Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Sama Seperti Kami Dulu
Kalimat itu menggema berulang-ulang di kepala Josh. Kalian bertiga... sama seperti aku dan kedua sahabatku dulu. Ia menatap sosok di hadapannya, mencoba memahami maksud kalimat singkat namun penuh beban itu, pikirannya berputar cepat menyusun kemungkinan yang semakin mengerikan.
Angin malam yang menyusup dari celah jendela kamarnya tiba-tiba terasa bergerak aneh, membentuk pola melingkar di sekitar sosok itu, seolah udara di sekelilingnya mematuhi hukum yang berbeda dari udara biasa.
"Kamu punya sahabat juga dulu?"
tanya Josh, suaranya nyaris berbisik.
"Mereka juga punya kekuatan kayak kita?"
Sosok itu tidak menjawab langsung. Sebaliknya, bayangan di sekeliling kamar Josh mulai berubah, dinding-dinding seolah larut dalam kegelapan, digantikan oleh pemandangan berbeda sebuah lorong sekolah yang familiar, namun terlihat lebih tua, dengan gaya arsitektur yang berbeda dari yang Josh kenal sekarang.
Ia menyadari, entah bagaimana caranya, ia sedang menyaksikan potongan ingatan atau visi dari masa lalu, seolah ditarik langsung ke dalam kenangan sosok itu sendiri.
Dalam visi itu, seorang remaja laki-laki wajahnya menyerupai foto yang mereka temukan di rumah tua berlari panik di lorong yang dipenuhi asap tebal, diikuti dua sosok lain di belakangnya: seorang gadis dengan mata yang dipenuhi ketakutan namun juga tekad, dan seorang laki-laki lain yang memegangi kepalanya sendiri sambil berteriak kesakitan, persis seperti yang pernah dilakukan Brandon.
Josh menyaksikan dengan ngeri saat remaja bernama Raka itu, dalam keputusasaannya, mencoba melindungi kedua sahabatnya dengan mengeluarkan ledakan energi serupa dengan yang pernah Josh rasakan, menghancurkan salah satu dinding untuk mencari jalan keluar bagi mereka bertiga. Namun alih-alih menyelamatkan semuanya, ledakan itu justru mempercepat robohnya sebagian bangunan, menjebak Raka sendirian di reruntuhan sementara kedua sahabatnya berhasil terdorong keluar oleh ledakan yang sama, sebelum api benar-benar melahap tempat itu.
Visi itu memudar secepat kemunculannya, mengembalikan Josh ke kamarnya yang temaram, dengan sosok pria berjas hitam masih berdiri di hadapannya, wajahnya kini basah oleh sesuatu yang menyerupai air mata yang tidak seharusnya bisa dimiliki oleh sesosok bayangan.
"Aku mengorbankan diriku supaya mereka berdua selamat,"
suara itu kembali menggema di kepala Josh, kali ini terdengar lebih menyedihkan daripada mengancam.
"Tapi aku tidak pernah sempat mengucapkan selamat tinggal. Aku terjebak di sini, di antara dunia mereka dan duniaku, menunggu waktu yang sama datang kembali."
"Terus kenapa kamu terus-terusan muncul di depan kita bertiga sekarang?"
tanya Josh, mencoba menahan rasa iba yang mulai bercampur dengan ketakutannya.
"Karena kalian bertiga punya kekuatan yang sama dengan kami. Dan waktu terus berulang, mencari tiga orang lagi yang bisa menyelesaikan apa yang tidak sempat kami selesaikan bersama-sama."
Josh tidak sepenuhnya memahami maksud kalimat itu, namun ia merasakan sesuatu yang penting sedang coba disampaikan kepadanya sebuah beban yang diwariskan dari satu kelompok korban ke kelompok berikutnya, terus berulang setiap kali jam menunjukkan pukul yang sama, setiap kali tiga jiwa dengan kemampuan serupa muncul di sekolah yang sama.
"Nama sahabat kamu... siapa?"
tanya Josh, entah kenapa merasa perlu tahu, seolah nama itu adalah kunci penting.
Sosok itu terdiam sesaat, seolah nama itu sendiri adalah beban yang berat untuk diucapkan.
"Salah satunya... masih hidup sampai sekarang. Dia mengajar di sekolah ini. Dia yang paling tahu apa yang harus kalian lakukan, meski dia sendiri terlalu takut untuk mengingatnya."
Josh merasa dadanya berdegup kencang. Pak Ian. Semua sikap aneh gurunya itu, ketakutan yang tersembunyi di balik matanya, jawaban yang selalu ia tunda semuanya kini masuk akal.
Ada satu pertanyaan lain yang sejak tadi mengganjal di dada Josh, sesuatu yang jauh lebih pribadi dari semua misteri besar yang baru saja terungkap.
"Waktu aku umur tiga tahun,"
katanya pelan, nyaris tidak yakin ingin bertanya,
"ibuku pernah cerita, aku sempat ngobrol sama 'teman' yang nggak keliatan siapa pun selain aku. Terus belakangan ini aku juga sering liat bayangan hitam yang lari-lari di deket aku. Itu kamu?"
Sosok itu terdiam cukup lama, dan untuk pertama kalinya sejak kemunculannya, raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang tulus, bukan kesedihan.
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud,"
jawabnya akhirnya, suaranya jujur namun juga gelisah.
"Aku baru menyadari keberadaanmu ketika kekuatanmu mulai bangkit, beberapa minggu lalu. Sebelum itu, aku tidak pernah mengenalmu."
Jawaban itu, alih-alih meredakan rasa penasaran Josh, justru menambah satu lapis misteri baru yang lebih membingungkan jika bukan Raka yang dulu "ngobrol" dengannya sewaktu balita, dan bukan pula Raka yang belakangan ini sering berlari melintas di ujung penglihatannya, lalu siapa, atau apa, dua kehadiran berbeda yang sama-sama menyelinap masuk ke dalam hidupnya itu?
Sosok itu mulai memudar perlahan, seolah energinya telah habis untuk menyampaikan pesan tersebut. Sebelum benar-benar menghilang, suara itu berbisik sekali lagi, lebih pelan dari sebelumnya, namun kali ini membawa nada peringatan yang jelas.
"Cari tahu... sebelum waktu itu datang lagi. Dan hati-hati bukan hanya aku yang menunggu di celah waktu ini. Ada yang lain, yang tidak sebaik aku, yang juga ingin memakai tubuh kalian bertiga sebagai jalan keluar."
Josh terjatuh duduk di lantai kamarnya, napasnya memburu, pikirannya dipenuhi pertanyaan baru yang jauh lebih membingungkan dan menakutkan dari sebelumnya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak sebaik Raka. Dan sesuatu itu, entah bagaimana, sudah tahu keberadaan mereka bertiga.
Ia butuh waktu cukup lama sebelum berani bangkit dan menyalakan lampu kamarnya kembali, tangannya masih gemetar hebat saat meraih ponsel untuk memeriksa pesan-pesan yang mungkin masuk selama momen mengerikan tadi. Tidak ada apa pun, hanya keheningan digital yang terasa hampa, seolah bahkan dunia maya pun turut menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia duduk di lantai kamarnya hingga langit di luar mulai berubah warna, terlalu takut untuk kembali tidur, terlalu lelah untuk terus terjaga. Pikirannya dipenuhi bayangan wajah Raka yang begitu muda, begitu penuh penyesalan, dan kata-kata terakhirnya yang terus terngiang peringatan tentang sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yang kini entah bagaimana sudah menyadari keberadaan mereka bertiga.
...****************...