NovelToon NovelToon
MY ALTER EGO

MY ALTER EGO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Wanita Karir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Judul: My alter ego

Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.

Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sang Predator Tertinggi

​Jari-jari Bagas mengetik keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Matanya melotot ke arah layar monitor, memeriksa ulang setiap digit angka pada grafik penjualan bulanan.

​Di sudut lain ruangan, beberapa staf pemasaran berlarian memegang tumpukan map tebal. Kertas-kertas berjatuhan ke lantai, namun langsung disambar terburu-buru.

​Tidak ada yang berani berbicara dengan suara keras. Pagi ini, divisi pemasaran terasa seperti sarang semut yang baru saja diinjak.

​Reza duduk di kubikelnya dengan postur membungkuk. Rambut pria itu berantakan. Kemejanya rapi, tapi dasinya terpasang miring. Tangannya terus meremas ponsel dengan buku-buku jari yang memutih.

​Pintu kaca divisi pemasaran terdorong terbuka. Hira melangkah masuk.

​Sepatu hak tingginya berbunyi klik, klik, klik. Iramanya sangat konstan dan santai, sangat kontras dengan kepanikan yang menyelimuti seluruh ruangan.

​Ia mengenakan blus sutra putih polos dan celana kain hitam berpotongan tegas. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang.

​Bagas langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam saat Hira melewatinya. Pria itu bahkan menahan napas, tidak berani berkutik.

​Hira duduk di kursinya. Ia meletakkan tasnya perlahan, lalu menyalakan komputer tanpa terburu-buru.

​{Lihat mereka. Seperti sekumpulan serangga yang sibuk mencari tempat sembunyi karena badai akan datang.}

​Suara Hira yang asli bergema pelan di dalam kepalanya. {Apakah kita tidak perlu menyiapkan laporan cetak seperti mereka? CEO pusat akan datang sebentar lagi.}

​Alter ego Hira mendengus geli. Ia menyilangkan kakinya.

​{Laporan kita sudah dibaca langsung olehnya sejak kemarin. Untuk apa kita repot-repot bergabung dengan sirkus ini?}

​Reza tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia berjalan setengah mengendap-endap mendekati meja Hira. Pandangan pria itu terus menyapu sekeliling, takut ada yang melihatnya.

​"Hira," panggil Reza pelan. Suaranya terdengar serak.

​Hira tidak menoleh. Matanya tetap menatap layar komputer yang baru menyala.

​"Semalam kamu tidak pulang. Kamu tidur di mana?" tanya Reza. Tangannya terulur ke depan, mencoba menyentuh ujung meja Hira.

​Hira menghentikan gerakan mouse-nya. Ia memutar kepalanya perlahan. Matanya menatap tajam tepat ke arah jari-jari Reza.

​Reza buru-buru menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh besi panas.

​"Bukan urusanmu. Dan jangan berdiri di dekat mejaku. Kau merusak pemandanganku," ucap Hira datar.

​"Hira, tolong turunkan egomu sebentar. Pak Teran akan datang. Kalau dia tahu soal skandal di divisi ini, apalagi kalau kamu nekat bicara soal aku dan Bu Anita..."

​"Maka kau akan hancur lebur," potong Hira cepat. Ia tersenyum miring. "Bukankah itu tujuan utamanya?"

​Wajah Reza semakin memucat. Ia membuka mulutnya untuk membantah, tapi suara ketukan langkah kaki tergesa dari arah pintu membuatnya langsung menoleh.

​Anita melangkah masuk dengan napas memburu.

​Direktur cabang itu mengenakan blazer hitam mahal. Riasan wajahnya sangat tebal, jelas berusaha keras menutupi kantung mata yang menghitam karena kurang tidur.

​"Semuanya, dengarkan saya!" suara Anita melengking. Tangannya bertepuk dua kali.

​Seluruh staf langsung berdiri tegak di samping kubikel masing-masing. Reza buru-buru berlari kembali ke mejanya sendiri.

​"Pak Teran akan tiba dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Saya tidak ingin ada satu pun kesalahan! Tunjukkan bahwa divisi pemasaran tetap beroperasi normal meskipun manajer kalian sedang... berhalangan hadir."

​Anita menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Matanya tanpa sengaja berserobok dengan tatapan Hira dari sudut ruangan.

​Hira mengangkat satu alisnya. Ia menopang dagu dengan jari telunjuknya, memberikan tatapan menilai yang begitu merendahkan.

​Anita buru-buru membuang muka.

​{Wanita tua itu gemetar ketakutan. Dia tahu kakinya sedang berdiri di ujung jurang.}

​Ponsel di genggaman Anita bergetar. Ia mengangkatnya dan menempelkannya ke telinga. Detik berikutnya, sisa warna di wajah direktur itu menguap sepenuhnya.

​"Beliau sudah di lobi utama gedung. Semuanya, kembali ke posisi!" Anita setengah berlari keluar dari ruangan menuju lift.

​Hening. Divisi pemasaran mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara dengungan mesin pendingin ruangan.

​Hira melipat tangannya di atas meja. Matanya menatap lurus ke arah pintu kaca.

​Sepuluh menit berlalu terasa seperti selamanya bagi para staf.

​Lalu, pintu kaca itu akhirnya terdorong terbuka.

​Dua orang pria melangkah masuk.

​Pria pertama memakai kacamata dan memegang tablet digital. Ia melangkah sedikit ke samping, memberi jalan untuk pria yang berjalan di belakangnya.

​Teran Honigan melangkah masuk ke dalam divisi pemasaran. Jas abu-abu gelapnya membungkus tubuh tegapnya dengan sangat presisi. Wajahnya datar, keras, dan tanpa ekspresi sedikit pun.

​Anita berjalan mengekor di belakang Teran dengan langkah tergopoh-gopoh, berusaha mengimbangi kaki panjang pria itu.

​"Pak Teran, ini area divisi pemasaran. Kami sudah menyiapkan semua laporan operasional kuartal terakhir di ruang rapat untuk Bapak periksa," ucap Anita dengan senyum yang sangat dipaksakan.

​Teran sama sekali tidak menoleh pada Anita. Langkahnya pelan namun mengintimidasi. Ia mengamati satu per satu staf yang menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

​"Saya tidak membatalkan jadwalku hanya untuk membaca tumpukan kertas yang bisa dikirim lewat email, Anita," balas Teran. Suaranya rendah dan berat, menyapu seluruh ruangan.

​Anita langsung terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Tangannya meremas ujung blazernya sendiri.

​Teran berhenti di tengah-tengah deretan meja kubikel. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan, mencari sesuatu.

​Lalu, pandangan pria itu berhenti.

​Di sudut ruangan, hanya ada satu karyawan yang tidak menundukkan kepala.

​Hira duduk dengan punggung tegak bersandar pada kursinya. Tangannya masih terlipat santai di atas meja. Ia menatap lurus ke arah Teran.

​Mata mereka bertemu.

​Teran tidak berkedip. Hira juga sama sekali tidak memalingkan wajahnya.

​{Jadi ini wujud sang predator tertinggi. Matanya... benar-benar mati rasa. Sama sepertiku.}

​Teran mengubah arah langkahnya. Ia berjalan lurus membelah deretan kubikel, mendekati meja Hira.

​Bagas, yang kebetulan duduk di kubikel seberang meja Hira, nyaris merosot dari kursinya karena panik. Pria itu mengira langkah kaki CEO itu tertuju padanya.

​Namun Teran melewati meja Bagas begitu saja. Ia berhenti tepat di depan meja Hira.

​Teran menundukkan wajahnya sedikit. Matanya membaca papan nama kecil yang berdiri di atas meja.

​[Hira Lione]

​"Kamu yang membuat direkturmu membatalkan semua jadwal rapatnya kemarin?" tanya Teran tanpa basa-basi.

​Seluruh staf di ruangan itu refleks menahan napas. Anita yang berdiri jauh di belakang melebarkan matanya dengan ngeri. Reza membeku di tempat duduknya.

​Hira tidak berdiri. Ia tetap duduk tenang di kursinya, mendongak sedikit untuk menatap wajah Teran.

​"Saya hanya mengirimkan beberapa fakta kecil ke meja audit internal pusat. Jika direktur saya panik karena sebuah kebenaran, itu di luar kendali saya," jawab Hira.

​Suaranya mengalir sangat tenang. Tidak ada nada bergetar sedikit pun saat menghadapi pria paling berkuasa di perusahaan itu.

​Teran menatap wajah Hira lekat-lekat. Ia mencari celah ketakutan di mata wanita itu. Ia mencari kepanikan yang selalu ia temukan pada setiap bawahan yang sedang diinterogasi.

​Tidak ada. Mata Hira membalas tatapannya dengan sebuah dominasi pekat yang sangat aneh.

​Sebuah sudut bibir Teran berkedut pelan, nyaris membentuk sebuah seringai tipis.

​Pria itu menegakkan punggungnya kembali. Ia menoleh sedikit tanpa melihat ke belakang.

​"Leo," panggil Teran.

​"Ya, Pak Teran," jawab asisten itu sigap.

​Teran kembali menatap Hira. Tangannya perlahan masuk ke dalam saku celana panjangnya.

​"Kosongkan ruang rapat utama di lantai ini. Dan pastikan tidak ada satu ekor lalat pun yang berani mengganggu."

​Teran mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang kedua tangannya di atas meja kerja Hira. Wajahnya kini berjarak sangat dekat dengan wajah wanita itu. Mata hitamnya menatap tepat ke dalam mata Hira.

​"Ikut saya ke ruang rapat sekarang, Hira Lione. Kita perlu bicara. Berdua saja."

1
Kustri
ayo UP lg💪
lg seru nih
Kustri
koq msh siang
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
Kustri
dilanjut bsk ra, sdh saat'a pulang
Kustri
cepet bgt hira dpt smua info penyelewengan🤔🤔🤔
kodammu luar biasa!
Kustri
💪💪💪thor
Kustri
👏👏👏
🤝
Kustri
vote u hira💪
Kustri
dgn senang hati kutrima tantanganmu presdir💪
Kustri
klo teran cenayang pasti bisa merasakan alter ego'a hira🤣
Kustri
☕dl hira.... semangat💪
Kustri
ketemu jodoh🤣
Kustri
hlaaa... istri'a sdg berduka bukan'a ditemeni ini malah nyari hiburan sendiri, dasar suami durhaka🤣👊👊👊
Kustri
siapa yg kirim foto yaa🤔🤔🤔
Kustri
tunggu... tunggu berarti hira & suami 1 bos gitu thor🤔
ampe qu ulang baca part 1 hlo
JihanSan: betul cekali teman
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!