Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Bukan Kakak
"Lanjutkan saja. Anggap gue furnitur mahal."
Tidak ada satu pun manusia waras yang bisa melanjutkan setelah kalimat itu.
Yu menurunkan tangannya dari wajah. Zhen masih berdiri di depannya, jarak mereka belum benar-benar jauh, tetapi udara sudah berubah dari panas menjadi kacau.
Dari balik pintu ruang kerja, terdengar suara Yan pura-pura batuk.
Zhen menarik napas pelan.
"Aku bunuh dia dulu," katanya.
Yu cepat-cepat menahan ujung lengan Zhen. "Jangan. Nanti susah jelasin ke polisi."
"Aku bisa jelaskan dengan data."
"Zhen."
Zhen menatap tangan Yu di lengannya.
Yu langsung ingat apa yang hampir terjadi beberapa detik lalu. Ia menarik tangan, tetapi kali ini tidak sepanik dulu. Malunya tetap ada. Jantungnya juga masih tidak sopan. Namun ada sesuatu yang lebih jelas di kepalanya.
Tadi bukan gejala.
Tadi ia ingin.
Zhen sepertinya membaca sebagian dari wajahnya. Suaranya turun. "Kita berhenti dulu."
Yu mengangguk cepat. "Iya."
"Bukan karena aku tidak mau."
Kalimat itu menghantam lebih kuat daripada seharusnya.
Yu menatapnya.
Zhen melanjutkan, lebih pelan, "Karena kalau diteruskan setelah Yan merusak suasana, aku akan benar-benar membunuh dia."
Yu tertawa, pendek dan gugup. Ketegangan di dada sedikit longgar.
Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Yan menyembulkan kepala dengan ekspresi orang yang tidak yakin masih diterima di bumi.
"Jadi, gue keluar beneran?"
"Iya," jawab Zhen.
"Dengan charger?"
"Tinggalkan charger."
"Kejam."
"Sekarang."
Yan keluar sambil meletakkan charger di meja, lalu mengambil jaketnya dengan gerakan sangat hati-hati. "Yu, atas nama seluruh umat manusia, gue minta maaf."
Yu menahan senyum. "Diterima."
"Zhen?"
"Keluar."
"Tidak diterima. Oke."
Yan akhirnya pergi. Pintu apartemen menutup di belakangnya.
Yu mengira suasana akan kembali sunyi. Ternyata tidak. Bel apartemen berbunyi lagi kurang dari satu menit kemudian.
Zhen memejamkan mata.
"Kalau itu Yan lagi," katanya, "aku tidak janji."
Namun ketika pintu dibuka, yang berdiri di luar adalah Lily.
Ia mengangkat satu botol salep kecil. "Ketinggalan ini."
Yu berkedip. "Kamu balik cuma buat salep?"
"Ini salep mahal."
Lily baru saja melangkah masuk ketika pintu lift di ujung koridor terbuka dan Yan yang tadi pergi masih berdiri di sana. Rupanya ia belum turun, mungkin sedang menunggu sinyal atau sedang menata harga dirinya.
Mereka saling melihat.
"Ko Yan," kata Lily, nada suaranya berubah satu tingkat.
"Lil."
Zhen dan Yu saling pandang dari ambang pintu. Keduanya sama-sama tidak bergerak, seperti menonton adegan yang tiba-tiba muncul tanpa tiket.
Yan berdeham. "Salep?"
"Ketinggalan."
"Oh."
"Kamu belum turun?"
"Lift-nya lama."
Lift di belakang Yan masih terbuka.
Yu melihat Lily menatap panel lift. Yan juga sadar, lalu menekan tombol tutup dengan cepat. Pintu lift menutup di belakangnya, tetapi ia tetap di koridor.
Lily menyipitkan mata. "Ko Yan."
"Apa?"
"Kamu aneh."
"Aku memang dari kecil begini."
"Dari kecil kamu juga suka bohong jelek."
Yan tersenyum, tetapi senyum itu tidak seterang biasanya. "Kalau dari kecil, berarti kamu ingat aku banyak."
Lily membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Untuk pertama kalinya sejak Yu mengenal Lily, sahabatnya tidak langsung punya balasan.
Yan memasukkan tangan ke saku hoodie. "Mama tadi chat."
"Mama kamu?"
"Iya. Katanya Tante Wen tanya minggu depan kamu ikut makan malam keluarga atau tidak."
Wajah Lily berubah menjadi ekspresi orang yang sudah hapal skenario. "Lagi?"
"Katanya sudah lama dua keluarga tidak kumpul."
"Itu kalimat kode untuk orang tua kita membahas bisnis sambil menyuruh kita duduk di meja anak-anak."
"Kita sudah bukan anak-anak."
"Coba bilang itu ke Om Seng. Terakhir aku ke rumahmu, aku masih disuruh ambil dessert bareng sepupu SMP."
Yan tertawa kecil. "Karena di mata mereka, kamu masih anak kecil yang dulu jatuh dari sepeda dan nangis sampai hidung merah."
"Aku umur tujuh tahun."
"Aku yang gendong kamu pulang."
"Karena semua orang menyuruhmu jadi kakak yang baik."
Kalimat itu membuat sesuatu di wajah Yan diam.
Tidak lama.
Tapi cukup.
"Mereka yang menyuruh," katanya.
Lily memegang botol salep lebih erat. "Ya memang. Dari dulu keluarga kita begitu. Kamu Ko Yan, aku Lily. Kakak-adik versi orang tua."
Yu merasa Zhen di sebelahnya menjadi lebih diam.
Yan menatap Lily. "Kamu masih anggap begitu?"
"Anggap apa?"
"Aku kakakmu."
Pertanyaan itu jatuh terlalu pelan untuk disebut bercanda.
Lily tidak menjawab cepat.
Di koridor apartemen, suara AC luar ruangan dan langkah orang jauh di lift lobby tiba-tiba terdengar jelas.
"Ko Yan," kata Lily akhirnya, setengah memperingatkan.
Yan tersenyum lagi, tetapi kali ini senyumnya dipakai untuk menutup sesuatu. "Lupakan. Gue cuma kurang tidur."
Ia berbalik ke lift.
Lily juga berbalik seolah ingin masuk ke apartemen, tetapi ujung cardigan-nya tersangkut sedikit di gagang tas Yan yang tergantung di bahu. Yan refleks memegang tangannya untuk melepas kaitan itu.
Seharusnya sebentar.
Hanya menarik kain.
Hanya memastikan tidak robek.
Tetapi setelah cardigan terlepas, tangan Yan masih memegang tangan Lily.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Lily menatap tangan mereka.
Yan juga menatapnya.
Lalu ia melepas seolah baru tersadar. "Maaf."
"Nggak apa-apa."
Suara Lily terdengar terlalu datar.
Yan masuk lift tanpa berkata lagi. Pintu menutup, memisahkan wajahnya yang biasanya berisik dari koridor yang mendadak terlalu sunyi.
Lily berdiri diam beberapa detik.
Yu pura-pura tidak melihat terlalu jelas.
Zhen jelas-jelas melihat terlalu jelas, tetapi ia memilih masuk ke apartemen lebih dulu. "Aku buat kopi."
Itu cara Zhen memberi orang ruang.
Lily akhirnya masuk, menutup pintu, lalu menempelkan punggungnya ke daun pintu seperti baru selesai lari.
"Yu."
"Hmm?"
Lily menatap botol salep di tangannya, lalu menatap Yu dengan wajah bingung yang jarang sekali muncul.
"Ko Yan itu aneh. Tadi dia pegang tanganku lama sekali, padahal bukan Imlek."