NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Mobil Porsche hitam itu berhenti cukup lama di pinggir jalan kawasan vila Bukit Menteng. Dari luar mobil itu terlihat biasa saja, hanya seperti mobil mahal milik orang kaya yang sedang menunggu gerbang dibuka. Namun jika ada orang yang berdiri cukup dekat, ia pasti akan melihat kaca mobil bagian dalam sudah dipenuhi embun tipis, dan mendengar napas dua orang yang masih belum benar-benar teratur.

Arka Pradana duduk di balik kemudi dengan tubuh kaku. Kedua tangannya masih mencengkeram setir, padahal mobil sudah berhenti sejak beberapa menit lalu. Kemeja hitam seragam Nirwana Club yang ia pakai tampak kusut, beberapa kancing atasnya terbuka, dan rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan seperti baru saja keluar dari keributan besar.

Di kursi samping, Maya Santoso justru terlihat jauh lebih tenang. Wanita itu menarik ritsleting gaun hitamnya dengan gerakan pelan, seolah baru saja merapikan gaun setelah turun dari pesta, bukan setelah membuat seorang laki-laki muda hampir kehilangan akal di dalam mobil. Rambutnya sedikit berantakan di bahu, lipstiknya memudar di sudut bibir, dan kulit lehernya masih menyimpan bekas merah samar yang membuat Arka tidak berani menatap terlalu lama.

Maya menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengatur napas. Dadanya naik turun lebih lambat dari Arka, tetapi mata wanita itu tetap hidup, basah, dan malas.

Maya menoleh ke arah Arka dan tersenyum tipis saat melihat laki-laki itu masih seperti kehilangan separuh nyawanya.

"Kenapa diam begitu? Menyesal?" tanya Maya dengan suara serak yang terdengar malas, seolah kejadian beberapa menit lalu bukan sesuatu yang bisa membuat seorang pelayan biasa seperti Arka kehilangan pekerjaan, bahkan mungkin kehilangan nyawa.

Arka ingin menjawab, tapi lidahnya terasa kelu. Bagaimana mungkin dia tidak panik? Wanita di sampingnya bukan wanita biasa. Maya Santoso adalah pemilik Nirwana Club, wanita yang selalu dikelilingi orang kuat dan dikenal dekat dengan Jaya Harim, salah satu nama paling ditakuti di dunia malam Jakarta. Arka hanya pelayan biasa yang malam ini mendapat tugas mengantar Maya pulang karena wanita itu sedikit mabuk setelah minum bersama teman-temannya.

Awalnya semua masih normal. Arka menyetir dengan hati-hati, sementara Maya duduk di sampingnya sambil memejamkan mata. Aroma parfum mahal wanita itu memenuhi kabin mobil, bercampur dengan wangi wine yang tersisa dari napasnya. Arka sudah berusaha untuk tidak melirik, tapi gaun hitam Maya terlalu pas di tubuhnya. Kain itu mengikuti lekuk tubuhnya dengan cara yang tidak perlu sengaja menggoda pun sudah cukup membuat laki-laki waras kehilangan fokus.

Maya rupanya menyadari itu. Di tengah perjalanan, tepat saat mobil berhenti di lampu merah yang sepi, wanita itu membuka mata dan menatap Arka dari samping.

"Kamu tegang sekali. Aku menakutkan ya?"

"Tidak, Bu Maya," jawab Arka cepat.

Maya tertawa kecil. "Kalau tidak takut, kenapa dari tadi menelan ludah terus?"

Arka langsung salah tingkah. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya hanya fokus menyetir, tapi Maya sudah lebih dulu melepas sabuk pengaman. Bunyi klik itu terdengar kecil, namun di kabin yang tertutup rapat rasanya seperti tanda bahaya. Wanita itu condong mendekat, ujung jarinya menyentuh kerah kemeja Arka, lalu turun perlahan ke dadanya.

"Pria sepertimu lucu juga," bisik Maya dekat telinganya. "Kelihatan takut, tapi tubuhmu tidak bilang begitu."

Sebelum Arka sempat memahami maksud ucapan itu, Maya sudah menarik dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman itu tidak terburu-buru. Ia menggigit pelan, melepas, lalu kembali mendekat dengan napas hangat yang membuat kepala Arka kosong.

Selama lima tahun Arka hidup seperti pria yang tidak lengkap. Ia sudah pergi ke dokter, minum obat, mencoba terapi, bahkan diam-diam menemui orang pintar karena terlalu putus asa. Semua tidak berguna. Namun malam ini, hanya karena ciuman seorang wanita matang yang berbahaya, tubuhnya seperti tersentak bangun dari tidur panjang.

Arka sempat ingin menjauh. Ia ingat dirinya sudah menikah. Ia juga ingat Maya bukan wanita yang boleh disentuh sembarang orang. Tapi Maya tidak memberinya kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Wanita itu kembali menciumnya, kali ini lebih dalam, lebih berani, dan Arka yang sudah terlalu lama merasa mati sebagai laki-laki akhirnya kehilangan kendali.

Kursi mobil dimundurkan. Maya menarik bahu Arka, sementara Arka menahan pinggang wanita itu dengan tangan yang awalnya masih gemetar. Maya merasakan kegugupan itu dan tertawa rendah di bibirnya.

"Baru begini saja sudah kacau?" bisiknya.

Kalimat itu seperti tamparan halus. Arka yang semula masih kaku tiba-tiba menahan pinggang Maya lebih kuat. Wanita itu tidak marah. Justru sudut bibirnya naik, seolah akhirnya melihat sesuatu yang menarik keluar dari laki-laki yang sejak tadi hanya berusaha sopan.

Ruang di dalam mobil sempit, membuat tubuh mereka saling menempel tanpa jarak. Maya menuntun tangan Arka ke tempat yang ia inginkan, menahan napasnya tepat di telinga laki-laki itu, lalu sengaja berhenti sebentar hanya untuk melihat Arka dibuat gelisah oleh jeda yang ia ciptakan.

"Jangan cuma berani di pikiran," ucap Maya pelan.

Mata Arka berubah.

Setelah itu, permainan tidak lagi hanya milik Maya. Arka menariknya lebih dekat, membuat wanita matang itu untuk pertama kalinya mengeluarkan suara tertahan yang tidak sempat ia atur. Maya sempat menatapnya dengan alis terangkat, seolah terkejut melihat pelayan muda yang penurut itu tiba-tiba punya tenaga sebesar itu. Namun keterkejutan itu cepat berubah menjadi senyum puas.

"Nah," Maya berbisik, napasnya mulai pecah, "ternyata bisa."

Gaun hitamnya bergeser di paha. Kaca depan semakin berkabut. Arka mencium leher Maya, sementara tangan wanita itu meremas rambutnya dan menariknya lebih dalam ke dekat tubuhnya. Maya masih mencoba mengendalikan ritme, tetapi setiap kali Arka menekan lebih tegas, kelopak matanya bergetar dan senyumnya sedikit retak.

Saat batas terakhir benar-benar mereka lewati, Maya menahan napas panjang. Ia memeluk bahu Arka, menekan wajahnya ke sisi leher laki-laki itu, lalu mengeluarkan tawa kecil yang basah dan serak.

"Pelan-pelan, anak muda," katanya, tetapi pinggangnya justru menarik Arka lebih dekat.

Kata-kata itu membuat darah Arka semakin panas. Ia tidak lagi merasa seperti laki-laki yang rusak. Sesuatu yang lima tahun hilang darinya seperti kembali di dalam kabin sempit itu. Maya masih mencoba tersenyum mengejek, tetapi setelah beberapa kali ritme Arka membuat napasnya terputus, wanita itu tidak lagi sempat bicara sebanyak tadi.

Arka tidak tahu berapa lama semuanya berlangsung. Yang ia ingat hanya kaca depan yang semakin buram, aroma parfum Maya yang semakin pekat, tumit sepatu wanita itu yang beberapa kali membentur pintu mobil, dan suara Maya yang berubah dari tawa menggoda menjadi napas tertahan di dekat telinganya.

Bahkan saat tubuhnya masih gemetar halus, Maya masih sempat menggigit pelan bibir bawah Arka dan tertawa di sela napasnya.

"Ternyata kamu tidak selemah wajahmu."

Kalimat itu membuat Arka seperti disiram air dingin. Setelah panas itu mereda, rasa takut langsung datang. Ia sadar apa yang baru saja mereka lakukan. Ia sadar siapa Maya. Ia juga sadar dirinya sendiri masih punya istri di rumah, istri yang selama ini ia pikir paling sabar menerima kekurangannya.

Maya menyalakan rokok tipis. Asap mint menyebar pelan di dalam mobil. Ia tidak tampak menyesal, malah seperti menikmati wajah Arka yang masih kacau.

"Pulanglah," ucap Maya sambil membuang asap ke samping. "Anggap saja malam ini tidak pernah terjadi."

Arka menoleh padanya. "Bu Maya..."

"Jangan banyak bertanya." Maya merapikan kerah kemejanya dengan jari yang masih hangat. Gerakannya terlihat lembut, tapi tatapannya tetap membuat Arka tidak berani macam-macam. "Kalau aku membutuhkanmu, aku akan menghubungimu."

Arka hanya bisa mengangguk. Ia turun dari mobil dengan langkah yang hampir tidak stabil, lalu berjalan meninggalkan kawasan vila. Di belakangnya, Maya masih menatap dari dalam mobil. Wanita itu mengisap rokok sekali lagi, kemudian tersenyum kecil melihat punggung Arka yang terlihat seperti orang baru saja selamat dari kecelakaan.

"Penakut," gumamnya, "tapi menarik."

Saat Arka sampai di kontrakan kecilnya di Tebet, langit sudah mulai terang. Gang sempit di depan kontrakan masih sepi, hanya ada suara motor lewat sesekali dan pedagang bubur yang baru menata gerobaknya di ujung jalan. Kontrakan Arka jauh sekali dari vila tempat Maya tinggal. Dindingnya lembap, sofa ruang tamunya sudah robek di salah satu sisi, dan di atas meja masih berserakan tagihan pinjaman online, cicilan motor, serta catatan utang keluarga Hana yang jumlahnya membuat kepala siapa pun pening.

Arka melepas sepatu dengan pelan. Dari kamar mandi terdengar suara air. Hana sedang mandi.

Mendengar suara istrinya, rasa bersalah yang sejak tadi bersembunyi di dada Arka langsung muncul lagi. Selama ini Hana selalu terlihat sabar di hadapannya. Mereka berpacaran sejak kuliah, lalu menikah meski hidup mereka jauh dari mapan. Hana tahu Arka punya masalah sebagai laki-laki, tapi ia tetap berkata tidak apa-apa. Hana juga tetap bertahan saat keluarga mereka dikejar utang hampir Rp4,8 miliar akibat bisnis orang tua Hana yang gagal. Karena itulah Arka bekerja siang malam. Siang mengantar makanan, malam menjadi pelayan di Nirwana Club, kadang menerima pekerjaan apa pun asal bisa membawa pulang uang.

Arka duduk di sofa sambil menunduk. Ia merasa seperti laki-laki paling brengsek di dunia karena baru saja melewati batas dengan Maya. Namun di sisi lain, ada bagian dirinya yang tidak bisa membohongi kenyataan bahwa tubuhnya yang mati lima tahun justru hidup kembali malam ini. Ia tidak tahu harus senang atau takut.

Ia berpikir untuk bicara baik-baik dengan Hana. Mungkin tidak perlu mengakui semuanya malam itu juga, tapi setidaknya ia ingin memperbaiki pernikahan mereka. Kalau tubuhnya sudah kembali normal, mungkin ia bisa menebus semua penantian Hana. Pikiran itu baru saja muncul saat ponsel Hana yang tergeletak di sofa bergetar beberapa kali.

Arka awalnya tidak ingin menyentuhnya. Ia bukan tipe suami yang suka memeriksa ponsel istri. Tapi layar ponsel itu menyala tanpa kunci, dan nama Bima muncul begitu jelas di sana. Bima Hartono. Sahabat dekat Hana yang selama ini selalu disebut hanya teman lama, pria yang juga mengenalkan Arka ke Nirwana Club.

Arka menatap layar itu beberapa detik. Ada rasa tidak enak yang tiba-tiba muncul, lebih kuat dari rasa lelahnya. Akhirnya ia mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang masuk.

Wajah Arka berubah pelan.

Bima menanyakan apakah Hana sudah memasukkan obat ke kopi Arka hari ini. Hana menjawab sudah, bahkan menambah dosis agar Arka tetap tidak bisa menjadi laki-laki normal. Pesan berikutnya membuat dada Arka terasa seperti diremas. Mereka membicarakan dirinya seperti bahan lelucon. Hana menulis bahwa ia paling suka melihat Arka merasa bersalah, sementara Bima menertawakan kerja keras Arka yang setiap hari membayar utang keluarga Hana. Di pesan terakhir, mereka bahkan menyinggung asuransi jika suatu hari Arka benar-benar hancur dan mati.

Arka membaca semuanya berkali-kali karena otaknya seperti menolak percaya. Tangannya perlahan mengencang di sekitar ponsel. Jadi selama lima tahun ini bukan penyakit, bukan stres, dan bukan nasib buruk seperti yang ia kira. Hana dan Bima yang membuatnya seperti itu. Mereka meracuni kopi yang ia minum hampir setiap hari, lalu berpura-pura menjadi orang yang paling peduli saat Arka jatuh dalam rasa malu dan putus asa.

Pintu kamar mandi terbuka.

Hana keluar dengan handuk putih melilit tubuh. Rambutnya basah, wajahnya masih segar setelah mandi. Biasanya pemandangan itu akan membuat Arka merasa bersalah karena tidak bisa menjadi suami yang baik. Pagi ini, yang muncul hanya rasa muak.

Hana berhenti saat melihat ponsel di tangan Arka.

"Arka? Kenapa kamu pegang ponselku?"

Arka mengangkat layar ponsel itu ke arahnya. "Obat apa yang kamu campur ke kopiku?"

Wajah Hana langsung berubah. Ia memang cepat sekali menutupinya, tapi Arka sudah melihat cukup jelas. Kepanikan kecil di mata Hana membuat semua pesan itu tidak perlu dijelaskan lagi.

"Aku tidak tahu maksudmu," ucap Hana, berusaha terdengar marah. "Kamu pulang pagi-pagi, bukannya jelasin dari mana, malah nuduh macam-macam."

Arka berdiri dari sofa. "Masih mau akting?"

Hana menatapnya beberapa saat. Mungkin ia sadar tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Wajah cantik yang selama ini selalu terlihat lembut di depan Arka perlahan berubah dingin. Ia mengencangkan handuk di tubuhnya, lalu tersenyum sinis.

"Iya, aku yang melakukannya. Terus kamu mau apa?"

Arka tidak langsung menjawab. Ia merasa seperti mendengar sesuatu pecah di dalam dadanya. Bukan cinta, karena mungkin cinta itu sudah lama membusuk tanpa ia sadari. Yang pecah adalah sisa kepercayaan bodoh yang selama ini membuatnya tetap bertahan.

Hana melipat tangan di depan dada. "Kamu benar-benar pikir aku menikah denganmu karena cinta? Arka, lihat hidupmu. Kamu miskin, tidak punya masa depan, bahkan sebagai laki-laki saja kamu gagal. Kalau bukan karena kamu gampang dimanfaatkan, mana mungkin aku mau tinggal di tempat seperti ini?"

"Jadi utang keluargamu..."

"Kamu yang mau bayar sendiri." Hana tertawa pendek. "Aku tidak pernah memaksamu. Kamu saja yang bodoh, merasa jadi suami paling bertanggung jawab. Aku dan Bima sampai capek tertawa setiap melihatmu pulang dengan wajah lelah."

Arka menatap wanita di depannya. Wanita yang dulu ia bela dari omongan orang, wanita yang ia pilih meski hidupnya sendiri berantakan, ternyata selama ini hanya menjadikannya sapi perah.

"Kamu bahkan menunggu aku mati demi asuransi?"

Hana tidak menjawab langsung. Tapi senyum di wajahnya sudah cukup.

Darah Arka naik ke kepala. Ia melangkah maju, membuat Hana tanpa sadar mundur sedikit. Namun Hana masih mencoba menyelamatkan harga dirinya dengan ancaman yang selama ini mungkin selalu berhasil membuat Arka diam.

"Jangan macam-macam. Bima itu anak angkat Bos Jaya. Kalau dia tahu kamu berani menyentuhku, kamu bisa hilang dari Jakarta."

Arka berhenti tepat di depan Hana. Tatapannya tidak lagi bingung, tidak lagi lemah seperti dulu. Untuk pertama kalinya Hana melihat sesuatu yang asing di mata suaminya, dan hal itu membuat tenggorokannya mendadak kering.

"Dulu aku pikir kamu rumah," ucap Arka pelan. "Ternyata aku cuma numpang di kandang yang penuh racun."

Tamparan itu mendarat di wajah Hana. Tidak sampai membuatnya terluka parah, tapi cukup keras untuk membuatnya jatuh terduduk di sofa. Hana memegangi pipinya dengan mata melebar. Selama ini Arka bahkan jarang membentak. Melihatnya berani menampar balik membuat Hana akhirnya sadar bahwa laki-laki di depannya bukan lagi orang bodoh yang bisa ia injak sesuka hati.

"Ganti baju," kata Arka.

Hana menatapnya penuh kebencian. "Kamu mau apa?"

"Urus perceraian."

"Kamu pikir aku takut?"

Arka mengambil ponselnya sendiri, memotret seluruh percakapan, lalu mengirim salinannya ke email pribadinya. Setelah itu ia menatap Hana dengan wajah dingin.

"Kalau kamu tidak ikut, semua bukti ini aku kirim ke rumah sakit tempatmu kerja, ke keluarga besarmu, ke polisi, dan kalau perlu ke media. Cerita istri yang meracuni suami lima tahun demi selingkuhan dan uang asuransi pasti ramai dibaca orang."

Wajah Hana yang tadi masih sombong mulai pucat. Ia tahu Arka tidak sedang menggertak. Atau mungkin lebih tepatnya, untuk pertama kalinya ia tidak yakin bisa mengendalikan Arka lagi.

"Arka..."

"Jangan panggil namaku seolah kita masih suami istri."

Hana terdiam.

Arka melempar pakaian Hana dari kursi ke arahnya. "Sepuluh menit. Kalau kamu masih belum siap, aku mulai kirim buktinya satu per satu."

Hana menggigit bibir, marah sekaligus takut. Namun ia akhirnya bangkit dan masuk ke kamar dengan langkah berat.

Arka berdiri di ruang tamu yang sempit itu sambil menatap ponsel di tangannya. Dari dalam kamar terdengar suara lemari dibuka dengan kasar, disusul isak tertahan Hana yang masih berusaha menahan marah.

"Waktumu tinggal sembilan menit," ucap Arka tanpa menoleh.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!