Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013: Kumpul Keluarga dari Neraka
Keluarga besar selalu punya cara membuat meja makan terasa seperti ruang sidang.
Akhir pekan itu, Bu Sri memaksa semua orang datang ke rumah Om Slamet untuk kumpul keluarga. Alasannya ulang tahun seorang sepupu. Alasan sebenarnya, Laras baru saja dipuji guru matematika karena jawaban yang ia salin dari buku Bayu, dan Bu Sri ingin dunia kecilnya tahu.
Keira memakai kemeja lama yang sudah terlalu sempit di bahu. Bayu memakai sepatu paling bersih yang ia punya. Pak Prasetyo membawa sekotak martabak murah, lalu tampak malu begitu melihat meja Om Slamet penuh kue mahal dari toko terkenal.
"Wah, akhirnya datang juga," kata Tante Yanti di pintu. Matanya turun ke tubuh Keira, lalu ke kaki Bayu. "Keira sudah sehat? Syukurlah. Jangan sakit terus, kasihan bapakmu."
Kasihan.
Kata itu keluar dari mulut orang-orang yang tidak pernah membantu.
Di ruang tamu, sepupu-sepupu duduk dengan ponsel baru. Ada yang baru diterima magang di bank, ada yang ikut bimbel Prestige Jakarta, ada yang memamerkan rencana liburan ke Bali. Laras langsung masuk ke kelompok itu seperti ikan menemukan air.
"Laras katanya target UI?" tanya Om Slamet.
Bu Sri tersenyum lebar. "Amin, Om. Anak ini memang dari kecil rajin. Saya sampai kewalahan."
"Bagus. Anak perempuan harus punya masa depan. Jangan seperti..." Om Slamet melirik Keira, lalu pura-pura mengambil kacang. "Ya, pokoknya jangan malas."
Pak Prasetyo menunduk.
Bayu menggenggam sendok.
Keira mengambil air putih.
Makanan baru keluar saat komentar berikutnya dimulai.
"Bayu masih terapi kaki?"
"Pakai BPJS, ya? Lama, memang. Kalau punya uang, mending swasta."
"Keira kelas berapa sekarang? Nilainya gimana?"
Bu Sri tertawa kecil. "Keira masih perlu banyak dibimbing. Yang penting sehat dulu."
"Sehat juga harus tahu diri," sahut Tante Yanti. "Zaman sekarang biaya sekolah mahal. Kalau anaknya tidak bisa mengejar, orang tua jangan dipaksa."
Pak Prasetyo menggenggam gelas. "Keira masih sekolah baik-baik."
Suaranya pelan sekali sampai hampir tenggelam oleh denting sendok.
Om Slamet mendengus. "Baik-baik itu standar minimum. Anak sekarang harus punya prestasi. Kalau tidak, nanti kerja apa? Jualan pulsa?"
Beberapa orang tertawa. Keira melihat Pak Prasetyo ikut menunduk lebih dalam. Ia tidak membela dengan kuat, tetapi setidaknya tadi ia mencoba.
Laras menambahkan dengan suara manis, "Mbak akhir-akhir ini semangat kok. Sudah mulai belajar juga."
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi semua orang di meja menangkap artinya: dulu bodoh, sekarang baru mencoba.
Seorang sepupu laki-laki bernama Rendi menyeringai. "Kalau mau, aku bisa kasih catatan bekas bimbel. Tapi jangan hilang, ya. Mahal."
Bayu tidak tahan. "Mbak Keira bisa belajar sendiri."
Semua mata menoleh padanya.
Tante Yanti tersenyum kasihan. "Aduh, Bayu sayang kakak banget. Tapi sayang saja nggak cukup buat masuk UI."
Tawa kecil menyebar di meja.
Keira meletakkan gelas.
"Benar," katanya. "Sayang saja tidak cukup."
Om Slamet mengangguk seolah mendapat dukungan. "Nah, Keira paham."
"Tapi uang juga tidak cukup kalau otaknya kosong."
Meja makan hening.
Rendi yang tadi tertawa berhenti mengunyah. Laras menoleh cepat. Bu Sri hampir menjatuhkan sendok.
Tante Yanti memaksakan tawa. "Kamu ngomong ke siapa, Keira?"
Keira menatapnya. "Yang merasa."
Bayu menunduk, tetapi bahunya bergetar sedikit. Bukan karena takut. Ia menahan senyum.
Pak Prasetyo memucat. "Keira..."
Bu Sri menyikutnya di bawah meja. "Anak ini memang setelah sakit jadi aneh. Maaf ya, mungkin belum pulih."
"Saya pulih cukup baik," kata Keira.
Om Slamet menaruh garpu. "Anak muda sekarang kalau sedikit bisa ngomong, langsung merasa hebat. Lihat Laras. Diam, sopan, prestasinya jelas."
Laras menunduk manis. "Om jangan begitu, nanti Mbak tersinggung."
"Tidak," jawab Keira. "Saya suka orang percaya diri. Nanti kalau jatuh, suaranya lebih keras."
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa.
Rendi tertawa keras untuk menutupi malunya. "Wah, sekarang bisa nyindir. Jangan-jangan habis sering nonton drama."
"Tidak perlu drama untuk melihat orang bodoh," jawab Keira.
Kali ini bahkan sepupu yang tadi sibuk main ponsel mengangkat kepala.
Tante Yanti menarik napas tajam. Bu Sri menekan paha Keira di bawah meja, memberi peringatan. Keira menatap tangan itu sampai Bu Sri menariknya sendiri.
Makan siang berlanjut dengan kaku. Bu Sri berkali-kali mencoba mengembalikan pembicaraan ke Laras. Sepupu-sepupu lain mulai bicara soal try out, bimbel, dan koneksi kepala sekolah. Mereka tidak sadar setiap kata dicatat Keira.
Bayu duduk lebih dekat padanya.
Di bawah meja, tangannya menyentuh ujung lengan Keira, seolah berkata cukup, jangan cari masalah lagi. Keira tidak menarik tangan. Ia hanya membiarkan sentuhan itu ada.
Setelah makan, Rendi sengaja berdiri di depan Bayu saat anak itu hendak mengambil air.
"Hati-hati, Yu. Jangan jatuh. Nanti lantai Om mahal."
Keira berdiri.
Rendi langsung mundur satu langkah.
Reaksi itu terlalu jujur. Beberapa orang melihatnya.
Keira mengambil gelas dari tangan Bayu, mengisinya, lalu menyerahkannya kembali. Tidak perlu menegur. Kadang ketakutan kecil di wajah orang sudah cukup menjadi jawaban.
Dalam perjalanan pulang, Bu Sri meledak di angkot.
"Kamu itu mau bikin Ibu malu sampai kapan? Di depan keluarga besar ngomong seperti itu!"
Keira melihat keluar jendela. "Mereka yang mulai."
"Mereka orang tua!"
"Orang tua juga bisa bodoh."
Pak Prasetyo menutup mata. Bayu menggigit bibir agar tidak tertawa. Laras menatap Keira dengan wajah gelap, tetapi ia tidak berani menyela.
Angkot berhenti di lampu merah. Di luar, seorang pedagang asongan mengetuk kaca menawarkan tisu. Keira melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca kusam. Tubuh ini masih belum ideal, pipinya masih penuh, tetapi matanya sudah bukan milik gadis yang bisa ditertawakan tanpa akibat.
Bayu mengikuti arah pandangnya. Pelan-pelan, ia bertanya, "Mbak tadi sengaja?"
"Apa?"
"Bikin mereka takut jawab."
"Mereka belum takut. Baru kaget."
"Nanti?"
Keira menoleh sedikit.
"Nanti mereka belajar."
Bayu diam sebentar, lalu menatap tangannya sendiri. "Aku tadi takut."
"Aku tahu."
"Tapi aku juga senang."
Keira tidak bertanya senang karena apa. Bayu menjawab sendiri.
"Biasanya kalau mereka ngomong begitu, aku cuma bisa dengar. Hari ini ada yang jawab."
Keira memalingkan wajah ke jendela angkot. "Kalau kamu sudah siap, kamu juga bisa jawab."
Bayu memegang bukunya lebih erat. Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar mustahil.
Di kursi depan, Laras mendengar semuanya dan menggigit bibir.
Ia membenci cara Bayu menatap Keira sekarang.
Seperti percaya.
Dan kepercayaan Bayu, bagi Laras, terasa lebih menyakitkan daripada semua sindiran Keira di meja makan.
Malamnya, Keira duduk di ruang belakang. Bayu memberinya teh tawar.
"Mbak marah?"
"Tidak."
"Lalu kenapa tadi jawab begitu?"
Keira memegang gelas hangat itu.
"Menunggu hari mereka semua diam."