NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Ego dan Pilihan

Suasana kelas menjelang jam pulang sekolah terasa sangat lambat bagi Kayla. Sejak kembali dari kantin setelah istirahat kedua tadi, ada satu hal yang terus mengusik perhatiannya. Arka. Cowok yang biasanya selalu sibuk mengecek kondisinya, mengingatkannya tentang tugas, atau sekadar memberikan tatapan protektif, kini hanya duduk diam tegak di bangkunya.

Arka sama sekali tidak menoleh ke arah meja Kayla. Pandangannya lurus ke depan, mengabaikan keberadaan Kayla seolah-olah gadis itu adalah angin lalu. Kayla mengernyitkan dahi, merasakan keanehan yang mencolok dari sikap sahabat masa kecilnya itu.

Baguslah kalau dia diem. Gak panas kuping gue dengerin khotbahnya dari pagi, batin Kayla egois, mencoba menepis rasa tidak nyaman yang mendadak menyengat hatinya.

Begitu bel tanda pulang sekolah berdering nyaring, seisi kelas langsung ricuh merapikan buku. Arka bangkit berdiri, menyandang tas ranselnya di bahu kiri. Sebelum melangkah keluar pintu kelas, ia sempat berhenti sejenak di dekat meja Kayla.

"Gue tunggu di parkiran," ucap Arka dengan nada suara yang teramat dingin dan datar, tanpa menunggu jawaban Kayla, ia langsung melenggang pergi membelah kerumunan siswa.

Kayla mengembuskan napas kasar, bersiap menyusul langkah Arka. Namun, baru saja ia hendak melangkah meninggalkan barisan mejanya, sebuah tangan kokoh menahan pergelangan tangannya. Gavin sudah berdiri di sana dengan senyuman misterius yang tersungging di bibirnya.

"Kay, nih. Lo bawa ini," bisik Gavin seraya menyelipkan sebuah botol kaca berukuran kecil ke dalam genggaman tangan Kayla.

Kayla mengamati botol tanpa label tersebut dengan dahi berkerut. "Apaan nih?" tanya Kayla heran.

"Ya ini obat yang bisa bikin nyokap tiri lo itu capek bolak-balik ke kamar mandi semalaman. Lumayan lah buat permulaan rencana kita," ucap Gavin santai, seolah memasukkan obat pencahar dosis kuat ke dalam makanan orang lain adalah hal yang lumrah baginya.

Kayla tertegun. Jemarinya meremas botol kecil itu dengan perasaan yang mendadak ragu. Ada secercah rasa ngeri yang mengetuk pintu logikanya. "Tapi... ini gak keterlaluan, kan?" tanya Kayla, suaranya sedikit mencicit.

Gavin menaikkan sebelah alisnya, menatap Kayla dengan tatapan menyelidik. "Kenapa emang kalau keterlaluan? Lo... mendadak peduli sama nyokap tiri lo itu?" sindir Gavin, memancing ego Kayla.

"Nggak! Mana peduli gue sama nenek sihir itu!" seru Kayla cepat, tersinggung oleh sindiran Gavin. "Udah ah, gue duluan. Arka udah nungguin di bawah," pamit Kayla buru-buru memasukkan botol itu ke dalam saku seragamnya dan berlari kecil meninggalkan kelas.

Atmosfer di area parkiran motor sekolah terasa sangat mencekam sore itu. Arka sudah berdiri di samping motor sport-nya, menunggu dengan sabar. Namun, begitu Kayla berjalan mendekat, tatapan mata Arka yang setajam elang langsung menghunus lurus ke arah sepasang mata Kayla. Sorot mata yang dipenuhi kekecewaan dan kemarahan terpendam itu sukses membuat Kayla merasa sangat tidak nyaman.

"Ngapain lo natap gue kayak gitu?" ketus Kayla langsung saat ia berhenti tepat di depan Arka, mencoba menutupi kegugupannya.

Arka tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pendek melalui hidung, mencoba menahan gejolak emosi di dadanya sebelum bersuara. "Kenapa lo nekat banget kemarin, Kay? Udah berapa kali gue bilang, Gavin itu cuma bawa pengaruh buruk buat lo. Dia bukan cowok baik-baik."

"Apaan sih, Ka! Lo kaku amat jadi orang," balas Kayla meradang, suaranya meninggi karena lelah terus-menerus disudutkan. "Lo tuh gak tahu kejadian sebenarnya kemarin! Alasan kenapa gue terpaksa bolos sekolah itu lo gak tahu sama sekali. Jadi mendingan lo diem deh, gak usah sok tahu!"

"Kay! Gara-gara dia, lo punya catatan merah di ruang bimbingan konseling untuk pertama kalinya sepanjang lo sekolah di sini!" potong Arka tegas, suaranya bergetar menahan tekanan emosi. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, menatap Kayla dengan pandangan memohon sekaligus memperingatkan. "Masa sekolah kita tuh tinggal sebentar lagi, Kay. Sebentar lagi ujian. Jangan bikin sesuatu yang bodoh yang bisa merusak masa depan lo sendiri cuma karena ego!"

Mendengar kalimat Arka yang lagi-lagi terdengar seperti gurunya di sekolah, benteng pertahanan Kayla runtuh berganti kemarahan yang meluap. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Ka! Lo kalau cuma mau berdiri di sini buat nyeramahin gue panjang lebar, mending gue pulang sendiri naik ojek online!" ancam Kayla telak.

Mendengar ancaman itu, Arka seketika bungkam. Mulutnya terkatup rapat dengan rahang yang mengencang keras. Ia menatap Kayla dengan kilat kekecewaan yang mendalam, menyadari bahwa semua kalimat kepeduliannya hari ini sama sekali tidak bernilai di telinga gadis itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Arka langsung memakai helmnya dengan sentakan kasar, menaiki motornya, dan menyalakan mesin. Begitu Kayla naik ke boncengan belakang, Arka langsung menarik tuas gas dengan sangat kencang.

Motor itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Angin sore berembus kencang, menerpa wajah Kayla dan mengibarkan rambutnya. Namun, dinginnya angin sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana di antara mereka berdua. Arka memacu kendaraannya dengan sangat ugal-ugalan, meliuk-liuk di antara kepadatan mobil, meluapkan seluruh emosi terpendamnya lewat tarikan gas.

Di boncengan belakang, Kayla terpaksa mencengkeram ujung jaket Arka erat-erat agar tidak terjatuh. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kecepatan motor, melainkan karena keheningan yang luar biasa dari cowok di depannya. Arka tidak mengeluarkan suara sepatah pun. Punggung tegap itu terasa kaku dan berjarak, sangat berbeda dari biasanya.

Perlahan, amarah Kayla yang meluap-luap di parkiran tadi mulai menyurut, digantikan oleh pergolakan batin yang menyiksa. Kayla menatap punggung Arka lewat kaca spion, melihat rahang cowok itu yang masih mengencang keras di balik helm.

Rasa bersalah mendadak merayap di sela-sela hati Kayla, mencubit nuraninya dengan kejam.

Gue keterlaluan ya, Ka? batin Kayla pilu.

Ia tahu betul betapa Arka sangat menyayanginya dan selalu memprioritaskannya di atas segalanya. Arka marah karena peduli. Arka marah karena tidak ingin masa depan Kayla rusak. Namun, ego remajanya yang telanjur tinggi membuat Kayla justru membalas kepedulian itu dengan bentakan kasar. Kayla ingin meminta maaf, lidahnya sudah berada di ujung bibir untuk mengucapkan sepatah kata, namun gengsi dan rasa canggung yang besar seolah mengunci mulutnya rapat-rapat. Ditambah lagi, bayangan kedekatannya dengan Gavin tadi siang di taman pasti telah melukai hati Arka. Kayla tahu, Arka cemburu, dan diamnya Arka saat ini adalah tanda bahwa cowok itu benar-benar berada di titik puncak rasa sakit hatinya.

Perjalanan yang terasa sangat panjang dan menyiksa itu akhirnya berakhir ketika motor Arka berhenti mendadak di depan pagar rumah besar Pak Hendra. Rem dihentak kasar hingga ban motor berdecit.

Kayla perlahan turun dari boncengan, merapikan rok seragamnya yang sedikit berantakan. Ia berdiri di samping motor, menatap Arka yang masih duduk di atas jok tanpa berniat mematikan mesin ataupun membuka kaca helmnya.

Suasana mendadak canggung luar biasa. Kayla meremas tali tas ranselnya, menunggu Arka mengucapkan sesuatu—entah itu omelan terakhir, atau sekadar ucapan 'masuk sana'. Kayla berniat membalasnya dengan nada yang lebih lunak kali ini sebagai bentuk permohonan maaf terselubung.

Namun, harapan Kayla patah seketika.

Arka sama sekali tidak menoleh. Ia bahkan tidak melirik Kayla lewat sudut matanya sedikit pun. Setelah memastikan Kayla turun dengan aman, tangan Arka langsung memutar tuas gas dengan sentakan brutal. Motor sport itu langsung melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan deru mesin yang memekakkan telinga, membelah jalanan komplek tanpa sepatah kata pun. Tanpa pamit, tanpa lambaian tangan.

Arka benar-benar pergi, membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya oleh rasa cemburu dan kecewa yang teramat mendalam.

Kayla mematung di depan pagar, menatap jalanan kosong tempat motor Arka baru saja menghilang. Dada Kayla terasa sesak secara mendadak. Rasa kehilangan yang asing menyergap hatinya. Ia menunduk, menatap tangannya yang masih memegang botol obat kecil pemberian Gavin di dalam saku seragamnya. Di tengah rasa bersalahnya pada Arka yang meluap, kebencian Kayla pada Hesti justru kembali memercik, menganggap seluruh kekacauan hubungannya dengan Arka hari ini bermula dari laporan sialan ibu tirinya kemarin siang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!