Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014
Surat itu datang dalam amplop putih tanpa aroma parfum, tanpa stiker hati, tanpa hiasan apa pun.
Justru karena itu, Hafeng langsung curiga.
Amplop tersebut terletak di atas meja gambarnya di studio arsitektur, tepat di samping tablet dan penggaris logam. Di bagian depan hanya tertulis satu nama dengan tinta hitam yang rapi.
Lo Hafeng.
Chiko yang pertama melihatnya.
"Feng," katanya sambil menarik kursi, "kamu dapat surat cinta."
"Buang."
"Belum dibaca."
"Makin harus dibuang."
Chiko mengambil amplop itu lebih cepat daripada tangan Hafeng. "Tulisan tangan Lim Meiran."
Seluruh meja studio langsung menoleh.
Hafeng mengangkat kepala.
Chiko tersenyum seperti baru menemukan bahan bakar terbaik untuk hari itu. "Aku boleh baca keras-keras?"
"Coba saja."
Nada Hafeng cukup dingin untuk membekukan air, tetapi Chiko sudah terlanjur hidup di dunia tanpa rasa takut.
Ia membuka amplop, mengeluarkan satu lembar kertas tebal, lalu membaca baris pertama dengan suara dramatis.
"Untuk Lo Hafeng, pria yang paling sering membuatku ingin menulis laporan insiden."
Beberapa mahasiswa tertawa.
Hafeng berdiri dan merebut kertas itu dari tangan Chiko.
"Berhenti."
"Aku baru satu baris."
"Justru itu."
Hafeng menatap kertas di tangannya. Ia seharusnya meremasnya, membuangnya, atau paling tidak meletakkannya jauh-jauh. Tetapi matanya bergerak sendiri mengikuti tulisan Meiran.
`Aku menulis ini karena ada hal yang harus kukatakan dengan benar.`
`Mencium seseorang tanpa izin adalah tindakan yang salah. Aku tahu itu, dan aku tidak akan membungkusnya dengan alasan strategi, sistem, atau taruhan. Untuk bagian itu, aku minta maaf.`
Rahang Hafeng menegang.
Studio yang tadi ramai perlahan menjadi sunyi. Chiko tidak lagi bercanda. Mungkin karena ia juga menyadari bahwa kalimat itu bukan permainan.
Hafeng membaca lanjut.
`Kamu juga salah karena menamparku, tetapi aku tidak menulis surat ini untuk menghitung dosa. Kita sudah sama-sama membuat adegan buruk. Aku hanya ingin memastikan bagian yang menjadi tanggung jawabku tidak mengambang sebagai gosip.`
Jari Hafeng menekan pinggir kertas.
Ada sesuatu yang aneh di dadanya.
Ia membenci cara Meiran menyerang hidupnya, membenci caranya tersenyum setelah membuat semua orang menoleh, membenci bagaimana perempuan itu selalu menemukan celah untuk memaksanya bergerak.
Tetapi surat ini tidak seperti serangan.
Ini terlalu jernih.
Dan itu membuatnya lebih menyebalkan.
Chiko mengintip dari samping. "Wah, dia serius."
"Diam."
"Aku diam."
Hafeng membaca bagian bawah.
`Tapi dasar gila, jangan berdiri di bawah hujan lagi hanya karena ingin menyelamatkan maketku. Kalau sakit, aku tidak mau asisten pribadiku bolos.`
Hafeng membeku.
Satu detik kemudian, wajahnya berubah gelap.
"Lim Meiran."
Chiko yang tidak kuat menahan diri langsung meledak tertawa. "Dasar gila? Dia minta maaf atau memarahimu?"
Hafeng meremas bagian pinggir surat, tetapi tidak sampai merusak tulisan.
"Ini bukan surat permintaan maaf."
"Menurutku ini surat permintaan maaf plus perintah minum vitamin."
"Chiko."
"Oke, aku mundur."
Namun tawa sudah telanjur menyebar. Beberapa mahasiswa di studio berbisik, sebagian geli, sebagian terkejut karena tidak pernah membayangkan ada orang berani menulis `dasar gila` kepada Lo Hafeng dalam surat permintaan maaf.
Hafeng melipat surat itu kasar, memasukkannya kembali ke amplop, lalu keluar dari studio.
Chiko mengikuti dengan jarak aman.
"Mau ke mana?"
"Mengembalikan."
"Kamu bisa buang saja."
Hafeng berhenti.
Chiko langsung mengangkat dua tangan. "Aku cuma memberi opsi."
Hafeng tidak menjawab. Ia berjalan menuju gedung seni, langkahnya panjang dan cepat. Amplop putih ada di tangannya. Anehnya, tidak kusut.
Meiran sedang berada di lorong depan studio maket, berbicara dengan dua mahasiswa tentang jadwal presentasi internal. Ketika melihat Hafeng datang dengan wajah seperti badai, kedua mahasiswa itu otomatis mundur.
Meiran menutup tabletnya.
"Pagi, asistenku."
Hafeng mengangkat amplop. "Apa ini?"
"Surat."
"Aku tahu ini surat."
"Kalau begitu pertanyaanmu kurang spesifik."
Hafeng menatapnya tajam. "Kamu menyebutku dasar gila dalam surat permintaan maaf."
"Aku memang menulis itu."
"Kamu sadar surat permintaan maaf biasanya tidak menghina penerimanya?"
"Aku tidak menghina. Aku mendeskripsikan."
Chiko yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung menutup mulutnya.
Hafeng maju satu langkah. "Kamu benar-benar tidak punya rasa takut."
"Aku punya. Hanya saja aku tidak meletakkannya di tempat yang sama seperti dulu."
Kalimat itu membuat Hafeng terdiam.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi untuk sesaat wajah Meiran tampak berbeda. Bukan perempuan yang mengejarnya dengan sketsa memalukan. Bukan juga perempuan yang memaksanya membawa kopi. Ada bayangan sesuatu yang lebih tua di matanya, sesuatu yang pernah terbakar dan tidak ingin terbakar lagi.
Hafeng membenci perasaan ketika ia hampir ingin bertanya.
Hampir.
Meiran mengambil amplop dari tangannya, tetapi Hafeng tidak melepaskan.
Kertas itu tertahan di antara jari mereka.
"Ko Hafeng?"
Suara Wanyu terdengar dari ujung lorong.
Meiran tidak menoleh. Hafeng juga tidak langsung menoleh. Justru jeda kecil itu membuat mata Wanyu turun ke amplop putih di antara tangan mereka.
"Apa itu?" tanya Wanyu.
Chiko menghela napas sangat pelan. "Wah, episode tambahan."
Wanyu berjalan mendekat. Wajahnya kembali lembut, tetapi sorot matanya terlalu cepat membaca situasi. "Aku dengar tadi ada yang bilang Meiran menulis surat untukmu."
Hafeng menarik amplop itu dari tangan Meiran. "Bukan urusanmu."
Wanyu berhenti.
Kalimat itu lebih keras daripada tamparan kecil. Beberapa mahasiswa yang tadi menunggu Hafeng membuang surat langsung saling melirik.
Namun Wanyu tidak menyerah. Ia menatap Meiran, suaranya dibuat cemas. "Meiran, kalau kamu memang minta maaf, kenapa harus menulis kata-kata yang membuat orang tertawa? Ko Hafeng sudah cukup sering jadi bahan pembicaraan karena taruhan kalian."
Meiran akhirnya menoleh. "Kamu sudah membaca suratnya?"
"Aku... mendengar Chiko membacakan sedikit."
"Sedikit yang mana?"
Wanyu terdiam.
Meiran melangkah mendekat satu langkah. "Bagian aku mengakui kesalahan karena menciumnya tanpa izin? Atau bagian aku tidak membenarkan tamparannya? Atau hanya bagian `dasar gila` yang paling mudah dipakai untuk membuatku terlihat jahat?"
Wanyu menegang.
Hafeng menatap Meiran.
Ada kilatan baru di matanya. Bukan lembut. Belum. Tetapi ia mendengar perbedaan itu. Meiran tidak bersembunyi dari bagian yang salah, dan justru karena itu, serangan Wanyu terasa kurang bersih.
Wanyu berkata pelan, "Aku cuma tidak ingin Ko Hafeng dipermainkan."
"Kamu sering sekali memakai kata `tidak ingin` untuk mengatur apa yang harus dia rasakan."
"Aku tidak mengatur."
"Kalau begitu biarkan dia memutuskan apakah surat itu hinaan atau permintaan maaf."
Lorong menjadi sunyi.
Semua mata pindah ke Hafeng.
Hafeng membenci situasi itu. Ia membenci Meiran karena menyeretnya ke pusat, membenci Wanyu karena membuatnya harus menjawab, membenci Chiko karena terlihat terlalu menikmati.
Tetapi yang paling ia benci adalah fakta bahwa jawabannya sudah ada.
Surat itu menyebalkan.
Sangat menyebalkan.
Namun itu bukan sekadar hinaan.
Hafeng menatap Wanyu. "Ini urusanku."
Wanyu seperti kehilangan napas.
"Ko Hafeng..."
"Aku akan mengurusnya sendiri."
Tidak ada kata kasar. Tidak ada bentakan. Tetapi batas itu jelas.
Wanyu menurunkan tangan yang sejak tadi menggenggam buku gambarnya. Senyum di wajahnya hampir tidak tersisa.
Chiko berbisik, "Skor hari ini berat."
Hafeng menoleh.
Chiko langsung pura-pura melihat langit-langit.
"Kalau kamu tidak menerima permintaan maafnya, buang," kata Meiran.
"Aku memang akan membuangnya."
"Silakan."
Ia melepaskan amplop.
Hafeng menatapnya, lalu menatap tempat sampah kecil di ujung lorong.
Jaraknya hanya beberapa langkah.
Semua orang di sekitar menunggu.
Hafeng berjalan ke arah tempat sampah.
Meiran tetap berdiri di tempat. Wajahnya tenang, tetapi jantungnya memukul sekali lebih keras. Ia tidak tahu kenapa ia peduli apakah Hafeng membuang surat itu. Mungkin karena ini bukan strategi murni. Mungkin karena permintaan maaf itu memang perlu.
Hafeng berhenti di depan tempat sampah.
Tangannya terangkat.
Lalu berhenti.
Ia memaki pelan, sangat pelan, lalu memasukkan amplop itu ke dalam saku bagian dalam jaketnya.
Chiko nyaris berteriak. Ia menahannya dengan kedua tangan.
Meiran menatap saku itu.
Lorong yang tadi penuh bisik-bisik menjadi sunyi selama dua detik penuh.
Dua detik itu cukup untuk mengubah isi cerita.
Jika Hafeng membuang surat itu, semua orang akan menganggap Meiran dipermalukan. Jika Hafeng mengembalikannya, mereka akan menganggap ia masih marah. Tetapi menyimpannya di saku bagian dalam, di tempat yang dekat dengan dada dan jauh dari tangan orang lain, membuat semua tafsir menjadi berantakan.
Wanyu melihat saku itu juga.
Wajahnya kehilangan warna.
Hafeng sadar terlalu terlambat bahwa tindakannya lebih berbahaya daripada kata-katanya. Ia hampir mengeluarkan amplop itu lagi, tetapi jari-jarinya hanya menyentuh tepi jaket sebelum berhenti.
Kertas itu masih terasa hangat dari genggamannya.
Dan entah kenapa, ia tidak ingin Chiko menyentuhnya lagi.
**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**
Nilai Cinta: -42.
**【Sistem Predator】Objek emosional tersimpan: surat permintaan maaf.**
Hafeng berbalik. "Aku menyimpannya sebagai bukti bahwa kamu tidak normal."
Meiran tersenyum.
"Tentu, dasar gila."
Wajah Hafeng langsung menggelap lagi, tetapi kali ini ia tidak mengeluarkan surat itu dari sakunya.
Dan seluruh lorong melihatnya.
Beberapa menit kemudian, grup angkatan meledak dengan satu kalimat yang diulang-ulang.
`Dia menyimpan suratnya.`
Tidak ada foto surat, tidak ada isi lengkap, hanya fakta kecil itu. Namun bagi gosip kampus, fakta kecil sering lebih tajam daripada bukti panjang.
Meiran membaca pesan itu setelah Hafeng pergi, lalu mematikan layar.
Satu amplop putih sudah cukup mengubah arah angin.
Dan Hafeng sendiri belum sepenuhnya menyadarinya.