NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Langkah di Balik Senyum

Darren tidak selalu marah dengan suara keras.

Kadang ia marah dengan rapat yang terlalu tenang, email yang dikirim pukul tiga pagi, dan daftar rekening yang dibekukan tanpa satu pun kalimat ancaman.

Naomi melihat sisi itu keesokan harinya.

Ruang kerja sementara Darren di Wijaya Estate dipenuhi layar. Billy berdiri di depan papan kaca, menempelkan nama-nama akun dompet digital kecil yang terhubung dengan pelaku gedung tua. Arman melaporkan pergantian jadwal penjagaan Arthur. Jason ikut video call dari Jakarta dengan wajah mengantuk.

"Tiga akun ini dibuka pakai identitas palsu," kata Billy. "Tapi top up awalnya lewat perusahaan vendor keamanan lama milik cabang Arthur."

Darren duduk di kursi, jari mengetuk meja pelan. "Bekukan."

"Kalau kita bekukan, mereka tahu kita sudah sampai sana."

"Mereka memang harus tahu."

Naomi menatapnya.

Darren menoleh, seolah merasakan pertanyaannya. "Kalau musuh merasa jejaknya aman, dia diam. Kalau jejaknya mulai terbakar, dia memilih menyelamatkan yang paling penting."

Jason menguap di layar. "Terjemahan: Dar lagi bakar semak buat lihat ular lari ke mana."

Naomi mengangkat alis. "Analogi yang tidak menenangkan."

"Welcome to keluarga Wijaya, Ci Nao."

Darren menatap layar. "Jas."

"Oke, oke. Aku diam."

Namun Ethan tidak menunggu semak terbakar sepenuhnya.

Siang itu, ia datang ke ruang kerja dengan map cokelat dan senyum sopan. Ia tidak masuk sebelum mengetuk. Tidak menaikkan suara. Bahkan menawarkan agar Naomi tetap duduk karena bahunya masih sakit.

"Aku dengar kau memeriksa vendor keamanan lama," kata Ethan pada Darren.

"Beritamu cepat."

"Ini rumahku juga."

"Untuk sementara, rumah ini penuh kameraku."

Ethan tersenyum tipis. "Justru itu. Aku membawa sesuatu sebelum kau menyimpulkan sendiri."

Ia meletakkan map di meja.

Di dalamnya ada laporan audit internal lima tahun lalu. Vendor keamanan yang kini dicurigai ternyata pernah direkomendasikan oleh Arthur sendiri sebelum kecelakaan. Ada tanda tangan Arthur, cap legal, dan beberapa catatan pembayaran lama yang tampak bersih.

Billy membaca cepat, wajahnya berubah. "Dokumen asli."

Darren tidak menyentuh map itu. "Kau simpan ini sejak kapan?"

"Sejak aku mengambil alih urusan ayahku." Ethan menatapnya tenang. "Kalau vendor itu bermasalah sekarang, kita harus cari siapa yang mengubahnya setelah Papa koma. Bukan menuduh orang yang paling mudah kau benci."

"Kau menawarkan bantuan?"

"Aku menawarkan data."

Naomi mengamati wajah Ethan. Ia selalu berbicara seperti itu: tidak meminta dipercaya, hanya meletakkan sesuatu yang membuat orang lain terlihat tidak adil jika menolak.

Darren akhirnya membuka map dengan ujung pena. "Billy, scan. Verifikasi."

"Baik, Bos."

Ethan menatap Naomi. "Bagaimana bahumu?"

Darren langsung mengangkat mata.

Naomi menjawab sendiri. "Lebih baik."

"Syukurlah." Ethan tersenyum. "Aku tidak ingin kau terluka karena kesalahpahaman di gedung itu."

"Kesalahpahaman?"

"Kau mengira aku Darren. Itu berbahaya."

Naomi menahan tatapannya. "Yang berbahaya bukan salah lihat. Yang berbahaya adalah seseorang tahu persis bagaimana membuatku salah lihat."

Untuk pertama kalinya hari itu, Ethan diam sedikit lebih lama.

Darren tersenyum kecil, jelas puas.

Ethan menatap mereka berdua, lalu mengangguk sopan. "Kalau begitu, semoga kalian menemukan orang itu."

Ia pergi setenang saat datang.

Begitu pintu tertutup, Jason di layar bersiul. "Aku benci harus bilang ini, tapi dia rapi banget."

"Terlalu rapi," kata Naomi.

Darren menatap map cokelat itu. "Dia tidak datang untuk membantu. Dia datang untuk mengukur sejauh mana kita tahu."

"Atau untuk membuat kita mengejar arah yang dia pilihkan," sambung Naomi.

Darren menoleh padanya. Di wajahnya ada kilatan lembut yang cepat sekali, seperti orang yang ingin mengelus kepala istrinya, tetapi sadar di ruangan itu masih ada dua asisten dan satu sahabat yang terlalu suka berkomentar.

Jason tetap berkomentar juga. "Ci Nao, kalau Dar pensiun, kamu bisa ambil kursi CEO."

"Dia tidak perlu kursi CEO," kata Darren malas. "Dia sudah ambil kursi paling mahal di hidupku."

Naomi menatapnya datar. "Ini bukan waktunya menggombal."

"Justru ini waktunya. Kalau tidak, aku bisa benar-benar memukul orang."

Billy pura-pura sibuk dengan tablet, tetapi ujung bibirnya bergerak. Arman batuk kecil di dekat pintu.

Naomi akhirnya mengambil satu sarung tangan tipis dari kotak dokumen dan membalik halaman audit itu. Bahunya masih nyeri setiap kali ia mengangkat tangan terlalu tinggi, jadi Darren langsung berdiri di belakangnya, menahan lengan kursi agar tubuhnya tidak perlu condong.

Gerakan itu kecil. Tidak ada kata manis. Tapi Naomi tahu, Darren sedang menjaga jarak antara tubuhnya dan rasa sakit.

"Tanggal rekomendasi vendor ini tiga hari sebelum Arthur kecelakaan," kata Naomi pelan.

Billy mendekat. "Iya. Tapi pembayaran lanjutan baru aktif dua bulan setelah kecelakaan."

"Saat Arthur sudah koma," lanjut Naomi.

Darren menyentuh sudut kertas dengan pena. "Dan tanda tangan persetujuan pembayaran lanjutan bukan tanda tangan Arthur."

Ruang itu mendadak hening.

Jason di layar langsung membungkuk ke kamera. "Tunggu. Jadi map yang dibawa Ethan kelihatan membela Arthur, tapi sebenarnya juga membuka kemungkinan ada orang yang memakai nama Arthur setelah dia koma?"

"Bingo," kata Darren.

Naomi merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Ethan membawa bukti yang terlihat seperti tameng. Namun di tangan Darren, tameng itu bisa berubah jadi pisau yang mengarah balik.

"Kalau Ethan sepintar itu," kata Naomi, "dia pasti tahu kau akan melihat tanda tangan ini."

"Maka pertanyaannya bukan apakah dia tahu." Darren tersenyum tipis. "Pertanyaannya, dia ingin aku melihat sampai bagian mana."

Billy menelan ludah. "Bos, ada satu lagi."

Ia membuka hasil scan lama dari arsip Wijaya Group. Di pojok laporan, ada catatan kecil tentang pergantian petugas lapangan. Nama-nama petugas sudah tidak aktif, tetapi salah satu nomor kontak darurat pernah muncul di daftar panggilan staf vila tempat Arthur dirawat.

Arman mendekat, wajahnya menegang. "Nomor itu pernah menghubungi perawat malam dua hari sebelum Tuan Arthur sadar."

Darren tidak mengangkat suara. Justru karena itulah udara terasa makin berat.

"Tarik semua rekaman panggilan staf. Jangan umumkan dulu."

"Baik, Bos."

Naomi menatap layar, lalu menatap pintu yang tadi dilewati Ethan. Di luar sana, Rumah Besar tetap terlihat indah. Lampu kristal menyala, pelayan berjalan tanpa suara, bunga segar diganti sebelum layu.

Tetapi di bawah lantai marmer itu, sesuatu sedang merayap.

Billy mengangkat tabletnya. "Bos, ada kabar dari ruang Arthur. Kamera luar menangkap seseorang mendekati pintu servis lima menit setelah Ethan masuk ke sini."

Darren berdiri.

"Siapa?"

Billy memutar video.

Di layar, seseorang berpakaian perawat berhenti di depan pintu servis ruang Arthur. Wajahnya tertutup masker, tubuhnya kecil, dan gerakannya ragu. Sebelum membuka pintu, ia seperti melihat ke arah kamera, lalu mundur dan pergi.

Naomi merasakan dingin di lehernya.

Darren menatap layar, lalu map yang baru dibawa Ethan.

"Dia tahu kita memasang kamera," kata Naomi.

"Atau dia baru saja memastikan orang lain tahu."

Ponsel Darren berbunyi.

Pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

Kau bukan satu-satunya yang bisa memasang umpan.

Darren tersenyum tanpa hangat.

Ethan baru saja melangkah satu kotak lagi.

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!