Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Pukul sembilan tepat, auditorium kembali penuh.
Kali ini, suasananya berbeda. Bukan lagi penasaran yang ringan seperti hari pertama. Orang-orang datang dengan ponsel di tangan, mata yang terlalu siaga, dan bisik-bisik yang berhenti setiap kali Meiran melewati baris kursi.
Di depan ruangan, tiga panel dosen sudah duduk. Di sisi kiri panggung, Wanyu berdiri bersama panitia, rapi, lembut, dan tampak seperti orang yang hanya ingin menjaga acara tetap profesional.
Meiran hampir menghargai aktingnya.
Sari duduk di baris belakang, membawa tablet dan flashdisk cadangan. Yanting berada di baris tamu undangan. Hafeng duduk di kursi peserta, dua baris dari Meiran, wajahnya dingin sejak masuk.
Ketika mata mereka bertemu, Hafeng bertanya tanpa suara.
Sekarang?
Meiran menggeleng tipis.
Belum.
Panel dimulai dengan presentasi konsep. Dua peserta maju lebih dulu. Tepuk tangan terdengar sopan. Lalu nama Lim Meiran dipanggil.
Meiran membawa panelnya ke depan.
Ia memulai bukan dengan membela diri.
Ia berbicara tentang pengguna.
Tentang orang yang berdiri di halte dengan tas basah. Tentang staf yang hanya punya sepuluh menit untuk duduk tanpa diminta cepat-cepat pergi. Tentang ruang kecil yang tidak menuntut orang terlihat produktif saat tubuh mereka hanya ingin berhenti.
Slide-nya bersih. Data awal ditampilkan dengan label jelas. Sketsa revisi dari Meja Kritik B masuk sebagai perkembangan proses, termasuk perubahan sirkulasi yang lahir dari kritik Hafeng.
"Dalam proses, kritik peserta lain membantu memperkuat desain," kata Meiran. "Semua kontribusi tercatat. Keputusan akhir tetap berada pada proposal saya."
Ia sengaja menyebutnya sebelum orang lain sempat mengubahnya menjadi tuduhan.
Panel pertama mengangguk.
Panel kedua bertanya tentang biaya.
Panel ketiga bertanya tentang perawatan material.
Meiran menjawab satu per satu.
Baru setelah itu, Wanyu mengangkat tangan.
"Maaf, Bapak dan Ibu panel," katanya lembut. "Karena ada isu yang sudah beredar di antara peserta, panitia merasa perlu memastikan proses tetap adil. Ini bukan untuk menyerang siapa pun, hanya agar tidak ada kesalahpahaman."
Beberapa peserta langsung menegakkan punggung.
Hafeng berdiri.
Meiran menoleh. Satu tatapan saja.
Hafeng berhenti.
Wanyu melihat itu. Senyum kecilnya muncul, cepat, nyaris tidak terlihat.
"Silakan," kata panel pertama.
Wanyu menampilkan video delapan detik itu ke layar.
Hafeng di bawah payung.
Meiran di dekatnya.
Tubuh Hafeng miring melindungi.
Percikan air.
Gumaman segera bergerak di ruangan.
Wanyu memegang mikrofon dengan kedua tangan. "Kami ingin meminta klarifikasi. Apakah kedekatan personal antara peserta memengaruhi proses observasi dan objektivitas kritik?"
Pertanyaan itu rapi.
Terlalu rapi.
Meiran menatap layar, lalu menatap Wanyu.
"Video itu dipotong."
Wanyu menghela napas kecil. "Meiran, aku mengerti kamu tidak nyaman. Tapi yang dipertanyakan adalah persepsi publik, bukan hanya niat."
"Bagus. Kalau bicara persepsi, mari lihat kejadian lengkap."
Ia menoleh ke baris belakang. "Sari."
Sari berdiri tanpa tergesa, menyerahkan flashdisk kepada panitia teknis. Dalam tiga puluh detik, layar berubah.
Video lengkap dari ponsel Meiran muncul.
Wanyu menyuruh peserta menyebar di jalur sempit.
Lampu koridor berkedip.
Troli keluar dari pintu kantin.
Mahasiswa hampir menabrak Meiran.
Hafeng menahan mahasiswa itu, bukan menarik Meiran untuk drama.
Lalu rekaman CCTV dari sudut lain muncul. Lebih jelas. Terlihat posisi Wanyu yang berjalan lebih dulu tanpa memberi tanda, terlihat jalur sempit, terlihat percikan air dari motor yang melewati genangan terlalu cepat.
Ruangan diam.
Meiran berbicara dengan suara tenang.
"Saya tidak keberatan dikritik. Tapi kritik proses harus berdasarkan kronologi lengkap. Dalam observasi kemarin, catatan saya mencakup empat risiko: lampu koridor tidak stabil, jalur troli tanpa penanda, genangan dekat parkir motor, dan instruksi penyebaran peserta di area sempit. Semua sudah saya kirim ke panitia cadangan tadi malam."
Panel pertama menatap Wanyu. "Panitia menerima catatan ini?"
Wanyu membuka mulut, tetapi panitia teknis di sebelahnya menjawab lebih dulu, "Ada, Pak. Masuk lewat email keamanan kampus."
Bisik-bisik berubah arah.
Meiran melanjutkan, "Jadi kalau pertanyaannya apakah Hafeng mengganggu observasi, jawabannya tidak. Ia mencegah peserta bertabrakan di jalur berisiko. Kalau pertanyaannya apakah saya mendapat perlakuan khusus, silakan nilai dari video lengkap, bukan dari delapan detik yang kehilangan sebab."
Yanting menundukkan kepala, senyum tipis muncul di wajahnya.
Hafeng masih berdiri diam. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.
Panel kedua berkata, "Isu video dipotong kami catat. Evaluasi keamanan rute akan dibahas terpisah. Untuk penilaian desain, kami kembali ke proposal."
Itu seharusnya selesai.
Seharusnya.
Namun Wanyu tidak mundur.
Wajahnya masih lembut, tetapi matanya sudah kehilangan keseimbangan.
"Saya menerima klarifikasi kronologi," katanya. "Tapi pertanyaan batas profesional tetap relevan. Ko Hafeng adalah peserta. Meiran juga peserta. Kalau mereka memiliki hubungan khusus, bukankah itu memengaruhi cara mereka saling mengkritik dan bekerja?"
Ruangan menahan napas.
Hafeng akhirnya berjalan maju.
Tidak cepat.
Tetapi setiap langkahnya membuat suara kursi dan bisik-bisik berhenti.
"Aku peserta," katanya. "Bukan juri."
Wanyu menatapnya. "Tapi kamu jelas memihak."
"Aku mengkritik desainnya di depan semua orang."
"Kamu juga melindunginya di depan semua orang."
"Ya."
Kata itu kembali jatuh, lebih jelas daripada kemarin.
Wanyu seperti mendapat pintu yang ia tunggu. "Lalu bagaimana kami harus percaya bahwa kedekatan itu tidak memengaruhi proses?"
Hafeng menoleh ke panel. "Nilai proposalnya dari proposal. Nilai prosesnya dari rekaman lengkap dan catatan kerja. Kalau desainnya buruk, turunkan nilainya. Kalau kritikku salah, coret kritikku. Tapi jangan memakai fakta bahwa aku melindunginya sebagai bukti bahwa desainnya tidak layak."
Tidak ada yang langsung bicara.
Meiran menatap Hafeng.
Ada sesuatu yang berubah di wajahnya.
Dulu, laki-laki itu akan menyangkal. Akan mengatakan kebetulan. Akan bilang ia hanya lewat, hanya menjaga keselamatan umum, hanya tidak ingin masalah.
Sekarang ia berdiri di depan ruangan dan memilih mengakui bagian yang paling mudah digunakan untuk menyerangnya.
Wanyu menggenggam mikrofon lebih kuat. "Jadi kamu mengaku ada hubungan pribadi?"
Pertanyaan itu kasar dalam balutan suara lembut.
Hafeng menatapnya sebentar, lalu mengalihkan mata ke Meiran.
Semua orang mengikuti arah pandangnya.
Meiran berdiri di samping panel presentasinya. Lampu panggung mengenai rambutnya, membuat wajahnya tampak lebih pucat, tetapi matanya tetap tenang.
Hafeng berjalan ke arahnya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia berhenti tepat di depan Meiran, cukup dekat untuk membuat seluruh ruangan lupa bernapas.
"Meiran," katanya.
"Apa?"
Suara Meiran stabil, tetapi jarinya menekan ujung panel sedikit lebih kuat.
"Aku akan membuat ini jelas." Hafeng menatap matanya. "Kalau kamu tidak mau, bilang sekarang."
Auditorium sunyi.
Meiran merasakan semua tatapan menempel di punggungnya. Wanyu menunggu ia mundur. Yanting menunggu ia memilih. Sari di belakang mungkin sudah berhenti mengetik.
Meiran menatap Hafeng.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kebencian yang dipaksa menjadi alasan. Ia melihat pria yang masih kaku, masih buruk bicara, masih terlalu tajam di tepi, tetapi sedang meminta izin di depan semua orang karena ia tahu kali ini bukan tentang menang sendiri.
Sudut bibir Meiran naik sedikit.
"Kamu baru belajar minta izin?"
Hafeng menelan napas. "Aku sedang belajar banyak hal."
"Kalau begitu," bisik Meiran, cukup keras untuk mikrofon di dekat panel menangkapnya, "jangan setengah-setengah."
Hafeng menunduk.
Ciuman itu tidak kasar.
Tidak panjang.
Tetapi cukup nyata untuk menghentikan seluruh ruangan.
Bibirnya menyentuh bibir Meiran dengan tekanan yang tertahan, hangat, dan gemetar sedikit di detik pertama. Meiran tidak mundur. Jari-jarinya terlepas dari ujung panel dan menggenggam lengan jas Hafeng, bukan untuk mendorong pergi, tetapi untuk menahan dirinya tetap berdiri.
Satu detik.
Dua detik.
Ketika Hafeng menjauh, napas Meiran tertahan di tenggorokan.
**【Sistem Predator】Kontak intim aktif. Target memulai dengan izin tersurat dan respons Host positif.**
Nilai Cinta: 35.
Suara ruangan kembali seperti gelombang pecah.
Ada yang terkesiap. Ada yang menutup mulut. Ada yang langsung melihat Wanyu.
Wanyu berdiri pucat di sisi panggung.
Yanting menutup mata sebentar, lalu tersenyum dengan pahit yang sangat halus. "Itu... memang jelas."
Hafeng tidak menoleh ke siapa pun. Ia tetap melihat Meiran, seolah seluruh ruangan baru menjadi latar.
Meiran menarik napas, lalu mengambil mikrofon dari podium.
"Sekarang batasnya jelas," katanya. Suaranya sedikit lebih rendah, tetapi tidak pecah. "Kalau panel ingin menilai desain, panel saya ada di sini. Kalau panitia ingin menilai hubungan pribadi, pastikan dulu itu memang bagian dari rubrik."
Panel pertama batuk kecil, mencoba mengembalikan wibawa. "Penilaian tetap berdasarkan proposal dan proses yang terdokumentasi. Isu pribadi tidak masuk rubrik."
Tepuk tangan pertama datang dari peserta yang kemarin duduk di Meja Kritik B.
Lalu yang lain menyusul.
Tidak semua orang bertepuk tangan. Tidak perlu.
Cukup banyak yang melihat Wanyu dan paham bahwa serangannya berbalik arah.
Wanyu menurunkan mikrofon.
Untuk pertama kalinya sejak masuk auditorium, ia tidak punya kalimat lembut yang bisa dipakai.
Panel selesai dua puluh menit kemudian. Meiran tidak menunggu hasil akhir. Ia turun dari panggung dengan panel yang sudah kembali ke tangan Sari.
Hafeng berjalan di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Tapi semua orang sudah tahu ia bisa mendekat kapan saja.
Di lorong luar auditorium, Meiran baru sempat menghirup udara ketika ponselnya bergetar.
Sari melihat layar lebih dulu. Wajahnya berubah.
"Bu Lim."
Meiran mengambil ponsel.
Pesan dari kantor Lim Group masuk berturut-turut.
`Tiga vendor membatalkan jadwal pembayaran.`
`Bank meminta review ulang fasilitas kredit.`
`Pak Lim Tjeng Hong meminta Ibu segera pulang ke kantor.`
Sebelum Meiran sempat menjawab, Sisi muncul dengan suara yang tidak lagi bercanda.
**【Sistem Predator】Peringatan: Kekuatan Takdir bereaksi terhadap lonjakan Nilai Cinta. Nilai Kehancuran meningkat.**
Nilai Kehancuran: 24 → 39.
Meiran menatap angka itu.
Hangat ciuman Hafeng masih tertinggal di bibirnya.
Namun dunia sudah mulai menagih harga berikutnya.