Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Naura akhirnya mengirim surat peringatan itu.
Bukan karena Arkan memaksa.
Bukan karena Bu Marini mendesak.
Melainkan karena Bagas mengirim pesan suara pukul sebelas malam.
Dalam pesan itu, suara Bagas terdengar marah dan tinggi.
"Mbak, jangan sok paling tersakiti. Kalau bukan karena Bapak Ibu, kamu nggak akan jadi apa-apa. Sekarang kamu kerja entah di mana, malu ngaku keluarga. Aku kasih waktu sampai besok. Kalau nggak transfer, aku cari kamu. Jakarta nggak seluas itu."
Naura mendengarkan pesan itu dua kali.
Pada kali kedua, rasa takutnya berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Muak.
Ia meneruskan pesan itu ke Rafi dan Bu Ratih, lalu menulis:
`Saya setuju surat dikirim.`
Rafi membalas meski sudah malam.
`Baik, Mbak. Besok pagi dikirim melalui kuasa hukum.`
Naura meletakkan ponsel.
Ia tidak menangis.
Malam itu ia tidur nyenyak untuk pertama kalinya sejak video lobi Mahardika.
Pagi berikutnya, surat dikirim ke nomor WhatsApp Bapak, Ibu, dan Bagas, juga ke alamat rumah mereka melalui jasa kurir dokumen. Bahasanya tegas. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada ancaman kosong. Hanya batas.
Reaksi mereka meledak.
Ibu menelepon berkali-kali. Bapak mengirim pesan menuduhnya anak durhaka. Bagas mengirim stiker marah, lalu menghapus beberapa pesan.
Naura tidak membalas.
Siang hari, semua berhenti.
Sunyi.
Kali ini sunyi itu berbeda.
Bukan sunyi orang menyusun serangan, melainkan sunyi orang yang baru sadar lawannya tidak lagi berdiri tanpa perlindungan.
Bu Marini merayakan dengan membuat rujak buah.
"Kemenangan harus ada makanan," katanya.
Pak Aditya mengoreksi, "Ini baru pencegahan."
"Pencegahan juga perlu rujak."
Naura makan rujak itu sambil tertawa.
Sore hari, ia ke rumah Arkan. Perasaannya lebih ringan, tetapi tubuhnya masih letih. Drama keluarga menguras tenaga bahkan ketika ia menang.
Arkan pulang terlambat lima belas menit dan langsung meminta maaf.
Itu hal baru.
"Rapat mundur."
"Tidak apa-apa, Pak. Bapak sudah memberi kabar."
"Makan malam masih hangat?"
"Masih."
Ia duduk di meja makan.
Naura menyajikan sop iga bening, perkedel tahu, dan tumis buncis. Arkan makan lebih lahap dari biasanya.
"Surat sudah dikirim," katanya setelah beberapa suap.
"Saya tahu."
"Mereka berhenti?"
"Untuk sekarang."
"Bagus."
Naura menatapnya. "Pak Arkan kelihatan lebih puas daripada saya."
"Karena akhirnya kamu memakai perlindungan yang tersedia."
"Saya tidak mau bergantung."
"Memakai pengacara bukan bergantung. Itu memakai alat yang tepat."
Naura diam.
Arkan meletakkan sendok.
"Kamu pernah bekerja dengan data dan risiko. Kenapa untuk urusan sendiri kamu memilih menanggung manual?"
Pertanyaan itu menusuk tepat.
Naura tidak langsung menjawab.
Karena selama ini ia memang begitu. Untuk klien, ia bisa menyusun mitigasi risiko tiga puluh halaman. Untuk perusahaan, ia bisa melihat celah transaksi. Untuk orang lain, ia bisa membangun sistem.
Untuk dirinya sendiri, ia sering hanya bertahan.
"Mungkin karena saya terbiasa berpikir diri saya tidak layak dibantu."
Kalimat itu keluar pelan.
Arkan tidak menjawab dengan cepat.
Ketika ia bicara, suaranya lebih rendah.
"Biasakan ulang."
Dua kata.
Tidak puitis.
Tidak panjang.
Tapi Naura merasa kata-kata itu tinggal di dadanya.
Setelah makan, Arkan tidak langsung ke ruang kerja. Ia duduk di ruang keluarga, menonton berita bisnis tanpa benar-benar memperhatikan.
Naura menyelesaikan dapur, lalu duduk di meja kecil untuk mengecek dokumen rencana usaha.
Ia menambahkan satu poin baru:
`Perlindungan pekerja dari gangguan keluarga/majikan`
Arkan melihat dari sofa.
"Masuk rencana usaha?"
"Iya."
"Karena pengalamanmu?"
"Karena banyak pekerja punya masalah yang dibawa dari rumah. Banyak juga yang justru mendapat masalah di rumah klien. Kalau perusahaan tidak punya sistem, semua dianggap urusan pribadi."
Arkan mengangguk.
"Bagus."
Naura menoleh. "Pak Arkan terlalu mudah bilang bagus hari ini."
"Karena memang bagus."
"Biasanya Bapak lebih kritis."
"Mau saya kritik?"
"Jangan."
Arkan menatapnya. Lalu sudut mulutnya naik sedikit.
Naura pura-pura fokus ke laptop.
Namun suasana tenang itu tidak bertahan lama.
Pukul delapan, ponsel Arkan berbunyi.
Ia melihat layar, lalu mengangkat.
"Ya, Rafi."
Wajahnya berubah sedikit.
Naura tidak bermaksud mendengar, tetapi ruangan terlalu sepi.
"Kapan?"
Diam.
"Kirim dokumennya."
Diam lagi.
"Jangan hubungi Naura dulu."
Naura mengangkat kepala.
Arkan menutup telepon.
"Ada apa?"
"Tidak ada yang mendesak."
"Pak Arkan."
Ia mengenal kalimat itu. Kalimat orang yang menyembunyikan masalah demi melindungi.
Arkan menatapnya.
Naura menutup laptop.
"Kalau berhubungan dengan saya, saya berhak tahu."
Arkan terdiam.
Lalu ia berkata, "Mahardika menghubungi Rafi."
Naura mengerutkan dahi. "Mahardika?"
"Bima Santoso meminta pertemuan. Katanya ada peluang kerja sama dengan Aruna dan ingin membicarakan namamu."
Naura tertawa pendek.
Tidak lucu.
"Membicarakan nama saya?"
"Dia bilang kamu membawa dokumen dan informasi setelah resign."
Naura berdiri.
"Itu fitnah."
"Saya tahu."
"Dia berusaha menekan saya karena saya tidak mau membantu klarifikasi video?"
"Kemungkinan."
Darah Naura terasa naik.
Keluarga belum selesai, kantor lama mulai bergerak.
Begitu ia berhenti menjadi alat, semua orang tiba-tiba merasa berhak menariknya kembali.
"Saya tidak mengambil dokumen apa pun."
"Saya tahu."
"Pak Arkan tidak tahu. Bapak hanya percaya."
Arkan berdiri juga.
"Ya. Saya percaya."
Jawaban itu menghentikan kemarahan Naura setengah jalan.
Ia menatap Arkan.
Arkan melanjutkan, "Tapi percaya saja tidak cukup. Kita butuh bukti."
"Saya punya daftar serah terima. Email. Semua file kantor saya tinggalkan di server."
"Bagus. Simpan."
"Saya bisa hadapi Bima sendiri."
"Saya tidak bilang kamu tidak bisa."
"Tapi Pak Arkan sudah meminta Rafi menahan informasi."
"Karena saya ingin tahu dulu apakah ini serangan kosong atau risiko hukum."
Naura menarik napas.
Ia tahu Arkan benar.
Tapi bagian lama dirinya tetap panik saat mendengar nama Mahardika. Ia sudah susah payah keluar. Kenapa bayangan kantor itu masih mengejar?
Arkan berjalan mendekat, tetapi berhenti cukup jauh.
"Naura, lihat saya."
Ia mengangkat mata.
"Kamu bukan karyawan mereka lagi."
Naura menelan ludah.
"Kamu bukan anak yang bisa diseret keluargamu lagi."
Matanya mulai panas.
"Dan kamu bukan orang yang harus membuktikan diri dengan membiarkan orang lain menginjakmu."
Ruangan sunyi.
Naura menggenggam ujung meja.
"Pak Arkan bicara seperti itu karena Bapak terbiasa punya kuasa."
"Mungkin."
Ia tidak menyangkal.
"Tapi kamu juga punya kuasa. Kamu hanya belum terbiasa memakainya untuk dirimu."
Naura tidak tahu harus berkata apa.
Ponselnya bergetar.
Email masuk.
Dari Bima.
Subjek: `Permintaan Klarifikasi dan Penyelesaian Baik-Baik`
Naura membuka email itu.
Isinya panjang. Bahasa halus. Tuduhan samar. Permintaan bertemu. Ancaman bahwa jika tidak diselesaikan, Mahardika akan mempertimbangkan langkah hukum terkait kerahasiaan dokumen.
Di bawahnya, ada kalimat:
`Kami berharap Saudari Naura memahami bahwa reputasi profesional dibangun lama, tetapi bisa rusak dengan cepat.`
Naura tersenyum.
Dingin.
Arkan melihat senyum itu.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
Naura menutup email.
"Membalas lewat data."
Untuk pertama kalinya hari itu, matanya tidak lagi goyah.
Bima ingin menakutinya dengan reputasi.
Sayangnya, Naura sudah pernah mati karena terlalu takut kehilangan reputasi.
Kali ini, ia memilih hidup.
jgn setengah 2 ya