksi Keempat — Ompu Tiktik

Penjaga Jam Pasir Bintang berdiri. Beliau membawa jam pasir yang selama ribuan musim menjadi penjaga waktu Banua Ginjang.

Cahaya putih keperakan kembali memenuhi permukaan Batu Sipasu-pasu ketika Ompu Tiktik meletakkan tangannya.

"Apa yang engkau lihat?" Tanya Ompu Ragidup.

Ompu Tiktik membalik Jam Pasir Bintang. Butiran cahaya mulai mengalir.

"Aku melihat waktu." Beliau berkata pelan, "Dan waktu tidak pernah berdusta."

Beliau mengangkat jam pasir itu, "Pada hari Deak menyentuh Samudra Purba... Jam Pasir Bintang berdetak lebih cepat. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya."

"Apakah itu pertanda bencana?" Tanya Ompu Ragidup.

Ompu Tiktik menggeleng, "Aku tidak tahu. Tetapi... aku tidak melihat tanda-tanda kehancuran. Aku justru melihat... sebuah musim baru mulai akan dilahirkan."

...****************...

Pemeriksaan Deak (Terdakwa)

Kini seluruh pandangan tertuju kepada sang putri. Deak melangkah ke Batu Sipasu-pasu. Tangannya kembali menyentuh permukaan batu. Cahaya yang muncul kali ini jauh lebih terang daripada sebelumnya.

Mulajadi Nabolon sendiri memperhatikannya dalam diam.

Ompu Ragidup pun sebenarnya memperhatikan hal itu, namun ia tetap bertanya, "Apakah engkau mengetahui bahwa menyentuh Samudra Purba adalah sebuah pelanggaran?"

"Aku mengetahuinya." jawab Deak tenang.

"Mengapa engkau tetap melakukannya?" tanya sang Ompu lagi.

Deak menarik napas panjang. Lalu menjawab, "Karena aku merasa ada yang lebih besar daripada rasa takutku."

"Apakah itu rasa ingin tahu?" tanya Ompu Ragidup dengan yakin.

"Bukan." jawab Deak tegas.

"Kalau begitu apa?" tanya sang Ompu lagi.

Deak memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, air mata telah menggenang di kedua bola matanya yang indah dan ia menjawab pelan: "Aku melihat kehidupan. Bukan kehidupan yang sudah ada. Tetapi kehidupan yang sedang menunggu. Aku melihat anak-anak. Hutan. Sungai. Manusia. Aku melihat mereka yang belum mengenal apa itu kasih."

Ruangan menjadi begitu sunyi hingga bunyi jatuhnya sehelai daun Hariara terdengar jelas.

"Aku tidak mampu berpura-pura tidak melihatnya." jawab Deak menutup penjelasannya.

Ompu Ragidup bertanya sekali lagi, "Apakah engkau menyesali perbuatanmu?"

Deak terdiam cukup lama. Lalu menjawab dengan suara yang tenang, "Aku menyesal... karena telah membuat para tetua dan mereka yang peduli pada kesejahteraanku jadi bersedih. Aku menyesal... karena telah melukai hati mereka yang mengasihiku."

Ia menundukkan kepala, "Tetapi... aku tidak menyesal telah mendengar panggilan yang diberikan kepadaku."

Keheningan memenuhi seluruh Balairung. Tidak ada satu pun makhluk yang menganggap jawaban Deak itu sebagai suatu sikap pembangkangan. Karena semua mengetahui, bahwa kata-kata itu lahir dari hati yang jujur. Bahkan Batu Sipasu-pasu pun telah memancarkan cahaya paling terang sejak persidangan dimulai.

...****************...

Mulajadi Nabolon akhirnya berbicara. Suara-Nya terdengar lembut. Namun bergema hingga ke ujung Banua Ginjang.

"Hari ini... kita telah mendengar dan mengetahui fakta. Kita juga telah mendengar suara hati."

Beliau memandang seluruh Penjaga Keseimbangan.

"Namun sering kali... bagian tersulit dari sebuah keputusan, bukanlah menentukan siapa yang bersalah, melainkan bagaimana tetap berlaku adil kepada seseorang yang melakukan pelanggaran walaupun itu karena kasih."

Lonceng angin berdenting perlahan. Sidang dihentikan sejenak. Namun tidak seorang pun beranjak dari tempatnya masing-masing.

Karena semua menyadari, bahwa tahap berikutnya akan menjadi yang paling berat. Karena hukum akan berbicara dan kasih akan menjawab. Dan salah satunya harus rela melepaskan Deak demi menjaga keseimbangan semesta.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!