Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Let's Berkebun
Keesokan paginya, undangan pertunangan Kevin dan Felicia tergeletak di meja sarapan seperti benda asing yang sengaja dibiarkan beracun.
Amplop merah marun itu tampak terlalu cantik. Pita emasnya masih rapi, huruf di depannya dicetak timbul, dan alamat Villa di Puncak tertulis dengan gaya yang ingin membuat penerimanya merasa kecil.
Sekar menaruh semangkuk bubur ayam di depan Ardian, lalu melirik amplop itu.
"Jadi kita benar-benar datang?"
Ardian mengambil sendok. "Datang."
"Padahal mereka jelas ingin mempermalukan Pak Tan."
"Justru karena itu."
Sekar duduk di kursi seberang, tidak makan, hanya menatapnya. "Saya butuh versi lengkap, bukan versi Tuan Muda tiga kata."
Ardian mengaduk bubur sekali. "Kalau aku menolak datang, Kevin akan tahu aku curiga."
"Dia sudah tahu Pak Tan tidak suka dia."
"Tidak suka berbeda dengan curiga dia mencoba membunuhku."
Sendok di tangan Sekar berhenti.
Ruangan makan terasa lebih dingin.
Ardian melanjutkan, suaranya datar, "Dia perlu percaya bahwa aku masih sibuk marah, malu, dan membenci dunia. Kalau aku datang sebagai orang yang tampak mudah dipermalukan, dia akan merasa rencananya berhasil. Orang yang merasa menang biasanya ceroboh."
Sekar menatap amplop itu lagi. "Jadi pesta pertunangan ini umpan."
"Asap."
"Asap?"
"Smoke bomb," kata Ardian. "Aku memberi mereka panggung. Mereka mengira aku berdiri di tengah panggung untuk ditertawakan, padahal aku ingin melihat siapa yang bertepuk paling keras."
Sekar terdiam beberapa saat.
Ia ingin bilang itu berbahaya. Ia ingin bilang orang yang sudah berani mengatur kecelakaan tidak akan berhenti hanya karena ada tamu dan kamera. Tetapi ia juga tahu, hidup Ardian sejak kecelakaan bukan hidup orang yang bisa diselamatkan hanya dengan bersembunyi.
"Kalau ada yang aneh, saya lapor ke Pak Tan dulu atau langsung ke Dok Rio?"
"Aku dulu. Kalau menyangkut tubuhku, Rio."
"Kalau menyangkut orang yang mau menjatuhkan Pak Tan?"
"Aku."
"Kalau Pak Tan sok kuat?"
Ardian menatapnya.
Sekar mengambil sticky note. "Baik. Itu berarti Dok Rio."
"Budiman Sekar."
"Saya hanya mengikuti protokol."
Dari pintu dapur, staf rumah membawa dua pot tanaman kecil. "Mbak Sekar, ini pesanan tanaman yang datang pagi ini. Mau ditaruh di halaman belakang?"
Sekar langsung berdiri. "Melati dan mawar?"
"Iya, Mbak."
Ardian melihatnya. "Kamu membeli tanaman?"
"Saya membeli masa depan halaman belakang."
"Dengan uang siapa?"
"Uang saya." Sekar mengangkat dagu. "Tapi kalau Pak Tan mau berinvestasi, saya terbuka."
Ardian menatap dua pot itu. Satu berisi melati dengan daun hijau rapat, satu berisi mawar merah muda yang masih kuncup. "Untuk apa?"
"Agar halaman ini tidak hanya terlihat seperti tempat rapat orang kaya yang tidak punya hobi."
Setengah jam kemudian, Ardian berada di halaman belakang, kursi rodanya berhenti di jalur batu. Sekar sudah menggulung lengan kemeja, memakai topi lebar, dan memegang sekop kecil. Tukang kebun rumah menyiapkan lubang tanam, lalu mundur setelah Sekar bersikeras ingin memasukkan tanaman sendiri.
"Kamu tahu caranya?" tanya Ardian.
"Tahu dari YouTube."
"Itu bukan jawaban yang menenangkan."
"Saya juga pernah bantu Mama menanam cabai di ember. Cabainya mati, tapi pengalamannya hidup."
"Makin tidak menenangkan."
Sekar tertawa. Ia berjongkok di dekat lubang tanam, mengeluarkan melati dari polybag dengan hati-hati. Tanah lembap menempel di jarinya. Aroma hijau, basah, dan sedikit manis naik saat akar tanaman menyentuh tanah baru.
"Melati dulu," katanya. "Biar halaman ini punya wangi yang sopan."
"Dan mawar?"
"Biar ada yang dramatis. Rumah ini kekurangan drama yang sehat."
"Kekurangan?"
"Drama sehat, Pak. Bukan drama mantan tunangan membawa undangan."
Ardian tidak membantah.
Sekar menepuk tanah di sekitar tanaman. "Nanti kalau melati sudah banyak, bisa dekat ayunan."
"Ayunan?"
Mata Sekar langsung menyala. "Iya. Di situ." Ia menunjuk pohon besar di sisi halaman. "Bukan ayunan anak kecil yang plastik, tapi ayunan kayu yang kuat. Bisa duduk sore-sore, minum teh, baca buku, pura-pura hidup damai."
"Kamu banyak sekali rencana untuk halaman orang."
"Saya asisten rehabilitasi pribadi. Lingkungan pasien memengaruhi suasana hati pasien."
"Itu alasan medis palsu."
"Tapi terdengar resmi."
Ardian melihat tempat yang ditunjuknya. Bayangan pohon jatuh di rumput. Tidak sulit membayangkan ayunan kayu di sana. Tidak sulit juga membayangkan Sekar duduk di atasnya, kaki bergerak, mulut tidak berhenti bicara.
Ia mengalihkan pandangannya terlalu cepat.
"Area BBQ di mana?" tanya Sekar tiba-tiba.
"Sekarang ada BBQ juga?"
"Tentu. Kalau halaman sudah punya bunga dan ayunan, harus ada tempat makan. Pak Darren bisa memanggang sosis. Pak Tan bisa duduk sambil mengkritik tingkat gosong. Saya bisa makan."
"Kamu membangun kerajaan sendiri."
"Kerajaan kecil. Pak Tan boleh jadi investor diam."
"Aku tidak pernah diam kalau investasiku buruk."
"Berarti harus bagus."
Sekar kembali menepuk tanah. Saat mengangkat pot mawar, lengan bajunya kotor. Ia tidak peduli. Di bawah matahari pagi, wajahnya tampak hidup, seperti Dufan versi halaman rumah.
Ardian menatapnya terlalu lama.
Sekar tidak sadar. Ia sibuk mengatur posisi mawar sambil berkata, "Sebenarnya dulu saya melamar ke PT Lestari Group bukan untuk pekerjaan seperti ini."
Ardian diam.
"Saya daftar posisi Business Development. Waktu itu saya sampai baca profil perusahaan, produk, strategi ekspansi, segala macam. Saya pikir kalau diterima, saya bisa belajar dari dalam. Tapi entah kenapa, yang menghubungi saya malah agensi pengasuh. Katanya data saya masuk jalur kebutuhan rumah keluarga Tan."
Sekar tertawa kecil, tidak pahit, hanya heran. "Hidup memang lucu. Saya mau masuk kantor, malah masuk rumah bosnya."
Tanah di bawah roda kursi Ardian seolah menjadi lebih berat.
Business Development.
PT Lestari Group.
Data masuk jalur kebutuhan rumah keluarga Tan.
Tidak mungkin.
Rekrutmen pengasuh keluarga Tan tidak mengambil kandidat dari jalur Business Development. Dua sistem itu berbeda. Satu melalui HRD internal dan talent pool, satu melalui agensi rumah tangga yang dipakai Darren saat panik.
Kecuali ada orang yang mengubah jalurnya.
"Pak Tan?" panggil Sekar.
Ardian mengangkat wajah.
"Tanamannya miring?"
Ia menatap mawar itu. "Sedikit."
Sekar langsung memperbaiki posisi tanaman, sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat santainya baru saja membuka pintu lain dalam kepala Ardian.
Setelah melati dan mawar selesai ditanam, Sekar berdiri dengan tangan penuh tanah dan wajah puas.
"Selesai. Kalau nanti bunganya hidup, kita foto untuk kulkas."
"Kalau mati?"
"Kita foto juga sebagai bukti perjuangan."
"Jangan."
Sekar tertawa sambil berjalan ke keran halaman untuk mencuci tangan.
Ardian menatap dua tanaman kecil itu. Melati dan mawar berdiri berdampingan, rapuh tapi keras kepala, seperti tidak tahu bahwa halaman Rumah Tan bukan tempat yang ramah untuk hal-hal lembut.
Malamnya, setelah Sekar selesai mencatat jadwal pijat dan keluar dari ruang kerja, Ardian membuka buku catatan kulit cokelat.
Di halaman baru, ia menulis satu baris dengan pulpen hitam.
Selidiki: siapa yang mengubah CV-nya?