NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Larangan setelah senja

Langit mulai berubah jingga ketika Arga dan Pak Rahman tiba kembali di rumah. Bayangan pepohonan memanjang menutupi jalan setapak. Udara yang sejak siang terasa hangat perlahan menjadi sejuk.

Begitu memasuki halaman, Pak Rahman langsung berhenti.

"Arga."

"Iya, Pak?"

"Nanti setelah Magrib, sebaiknya jangan keluar rumah kalau tidak ada keperluan."

Arga mengangguk.

"Baik, Pak."

Pak Rahman sempat terdiam beberapa saat, lalu menambahkan,

"Kalau ada apa-apa, panggil saya saja. Atau kamu bisa langsung teriak. Terdengar sampai rumah seharusnya."

Arga kembali mengangguk. Kali ini ia merasa nada suara Pak Rahman berbeda. Bukan sekadar mengingatkan, tetapi benar-benar memastikan agar ia mematuhi pesan itu. Menjelang Magrib, suara azan berkumandang dari musala kecil di tengah kampung. Warga yang sejak sore masih sibuk di kebun satu per satu pulang. Anak-anak yang tadi bermain di jalan segera berlarian menuju rumah masing-masing.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, kampung yang tadinya ramai berubah menjadi sunyi.

Arga memperhatikan dari beranda.

Tidak ada lagi anak-anak.

Tidak ada ibu-ibu yang menjemur kopi.

Bahkan pintu-pintu rumah mulai ditutup rapat.

Ia mengernyit.

"Cepat sekali..."

Pak Rahman yang sedang menyalakan lampu minyak tersenyum tipis.

"Memang begitu kebiasaan di sini."

"Semua selesai sebelum gelap."

"Karena hemat minyak?"

Pak Rahman terkekeh pelan.

"Itu juga."

"Tapi bukan cuma itu."

Beliau tidak melanjutkan penjelasannya. Kemudian langsung pamit untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang hanya berjarak tiga rumah dari bangunan ini.

Malam turun begitu cepat.

Selepas salat Isya berjamaah, hampir tidak ada seorang pun yang masih berada di luar rumah. Jalan setapak yang siang tadi dipenuhi aktivitas kini benar-benar kosong. Arga duduk di ruang depan sambil membaca kembali peta pendakian yang masih tersimpan di tasnya. Ia mencoba mengingat jalur yang dilaluinya sebelum tersesat.

"Aneh..."

"Seharusnya aku turun lewat sini..."

Ia menggerakkan jarinya mengikuti garis peta.

"Tapi kenapa malah masuk ke lembah?"

Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Ia hafal jalur pendakian Gunung ini. Setidaknya cukup hafal untuk tidak tersesat sejauh itu.

Namun kenyataannya...

Ia ditemukan di tempat yang bahkan tidak pernah ia lihat di peta.

"Kadang hutan memang begitu."

"Kalau cuaca berubah, orang bisa kehilangan arah."

Jawaban itu terdengar masuk akal. Jawaban yang ia dapatkan dari pak Rahman kemaren.

Namun lagi-lagi terasa seperti belum menjawab seluruh pertanyaannya.

Rumah kembali sunyi.

Lampu minyak di ruang tengah bergoyang pelan tertiup angin yang masuk dari sela-sela anyaman bambu. Arga merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk mulai datang.

Entah sudah berapa lama ia terlelap ketika...

Tok...

Tok...

Tok...

Suara pelan terdengar dari arah belakang rumah.

Arga membuka mata.

Ia menahan napas.,

Suara itu terdengar lagi.

Tok...

Tok...

Seperti ada sesuatu yang mengetuk kayu. Ia duduk perlahan. Mungkin ranting pohon. Mungkin bambu yang tertiup angin. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun beberapa detik kemudian...

Bruuush...

Terdengar suara seperti sesuatu bergerak melewati semak-semak di belakang rumah. Arga menoleh ke arah jendela belakang yang masih tertutup rapat.

Ucapan anak kecil sore tadi kembali terngiang.

"Kalau malam... jangan buka jendela belakang."

Ia menelan ludah.

Rasa penasaran mulai mengalahkan rasa takut. Pelan-pelan ia turun dari tempat tidur.

Melangkah mendekati jendela.

Tangannya hampir menyentuh pengait kayu.

Baru beberapa sentimeter...

"Byurrrr!"

Suara benda berat yang terjatuh kedalam rawa terdengar dari belakang.

Arga terlonjak. Ia menoleh cepat. Mengurungkan niatnya membuka pengait jendela itu.

"Apapun yang terjadi, Jangan dibuka." terngiang kembali ucapan Pak Rahman sore tadi.

"Kalau malam..."

"...apa pun suara yang kamu dengar dari belakang rumah, biarkan saja."

Akhirnya Arga memutuskan mengacuhkan itu semua. Dia akan bertanya dan memeriksanya besok pagi.

Meski begitu, ia masih mendengar suara-suara samar dari arah belakang rumah.

Kadang seperti ranting patah.

Kadang seperti langkah kaki yang menginjak dedaunan basah.

Namun anehnya...

Tidak pernah terdengar suara binatang.

Tidak ada suara burung malam.

Tidak ada suara katak.

Hanya kesunyian panjang yang sesekali diselingi bunyi-bunyian yang sulit dikenali.

Menjelang tengah malam, rasa kantuk akhirnya mengalahkan kegelisahan.

Arga kembali tertidur.

----

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah. Udara terasa segar. Seolah malam yang membuatnya gelisah tidak pernah terjadi. Saat sedang mencuci muka di sumur depan rumah, ia melihat anak laki-laki yang kemarin memperingatkannya sedang berdiri di kejauhan.

Anak itu melambai kecil.

Arga membalas lambaian itu.

Ketika keadaan sepi, anak itu berlari mendekat.

"Kak..."

"Iya?"

"Kakak dengar suara semalam?"

Arga terdiam.

"Kamu juga dengar?"

Anak itu mengangguk cepat.

"Saya dengar hampir tiap malam."

"Sebenarnya itu suara apa?"

Anak itu menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang dewasa di sekitar.

Lalu ia berbisik sangat pelan,

"Dulu Kakek bilang......kalau rawa itu tidak suka diganggu."

Belum sempat Arga bertanya lebih jauh, suara seorang perempuan memanggil dari kejauhan.

"Rafi!"

Anak itu langsung tersentak.

"Iya, Bu!"

Ia mundur beberapa langkah.

Sebelum berlari pulang, ia sempat berbisik sekali lagi.

"Kalau Kakak mau tahu......cari saja Mang Jaya."

"Dia satu-satunya orang yang pernah berani masuk ke rawa malam hari."

Anak itu pun berlari meninggalkan Arga yang kini berdiri membeku. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Namun untuk pertama kalinya sejak berada di Kampung Ciburial, ia merasa mulai menemukan seseorang yang mungkin mengetahui rahasia sebenarnya di balik rawa berkabut itu.

Arga masih berdiri di dekat sumur, memandangi jalan setapak yang baru saja dilalui Rafi. Ucapan anak itu terus berputar di kepalanya.

"Mang Jaya... satu-satunya orang yang pernah berani masuk ke rawa malam hari."

Siapa sebenarnya orang itu?

Dan mengapa seorang anak kecil bisa mengetahui hal yang seolah-olah enggan dibicarakan orang dewasa?

"Arga!"

Suara Pak Rahman membuyarkan lamunannya.

Beliau datang sambil memanggul keranjang anyaman bambu berisi buah kopi yang baru dipetik.

"Melamun saja."

Arga tersenyum tipis.

"Maaf, Pak."

"Sarapan dulu."

"Nanti badanmu tambah lemas."

Mereka masuk ke rumah. Di atas meja telah tersedia nasi hangat, sayur bening, tempe goreng, dan ikan asin. Aroma masakan memenuhi ruangan. Sejak beberapa hari terakhir, nafsu makan Arga memang mulai kembali.

Namun ketika ia baru mengambil beberapa suap nasi...

Embusan angin masuk melalui celah dinding bambu.

Aroma rawa kembali menyelinap.

Samar.

Sangat samar.

Tetapi tubuh Arga langsung bereaksi.

Sendok di tangannya berhenti.

Wajahnya perlahan memucat.

Pak Rahman yang duduk di depannya langsung menyadarinya.

"Kambuh lagi?"

Arga mengangguk pelan.

Tangannya spontan menekan ulu hati.

Rasa panas menjalar hingga ke dada.

Ia mencoba tetap menelan makanan di mulutnya.

Namun baru beberapa detik...

"Huek..."

Ia buru-buru menutup mulut.

"Maaf, Pak..."

Tanpa berkata apa-apa, Pak Rahman segera mengambilkan segelas air hangat.

"Minum pelan."

Arga meneguk sedikit demi sedikit. Rasa mual itu belum hilang. Justru semakin kuat. Ia segera berdiri dan keluar menuju halaman depan. Begitu menghirup udara yang tidak bercampur aroma rawa, ia membungkuk.

"Uwek..."

Yang keluar hanya sedikit cairan bening bercampur asam lambung. Perutnya sudah hampir kosong. Namun sensasi mual itu masih membuat tubuhnya gemetar. Pak Rahman berdiri di sampingnya sambil mengusap punggung Arga perlahan.

"Sudah..."

"Jangan dipaksa makan dulu."

Beberapa menit kemudian, napas Arga mulai kembali teratur. Ia duduk di bangku bambu di depan rumah.

"Pak..."

"Iya?"

"Semalam ada suara. Seperti bemda berat yang terjatuh kedalam rawa."

Pak Rahman menggeleng pelan.

"Mungkin suara hewan atau dahan."

Arga menatap beliau.

"Sepertinya bukan. Dan Rafi anak tatangga juga mendengarnya pak."

"Nanti kitq coba cari tahu."

Jawaban itu membuat Arga semakin yakin.

Ada sesuatu yang belum ia pahami.

Menjelang siang, setelah kondisi Arga membaik, Pak Rahman mengajaknya berjalan menuju balai kecil tempat warga biasa berkumpul. Di sana beberapa lelaki tua sedang memperbaiki alat penjemur kopi. Salah seorang di antaranya memiliki tubuh kurus, kulit legam terbakar matahari, dan rambut yang hampir seluruhnya memutih. Saat Arga datang, pria itu hanya melirik sekilas sebelum kembali mengikat tali rotan.

Pak Rahman menghampiri.

"Jaya."

Pria itu mendongak.

"Oh... Rahman."

"Ini Arga."

"Anak yang kemarin ditemukan di hutan."

Mang Jaya mengangguk pelan. Tatapannya tajam, seolah sedang menilai sesuatu.

"Kamu yang tersesat itu?"

"Iya, Mang."

Mang Jaya tidak langsung berbicara. Matanya justru berhenti beberapa saat pada wajah Arga.

"Lambungmu sering mual?"

Pertanyaan itu membuat Arga terkejut.

"Iya..."

"Kok Mang tahu?"

Mang Jaya tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah Pak Rahman.

"Kita bicara nanti."

Pak Rahman tampak sedikit canggung.

"Iya."

Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup membuat rasa penasaran Arga semakin besar. Mang Jaya berdiri, mengambil goloknya, lalu berjalan pergi menuju kebun di belakang balai. Arga memperhatikannya hingga menghilang di balik pepohonan.

"Pak..."

"Itu Mang Jaya?"

Pak Rahman mengangguk.

"Iya."

"Beliau memang pernah masuk ke sekitar rawa."

"Benar?"

Pak Rahman terdiam beberapa saat.

"Waktu masih muda."

"Lalu?"

Beliau menghela napas.

"Sejak hari itu.....dia tidak pernah lagi mencari ikan di sana."

"Kenapa?"

Pak Rahman hanya menggeleng.

"Kalau kamu ingin tahu, lebih baik tanyakan sendiri kepadanya."

Arga menoleh ke arah jalan yang baru saja dilalui Mang Jaya. Di dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa pria tua itulah yang memegang potongan kisah yang selama ini disembunyikan seluruh warga Kampung Ciburial. Dan ia bertekad, cepat atau lambat, akan mendengar cerita itu langsung dari mulut Mang Jaya.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!