Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepungan dan Draf yang Lolos
Rintik hujan sisa semalam masih terdengar samar saat Arka mengerang tertahan. Kepalanya berdenyut hebat. Baru saja mencoba bergeser, rasa ngilu yang luar biasa dari jahitan di perut kirinya langsung memaksa pria itu kembali bersandar kaku.
Napas Arka terengah pendek. Ingatan semalam melintas cepat: darah, pisau bedah, dan suara cerewet Rara yang memaksanya tetap sadar.
Ia menoleh pelan. Di sisinya, Rara masih tertidur pulas dengan leher tertekuk di tepi sofa. Tangan gadis itu mencengkeram erat jemari Arka, seakan takut bos mafia itu bakal mati kalau dilepaskan.
Arka menatap tautan tangan mereka datar.
"Ugh..." Arka menarik tangannya paksa, mengabaikan denyut di lukanya.
Bahu Rara tersentak hebat. Gadis itu mengerjap linglung, lalu matanya langsung melotot panik melihat Arka sudah melek dan menatapnya tajam. Refleks, Rara memundurkan tubuhnya, buru-buru duduk tegak sambil mengusap sudut bibirnya.
"Lo... lo udah sadar?" cicit Rara canggung.
"Kenapa kau masih di sini?" Suara Arka terdengar serak parah, tapi auranya langsung kembali mengintimidasi.
Rara mendengus pelan, menutupi gugupnya. "Terus gue harus apa? Kabur hujan-hujanan? Kalau lo mati semalam, Oyen kelaparan gara-gara majikannya dituduh pembunuh."
Arka membuang muka, tak peduli dengan alasan konyol itu.
Rara menelan ludah, suaranya mendadak pelan. "Lagian... semalam lo ngigau. Lo manggil 'Mama'. Ada foto juga di perpustakaan, mukanya dicoret"
Srak!
Dalam sepersekian detik, tangan kanan Arka yang bebas sudah mencengkeram rahang Rara. Cengkeramannya tidak main-main, sukses membuat kalimat gadis itu terputus. Napas Arka memburu, menahan ngilu di perut sekaligus amarah yang meledak.
"Satu kata lagi kau bahas itu," desis Arka, suaranya sangat pelan tapi mematikan. Matanya menatap Rara bak predator yang siap menerkam. "Saya sendiri yang akan merobek mulutmu, Rara. Utang nyawa atau tidak, jangan pernah uji kesabaran saya."
Rara menelan ludah susah payah. Air matanya refleks menggenang karena takut luar biasa. Monster di depannya ini belum jinak sama sekali.
Arka baru saja melepaskan cengkeramannya dengan kasar saat pintu ruang tengah didobrak dari luar.
BRAK!
Bara dan Dino menerobos masuk. Wajah Dino yang biasanya cengengesan kini pucat pasi, sementara Bara tampak menahan napas.
"Bos, gawat!" lapor Bara cepat. "Naga Hitam melacak Dokter Haryo. Mereka tahu safe house ini dan lagi naik ke arah bukit. Waktu kita kurang dari sejam sebelum gerbang utama dijebol!"
Wajah Rara seketika pias. Jantungnya mencelos.
Di tengah ketegangan yang memuncak itu, dari dalam saku celana piyama Rara, nada dering mp3 nyaring mendadak memecah keheningan.
Kring! Kring!
Semua mata langsung tertuju pada Rara. Dengan tangan gemetar parah, Rara merogoh saku dan melihat layar BB Curve-nya menyala. Ada satu sinyal bar yang entah bagaimana berhasil nyangkut. Nama 'Beby' tertera di layar.
Karena panik dan tidak bisa berpikir jernih, jari Rara malah menekan tombol hijau. Tombol loudspeaker ikut terpencet.
"Halo, Ra! Gila lo ya, kemana aja lo anjir?!" Suara cempreng Beby langsung menggema di ruangan itu. "Skripsi lo di-ACC Pak Baskoro subuh tadi! Bab empat lo lolos, nyet! Lo utang traktir gue"
"Beb! Boro-boro traktir, nyawa gue lagi di ujung"
*Sret!*
Dino langsung merampas HP itu dari tangan Rara, mematikan sambungannya, lalu mencabut baterainya dalam satu gerakan cepat.
"Mbak, sumpah deh, timing lo nggak pas banget!" gerutu Dino panik. "Sinyal HP lo bisa ngundang roket mereka nembak ke sini!"
Arka mendecak kasar, muak dengan kekacauan ini. Mengabaikan jahitan di perutnya, ia memaksa bangkit. Tangannya menyambar pistol di atas meja dan mengokangnya dengan wajah sedingin es.
"Bara," perintah Arka mutlak, menatap Rara kilat. "Seret dia ke bungker bawah tanah. Kunci dari luar."
"Nggak!" Rara refleks mundur, menggeleng histeris. "Gue nggak mau dikurung di ruang gelap itu! Bawa gue lari, atau biarin gue mati bareng lo pada di sini!"
Arka sama sekali tak memedulikan teriakan Rara. Ia mulai memasang magasin cadangan ke ikat pinggangnya. "Lakukan, Bar."
Bara maju selangkah, tapi ia ragu. "Bos, maaf," sela Bara cepat. "Ventilasi udara bungker utama terhubung langsung ke gerbang depan. Kalau Naga Hitam meledakkan gerbang pakai bom asap atau gas beracun, asapnya bakal tersedot semua ke bawah. Dia bakal mati lemas dalam hitungan menit."
Tangan Arka yang sedang mengecek peluru terhenti. Matanya melirik Rara yang sudah pucat pasi dan gemetaran, memeluk lututnya sendiri di lantai.
Arka mendengus tajam. Ia benci harus direpotkan, tapi pantang baginya berutang nyawa pada orang mati.
"Siapkan SUV lapis baja di pintu belakang," putus Arka sedingin es.
Langkah Arka tertatih namun tegap. Ia berhenti tepat di depan Rara, menunduk menatap gadis itu dengan sorot mata paling gelap yang pernah Rara lihat.
"Bangun dan ikuti Dino," ancam Arka pelan. "Kalau kau menjauh dari punggungnya sedetik pun, saya pastikan peluru pertama yang menembus kepalamu berasal dari pistol saya sendiri. Paham?"
Rara mengangguk kaku, air matanya tak berani turun. Ia buru-buru berdiri, mengikuti langkah Dino dan Bara. Di luar sana, suara deru mobil musuh mulai terdengar mendekat. Pelarian yang sebenarnya baru saja dimulai.