Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 :
BAB 18— AHBER DAN ESKAY
Langit pagi diselimuti awan kelabu.
Gerimis tipis turun membasahi jalanan kota yang masih lengang. Tetes demi tetes air hujan jatuh di atas payung hitam yang dibawa seorang pria bertubuh tinggi.
Langkahnya tenang.
Namun sorot matanya menyimpan begitu banyak cerita.
Sudah lima belas tahun berlalu.
Waktu telah mengubah banyak hal.
Wajahnya kini lebih dewasa. Rahangnya semakin tegas. Rambut hitamnya dipotong rapi. Setelan jas abu-abu yang dikenakannya membuat auranya terlihat berwibawa.
Tetapi...
Tatapan mata itu masih sama.
Tatapan yang dulu pernah dipenuhi amarah, penyesalan, dan cinta yang tak sempat diperjuangkan.
Pria itu adalah...
Ahber.
Di sampingnya, seorang gadis kecil menggenggam erat ujung jasnya.
Gadis itu mengenakan gaun putih sederhana dengan cardigan merah muda. Rambut hitam panjangnya dikepang dua, dihiasi pita kecil berwarna biru.
Di kedua tangannya terdapat sebuket bunga lili putih.
Wajah mungilnya begitu ceria.
"Papa..."
Ahber menoleh.
"Iya, Layla?"
"Kalau Mama lihat bunga ini... Mama pasti senang, ya?"
Pertanyaan itu membuat langkah Ahber berhenti sesaat.
Ia tersenyum tipis.
"Iya."
"Mama pasti sangat senang."
Layla langsung tersenyum lebar.
"Layla pilih sendiri bunganya."
"Bagus sekali."
"Papa suka?"
"Sangat suka."
Layla kembali menggenggam tangan Ahber.
Mereka berjalan melewati deretan makam yang tertata rapi.
Hingga akhirnya...
Langkah mereka berhenti di depan sebuah nisan marmer putih.
Ahber memandang nama yang terukir di sana cukup lama.
Tangannya perlahan mengusap permukaan batu nisan yang mulai basah oleh gerimis.
"Sudah lama ya..."
bisiknya lirih.
Layla berjongkok.
Dengan sangat hati-hati ia meletakkan bunga lili itu tepat di depan makam.
Lalu gadis kecil itu tersenyum manis.
"Halo, Mama."
"Aku datang lagi."
"Hari ini Layla bawa bunga."
"Oh iya..."
"Aku juga dapat nilai seratus waktu ulangan."
"Papa bilang Mama pasti bangga."
Ahber hanya berdiri diam.
Mendengar suara polos putrinya, dadanya kembali terasa sesak.
Layla terus bercerita.
"Papa juga sekarang sudah nggak sering lembur."
"Kalau malam Papa selalu bacain cerita."
"Terus Papa juga belajar masak."
"Walaupun kadang rasanya masih aneh."
Ahber tertawa pelan.
"Kok Papa ditertawain?"
"Soalnya waktu kemarin masak sayur..."
"...keasinan."
Ahber menghela napas pasrah.
"Itu cuma sekali."
"Dua kali."
"Bukan."
"Tiga kali."
Ahber menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu ini."
Layla tertawa riang.
Suara tawanya menggema di tengah suasana pemakaman yang sunyi.
Beberapa saat kemudian gadis kecil itu kembali menatap nisan.
"Mama..."
"Nanti kalau Layla sudah besar..."
"Aku mau jadi orang hebat."
"Biar bisa bikin Papa bangga."
"Mama juga bangga."
Mata Ahber perlahan memerah.
Ia berlutut di samping Layla.
Mengusap lembut kepala putrinya.
"Mama sudah bangga."
"Karena Layla tumbuh menjadi anak yang baik."
Layla memeluk lengan Ahber.
"Papa..."
"Hm?"
"Papa sedih?"
Ahber tersenyum kecil.
"Tidak."
"Papa cuma... kangen."
"Kangen Mama?"
"Iya."
Layla ikut memandang nisan itu.
"Aku juga."
Hening.
Tak ada suara selain rintik hujan yang semakin pelan.
Ahber mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
Ia membersihkan daun-daun kering yang menempel di sekitar makam.
Setiap gerakannya begitu hati-hati.
Seolah tempat itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
"Lima belas tahun..."
gumamnya.
"Banyak sekali yang berubah."
"Tapi aku masih datang."
Layla memiringkan kepalanya.
"Papa ngomong sama Mama?"
"Iya."
"Kalau begitu Mama pasti dengar."
Ahber tersenyum.
"Mungkin."
Layla menggenggam tangan Ahber.
"Papa."
"Ayo pulang."
"Nanti masuk angin."
Ahber mengangguk.
"Iya."
Ia berdiri lalu menggandeng Layla meninggalkan makam.
Namun sebelum benar-benar pergi...
Ahber menoleh sekali lagi.
Tatapannya jatuh pada nama yang terukir di batu nisan.
Senyumnya tipis.
"Hari ini Layla tersenyum lagi."
"Itu pasti yang paling kamu inginkan."
Lalu ia berbalik.
Melangkah meninggalkan masa lalu yang masih tersimpan di dalam hatinya.
Tanpa menyadari...
Takdir sedang perlahan menggerakkan roda pertemuan yang selama lima belas tahun tertunda.
Dan semua itu...
Akan dimulai dari dua anak kecil yang bahkan belum saling mengenal.
like + bunga biar semangat deh/Smile/