Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Perang Otak di Lingkaran Tengah
BAB 32: Perang Otak di Lingkaran Tengah
Gol penyeimbang dari Tim Merah Marun benar-benar merusak cetak biru taktis yang telah disiapkan oleh SMP Cendrawasih Pusat. Di pinggir lapangan, pelatih mereka yang mengenakan kemeja polo hitam tampak berteriak gusar, memberikan instruksi baru dengan lambaian tangan yang agresif.
"Arya! Turun lebih dalam! Jangan biarkan nomor 11 mereka punya ruang bebas untuk mengangkat kaki!" teriak sang pelatih dengan urat leher yang menegang.
Sebagai gelandang elit tingkat provinsi, Arya segera memahami bahaya laten dari sosok Velix Purnama. Dia tidak lagi meremehkan tubuh 165 cm di hadapannya. Begitu pertandingan dimulai kembali dari lingkaran tengah pada menit ke-12, Arya mengubah transformasinya dari seorang penyerang bayangan menjadi seorang perusak (enforcer) di lini tengah.
"Gua nggak tahu dari mana lu belajar umpan kayak tadi, tapi eksperimen lu selesai di sini," desis Arya, menempel ketat Velix bagaikan bayangan.
Velix tidak membalas. Di bawah pengaruh pasif Cold-Blooded Mentor, detak jantungnya tetap konstan di angka 72 BPM. Otak dewasanya justru menganalisis bahwa perubahan posisi Arya adalah sebuah keuntungan taktis bagi Merah Marun. Dengan turunnya Arya, daya gedor lini depan Cendrawasih otomatis berkurang satu dimensi.
Menit ke-18, Cendrawasih Pusat mencoba membangun serangan dari bawah. Bola mengalir di kaki gelandang bertahan mereka yang kemudian menyodorkan umpan pendek vertikal menuju Arya.
Velix yang mengaktifkan fitur Analisis Lawan menangkap sedikit pergerakan mata Arya yang condong ke arah sayap kanan. Sebelum bola mencapai kaki Arya, Velix memanfaatkan peningkatan atribut kecepatannya yang kini menyentuh angka 51.0 untuk melakukan akselerasi instan.
Sret!
Velix memotong jalur operan tersebut dengan sebuah intersep yang sangat bersih. Namun, Arya yang memiliki keunggulan fisik setinggi 172 cm tidak tinggal diam. Dia langsung memutar tubuhnya dan menabrakkan bahunya dengan keras ke sisi kiri tubuh Velix, mencoba merebut kembali bola lewat duel fisik (body charge).
Bruk!
Benturan keras terjadi di lingkar tengah. Jika itu adalah Velix yang sebulan lalu, dia pasti sudah terpelanting jatuh. Namun, berkat paket hadiah peningkatan fisik massal (+5.0 kekuatan) dari Sistem, struktur otot Velix yang kian padat mampu menahan gempuran tersebut. Langkahnya hanya bergeser satu tapak, sementara bola tetap lengket di bawah penguasaannya berkat Sentuhan Pertama Sutra.
[Atribut Fisik Diuji dalam Laga:]
[Kekuatan (Strength): 43.5 / 100 - Berhasil menahan tekanan fisik lawan.]
[Tingkat Frustrasi Arya: 45% (Mulai Meningkat)]
"Sial, kok kokoh banget?!" batin Arya terkejut saat merasakan bahunya justru terasa panas setelah menghantam tubuh Velix.
Sebelum Arya sempat melakukan pelanggaran taktis untuk menghentikannya, Velix melakukan gerakan memutar tubuh yang sangat anggun—sebuah teknik cruyff turn yang dipadukan dengan ball roll pendek. Gerakan itu membuat Arya meluncur melewati ruang kosong, kehilangan momentum pertahanannya.
Velix menegakkan pandangannya. Lini belakang Cendrawasih kali ini belajar dari kesalahan; mereka tidak lagi menaikkan garis pertahanan terlalu tinggi untuk mengantisipasi operan melengkung Pirlo. Mereka menumpuk tiga bek di dekat kotak penalti, menutup jalur lari vertikal Ryan.
Sisi komandan taktis Velix tersenyum dingin melihat perubahan defensif lawan. 'Kalian pikir senjata Pirlo hanya bisa digunakan untuk umpan lambung jauh?' Kalkulasi dewasanya bekerja cepat.
Bukan melepaskan bola lambung ke belakang bek, Velix mengayunkan kaki kanannya untuk melepaskan umpan mendatar yang sangat kencang dan tajam (laser pass), membelah celah sempit di antara dua gelandang bertahan Cendrawasih yang baru saja berniat menutup pergerakannya.
Bola mengalir deras, memotong garis horizontal pertahanan tengah lawan, tertuju langsung pada sang striker utama Merah Marun yang berdiri di ruang antar-lini (space between lines).
Perang otak di lingkaran tengah Stadion Cendrawasih kini telah sepenuhnya dikendalikan oleh ketukan palu sang komandan dari Merah Marun.