Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Pengintai Itu?
Malam ini setelah pintu lift menutup di belakang mereka, Bryan dan Arlian sama-sama menyadari satu hal. Mereka tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang mencari Viona.
Di dalam mobil hitam yang masih terparkir di seberang apartemen, pria misterius itu menghidupkan mesin. Matanya terus mengikuti sosok Bryan yang menghilang ke dalam gedung.
"Situasinya jadi merepotkan..." gumamnya.
Ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Pindahkan tim."
Suara di seberang langsung bertanya, "Kenapa?"
"Bryan sudah terlibat."
Beberapa detik hening. Kemudian terdengar jawaban singkat.
"Kalau begitu percepat pergerakan, jangan sampai gadis itu menghilang lagi!"
Panggilan terputus, pria itu kembali melihat foto Viona sebelum menyimpannya ke dalam map hitam.
"Kali ini gue gak boleh gagal."
Mobil perlahan meninggalkan lokasi sementara itu, di unit apartemen Bryan berdiri di depan jendela besar ruang tamu. Dari lantai atas, lampu-lampu kota terlihat seperti lautan bintang, Arlian baru saja menerima laporan dari tim lapangan.
"Tuan..."
Bryan menoleh.
"Mobil itu sudah pergi."
Bryan mengangguk.
"Identitasnya?"
"Belum ada hasil."
Arlian meletakkan tablet di atas meja.
"Plat nomor yang digunakan ternyata palsu."
Bryan menyipitkan mata itu berarti dugaan mereka benar. Orang tersebut memang tidak ingin dilacak.
"Periksa seluruh rekaman CCTV sekitar apartemen selama satu minggu terakhir."
"Baik."
"Dan cari tahu apakah dia pernah datang sebelumnya."
Arlian mengangguk. Namun sebelum ia pergi, Bryan kembali bertanya.
"Bagaimana dengan Viona?"
"Belum ada aktivitas keluar masuk sejak sore."
Bryan terdiam ada sesuatu yang mengganggunya. Jika orang itu sudah menemukan Viona, kemungkinan besar mereka akan segera bergerak dan itu berarti Viona mungkin berada dalam bahaya tanpa menyadarinya.
...****************...
Di lantai lain apartemen yang sama, Viona masih tertidur pulas di kamarnya. Lampu tidur berwarna hangat menerangi ruangan sederhana itu. Di atas meja terdapat laptop yang masih menyala, beberapa buku, dan secangkir teh yang sudah dingin. Tidak ada yang terlihat aneh namun tepat pukul dua dini hari ponselnya bergetar.
Sekali...
Dua kali...
Tiga kali...
Viona mengerjapkan matanya pelan lalu terbangun dengan mata setengah terbuka, ia mengambil ponsel dari samping bantalnya. Nomor tidak dikenal, ia hampir mengabaikannya. Tetapi sebuah pesan baru masuk, Viona langsung terjaga ketika membaca isinya.
"[Akhirnya kami menemukanmu.]"
Jantungnya berdetak lebih cepat, keningnya berkerut.
"[Siapa ini?]"
Ia membalas singkat namun beberapa detik kemudian, sebuah foto dikirim. Mata Viona langsung membesar, foto itu memperlihatkan dirinya. Foto yang diambil dari kejauhan tepat di depan apartemen belum lama ini.
Tangannya mulai gemetar, bagaimana bisa orang itu bisa mendapatkan foto tersebut? Dan yang lebih mengerikan foto itu jelas diambil tanpa sepengetahuannya sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, pesan kedua masuk.
"[Kami akan segera menjemputmu.]"
Wajah Viona mendadak pucat, di waktu yang hampir bersamaan. Bryan sedang memeriksa beberapa dokumen di ruang kerjanya seketika ponselnya berbunyi, pesan dari tim keamanan.
"[Tuan Bryan, kami menemukan sesuatu...]"
Bryan membuka laporan yang dikirim. Di layar muncul hasil pencarian wajah pria misterius yang tadi berada di dalam mobil hitam. Ekspresi Bryan berubah Arlian yang berdiri di dekatnya ikut melihat layar netranya langsung membelalak.
"Mustahil..."
Bryan menatap foto itu tanpa berkedip karena pria tersebut ternyata bukan orang sembarangan.
Ia adalah mantan anggota mafia swasta yang pada akhirnya mendirikan sebuah club malam Bryan perlahan berdiri dari kursinya.
"Arlian..."
"Ya, Tuan..."
"Bangunkan tim."
Arlian langsung memahami situasinya.
"Kita bergerak sekarang?"
Bryan mengambil jasnya tatapannya dingin dan serius.
"Kalau laporan ini benar..."
"Maka Viona sudah dalam bahaya."
Dan tanpa mereka sadari, beberapa lantai di bawah mereka, Viona sedang menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar karena sebuah suara tiba-tiba terdengar dari luar pintu apartemennya.
"Tok!!"
"Tok!!"
"Tok!!" Seseorang sedang mengetuk pintunya di tengah malam.
"Tok!!"
"Tok!!"
"Tok!!"
Suara ketukan di pintu apartemen membuat Viona menahan nafas. Jantungnya berdebar kencang setelah menerima pesan-pesan misterius tadi, dengan langkah hati-hati ia mendekati pintu dan melihat melalui lubang pengintip.
Tidak ada siapa pun Viona mengernyitkan dahinya. Perlahan ia membuka pintu beberapa sentimeter, koridor apartemen kosong hanya ada sebuah amplop putih tergeletak di lantai.
Dengan ragu, ia mengambil amplop itu lalu kembali masuk dan mengunci pintu. Di dalam amplop hanya ada secarik kertas.
"Kami akan menghubungimu lagi..."
Tidak ada nama, tidak ada tanda tangan, tidak ada petunjuk apa pun. Malam ini Viona hampir tidak bisa tidur kembali. Sementara itu di unit milik Bryan, Arlian baru saja menyelesaikan investigasi lanjutan mengenai pria yang berada di mobil hitam.
"Tuan..."
Bryan mengangkat pandangan dari dokumen di tangannya.
"Ada hasil?"
Arlian mengangguk.
"Ya."
Ia menyerahkan tablet.
"Orang itu bukan penculik, bukan pemburu bayaran, dan bukan anggota organisasi kriminal..."
Bryan membaca laporan tersebut dengan tenang lalu alisnya sedikit terangkat.
"Ternyata begitu..."
Orang-orang yang mengawasi Viona ternyata berasal dari tim pribadi ayah kandung Viona. Mereka telah mencari keberadaan gadis itu selama berhari-hari atas perintah seseorang yang sangat berpengaruh. Namun alasan pencarian itu masih belum jelas.
"Jadi mereka bukan musuh?" tanya Bryan.
Arlian menggeleng, "Belum tentu..."
Bryan menatap layar beberapa saat. Kadang-kadang ancaman terbesar justru datang dari orang yang mengaku keluarga. Terlebih jika keluarga tersebut memiliki kekuasaan besar dan menyimpan rahasia.
"Terus awasi."
"Baik, Tuan."
...****************...
Keesokan paginya, Viona menjalani aktivitas seperti biasa. Ia tidak mengetahui bahwa sejak pagi tadi ada dua orang pria yang diam-diam mengawasinya.
Mereka bukanlah penguntit mereka adalah bodyguard pilihan Bryan. Salah satunya berjaga di area sekitar apartemen yang lainnya mengikuti dari jarak aman ketika Viona pergi ke cofee shop atau tempat lain.
Semua dilakukan secara profesional, tanpa kontak, tanpa interaksi, tanpa membuat Viona curiga. Bryan sendiri memberikan instruksi yang sangat jelas.
"Jangan mendekatinya."
"Jangan berbicara dengannya."
"Jangan membuatnya merasa dia sedang diawasi."
Arlian mengangguk.
"Lalu jika terjadi sesuatu?"
Bryan menjawab singkat.
"Baru bertindak."
...****************...
Hari-hari berikutnya berlalu Viona tetap tidak mengetahui apa pun. Ia hanya merasa ada sesuatu yang aneh.
Beberapa kali saat berjalan sendirian, ia merasa seperti sedang diperhatikan. Namun setiap kali menoleh, tidak ada siapa-siapa. Di sisi lain, laporan mengenai aktivitas Viona selalu sampai ke meja Bryan setiap malam.
Pukul berapa ia berangkat dan ke manapun ia pergi. Apakah ada orang mencurigakan yang mendekat semuanya tercatat. Namun Bryan tidak pernah sekalipun meminta informasi yang terlalu pribadi.
Ia hanya ingin memastikan keselamatan Viona, tidak lebih. Bahkan ketika Arlian suatu hari bertanya,
"Tuan, kenapa Anda tidak langsung menemuinya saja?"
Bryan terdiam beberapa saat, tatapannya mengarah ke jendela kantor. Di luar sana, kota dipenuhi jutaan orang dengan masalah masing-masing.
"Aku tidak ingin membuat hidupnya lebih rumit."
Arlian terkejut mendengar jawaban itu biasanya orang yang penasaran akan mencari alasan untuk mendekat namun Bryan justru memilih menjaga jarak.
"Aku hanya ingin memastikan dia aman..."
"Itu saja."
Sore ini tanpa disadari siapa pun, sebuah mobil hitam kembali muncul di dekat coffee shop tempat Viona bekerja. Dari dalam mobil, seorang pria paruh baya memperhatikan Viona yang baru keluar dari gerbang.
Tatapannya bergetar setelah dalam waktu berminggu-minggu, ia melihat gadis itu secara langsung.
"Wajahnya..." Pria itu menggenggam foto lama yang sudah kusam.
Di foto itu terdapat seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Viona matanya perlahan memerah.
"Nona kecil...?"
Ia segera menghubungi seseorang.
"Saya sudah memastikan."
Suara berat dari seberang terdengar tegang.
"Benarkah itu dia?"
Pria itu mengangguk.
"Ya, Tuan."
Beberapa detik kemudian, suara di telepon kembali terdengar. Kali ini penuh emosi yang selama bertahun-tahun ditahan.
"Kalau begitu..."
"Pastikan dia aman..."
Tanpa diketahui Viona, perintah itu akhirnya telah dikeluarkan. Dan tanpa diketahui pihak keluarga Viona, ada seseorang lain yang sudah lebih dulu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Seseorang bernama Bryan Anggara Wijaya.
BERSAMBUNG.